Razeen Sally: Perdagangan Dunia Terancam Setelah Donald Trump Terpilih

Wawancara    | 20 Des 2016 | Read 1173 times
Razeen Sally: Perdagangan Dunia Terancam Setelah Donald Trump Terpilih

Kemenangan Donald John Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 sontak membuat dunia terkejut. Dalam kampanyenya Trump kerap mengeluarkan pernyataan yang kontroversial mengenai banyak hal baik imigrasi, keamanan, hingga perdagangan internasional. Salah satu janji Trump untuk menjaring pemilih akan membatalkan perjanjian dagang Trans Pacific Partnership (TPP) yang sudah ditandatangani Amerika Serikat dan 11 negara kawasan pasifik lainnya. Walaupun proses ratifikasi di masing-masing Parlemen tengah berjalan. Lantas, apa yang akan selanjutnya terjadi bila Trump benar-benar memenuhi janjinya?

Untuk membahas mengenai isu tersebut, kontributor tetap Suara Kebebasan, Haikal Kurniawan, mendapat kesempatan untuk mewawancarai Dr. Razeen Sally di tengah-tengah konfrensi Economic Freedom Network Asia 2016 di Manila pada 22-23 November lalu. Dr. Razeen Sally sendiri merupakan seorang ekonom yang berlatar belakang pendidikan Doktor Ilmu Ekonomi dari London School of Economics dan memiliki perhatian khusus terhadap kebijakan perdagangan di Asia. Saat ini ia menjabat sebagai Associate Professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore dan ketua dari Institute of Policy Studies, sebuah lembaga think tank terkemuka asal Sri Lanka. Dr. Razeen Sally sendiri juga pernah menjabat sebagai direktur European Centre for International Political Economy, sebuah lembaga think tank global yang berpusat di Brussels, Belgia.

Dr. Razeen, terima kasih banyak atas waktu yang Anda berikan. Bila Anda berkenan, saya ingin membahas mengenai TPP. Sebagaimana Anda tahu Donald Trump telah berhasil memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat dan dalam kampanyenya ia berjanji akan mengeluarkan Amerika Serikat dari TPP. Menurut Anda, apakah dampak yang akan terjadi terhadap kesepakatan TPP bila Amerika Serikat memutuskan keluar dari perjanjian tersebut?

Menurut saya dengan keluarnya Amerika Serikat dalam perjanjian TPP akan membawa dampak yang sangat signifikan. Setiap pihak dapat memberikan kritiknya terhadap perjanjian ini, namun menurut saya secara umum perjanjian dagang TPP merupakan perjanjian yang sangat baik, karena akan meliberalisasikan perdagangan dan investasi dan serta akan mencanangkan berbagai kebijakan ekonomi yang pro-pasar yang dapat menarik berbagai perusahaan multinasional untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Namun, hal tersebut terancam tidak akan terjadi karena terancam akan dibatalkan oleh Presiden Terpilih Donald Trump.

Bahayanya bila TPP berhasil dibatalkan, maka kita akan melihat berbagai negara akan mengambil langkah kebijakan yang proteksionis dikarenakan Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut yang tentunya akan membawa dampak buruk. Sekilas kita sudah bisa melihat berbagai potensi tersebut di berbagai negara seperti Jepang, China, dan juga negara-negara Eropa.

Secara geopolitik hal tersebut juga akan membawa dampak yang buruk karena Amerika Serikat pada umumnya berperan sebagai penjaga stabilitas di kawasan Asia dan dengan Amerika meninggalkan kawasan tersebut dapat berpotensi membawa destabilitas di negara-negara Asia dan akan membawa banyak potensi konflik.

Hal ini pula yang akan semakin membawa China menggantikan peran Amerika Serikat sebagai kekuatan terbesar yang ada di kawasan Asia. Hal ini patut dikhawatirkan mengingat China merupakan negara yang sangat oportunis dan gemar menggertak tetangga-tetangganya yang lebih kecil seperti Filipina.

Selain itu, China juga merupakan negara yang mengaplikasikan sistem kroni kapitalisme yang cenderung lebih kotor daripada sistem ekonomi negara-negara barat seperti Amerika Serikat pada umumnya.

Kemarin (Senin, 21/11/2016), Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menyatakan bahwa TPP akan gagal tanpa kehadiran Amerika Serikat. Menurut Anda, apakah turut sertanya Amerika Serikat dalam perjanjian TPP begitu besar pengaruhnya sehingga perjanjian tersebut tidak dapat dilaksanakan apabila Amerika Serikat tidak hadir?

Saya sepakat bahwa kehadiran Amerika Serikat sangat penting dalam TPP mengingat bahwa Amerika Serikat merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Selain itu banyak pula poin-poin peraturan perjanjian yang ada di dalam TPP merupakan peraturan yang diprakarsai oleh Amerika Serikat, dan peraturan ini juga hadir dalam berbagai perjanjian dagang lain yang disepakati oleh Amerika Serikat, salah satunya NAFTA.

Oleh karena itu hampir mustahil TPP dapat berjalan tanpa kehadiran Amerika Serikat. Meskipun begitu memang telah ada berbagai wacana negosiasi ulang perjanjian TPP tanpa kehadiran Amerika Serikat, namun hak tersebut sangat sulit dilakukan mengingat rumitnya berbagai peraturan dan kesepakatan yang tertera dalam perjanjian tersebut, setidaknya dalam beberapa tahun yang akan datang.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah, karena Amerika Serikat sudah berkomitmen akan keluar dari perjanjian TPP, maka niscaya China yang akan mengisi kekosongan peran Amerika Serikat tersebut melalui perjanjian dagang yang menjadi saingan TPP, yang dikenal dengan nama RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang ditandatangani oleh negara-negara ASEAN dan 6 negara lainnya yang sangat dimotori oleh China.

Beberapa negara yang menandatangani RCEP juga merupakan negara-negara anggota TPP dan mereka niscaya akan bebalik arah dan lebih fokus daripada RCEP daripada TPP.

Menurut Anda apakah kerugian terbesar yang akan dialami oleh Amerika Serikat apabila Amerika benar-benar akan keluar dari TPP?

Menurut saya dalam jangka waktu pendek, Amerika Serikat tidak akan terlalu merasa rugi karena nmemutuskan keluar dari perjanjian TPP karena Amerika Serikat memiliki kekuatan ekonomi yang sangat besar, namun dalam jangka panjang, Amerika akan kehilangan banyak manfaat dari perjanjian TPP diantaranya adalah hilangnya peraturan yang memberi garansi akses dan keamanan terhadap perusahaan-perusahaan multinasional asal Amerika Serikat.

Selain itu, dampak lainnya keluarnya Amerika Serikat dalam perjanjian TPP akan peran Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas politik dan militer, serta liberalisasi perdagangan di kawasan Asia yang tentunya akan menguntungkan berbagai pihak dapat digantikan oleh aktor lain.

Namun negara yang paling akan dirugikan bila TPP dibatalkan ialah Vietnam. Vietnam yang pada masa ini memberlakukan kebijakan ekonomi yang proteksionis akan segera meliberalisasikan perdagangannya yang tentunya akan meningkatkan jumlah ekspor dari negara tersebut.

Selain itu, Vietnam juga ikut menandatangani TPP karena Vietnam menginginkan peran Amerika Serikat yang lebih besar di kawasan Asia Pasifik sebagai penyeimbang kekuatan China yang semankin besar. Dengan dbatalkannya perjanjian TPP niscaya China memiliki kesempaata yang lebih besar untuk menggertak Vietnam dan negara-negara tetangga lainnya yang lebih kecil dan hal itulah yang sangat dikhawatirkan oleh Vietnam.

Bila Donald Trump berhasil membatalkan perjanjian TPP dan sebagaimana yang Anda jelaskan, maka China akan memiliki kesempatan besar untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik. Menurut Anda apakah hal tersebut akan meningkatkan praktik-praktik kroni kapitalisme di kawaasan Asia Pasifik?

Ya menurut saya hal tersebut akan terjadi. Bila kita melihat perjanjian RCEP yang diinisiasi oleh China, dalam perjanjian tersebut tidak memasukkan prinsip-prinsip dasar ekonomi pasar dan tidak akan membawa perubahan apa-apa terhadap perdagangan internasional yang tentunya akan memunculkan banyak praktik-praktik kroni kapitalisme.

Bisa kita lihat cara-cara bisnis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar China di luar negeri lebih banyak menggunakan pendekatan kroni kapitalisme daripada yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan negara barat. Oleh karena itu kita akan lebih banyak melihat praktik-praktik korupsi dan suap di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Anda, apakah tantangan terbesar yang harus dihadapi apabila negara-negara kawasan Asia Pasifik bersedia membuat perjanjian dagang baru tanpa kehadiran kekuatan ekonomi super-power seperti China dan Amerika Serikat?

Menurut saya hal tersebut akan sulit untuk dilakukan. Bila kita lihat memang sudah ada perjanjian dagang internasional yang tidak melibatkan kekauatan besar seperti China dan Amerika Serikat, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah salah satunya. Namun hal tersebut juga tidak akan membawa perubahan yang berarti. Kekuatan ASEAN sangat bergantung pada hubungan dengan negara-negara besar lain di luar ASEAN seperti India, China, Australia, dan Amerika Serikat. ASEAN bila sendiri tidak akan memiliki kekuatan apa-apa.

Bila kehadiran Amerika Serikat semakin memudar di kawasan Asia Tenggara, maka China akan segera mengambil alih peran tersebut dan negara-negara ASEAN akan semakin bergantung pada China, dan tentunya akan berdampak semakin meluasnya praktik kroni kapitalisme sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar China.

Bila Donald Trump benar-benar membatalkan TPP, maka apa solusi terbaik yang dapat dilakukan negara-negara lainnya?

Menurut saya langkah yang terbaik yang patut diambil apabila Trump benar-benar membatalkan perjanjian TPP adalah kelompok-kelompok kepentingan dan masyarakat harus berjuang keras untuk memaksa pemerintah tidak mengambil kebijakan-kebijakan yang proteksionis. Selain itu negara-negara lain juga harus tetap berkomitmen untuk meliberalisasikan perdagangan internasional mereka sebebas-bebasnya yang mereka mampu.

Pertanyaan terakhir, menurut Anda apakah Donald Trump akan benar-benar memenuhi janjinya untuk mengeluarkan Amerika Serikat dari perjanjian TPP?

Trump merupakan orang yang sangat sulit untuk diprediksi karena dia selalu berubah-rubah posisi. Apa yang dia katakan sebelumnya bisa berbeda dengan apa yang akan dia katakan hari ini. Namun saya merasa bahwasanya banyak dari janji-janji kampanye Trump yang betul-betul akan dia penuhi, khususnya yang berhubungan dengan perdagangan internasional, dan hal itulah yang membuat saya sangat khawatir.

Dr. Razeen Sally, terima kasih banyak atas waktu yang Anda berikan.

Sama-sama. Terima kasih banyak atas kesempatan dan wawancaranya.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]