Barun: Pendekatan Pasar Bisa Menyelamatkan Satwa Liar

Wawancara    | 7 Des 2016 | Read 1036 times
Barun: Pendekatan Pasar Bisa Menyelamatkan Satwa Liar

Penyelamatan satwa liar yang terancam punah merupakan salah satu isu yang kerap menjadi fokus perhatian berbagai pihak, utamanya negara maju, organisasi internasional berbasis lingkungan hidup, hingga berbagai lembaga non-pemerintah lokal nasional.  Namun, dari berbagai diskursus mengenai penyelamatan satwa liar, ada benang merah yang menjadi kambing hitamnya, tak lain dan tak bukan kapitalisme dan ekonomi pasar.

Ekonomi pasar kerap disalahkan sebagai penyebab hilangnya berbagai keanekaragaman satwa liar yang sangat berharga, salah satu penyebabnya karena banyak habitat satwa liar yang telah dialihfungsikan menjadi kawasan petanian dan industri. Kapitalisme lagi – lagi disalahkan karena dianggap sebagai sistem ekonomi yang sangat eksploitatif terhadap alam karena sangat menjunjung tinggi motif mencari keuntungan.

Adalah Barun Mitra, Direktrur dari Liberty Institute yang menawarkan pandangan yang berbeda. Liberty Institute ialah sebuah lembaga think tank asal India yang mempromosikan gagasan ekonomi pasar bebas. Dalam tulisannya 10 tahun yang lalu, Dr. Mitra mengungkapkan justru ekonomi pasar dapat menjadi solusi penyelamatan satwa liar yang terancam punah. Dalam konferensi Economic Freedom Network 2016 di Manila tanggal 22-23 November lalu, kontributior tetap Suara Kebebasan, Haikal Kurniawan, mendapat kesempatan untuk mewawancarai Barun Mitra mengenai gagasannya tersebut.

Mr Barun Mitra, terima kasih banyak karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mewawancarai Anda terkait dengan artikel yang Anda tulis. Pertanyaan pertama saya, mengapa Anda memiliki keterkaitan terhadap isu konservasi alam?

Alasan pertama adalah, saya pada dasarnya sangat menyukai satwa liar. Saya suka berkunjung ke hutan dan melihat satwa liar, dan setidaknya sejak 50 tahun terakhir berbagai upaya untuk melestarikan satwa liar kurang memiliki dampak yang signifikan, dan oleh karena itu mengapa tidak bila kita memikirkan cara lain yang baru untuk melestarikan satwa liar.

Bila kita cermati, berbagai hewan yang dapat dimanfaatkan dan dikonsumsi oleh manusia tidak terancam punah, dan justru sebaliknya, hewan-hewan yang tidak bisa kita konsumsi, atau yang ditetapkan hukum dilarang untuk dimanfaatkan oleh manusia justru sebagian besar terancam punah. Ayam tidak terancam punah, namun harimau dan badak terancam punah.

Inilah masalah yang harus kita hadapi. Untuk itu penting bagi kita untuk melihat kembali bagaimana cara-cara penyelamatan satwa liar, dan juga pelestarian alam, dengan menggunakan pendekatan yang lebih berorientasi pada pasar sebagai solusi karena berbagai langkah perlindungan yang sudah diberlakukan terbukti tidak berhasil.

Menurut pandangan Anda, secara umum, bagaimana langkah-langkah yang sudah diambil oleh berbagai negara dalam upaya penyelamatan satwa liar?

Sebagian besar negara mengambil solusi yang sama untuk menyelamatkan satwa liar. Mereka memberlakukan berbagai aturan yang melarang pemanfaatan dan perdagangan berbagai satwa-satwa liar yang terancam punah tersebut. Namun dalam 50 tahun terakhir terbukti langkah-langkah tersebut telah gagal dan oleh karena itu penting bagi kita untuk mencari solusi alternatif apabila kita benar-benar ingin menyelamatkan satwa liar.

Salah satu ketakutan saya adalah banyak pihak, baik pemerintah maupun organisasi swasta yangbergerak di bidang perlindungan dan pelestarian satwa liar justru tidak memiliki perhatian terhadap hewan-hewan tersebut. Yang mereka perhatikan hanyalah program-program mereka sendiri, tapi masalah ini tetap tidak mengalami perbaikan.

Disitulah masalahnya. Bagi saya dunia akan lebih baik bila masyarakat bisa menikmati berbagai satwa liar. Sebagai contoh ribuan buaya dibudidayakan setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri fashion. Dan melihat dari hal tersebut, mengapa tidak kita lakukan hal yang sama terhadap satwa lain seperti harimau, dimana masyarakat dapat mendapat manfaat dari satwa liar dan satwa liar itu sendiri dapat dilestarikan?

Menurut Anda, apakah tantangan terbesar untuk mengimplementasikan kebijakan perlindungan satwa liar dengan menggunakan pendekatan ekonomi pasar?

Menurut saya tantangan terbesar yang kita hadapi adalah ketidakmauan kita untuk berfikir mengenai solusi alternatif. Masalah kedua adalah kita benar-benar pada dasarnya kita tidak peduli dengan permasalahan satwa liar yang terancam punah. yang kita inginkan hanyalah mendirikan bebagai institusi-institusi pemerintahan baru yang menghambur-hamburkan uang dengan jumlah besar dengan mengatasnamakan perlindungan satwa liar, yang sebenarnya tidak mereka pedulikan.

Banyak pihak yang mengatakan bahwasanya ekonomi pasar tidak memberi jaminan mengenai perlindungan satwa liar, namun setelah saya teliti lebih jauh justru banyaknya masalah mengenai perlindungan satwa liar disebabkan karena kurangnya mekanisme pasar dalam menangani permasalahan tersebut. Dan salah satu langkah untama untuk mengimplementasikan mekanisme pasar adalah perlindungan terhadap hak kepemilikan.

Bila masyarakat diberikan hak untuk memiliki satwa-satwa liar tersebut, maka mereka akan memiliki insentif yang lebih besar untuk melestariakn satwa liar. Dan bila mereka merasakan manfaat dari keberadaan satwa liar maka hal tersebut juga akan membuat mereka lebih peduli terhadap satwa liar.

Saat ini kita memiliki berbagai lembaga-lembaga pemerintah dan organsiasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berdalih ingin melindungi satwa liar, namun pada dasarnya mereka tidak memiliki kepedulian terhadap satwa liar. Bila mereka benar-benar peduli pada satwa liar, maka mereka harusnya mengakui bahwa mekanisme pasar dapat melindungi satwa liar.

Hal ini sudah terbukti berhasil di berbagai wilayah di Amerika Serikat dan Eropa, dimana banyak satwa yang terancam punah menjadi lestari kembali karena orang-orang merasakan manfaat dari kehadiran hewan-hewan tersebut, salah satunya buaya. Bila hal tersebut dapat berhasil di Amerika dan Eropa, saya yakin hal demikian juga akan berhasil di negara-negara Asia yang memiliki lebih banyak satwa liar.

 Hal yang menarik terjadi di Afrika Selatan, dimana mereka mencoba gagasan tersebut terhadap Badak. Saat ini cula badak memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan emas dan untuk mendapatkan cula badak seseorang tidak harus membunuh badak. Cukup diambil saja dan dalam watu beberapa tahun cula tersebut akan tumbuh kembali.

Namun belakangan ini, pemerintah Afrika Selatan melarang praktik tersebut. perdagangan cula badak, dan pada akhirnya hanya kriminal yang mempu bergelut di bidang perdagangan cula. Mereka membunuh badak demi mendapat culanya, seseuatu yang sebetulnya tidak perlu untuk dilakukan.

Industri lain yang berpotensi mampu memberi pemasukan besar terhadap Afrika Selatan adalah berburu satwa liar. Turis-turis yang datang untuk berburu satwa liar dari Eropa, Amerika Serikat dan China telah mampu membawa pemasukan terhadap penduduk perdesaan yang miskin yang tinggal di banyak kawasan di Afrika Selatan.

Dengan demikian para penduduk desa memiliki insentif untuk melindungi satwa liar yang tinggal di wilayah mereka karena satwa-satwa liar tersebut menjadi sumber pemasukan mereka yang utama.

Di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, lembaga pemerhati satwa liar menyatakan bahwa mereka memiliki keprihatinan terhadap populasi buaya di alam liar yang semakin berkurang di negara tersebut. Oleh karena itu mereka mendirikan berbagai tempat peternakan untuk mengembangbiakkan buaya, dan yang terjadi adalah justru permasalahan buaya yang tinggal di alam liar menjadi menghilang.

Para pelaku industri fashion dapat memesan kulit buaya dari tempat-tempat pengembangbiakan hewan tersebut dan tidak perlu membaya pemburu liar untuk membunuh buaya di habitat aslinya. Mengapa hal tersebut tidak juga kita apliaksikan terhadap hewan-hewan lain seperti harimau dan gajah?

Bagaimana menurut Anda kebijakan pelestarian hewan liar di India, tempat asal Anda pada khususnya?

Kebijakan perlindungan satwa liar di India tidaklah berbeda dari kebijakan-kebijakan yanhg dilakuakn di negara-negara lain. India telah mengeluarkan jutaan dollar untuk melindungi satwa liar namun dengan hasil yang sangat nihil. India belum pernah mengimplementasikan kebijakan perlindungan satwa liar yang berorientasi pada mekanisme pasar, sama dengan negara-negara lainnya.

Oleh karena itu kita sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang tinggal di sekitar habitat satwa liar. Bila mereka dapat merasakan manfaat dari hadirnya satwa liar di wilayah mereka, tentu mereka naninya akan mendorong pemerintah untuk membuat pendekatan yang berbeda dalam upaya perlindungan satwa liar.

Mr Mitra, Terima kasih banyak untuk waktu dan kesempatan yang Anda berikan.

Sama-sama. Terima kasih banyak pula atas ketertarikan Anda terhadap artikel saya upaya perlindungan satwa liar melalui pendekatan mekanisme pasar pada umumnya. Saya berharap Anda mampu lebih berhasil daripada saya.

 

(Simak wawancara lengkapnya melalui podcast kami)

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]