Wawancara Dengan Pendiri Universitas Indonesia Liberalism dan Democracy Study Club (UILDSC)

Wawancara    | 16 Apr 2015 | Read 2840 times  
Wawancara Dengan Pendiri Universitas Indonesia Liberalism dan Democracy Study Club (UILDSC)

Masa mahasiswa adalah masa terpenting dalam formasi pemikiran seseorang. Di masa ini, seorang individu diberikan “kebebasan” memilih apa yang Ia anggap terbaik bagi kehidupannya. Pilihan bebas ini kerap tidak dibarengi dengan sikap tanggung jawab.

Ada banyak alasan mengapa demikian, satu alasan terpenting adalah persepsi salah tentang kebebasan. Luthfi seorang mahasiswa tingkat akhir di Departemen Ilmu Politik, FISIP UI bersama beberapa orang temannya telah mendirikan suatu kelompok studi yang berfokus pada pembelajaran dan diskusi tentang ide-ide Liberalisme dan juga soal Demokrasi.

Bagaimana aktivitas dan aktivisme Luthfi bersama UILDSC-nya menjadi fokus diskusi kita kali ini. Simak wawancara Muhammad Luthfi bersama Editor Pelaksana (Managing Editor) Suarakebebasan.org Muhamad Iksan.

Luthfi, bisa diceritakan kegiatan yang dilakukan untuk mahasiswa oleh UILDSC?

Kegiatan di UILDSC pada dasarnya adalah kegiatan-kegiatan yang mewadahi mahasiswa dan dosen tentang isu-isu demokrasi dan liberalisme, yang di kampus sendiri sangat terbatas untuk dibahas secara komprehensif. Padahal peluangnya sangat besar, hal ini dapat dilihat dari resource yang sangat banyak yang ada di UI. Terutama karena letak geografis UI yang berada di Jakarta pusat kekuasaan pemerintahan dimana banyak think-tank berada. Maka kami melihat adanya kemungkinan kita untuk menciptakan suatu kelompok studi yang mengkaji demokrasi dan liberalisme secara komprehensif, sebagai alternatif pembangunan Indonesia.

Mengapa memiliki interest terhadap Liberalism dan Democracy as background untuk Luthfi sendiri?

Perkenalan saya dengan liberalisme sebenarnya diawali dengan bacaan-bacaan  di mata kuliah Ilmu Politik. Juga sebagai ketertarikan saya terhadap mata kuliah Pemikiran Politik Barat dan Pemikiran Politik Kontemporer di Departemen saya, Departemen Ilmu Politik FISIP UI. Dimana beberapa isu sosial dan politik lebih banyak tidak melihat mengenai apa itu liberalisme. Kebanyakan malah mengkritik liberalisme. Kita berbicara oke ini efek neolib baik secara ekonomi dan sosial. Tetapi mereka dan saya sendiri tidak mendapatkan akses untuk membaca apa itu neoliberalisme itu sendiri. Nah kemudian saya mencoba untuk masuk ke dalam isu-isu tersebut dengan membaca dan kemudian melakukan diskusi dengan teman-teman saya yang kemudian menjadi pendiri UILDSC. Kemudian liberalisme dan demokrasi saya kembangkan dalam bentuk diskusi maupun perilaku moral, yang selama ini memberikan efek cukup baik dalam diri saya dan juga dalam tatanan sosial di lingkungan saya. Jadi liberalisme tidak hanya akademik, namun juga sebagai bentuk action yang nyata, untuk membentuk tatanan well-being yang ingin kita capai.

Bisa diceritakan aktivitas dinamika mahasiswa sejauh pengamatan Luthfi di UI pada khususnya mungkin?

Di UI saya baru masuk tahun 2011 dan saya memiliki kesempatan aktivisme mahasiswa pada tahun 2011 dengan memasuki MWA unsur mahasiswa. Dari situ, saya melihat sendiri bagaimana aktivitas mahasiswa terutama di UI. Saya melihat aktivitas mahasiswa sebagai seperti kegiatan yang sangat konservatif. Dengan romantisme tahun 1998, kemudian dengan bentuk kegiatan yang tidak bisa diperbaharui dikalangan mahasiswa, itu menyebabkan tidak ada perkembangan lebih jauh. Zaman sudah berbeda dan mahasiswa sudah berubah. Nah mahasiswa saat ini di era yang lebih demokratis bisa kita bilang saat ini dibandingkan 1998. Seharusnya memiliki peran penting. Tidak sebagai gerakan sosial yang turun ke jalan misalnya. Atau tidak sebagai gerakan sosial yang kemudian memprovokasi orang-orang untuk terlibat dalam isu sentiment-sentimen moral. Tetapi kita bisa melakukan studi atau menunjukan adanya fakta-fakta sosial yang diuji melalui kemampuan kita sebagai mahasiswa, yaitu belajar secara akademis. Sebenarnya itu yang saya lihat yang menjadi problem dalam aktivisme mahasiswa. UILDSC berusaha merubaha paradigm mahasiswa sebagai agen perubahan. Tetapi mahasiswa perubahan itu sendiri. Kritik saya terkait dengan aktivitas mahasiswa di UI terutama adalah tidak ada  rencana jangka panjang dari aktivisme mahaswa, dimana mahasiswa maksimal hanya 4 tahun menjadi mahasiswa. Sehingga ia terbagi fokus antara akademik atau aktivisme itu sendiri. Bayangkan bahwa aktivisme ini membutuhkan suatu proyek jangka panjang, Proyeknya adalah menciptakan embrio-embrio berkualitas yang dapat dimasukkan nanti ke dalam keseluruhan tatanan sosial ekonomi: think-tank, birokrasi, pemerintahan, partai politik dan akademisi itu sendiri yang kemudian benar-benar berkualitas dan memiliki idealisme bagi upaya perbaikan masyarakat Indonesia saat ini.

Sangat menarik, biasanya mahasiswa dianggap sebagai agen perubahan. Namun pandangan Luthfi mahasiswa adalah perubahan itu sendiri. Bisa lebih dielaborasi mahasiswa sebagai perubahan itu sendiri?

Mahasiswa perubahan itu sendiri adalah bahwa mahasiswa bukan yang mengubah tatanan sosial politik. Tetapi mahasiswa seharusnya/ideal, saya mengutip dari konsep Rawls bagaimana kita mewujudkan keadilan dalam terminologi liberal, maka perlunya kerjasama antara generasi. Kerjasama generasi diartikan bahwa generasi diandaikan bahwa ia akan menjadi pemerintahan itu sendiri. Kenapa kita perlu mengkiritik pemerintah? Saya akan beranalogi bahwa pemerintah selalu salah, bisa jadi seperti itu, atau kita melihat ada ketidakbecusan di pemerintahan sendiri. Kita melihat bahwa mahasiswa sebagai kelompok yang bisa mewadahi antara pemerintah dan masyarakat. Namun mahasiswa tidak pernah melakukan positioning yang jelas, di pemerintah atau di masyarakat. Apakah dia di bagian pemerintah atau di masyarakat? Kalau di pemerintah, maka dia akan bergerak untuk membantu dengan akses intelektual. Kekuatan mahasiswa dalam posisi masyarakat yaitu adalah kekuatan advokasi. Misalnya contoh didalam Oxford Union sebuah kelompok debat di Oxford. Mereka saling berdebat dalam satu isu yang menjadi acuan Parlemen Inggris. Misalnya juga Harvard Law Review yang kemudian menjadi acuan bagi Pemerintah dan Senat dalam membentuk kebijakan. Mahasiswa perubah itu sendiri. Kalau pun menjadi agen, menjadi permasalahan lagi agennya siapa begitu? Apakah mahasiswa bisa dipolitisir? Dengan masuknya ideologi surga misalnya di kalangan mahasiswa yang saat ini sangat berkembang menurut saya. Itu menjadi perkembangan tersendiri. Semua orang tertarik dengan surga. Kita sebut saja misalnya Ideologi-idelogi yang berbasis keagamaan. Tetapi dia meruntuhkan semangat-semangat akademis dan semangat-semangat perubahan yang menjadi potensi terbesar mahasiswa.

 

*) Wawancara selengkapnya bisa diakses melalui Podcast Suara Kebebasan di tautan berikut.

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan