Anggita Ludmila

Anggita Ludmila

Anggita Ludmila adalah seorang profesional di bidang digital marketing dan kutu buku politik internasional. Saat ini ia bekerja di salah satu agensi media internasional di Jakarta. Anggita dapat dihubungi di [email protected]

Opini 14 Okt 2016

Pada tulisan saya yang terakhir, saya membahas tentang tuntutan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) kepada MK terkait pasal KUHP yang membicarakan kekerasan dan hubungan seksual. Pada tulisan tersebut, titik berat dijatuhkan pada kemungkinan pembahasan UU tersebut berdampak pada pemojokan kaum LGBT, yang kemudian menggarisbawahi mundurnya kapasitas bertoleransi bangsa Indonesia dewasa ini.

Opini 13 Sep 2016

Beberapa hari ini, banyak orang berpikiran terbuka cukup gemas atas kasus gugatan yang diajukan  Aliansi Cinta Keluarga (AILA) yang meminta Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menafsirkan ulang beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang intinya meminta agar hubungan seksual di luar nikah dan penyuka sesama jenis dikriminalisasi. Terlepas dari respon kita yang geregetan untuk membantah dan menekankan pentingnya pemahaman tentang pemisahan sektor publik dan privat dalam sistem negara demokrasi, menurut saya muncul hal lain yang lebih penting.

Opini 28 Jul 2016

Tanggal 23 Juni 2016 menjadi titk akhir keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Hasil referendum menyatakan (sekitar) 51,8 persen memilih untuk keluar dari Uni Eropa. Hasil referendum tersebut juga diikuti dengan mundurnya David Cameron sebagai Perdana Menteri Inggris, anjloknya saham di berbagai belahan dunia, dan rentetan berita di seluruh dunia yang mencatat persitiwa ini sebagai “kebodohan”. Bahkan sama “bodoh”-nya apabila Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat.

Terlepas dari dampak keputusan referendum tersebut, artikel ini ingin membahas tentang masalah klasik yang tidak kunjung terselesaikan di Uni Eropa, yakni urusan regulasi dan birokrasi yang rumit, serta proses checks and balances yang buruk dalam suatu entitas organisasi supranasional. Brexit, merupakan pukulan bagi Uni Eropa atas kedua problem tersebut. Dan terlepas saat ini Inggris terpojokkan atas hasil referendumnya, dua hal ini penting untuk diintrospeksi oleh Uni Eropa.

Opini 23 Jun 2016

Hari ini (23 Juni 2016) Inggris akan mengadakan salah satu “pesta demokrasi” terpenting dalam sejarahnya: referendum untuk memutuskan tetap berada di dalam Uni Eropa, atau keluar. Referendum ini diadakan setelah beberapa waktu lalu PM Inggris David Cameron berjanji akan melakukan renegosiasi status keanggotaan Inggris di Uni Eropa dan memberikan kesempatan pada rakyat Inggris untuk memutuskan status keanggotaan mereka di dalam Uni Eropa jika partai Konservatif memenangkan pemilu.

Opini 13 Mei 2016

Sudah lebih dari satu tahun (29 April 2015) setelah pemerintah mengeksekusi 8 para tersangka narkoba, dan di tahun 2015, total 14 orang di eksekusi terkait dengan kasus narkoba. Argumen pemerintah saat itu, hukuman yang keras akan menurunkan angka penggunaan narkoba karena orang jadi berpikir dua kali – hukuman mati sebagai deterrence. Namun, yang terjadi justru sebaliknya – angka penggunaan narkoba meningkat. Dari bulan Mei hingga Desember 2015 saja, peningkatan terjadi drastis sebanyak 40%, total ada 5,9 juta pengguna Narkoba pada bulan November 2015, meningkat dari ‘hanya’ 4,2 juta pengguna di bulan Juni di tahun yang sama. (Untuk angka yang lebih detail, anda bisa membaca artikel dari Jakarta Coconuts).

Opini 7 Apr 2016

Pemilu Presiden Amerika Serikat semakin dekat. Hingga hari ini, telah ada beberapa debat kandidat di internal partai Republik dan Demokrat yang mengindikasikan semakin dekatnya pengumuman kandidat Presiden resmi masing-masing partai.

Saat ini, warga Amerika memiliki empat pilihan kandidat teratas dari kedua partai – orang-orang yang selalu mendominasi debat internal masing-masing partai, dan rasanya cukup aman untuk mengatakan bahwa pemilu Presiden Amerika saat ini “dimiliki” oleh keempat kandidat tersebut.