Eamonn Butler

Eamonn Butler

**Eamonn Butler adalah direktur Adam Smith Institute, sebuah Think Tank berpengaruh yang berusaha mendorong kompetisi dan pilihan dalam kebijakan publik. Meraih gelar akademis dalam ilmu ekonomi, psikologi, dan filsafat. Butler juga meraih gelar Ph.D dari University of St Andrews pada 1978.

Informasi 24 Jul 2019

DOWNLOAD DI SINI

 

Tentang Buku Ini

Cukup sulit menemukan buku yang mampu menjelaskan dengan sederhana dan objektif tentang apa yang dimaksud dengan kapitalisme, bagaimana sistem ini berjalan, termasuk kelebihan dan kekurangannya.

Kata kapitalisme itu sendiri diciptakan sebagai maksud cacian. Dan sampai hari ini, sebagian besar buku-buku yang membahas kapitalisme masih bermusuhan dengan kapitalisme itu sendiri, atau menjelaskannya dengan gambaran yang keliru. Juga biasanya pendukung kapitalisme sendiri kesulitan dalam memahami apa itu kapitalisme, sehingga mereka membenarkan beberapa kesalahpahaman tentang kapitalisme dibanding menjelaskan yang sebenarnya. 

Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk membuat panduan singkat yang memberi garis besar kapitalisme secara sederhana dan objektif. Maka inilah tujuan penulisan buku ini. 

Cakupan Buku 

Buku ini membahas prasangka dan kesalahpahaman tentang kapitalisme dengan cara berusaha mendefinisikan kapitalisme secara akurat - serta menjelaskan pengertian yang bukan kapitalisme - menguliti kekusutan yang datang dari kritikus-kritikusnya agar inti dan substansi kapitalisme itu sendiri bisa dipahami. 

Buku ini juga mengidentifikasi apa yang dimaksud dari modal, apa bentuknya, bagaimana dan mengapa modal bisa muncul, tujuannya, penggunaannya, sampai dengan dampak yang ditimbulkannya. Buku ini akan menjelajahi sifat kapitalisme dari sudut pandang sosial, ekonomi, dan moralitas, dan bagaimana institusi negara menunjangnya. 

Buku ini mengikuti jejak sejarah kapitalisme, menjelaskan beberapa gagasan besar pendukungnya, dan menguji kritikan para penentangnya. Buku ini menyediakan penilaian yang jujur dari kelebihan dan kelemahan kapitalisme, serta masa depannya. 

Untuk Siapa Buku Ini

Buku ini ditulis dengan sederhana, dengan bahasa yang mudah, bebas dari jargon-jargon, istilah teknis, catatan kaki atau glosarium khas akademisi. Tujuannya agar semua orang bisa memahami kapitalisme dengan sebenarnya - dan juga untuk membantu mereka yang merasa telah memahami kapitalisme agar bisa lebih paham lagi. 

Buku ini tentunya bisa membantu pelajar dan mahasiswa agar bisa memahami kapitalisme - terutama mengingat sebagian besar dosen universitas masih memusuhi kapitalisme, buku ini akan memberi pertanyaan yang tajam yang bisa digunakan untuk berdiskusi. 

 Tapi buku ini juga berguna untuk publik, termasuk pengusaha, politisi, dan warga secara umum yang tertarik ke dalam ide-ide ekonomi politik dan mencari panduan yang jujur menjelaskan gagasan dan argumentasi kapitalisme. 

Pandangan Penulis tentang Kapitalisme

Beberapa penulis buku-buku kapitalisme menjelaskan prasangka mereka tentang kapitalisme, atau bahkan mengakuinya. Mereka mengarahkan pembaca kepada miskonsepsi yang mereka ciptakan dan berpikir apa yang ditulisnya sebagai pandangan objektif. 

Saya secara terbuka mengakui bahwa saya mendukung cita-cita kapitalisme yang ideal - walaupun terkadang tidak mendukung kenyataannya. Saya menolak gagasan bahwa kapitalisme secara fundamental tidak bermoral dan anti-sosial. Justru saya percaya bahwa kapitalisme terdistorsi oleh intervensi negara lewat keputusan para politisi dan kemudian menyalahkan kapitalisme atas segala macam konsekuensinya. Tapi bahkan di dalam kondisi yang terdistorsi, sistem kapitalisme masih bisa menyebarkan kesejahteraan ke seantero planet.

Maka saya masih bersimpati pada cita-cita kapitalisme, walaupun menyadari segala kritikan yang menyerang konsep dan realitasnya. Dalam menjawab kritik terhadap kapitalisme, saya berharap ada keseimbangan perdebatan sehingga memberikan pembaca dengan penjelasan yang objektif tentang kapitalisme.

Konten Buku

Isi buku ini akan dimulai dari usaha untuk membedakan kapitalisme dari yang bukan kapitalisme. Kemudian menjelaskan apa itu modal, dari mana datangnya, apa fungsinya, mengapa kita membutuhkan modal, dan pentingnya struktur dan jalinan modal di masyarakat (yang sering diabaikan oleh kritikus maupun pendukung kapitalisme).

Kemudian buku ini menjelaskan hal-hal yang dibutuhkan agar kapitalisme bisa berjalan, mengurai peran dan sifat kepemilikan, insentif, kompetisi, pasar, institusi-institusinya, dan negara. Selanjutnya, buku ini mempertimbangkan kritik moral atas kapitalisme, beserta visi dan dampak moralnya yang positif (yang lebih jarang terdengar).

Buku ini akan meletakkan kapitalisme dalam konteks sejarah, memetakan sistem ekonomi yang sudah membantu menciptakan prinsip dan idealisme kapitalisme, beserta intervensi politik yang telah memudarkan dan menyesatkannya. 

Selanjutnya buku ini akan menjelaskan secara singkat gagasan dari beberapa pemikir besar dari kapitalisme, dan menanggapi kritikan dari pencelanya.

Akhir kata, buku ini menggaris bawahi kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman untuk menilai masa depan kapitalisme. Di akhir buku pembaca bisa menemukan daftar buku-buku yang juga bisa menambah wawasan dalam topik yang menarik ini.

Dasar Libertarianisme 10 Nov 2015

Peran pemerintah

Smith menyelidiki peran yang benar dari pemerintah dalam Buku V. Dia kritis terhadap pemerintah dan kepemerintahan, tetapi juga bukan pendukung utama laissez-faire. Dia percaya bahwa eknomi pasar yang dia jelaskan bisa berfungsi dan membawa keuntungan hanya jika peraturannya ditaati – ketika hak properti diamankan dan kontrak dihormati. Penegakan keadilan dan supremasi hukum oleh karena itu sangat penting.

Dasar Libertarianisme 10 Nov 2015

Sejarah lembaga ekonomi

Buku III mempelajari tentang perkembangan hubungan ekonomi, kadang kala lewat perkiraan sejarah, kadang lewat fakta sejarah dan kesejahteraan. Smith memulai dengan menapak tilas evolosu dari masyarakat agrarian ke industri. Berkembangnya perkotaan, dan saling ketergantungan antara kota denga desa, adalah hal yang sepenuhnya alamiah, selidiknya. Pengrajin membutuhkan petani untuk memproduksi makanan mereka, tetapi petani membutuhkan pengrajin untuk peralatan mereka, dan kota menyediakan pasar untuk barang-barang mereka: tentu saja, lebih besar kontanya, lebih besar pasarnya. Dan tentu saja salah (sebagaimana seorang ekonom ‘fisiokrat’ Perancis pada saat itu berpendapat) bahwa kota-kota sekedar dipelihara oleh desa: kedua pihak saling menambah nilai lewat pertukaran dari kontribusi masing-masing yang berbeda.

Dasar Libertarianisme 14 Okt 2015

Akumulasi Modal

Buku II dari The Wealth of Nations adalah tentang menumpuk modal, yang Smith nilai adalah kondisi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Penciptaan surplus (kelebihan) memungkinkan perdagangan dan spesialisasi. Spesialisasi ini membantu menciptakan bahkan lebih banyak surplus, yang nantinya dapat diinvestasikan kembali pada peralatan baru yang bisa menghemat tenaga kerja. Ini adalah lingkaran kebaikan. Terima kasih pada pertumbuhan modal, kesejahteraan menjadi kue yang lebih besar; satu orang (atau satu bangsa) tidak perlu menjadi lebih miskin untuk membuat yang lain menjadi lebih kaya. Sebaliknya, ketika kesejahteraan membesar, seluruh negara menjadi lebih kaya.

Dasar Libertarianisme 14 Okt 2015

Upah bergantung pada pertumbuhan ekonomi

Ketidaksempurnaan tersebut terjadi juga di pasar kerja. Tanah, modal dan kerja mungkin bisa saling bergantung satu dengan yang lain, tetapi pertarungan antara pekerja dan pengusaha dan tuan tanah adalah pertarungan yang timpang. Pengusaha mendukung hukum yang melarang pekerja saling bekerja sama (kolusi), kata Smith, walaupun kolusi antara para pengusaha kata Smith ‘selalu dan seragam’.[1] Tetapi para pengusaha harus ingat bahwa menjaga upah tetap rendah adalah strategi ekonomi yang salah; upah dan kondisi kerja yang lebih baik bisa meningkatkan produktifitas, sehingga menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi.

Dasar Libertarianisme 1 Okt 2015

Keuntungan Bersama yang diperoleh dari Perdagangan

Ide utama Smith dari Bab II menjelaskan bagaimana pertukaran (perdagangan) materil menyebarkan keuntungan dari efesiensi produktif ini ke masyarakat. Menggunakan bakat mental atau berkhayal, dia menghayalkan, seseorang dalam sebuah ‘bangsa primitif’ mungkin lebih baik dari yang lain dalam membuat anak panah, sementara yang lain lebih baik dalam mengolah logam. Dengan berspesialisasi, sang pembuat anak panah bisa memproduksi lebih, dan pandai besi memproduksi lebih banyak belati dari yang bisa dia gunakan. Sehingga mereka mempertukarkan anak panah untuk belati. Keduanya sekarang punya kombinasi yang berguna dari masing-masing alat dan masing-masing telah diuntungkan dari efisiensi rekan yang lain, yang menspesialisasi produksinya. 

Kecenderungan untuk ‘bertukar-menukar barang dan berdagang’, klaim Smith, adalah hal alamiah dan universal dari sifat manusia, karena memang kedua belah pihak diuntungkan. Tentu saja, pertukaran tidak akan terjadi jika keduanya merasa dirugikan oleh pertukaran ini. Dan ini adalah pemikiran yang sangat penting. Dalam dunia Smith, sebagaimana dunia kita, kebanyakan barang dipertukarkan dengan uang dan bukannya dipertukarkan dengan barang. Karena uang dianggap sebagai kekayaan, kelihatannya bahwa hanya penjual yang diuntungkan lewat proses ini. Tetapi Smith menunjukkan bahwa keuntungannya dialami satu sama lain. Dengan bertukar-menukar, kedua belah pihak mendapatkan benda yang mereka inginkan dengan usaha yang lebih sedikit dibandingkan jika mereka membuatnya untuk dirinya masing-masing. Masing-masing menjadi lebih kaya karena pertukaran. Kekayaan, dengan kata lain, bukanlah hal yang tetap, tetapi diciptakan lewat perdagangan manusia. Ini adalah ide yang menggemparkan pada waktu itu.

Pemikiran penting yang lain adalah bahwa perdagangan tetap akan menguntungkan kedua belah pihak, walaupun masing-masing pihak mengajukan dan menerima penawaran seutuhnya atas dasar kepentingan diri dan tidak mempertimbangkan kesejahteraan pihak yang lain. Ini adalah hal yang menguntungkan karena memberikan ajakan bagi orang-orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan yang kita sukai. Dalam kata-kata terkenal Smith:

Bukanlah dari kebaikan hati tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti, kita mengharapkan makan malam kita, tetapi dengan kesadaran akan kepentingan diri mereka. Kita memenuhi kebutuhan kita, bukan dengan kemanusiaan mereka tetapi dengan cinta-diri mereka, dan tidak pernah menawarkan mereka kebutuhan kita tetapi keuntungan mereka.[1]

Pernyataan ‘cinta-diri’ atau ‘kepentingan-diri’, Smith tidak maksudkan sebagai ‘ketamakan’ atau ‘egois’. Yang dia maksud menggunakan kata abad delapan-belas: bukan ingin mendapatkan untung dengan merugikan orang lain, tetapi sepenuhnya adalah memperhatikan secara seksama dan pantas kesejahteraan kita sendiri. Hal ini begitu alamiah dan penting bagi umat manusia sehingga dalam The Theory of Moral Sentiments, dia menyebutnya sebagai ‘kebajikan’.[2] Dalam buku yang sama, dia menekankan bahwa ‘simpati’ (atau yang kita sebut, empati) pada orang lain adalah salah satu karakter manusia yang paling penting, dan keadilan (tidak melukai orang lain) adalah salah satu aturannya yang paling fundamental.

Pasar yang lebih luas mendatangkan keuntungan yang lebih besar

Keuntungan yang kita dapatkan dari pertukaranlah yang mendorong kita untuk berspesialisasi dan nantinya meningkatkan surplus yang bisa kita pertukarkan dengan orang lain. Sebagaimana luas spesialisasi tersebut berkembang bergantung pada seberapa luas pertukaran itu tercipta, kata Smith – yaitu, seberapa luas pasar.[3] Hanya ‘kota besar’ yang menyediakan cukup konsumen untuk tukang periuk, contohnya; sementara masyarakat yang tersebar mungkin tidak mampu menyokong bahkan spesialis seperti tukang kayu atau pandai batu, sehingga memaksa orang-orang untuk melakukan lebih banyak hal untuk diri mereka sendiri.

Satu hal yang pastinya memperluas pasar adalah uang.[4]Hidup akan begitu repot jika pembuat bir yang sedang lapar selalu harus mencari tukang roti yang sedang kehausan. Itulah kenapa kita pada umumnya menggunakan uang sebagai perantara – menukarkan kelebihan produk kita dengan uang, kemudian menukarkan uang kita kembali dengan produk yang kita inginkan. 

Index nilai

Tetapi, entah itu dimediasi oleh uang atau tidak, apakah yang menentukan besaran nilai dari masing-masing produk yang berbeda ketika dipertukarkan? Inilah yang membingungkan Smith ketika sesuatu yang sangat tidak berguna (seperti berlian) punya “nilai tukar” yang begitu tinggi, ketika sesuatu yang sangat penting (seperti air) hampir tak ada nilai. Saat ini kita bisa dengan mudah menjawabnya menggunakan teori utilitas (nilai guna) marginal: karena berlian begitu langka, tambahan satu berlian membutuhkan harga yang tinggi; tetapi karena air begitu melimpah, tambahan satu cangkir sebenarnya tidak terlalu berguna bagi kita. Atau kita bisa memakai analisa permintaan dan penawaran.

Sayangnya, alat yang pertama tadi belum ada dan, pada saat penulisan The Wealth of Nations, Smith belum menyempurnakan alat yang kedua, sehingga dia kesulitan mengindentifikasi apa yang yang membuat suatu produk memiliki nilai tertentu.

Tampaknya alamiah baginya bahwa dalam masyarakat primitif, nilai awalnya pasti mencerminkan kerja yang dicurahkan dalam produksi barang tersebut.[5] Bukankah pada akhirnya, kita mencurahkan ‘kesusahan dan masalah’ dalam menciptakan sebuah produk yang kita jual adalah agar kita bisa membebaskan diri kita dari kesusahan untuk menciptakan produk yang kita beli. TIdak ada gunanya bagi siapapun untuk membeli sesuatu yang bisa mereka ciptakan sendiri dengan sedikit usaha; jadi tingkat nilai tukar yang ideal harus mencerminkan jumlah usaha yang sama.

Oleh karenanya jika bagi pemburu ‘biasanya membutuhkan dua kali usaha kerja untuk memburu berang-berang dibandingkan memburu rusa, satu berang-berang secara alamiah mestinya ditukarkan atau bernilai dua rusa’.[6] Tentu saja, selidik Smith, tidak semua kerja adalah sama. Ada proses produksi yang lebih sulit dikerjakan, memerlukan lebih banyak kepintaran, atau membutuhkan waktu pelatihan dan pengalaman yang lebih panjang. Tetapi faktor ini akan diperhitungkan dengan “tawar-menawar dalam pasar’.[7]

Bagian ini dari The Wealth of Nations telah begitu banyak dikritisi sebagai ‘teori nilai kerja’, yang nantinya memungkinkan Karl Marx untuk mengklaim bahwa kerja dari pekerja telah secara terus-menerus dicuri oleh para bos-bos kapitalis. Jika demikian, pasti para bos ini tidak menciptakan hal baik bagi dunia.

Tetapi Smith sebenarnya tidak menuntun kita kepada teori nilai kerja. Dia sebenarnya sedang berusaha untuk memahami apa yang sekarang kita lihat sebagai salah satu tolak ukur ekonomi, biaya produksi total. Dalam masyarakat berburu, biaya ini seluruhnya terdiri dari kerja. Tetapi kita telah berevolusi jauh dari jaman ini; dan Smith melanjutkan dengan mengidentifikasi faktor produksi lainnya – tanah dan modal – yang telah dipakai dalam sistem ekonomi moderen. Ide ini sekali lagi telah menjadi konsep penting dalam ekonomi saat ini. Dan nantinya, Smith memperkenalkan penawaran dan permintaan, mempelajari bukan hanya bagaimana perimintaan dan penawaran ini mempengaruhi harga, tetapi juga bagaimana mereka menggerakkan seluruh sistem produksi dan distribusi. Ini adalah hal yang membuka khazanah baru dan dia menjelaskannya dalam beberapa bab, yang harus dibaca secara keseluruhan, dan yang menyelidiki bagaimana masyarakat meninggalkan jumlah kerja sebagia satu-satu-nya sumber nilai.[8]

Tanah, kerja dan modal

Untuk segala hal yang diproduksi pada zaman moderen ini, anda membutuhkan orang-orang untuk melakukan pekerjaan, juga perlengkapan seperti peralatan dan mesin bagi mereka dan juga tempat untuk bekerja. Total biaya oleh karena itu bisa dibagi menjadi tiga faktor besar produksi, menurut Smith.[9] Tidak seperti pada ekonomi berburu, faktor ini dimiliki oleh orang-orang yang berbeda, yang oleh karenanya berhak mendapat bagian dari pendapatan berdasarkan apa yang diproduksinya Yaitu kerja untuk pekerja, tentu saja, ditunjukkan dalam upah. Juga ada modal (Smith sebut sebagai barang persediaan) yang disediakan oleh pengusaha, ditunjukkan dalam laba. Juga adanya penggunaan tanah, digambarkan sebagai sewa yang dibayarkan pada tuan tanah.

Tanah, modal dan kerja oleh karenanya semuanya memberi sumbangsih bagi produksi, membuat pekerja, pengusaha, dan tuan tanah semuanya saling bergantung. Tetapi saling ketergantungan mereka lebih dari sekedar produksi; karena kebanyakan produksi ini adalah untuk saling dipertukarkan, mereka semuanya terlibat dalam penilaian dan pendistribusian dari produk ini juga. Smith menuntun kita secara perlahan pada kesadaran bahwa produksi, valuasi (penilaian) dan distribusi dari hasil kerja suatu bangsa tidak berada terpisah-pisah, tetapi semuanya terjadi secara bersamaan sebagai bagian yang saling berhubungan dalam suatu sistem ekonomi yang berjalan, dimana semua orang adalah bagiannya. Ini juga adalah suatu inovasi teoritis yang luar biasa.

Bagaimana pasar mengatur produksi

Smith kemudian menjelaskan bagaimana sistem ini menuntun dan mengatur produksi. “Harga pasar” dengan mana produk dipertukarkan, kata dia, bisa lebih tinggi atau rendah dari total biaya produksi (yang dia sebut sebagai ‘harga alamiah’),[10] bergantung pada permintaan dari produk tersebut (atau paling tidak, permintaan ‘efektual’ (yang bisa terjadi) dari konsumen yang punya uang untuk membeli) dan berapa banyak yang disediakan di pasar. Jika harga pasar lebih tinggi dari total biaya produksi, mereka untung; jika lebih rendah, mereka rugi.

Harga pasar tidak akan pernah tetap di bawah biaya produksi dalam jangka waktu lama; pembeli akan menarik diri, dari pada menderita rugi berkepanjangan. Tetapi juga tidak akan menjadi sangat tinggi. Karena ini akan menjadi peringatan bagi pesaing bahwa ada untung yang bisa dibuat; penawaran akan meningkat dan harga pasar akan tertarik untuk turun lagi. Sehingga tujuan dari industri adalah untuk memberikan jumlah yang setimbang (equilibrium) ke pasar.

Tentu saja, persaingan bisa tidak sempurna. Peraturan bisa membatasi akses masuk ke pasar. Pelaku monopoli bisa memaksa harga naik dengan menjaga pasar tanpa stok barang yang cukup. Atau informasi yang tidak sempurna: contohnya, penemu sebuah proses produksi yang lebih murah bisa menikmati untung luar biasa pada beberapa tahun awal, sampai pesaingnya juga menemukannya. Jadi harga ‘alami’ dan harga pasar bisa saling bersilangan. 

 

Endnotes:

[1] Ibid., Buku I, bab II, hlm. 26-7, paragraf 12.

[2] The Theory of Moral Sentiments, Bab. VI, Bagian I.

[3] The Wealth of Nations, Buku I, Bab III.

[4] Ibid., Buku I, Bab IV.

[5] Ibid., Buku I, Bab V.

[6] Ibid., Buku I, Bab IV, hlm. 65, paragraf 1.

[7] Ibid., Buku I, Bab I, hlm. 49, paragraf 4.

[8] Ibid., Buku I, Bab V-XI.

[9] Ibid., Buku I, Bab VI.

[10] Ibid., Buku I, Bab VII.