Iqbal Dawam Wibisono

Iqbal Dawam Wibisono

Iqbal Dawam Wibisono adalah lulusan Ilmu Ekonomi Unpad. Saat ini Iqbal bekerja sebagai asisten peneliti di Center for Economics & Development Studies (CEDS), tim riset di Youth Freedom Network (YFN) dan aktif sebagai ketua Studium Veritatis, klub kajian dan diskusi ekonomi, sosial, dan politik di Bandung. Iqbal penah terlibat dalam penelitian sektor informal di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS bekerja sama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga terlibat dalam penelitian analisis kinerja pasar jasa penerbangan di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Iqbal bisa dihubungi melalui email: [email protected]

Opini 23 Mei 2017

Rasanya tidak ada lagi momentum yang paling tepat untuk menghapus hukum dan UU penodaan agama, selain waktu sekarang-sekarang ini.

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dijatuhi hukuman penjara 2 tahun penjara karena perkataannya yang mengkritik elit politik yang sering memanfaatkan agama demi kepentingan politik –yang kemudian dianggap menodai agama Islam. Meski sudah berkali-kali meminta maaf, ucapannya digunakan untuk membangkitkan sentimen kebencian keagamaan untuk mengalahkan Ahok di Pilgub Jakarta.

Opini 11 Mei 2017

Dengan berbagai keriuhan pilkada dan tetek-bengeknya, mari kita tidak melupakan fakta yang berkaitan dengan hajat hidup kita berikut ini: pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengatur keberadaan taksi daring (online) yang kini menjamur di kota-kota besar melalui revisi permenhub 32 tahun 2016 dan 2017.

Salah satu aturan yang diberlakukan adalah dengan menerapkan tarif atas bawah (floor pricing). Sederhananya, peraturan ini akan memberlakukan tarif termurah sekaligus termahal untuk taksi online. Uber, Gojek, dan lainnya tidak bisa lagi seketika memberlakukan promo murah seperti yang sudah-sudah, atau kenaikan harga secara signifikan apabila ada kenaikan permintaan secara drastis. Pemerintah menyatakan bahwa kebijakan ini dilakukan justru untuk melindungi konsumen dari harga yang naik-turun. Pemerintah percaya, harga yang stabil akan cenderung lebih menguntungkan masyarakat. Benarkah demikian?

Opini 19 Apr 2017

Apabila ada satu hal yang patut kita renungkan di masa-masa akhir pilgub DKI Jakarta, maka menurut saya yang paling utama adalah menguatnya narasi kebencian atas nama agama. Pilkada yang seharusnya menjadi ajang mencari pemimpin terbaik di ibu kota, berubah menjadi ajang kampanye paling massif untuk menolak pemimpin beragama non-muslim, meningkatnya praktik intoleransi, dan supremasi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai ulama.

Opini 17 Agu 2016

Pada dasarnya, aspek-aspek dalam kapitalisme tidak hanya dalam reformasi makro seperti keterbukaan ekonomi, stabilisasi mata uang, dan regulasi perdagangan internasional dan investasi swasta seperti yang banyak diyakini para advokat kapitalisme secara umum.

Hernando de Soto dalam buku The Mystery of Capital berargumen, kapitalisme selama ini memang menunjukkan efeknya dalam meningkatkan kesejahteraan suatu negara, tetapi hanya menguntungkan kelas-kelas yang memiliki keistimewaan (privilege) saja dan orang miskin tidak begitu diuntungkan. Salah satu aspek dasar kapitalisme yang paling sering dilupakan adalah dalam aspek mikro, yaitu sistem hak kepemilikan (property rights). De Soto mengkritik para advokat kapitalisme karena mereka melupakan kelompok yang terpenting, yaitu orang-orang miskin.

Opini 19 Apr 2016

Belakangan ini, peran pemerintah sudah hadir dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam banyak permasalahan, sepertinya berharap bahwa pemerintah bisa dengan ajaib mengatasi masalah-masalah yang ada sudah jadi kepercayaan umum. Banyak yang lupa bahwa program  pemerintah membutuhkan pengeluaran, di mana pengeluaran tersebut diambil dari pajak.

Pada dasarnya, setiap ada tambahan satu program baru pemerintah, maka harus ada uang pajak tambahan yang diambil dari masyarakat untuk menjalankan program tersebut. Walaupun pada penerapannya, mekanisme pajak tentu tidak sesederhana itu.

Opini 19 Mar 2016

Kapitalisme seringkali dikaitkan dengan egoisme di mana orang-orang menjadi hanya peduli dengan dirinya sendiri dan menjadi anti-sosial. Kapitalisme juga seringkali disamakan dengan keserakahan di mana orang-orang saling berkompetisi dan saling membunuh satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Adam Smith, salah satu tokoh pencetus kapitalisme laissez faire seringkali disalahkan akan hal-hal tersebut.