Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Opini 19 Feb 2016

Udin sedih bukan kepalang. Malam itu, 28 Agustus 2015, ia bersama beberapa rekannya harus mendekam di penjara. Kejahatannya? Udin dan rekan-rekan bekerja sebagai supir taksi Uber.

Sebagaimana diberitakan kompas.com, Udin “dijebak” seorang penumpang yang ingin diantar ke Mabes Polri. Sesampainya di tujuan, sang penumpang langsung melaporkan Udin ke petugas polisi dan terungkap bahwa sesungguhnya sang penumpang merupakan staf Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Opini 15 Des 2015

Apa itu keadilan? Bagi John Rawls, jawabannya mudah: keadilan adalah fairness. Tetapi, apa itu fairness?

Kita semua terlahir di dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang lahir dalam keluarga kaya, ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang terlahir sebagai cina, negro, ahmadiyah, perempuan, dan berbagai identitas minoritas lain. Tetapi ada juga yang terlahir dengan berbagai previlese: laki-laki, kulit putih, kaukasian, dan kelas menengah. Kita lahir tanpa pernah bisa memilih itu semua.

Resensi 10 Des 2015

Kemiskinan merupakan persoalan akut yang masih menjadi tema sentral dalam diskursus ekonomi, ilmu politik, dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Jika dilihat dari perspektif sejarah, tingkat kemiskinan di dunia secara rata-rata memang terus menurun dibandingkan dengan, misalnya, seratus atau dua ratus tahun yang lalu. Tetapi, menurut data World Bank dari tahun 2012, masih ada sekitar 12,7 persen warga dunia hidup di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut mungkin terdengar kecil. Tetapi jika diterjemahkan ke dalam angka nominal, itu berarti ada sekitar 896 juta orang miskin di dunia. Mengapa kemiskinan susah diberantas? Apa yang menyebabkan suatu masyarakat menjadi miskin?

Opini 20 Nov 2015

Surat edaran Kepolisian Indonesia mengenai ujaran kebencian (hate speech) ditanggapi cukup ramai oleh masyarakat. Banyak pihak mengkhawatirkan surat edaran tersebut akan mengebiri kebebasan berpendapat, khususnya buat mereka yang secara rutin 'nyinyir' mengomentari kondisi sosial-politik di media sosial.

Resensi 7 Jul 2015

Di dalam diskursus politik ekonomi, ada sebuah tragedi yang dikenal sebagai tragedy of the commons. Tragedy of the commons adalah tragedi dimana sebuah komoditas publik menjadi habis atau rusak karena individu-individu yang menggunakannya berlomba-lomba mengeksploitasi utilitas komoditas tersebut, mumpung gratis. Komoditas publik di sini bisa berupa sumber daya alam yang tidak diregulasi (empang, sungai, hutan) atau fasilitas publik (telepon umum, trotoar, subsidi kesehatan). Komoditas publik cenderung dieksploitasi karena upaya (cost) untuk menikmatinya sangat rendah, ditambah lagi individu-individu yang mengeksploitasi komoditas tersebut didorong oleh insentif “kalau bukan saya yang menghabiskannya, nanti orang lain”.

Opini 28 Mar 2015

Penandatanganan nota kesepahaman pada 6 Februari 2015 antara PT. Adiperkasa Citra Lestari dengan perusahaan otomotif Malaysia, Proton Holdings, membuat isu mengenai mobil nasional kembali menghangat. Penandatanganan tersebut memicu kritik terkait posisi AM Hendropriyono sebagai pemilik PT. Adiperkasa Citra Lestari, yang dekat dengan Presiden Joko Widodo. Namun, terlepas dari kontroversi politik yang ramai di media, peristiwa ini mengingatkan kita betapa rakyat Indonesia benar-benar mendambakan negerinya mampu menciptakan mobil sendiri.