Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Opini 6 Apr 2016

Lebih dari satu setengah abad setelah Frederic Bastiat menulis risalahnya yang berjudul "The Law", ternyata masih ada saja pemerintah yang tidak paham peran dan posisinya sebagai pelindung hak-hak individu. Bukannya melindungi, saat ini justru banyak negara yang melanggar hak individu dan melakukan legal plunder (perampokan legal). Salah satunya adalah Indonesia.

Opini 24 Mar 2016

Setelah sekian lama, layanan Netflix akhirnya hadir juga di Indonesia. Banyak warga, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, sudah menantikan layanan ini. Tetapi, sebagaimana biasa, pemerintah kemudian menjadi pihak pertama yang ingin merusak suasana: mereka menyatakan akan menyensor konten layanan Netflix. Menurut pemerintah, konten Netflix harus disensor untuk melindungi masyarakat dari tayangan-tayangan yang subversif dan kontroversial.

Opini 12 Mar 2016

Pemerintah mencabut industri film nasional dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Kebijakan ini praktis membuka pintu investasi asing di ranah industri film nasional selebar-lebarnya.

Ketika akan diumumkan, pelaku industri film di Indonesia menanggapi kebijakan tersebut dengan beragam reaksi. Ada orang-orang seperti Ody Mulya Hidayat, produser Maxima Pictures, yang menolak pencabutan DNI atas alasan proteksi dan nasionalisme.

Seperti diberitakan tempo.co, Ody mengatakan bahwa pencabutan industri film dari DNI justru akan akan mematikan industri perfilman lokal. “Bioskop asing pasti akan mengutamakan film-film negaranya dan kita tidak akan mampu bersaing,” kata Ody. Ia kemudian menambahkan bahwa investasi asing dapat menjadi awal masuknya budaya asing yang akan mempengaruhi budaya nasional.

Resensi 22 Feb 2016

Krisis finansial tahun 2008 meninggalkan penderitaan dan trauma yang dalam bagi masyarakat Amerika Serikat pada khususnya. Banyak pihak menyatakan bahwa krisis tersebut merupakan krisis finansial terburuk sejak era Depresi Besar di dekade 1930-an. Kerusakan yang timbul akibat bencana finansial 2008 memang cukup berat: output produk dan jasa menurun, pengangguran meningkat, dan ribuan keluarga terpaksa menjadi tunawisma.

Peristiwa ini tentu saja menarik minat dan perhatian para pembuat film. Setidaknya ada dua judul film yang sering dirujuk orang jika membicarakan krisis 2008: The Inside Job (Charles Ferguson, 2010) dan Capitalism: A Love Story (Michael Moore, 2009). Tahun ini kita disuguhkan sebuah film drama-komedi mengenai krisis 2008 yang segar dan menghibur berjudul The Big Short.

Opini 19 Feb 2016

Udin sedih bukan kepalang. Malam itu, 28 Agustus 2015, ia bersama beberapa rekannya harus mendekam di penjara. Kejahatannya? Udin dan rekan-rekan bekerja sebagai supir taksi Uber.

Sebagaimana diberitakan kompas.com, Udin “dijebak” seorang penumpang yang ingin diantar ke Mabes Polri. Sesampainya di tujuan, sang penumpang langsung melaporkan Udin ke petugas polisi dan terungkap bahwa sesungguhnya sang penumpang merupakan staf Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Opini 15 Des 2015

Apa itu keadilan? Bagi John Rawls, jawabannya mudah: keadilan adalah fairness. Tetapi, apa itu fairness?

Kita semua terlahir di dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang lahir dalam keluarga kaya, ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang terlahir sebagai cina, negro, ahmadiyah, perempuan, dan berbagai identitas minoritas lain. Tetapi ada juga yang terlahir dengan berbagai previlese: laki-laki, kulit putih, kaukasian, dan kelas menengah. Kita lahir tanpa pernah bisa memilih itu semua.