Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Resensi 31 Okt 2016

Sejak dulu, saya kagum sekali dengan organisasi-organisasi kemanusiaan semacam Oxfam, Palang Merah International, UNICEF, dsb. Menurut saya, apa yang mereka lakukan sangat mulia dan keren.

Di tengah himpitan karakter masyarakat global yang (katanya) makin individualistis dan egois, orang-orang yang bekerja di organisasi-organisasi semacam itu secara sukarela menghimpun sumber daya dan upaya untuk membantu manusia-manusia lain yang sedang kesusahan. Kalau melihat organisasi-organisasi kemanusiaan semacam itu, iman saya terhadap konsep kemanusiaan” seperti mendapat angin segar.

Sampai akhirnya saya menonton Poverty Inc.. Film dokumenter ini membuka mata saya terhadap sisi buruk dari bantuan kemanusiaan. Setelah menonton film ini, saya belajar bagaimana bantuan kemanusiaan yang terlalu berlebihan justru akan menghancurkan penghidupan orang-orang yang menerima bantuan.

Opini 7 Sep 2016

Di distrik Zheng Zhou, China, ada sebuah kota urban yang dibangun dengan sangat megah. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas lengkap: blok-blok apartemen, pusat hiburan, gedung perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan. Namun, tidak seperti bayangan kita tentang sebuah kota besar, kota urban di Zheng Zhou ini lebih pantas disebut sebagai sebuah kota mati. Tidak ada kesibukan, tidak ada orang yang lalu lalang. Tidak ada aktivitas apapun yang mengindikasikan kehidupan kota urban, kecuali sejumlah gedung megah dan perkantoran yang isinya kosong melompong.

Salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut, dinamakan New South China Mall, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Ketika akan didirikan, pihak pengembang sesumbar bahwa mal ini akan menjadi mal paling besar di dunia: memiliki 1.500 ruang toko untuk disewakan, dan diperkirakan akan menarik 70.000 pengunjung setiap harinya. The New York Times bahkan menyebut pembangunan mal tersebut sebagai sebuah “bukti pertumbuhan kultur konsumsi masyarakat China yang mencengangkan”.

Opini 15 Agu 2016

Di mana batas dari individualisme? Inilah salah satu pertanyaan yang harus dijawab kelompok libertarian jika mereka ingin melakukan otokritik. Sebagaimana kita tahu, libertarianisme berpusat pada ide individualisme. Segala upaya teoritis dan kritis yang dilakukan kelompok libertarian seharusnya menyasar pada dua target utama: melindungi dan mempromosikan hak-hak individu.

Opini 28 Jul 2016

Salah satu aspek yang membuat saya tertarik dengan ide libertarianisme adalah mengenai konsep pasar bebas. Menurut saya, pasar bebas merupakan salah satu konsep sosial yang paling brilian: konsep ini sederhana, sangat masuk akal, dan dapat menjelaskan berbagai fenomena ekonomi dengan sangat ringkas dan efektif, mulai dari asal-usul kemakmuran suatu masyarakat, harga suatu barang, hingga perilaku manusia.

Pasar bebas dapat kita definisikan secara sederhana sebagai sebuah sistem perekonomian dimana masing-masing orang dapat melakukan aktivitas ekonomi secara bebas tanpa ada intervensi dan restriksi eksternal. Di dalam pasar bebas, anda bebas melakukan pertukaran komoditas dengan pihak manapun yang anda suka, selama kedua belah pihak saling bersepakat terhadap syarat dan harga yang harus dibayar satu sama lain.

Opini 13 Jun 2016

Rasa-rasanya tidak ada ideologi yang lebih populer daripada marxisme. Meski sudah gagal berkali-kali dan nyaris mati, ideologi ini masih banyak dianut dan diperbincangkan dengan antusiasme yang tidak surut.

Hal ini bisa dimaklumi. Terlepas dari segala kontroversi yang melingkupi marxisme, ideologi ini memang bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan etis yang paling primordial dari kemanusiaan, yakni soal keadilan, kesetaraan, dan emansipasi. Status ideologi ini sebagai ideologi perlawanan juga memberikan semacam nuansa romantisisme perjuangan dan heroisme.

Opini 24 Mei 2016

Libertarianisme adalah paham yang berorientasi pada kebebasan individu. Bagi seorang libertarian, hak-hak individu harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi di atas kepentingan-kepentingan kelompok, entah itu kepentingan suku, masyarakat, agama, atau bahkan negara.

Ada banyak alasan mengapa libertarian menganggap individu sebagai entitas terpenting. Dua alasan yang paling menonjol: (1) individu adalah unit terkecil dan paling konkret dari masyarakat, dan (2) kepercayaan bahwa, dalam jangka panjang, penjaminan terhadap hak-hak individu justru akan membawa dampak yang positif terhadap kepentingan masyarakat secara umum.