Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Opini 30 Jan 2017

Salah satu olok-olok yang kerap dilontarkan para Marxis terhadap kapitalisme adalah mengenai mitos tentang kerja keras. Mereka mengatakan bahwa anjuran kerja keras agar hidup makmur dalam kapitalisme adalah omong kosong. Bagi para Marxis, struktur masyarakat kapitalisme sangat tidak adil, sehingga sekeras apapun anda bekerja, anda tidak akan pernah sekaya para pemilik modal yang mendapatkan profit hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Salah satu bentuk olok-olok tersebut misalnya terdapat pada meme berikut: 

Opini 13 Des 2016

Fidel Castro baru saja wafat pada 25 November 2016 kemarin. Peristiwa ini mengundang berbagai reaksi. Beberapa media (termasuk media lokal seperti Tirto.id dan GeoTimes) mengelu-elukan jasa dan warisan Castro bagi masyarakat Kuba. Sementara sebagian orang lain, terutama para eksil Kuba yang sekarang tinggal di Amerika Serikat, merayakan kematian Castro dengan pesta pora.

Opini 28 Nov 2016

Banyak tersiar kabar di media kalau Facebook dan Google akan memerangi situs berita abal-abal (fake news outlet). Hal ini mereka lakukan setelah menerima banyak kritik dari berbagai pihak karena dianggap abai terhadap kualitas konten yang berseliweran di situs mereka. Para pengkritik ini mengatakan bahwa banyaknya berita bohong atau hoaxes di Facebook sangat mempengaruhi hasil akhir pemilu presiden AS kemarin.

Opini 15 Nov 2016

Di tengah ribut-ribut mengenai kasus Ahok dan Surat Al Maidah ayat 51, ada baiknya kita mulai memikirkan ulang konsep penistaan agama (blasphemy).

Apa itu penistaan agama? Ini definisi menurut Pasal 156a KUHP: semua bentuk ekspresi perasaan atau perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Resensi 31 Okt 2016

Sejak dulu, saya kagum sekali dengan organisasi-organisasi kemanusiaan semacam Oxfam, Palang Merah International, UNICEF, dsb. Menurut saya, apa yang mereka lakukan sangat mulia dan keren.

Di tengah himpitan karakter masyarakat global yang (katanya) makin individualistis dan egois, orang-orang yang bekerja di organisasi-organisasi semacam itu secara sukarela menghimpun sumber daya dan upaya untuk membantu manusia-manusia lain yang sedang kesusahan. Kalau melihat organisasi-organisasi kemanusiaan semacam itu, iman saya terhadap konsep kemanusiaan” seperti mendapat angin segar.

Sampai akhirnya saya menonton Poverty Inc.. Film dokumenter ini membuka mata saya terhadap sisi buruk dari bantuan kemanusiaan. Setelah menonton film ini, saya belajar bagaimana bantuan kemanusiaan yang terlalu berlebihan justru akan menghancurkan penghidupan orang-orang yang menerima bantuan.

Opini 7 Sep 2016

Di distrik Zheng Zhou, China, ada sebuah kota urban yang dibangun dengan sangat megah. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas lengkap: blok-blok apartemen, pusat hiburan, gedung perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan. Namun, tidak seperti bayangan kita tentang sebuah kota besar, kota urban di Zheng Zhou ini lebih pantas disebut sebagai sebuah kota mati. Tidak ada kesibukan, tidak ada orang yang lalu lalang. Tidak ada aktivitas apapun yang mengindikasikan kehidupan kota urban, kecuali sejumlah gedung megah dan perkantoran yang isinya kosong melompong.

Salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut, dinamakan New South China Mall, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Ketika akan didirikan, pihak pengembang sesumbar bahwa mal ini akan menjadi mal paling besar di dunia: memiliki 1.500 ruang toko untuk disewakan, dan diperkirakan akan menarik 70.000 pengunjung setiap harinya. The New York Times bahkan menyebut pembangunan mal tersebut sebagai sebuah “bukti pertumbuhan kultur konsumsi masyarakat China yang mencengangkan”.