Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Opini 26 Okt 2017

Harus diakui dinamika politik dewasa ini sudah berubah. Masyarakat tidak lagi mudah percaya pada institusi-institusi mapan seperti lembaga perwakilan (parlemen) dan, khususnya, partai politik.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populi Center pada tahun 2015, masyarakat menganggap Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga terkorup di negeri ini, bersanding dengan Kepolisian RI di urutan kedua. Survei yang sama juga mengungkapkan bahwa hanya 12,5 persen masyarakat yang percaya bahwa partai politik adalah institusi yang ‘bersih’.

Ini bisa jadi disebabkan oleh perilaku para aktor politik di dalam institusi-institusi tersebut yang tidak lagi mampu merepresentasikan aspirasi publik dengan baik. Ada celah yang begitu lebar antara kinerja anggota legislatif dan harapan publik tentang lembaga perwakilan yang baik. Selain itu, reputasi anggota dewan juga sudah tercoreng begitu rupa oleh berbagai skandal korupsi dan pelanggaran kode etik.

Kondisi ini idealnya bisa kita ubah melalui proses kepemiluan yang jujur dan adil. Sialnya, partai politik tidak mampu memberikan tawaran pilihan calon pemimpin yang baik pula kepada masyarakat. Sudah sering kita dengar keluhan masyarakat bahwa politisi yang muncul tiap pemilu adalah wajah-wajah lama, alias 4L (lu lagi, lu lagi). Kalaupun ada wajah baru, latar belakangnya tidak jelas dan tidak dikenal publik secara luas.

Opini 24 Jul 2017

Coba tanya ke orang-orang di sekitar kamu: apa lawan kata dari “fragile” (“rapuh” atau “rentan”). Kebanyakan orang akan menjawab “robust” (“kokoh”). Secara logika, jawaban ini salah.

Jika kita mendefinisikan hal-hal yang fragile sebagai sesuatu yang akan rusak, dan bahkan hancur, ketika mendapatkan guncangan atau tekanan, maka lawan kata atau kebalikan dari fragile bukanlah sekedar kokoh. Benda yang kokoh hanya sekedar “kuat” menerima guncangan atau tekanan. Lawan kata dari fragile haruslah sesuatu yang bukan sekedar “kuat”, tetapi “tumbuh” dan “berkembang” ketika mendapatkan guncangan atau tekanan. Benda-benda yang fragile membenci tekanan, ketidakpastian, dan instabilitas, sedangkan benda-benda yang berkebalikan dari fragile menyukai itu semua.

Opini 2 Jun 2017

Pilkada Jakarta 2017 menyisakan banyak perasaan tidak enak. Dimulai ketika Ahok “terpeleset lidah” menyebut-nyebut surat Al Maidah ayat 51. Umat Islam tersinggung, lalu marah-marah, sampai sekarang. Kontestasi pemilu Jakarta kemudian diwarnai sentimen ras dan agama yang sengit.

Cerita 27 Apr 2017

Seiring perkembangan politik dan kultur demokrasi yang semakin mapan, masyarakat semakin membutuhkan kanal untuk menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka tentang kehidupan publik yang lebih baik. Tadinya (dan seharusnya), peran penyaluran aspirasi tersebut ada di partai politik. Namun, semakin ke sini peran partai politik berangsur-angsur berubah dari organisasi politik massa menjadi sekedar alat bagi para politisi untuk tetap berpartisipasi di dalam arena perebutan kekuasaan.

Opini 27 Mar 2017

Lagi-lagi ada ribut-ribut soal transportasi online. Di Bandung, ratusan supir angkot melakukan aksi mogok dan berunjuk rasa di depan Gedung Sate. Mereka menuntut Pemerintah Kota Bandung melarang GoJek, Grab, dan Uber. Di tengah-tengah aksi, sekelompok supir angkot merusak sebuah mobil yang dikira taksi online. Mereka merusak dan menghancurkan kaca mobil meski saat itu di dalam mobil terdapat sejumlah penumpang yang ketakutan.

Opini 21 Mar 2017

Tidak seperti anggapan kebanyakan orang, kapitalisme dan sosialisme adalah dua ideologi yang sebetulnya punya banyak kesamaan.

Salah satu contoh kesamaannya, kedua ideologi sama-sama merupakan ideologi emansipatif, dalam artian keduanya ingin membebaskan manusia dari kondisi sosial yang belum ideal. Selain itu, kedua ideologi juga punya posisi diametral terhadap negara (kapitalisme dalam semangat laissez faire dan sosialisme sebagai fase transisi sebelum terjadinya the withering away of the state).