Djohan Rady

Djohan Rady

Djohan Rady adalah alumnus S2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia. Kontributor tetap untuk Suara Kebebasan dan co-founder Indo-libertarian, sebuah komunitas libertarian di Indonesia. Bisa dihubungi di email [email protected] dan twitter @djohanrady

Opini 11 Apr 2018

Apa perbedaan paling mendasar antara ilmu alam dan ilmu sosial? Sang begawan ekonomi mazhab Austria, Friedrich Hayek, di dalam esainya yang berjudul The Pretense of Knowledge (1974, ditulis sebagai pidato penerimaan hadiah Nobel bidang ekonomi) menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang.

Menurut Hayek, ada tiga perbedaan mendasar antara ilmu alam dan ilmu sosial. Perbedaan pertama terletak pada perbedaan kompleksitas variabel atau data. Ilmuwan yang bekerja mempelajari fenomena alam menghadapi kompleksitas data yang jauh lebih rendah ketimbang mereka yang berhadapan dengan fenomena-fenomena sosial. Seorang fisikawan bisa dengan yakin menetapkan korelasi antara dua variabel, misalnya antara massa benda dengan gaya resultan. Tetapi, seorang ekonom yang yakin bahwa ada korelasi antara total produksi suatu negara dengan pertambahan lapangan kerja akan kebingungan melihat fenomena stagflasi (situasi di mana aggregate demand stagnan tetapi tingkat pengangguran dan inflasi meninggi secara berbarengan). Ini karena variabel yang mempengaruhi peristiwa sosial jauh lebih banyak dan kompleks, dan ilmuwan sosial seringkali hanya mengambil beberapa variabel yang ia anggap penting dan, terutama, dapat diukur.

Perbedaan kedua: oleh karena variabelnya lebih kompleks, ilmuwan sosial hanya dapat memberikan prediksi yang bersifat umum, bukan prediksi-prediksi yang spesifik. Sementara astronom Edmond Halley mampu memprediksi dengan presisi kapan komet Halley akan muncul di masa depan, para ekonom masih kebingungan menentukan berapa level harga dan upah yang paling tepat untuk menurunkan tingkat pengangguran, meskipun mereka tahu secara garis besar bahwa jumlah pengangguran sangat dipengaruhi oleh perubahan pada level harga dan upah.

Opini 26 Okt 2017

Harus diakui dinamika politik dewasa ini sudah berubah. Masyarakat tidak lagi mudah percaya pada institusi-institusi mapan seperti lembaga perwakilan (parlemen) dan, khususnya, partai politik.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populi Center pada tahun 2015, masyarakat menganggap Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lembaga terkorup di negeri ini, bersanding dengan Kepolisian RI di urutan kedua. Survei yang sama juga mengungkapkan bahwa hanya 12,5 persen masyarakat yang percaya bahwa partai politik adalah institusi yang ‘bersih’.

Ini bisa jadi disebabkan oleh perilaku para aktor politik di dalam institusi-institusi tersebut yang tidak lagi mampu merepresentasikan aspirasi publik dengan baik. Ada celah yang begitu lebar antara kinerja anggota legislatif dan harapan publik tentang lembaga perwakilan yang baik. Selain itu, reputasi anggota dewan juga sudah tercoreng begitu rupa oleh berbagai skandal korupsi dan pelanggaran kode etik.

Kondisi ini idealnya bisa kita ubah melalui proses kepemiluan yang jujur dan adil. Sialnya, partai politik tidak mampu memberikan tawaran pilihan calon pemimpin yang baik pula kepada masyarakat. Sudah sering kita dengar keluhan masyarakat bahwa politisi yang muncul tiap pemilu adalah wajah-wajah lama, alias 4L (lu lagi, lu lagi). Kalaupun ada wajah baru, latar belakangnya tidak jelas dan tidak dikenal publik secara luas.

Opini 24 Jul 2017

Coba tanya ke orang-orang di sekitar kamu: apa lawan kata dari “fragile” (“rapuh” atau “rentan”). Kebanyakan orang akan menjawab “robust” (“kokoh”). Secara logika, jawaban ini salah.

Jika kita mendefinisikan hal-hal yang fragile sebagai sesuatu yang akan rusak, dan bahkan hancur, ketika mendapatkan guncangan atau tekanan, maka lawan kata atau kebalikan dari fragile bukanlah sekedar kokoh. Benda yang kokoh hanya sekedar “kuat” menerima guncangan atau tekanan. Lawan kata dari fragile haruslah sesuatu yang bukan sekedar “kuat”, tetapi “tumbuh” dan “berkembang” ketika mendapatkan guncangan atau tekanan. Benda-benda yang fragile membenci tekanan, ketidakpastian, dan instabilitas, sedangkan benda-benda yang berkebalikan dari fragile menyukai itu semua.

Opini 2 Jun 2017

Pilkada Jakarta 2017 menyisakan banyak perasaan tidak enak. Dimulai ketika Ahok “terpeleset lidah” menyebut-nyebut surat Al Maidah ayat 51. Umat Islam tersinggung, lalu marah-marah, sampai sekarang. Kontestasi pemilu Jakarta kemudian diwarnai sentimen ras dan agama yang sengit.

Cerita 27 Apr 2017

Seiring perkembangan politik dan kultur demokrasi yang semakin mapan, masyarakat semakin membutuhkan kanal untuk menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka tentang kehidupan publik yang lebih baik. Tadinya (dan seharusnya), peran penyaluran aspirasi tersebut ada di partai politik. Namun, semakin ke sini peran partai politik berangsur-angsur berubah dari organisasi politik massa menjadi sekedar alat bagi para politisi untuk tetap berpartisipasi di dalam arena perebutan kekuasaan.

Opini 27 Mar 2017

Lagi-lagi ada ribut-ribut soal transportasi online. Di Bandung, ratusan supir angkot melakukan aksi mogok dan berunjuk rasa di depan Gedung Sate. Mereka menuntut Pemerintah Kota Bandung melarang GoJek, Grab, dan Uber. Di tengah-tengah aksi, sekelompok supir angkot merusak sebuah mobil yang dikira taksi online. Mereka merusak dan menghancurkan kaca mobil meski saat itu di dalam mobil terdapat sejumlah penumpang yang ketakutan.