Rainer Heufers

Rainer Heufers

Rainer Heufers adalah Managing Director di SIAP Solutions. Pte. Ltd. Dan Co-Founder Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), sebuah Think-Tank yang mempunyai visi melawan konservatifisme dan proteksionisme di Indonesia, dengan menyediakan riset kebijakan yang mendukung kebebasan sipil dan kebebasan ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Rainer Heufers juga berpengalaman lebih dari satu dekade terlibat penelitian dalam transformasi ekonomi dan sosial di China, yang kemudian mendorongnya menjadi Kepala Perwakilan Resmi Friedrich Naumann Foundation for Freedom di Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Rainer Heufers juga menjabat sebagai Senior Fellow ATLAS Network, sebuah jaringan internasional Think-Tank pro-kebebasan dan pasar bebas. Bisa dihubungi melalui email: [email protected]

Sindikasi 18 Des 2017

Populisme reaktif telah menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan baik di Amerika Serikat maupun Indonesia

Kedua negara ini begitu berbeda; Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Secara geografis, keduanya berada pada posisi di geografis yang saling berbelakangan, dan rakyatnya secara budaya berbeda dan dengan tingkat perkembangan ekonomi yang berbeda pula. Tetapi ternyata ada kesamaannya. Keduanya negara yang begitu luas dengan rakyat yang begitu relijius - mayoritas di AS adalah Nasrani dan di Indonesia; Muslim. Keduanya juga mengalami perubahan besar dalam masyarakatnya.

Ketika Barack Obama menjadi presiden tahun 2009, dia mengajak kearah “perubahan yang bisa kita percaya” dan dia secara pribadi menjadi simbol perubahan ini. Sebagai presiden AS kulit hitam pertama, banyak yang melihat kemenangannya sebagai kemenangan bagi gerakan hak sipil dan mendukungnya ketika dia mendorong perubahan sosioekonomi. Tetapi sebagian penduduk tidak bersetuju dan merasa Obama menyepelekan nilai-nilai fundamental Amerika yang didasarkan pada iman Kekristenan yang kuat.

Sindikasi 8 Apr 2015

Tahun 2015 baru berusia satu minggu ketika dua orang pria membunuh sebelas orang jurnalis di kantor surat kabar mingguan Charlie Hebdo di Paris. “Je suis Charlie (saya adalah Charlie)” menjadi ekspresi solidaritas yang secara spontan dan cepat memenuhi wacana publik. Mayoritas warga Eropa memandang peristiwa pembantaian tersebut sebagai serangan terhadap masyarakat mereka, dan secara khusus, terhadap kebebasan mereka dalam berekspresi.