Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

Opini 27 Mar 2019

Tanggal 17 April nanti, Indonesia akan menjalankan pemilihan umum serentak, yakni pemilihan umum presiden, serta pemilu legislatif baik di tingkat nasional maupun daerah. Meskipun demikian, efek dari diadakannya pesta demokrasi lima tahunan ini dapat kita rasakan sejak jauh-jauh hari, mulai dari kampanye media sosial, adanya spanduk dan baliho para kandidat calon yang tersebar dimana-mana, hingga topik pemilu yang memasuki pembicaraan kita sehari-hari baik dengan keluarga maupun kawan-kawan.

Pembicaraan mengenai politik menjelang pemilu dilakukan melalui berbagai medium, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Bila Anda aktif di media sosial Facebook atau Twitter misalnya, atau bila Anda bergabung dengan grup di media sosial seperti WhatsApp dengan kerabat atau kawan-kawan, besar kemungkinan Anda akan ikut terlibat, atau setidaknya menyaksikan pembicaraan tersebut.

Tidak sedikit teman-teman saya yang menceritakan bahwa sejak memasuki tahun pemilu, topk pembicaraan mereka, baik dengan keluarga maupun teman-teman, menjadi berubah. Mereka kerap membicarakan perihal mengenai politik dan pemilu. Hal tersebut tidak hanya terjadi di media sosial, namun juga secara langsung di berbagai kegiatan, seperti pada saat makan malam misalnya. Pembicaraan tersebut pun tidak jarang dilakukan dengan nada emosi, keras kepala, hingga berujung pada keributan dan perdebatan yang tiada akhir yang tentunya memiliki dampak yang sangat negatif terhadap hubungan personal kita dengan orang lain.

Cerita 19 Mar 2019

Pada 15 Maret 2019 lalu, Suara Kebebasan mengadakan acara serial diskusi Obrolan Kebebasan (Orkes) pertama di Universitas Paramadina yang bekerja sama dengan Anggon dan Kahfa, serta didukung oleh Atlas Network. Tema yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah 'Mengenal Gagasan Posnerian dalam Hukum Islam' yang dibawakan oleh narasumber Pramudya Oktavinanda, seorang advokat ternama lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan University of Chicago Law School, serta dimoderatori oleh kontributor tetap Suara Kebebasan, Djohan Rady.

Tema yang diangkat tersebut merupakan topik yang dibahas oleh Pramudya dalam disertasi Ph. D nya di Sekolah Hukum Universitas Chicago. Gagasan Posnerian sendiri diambil dari nama salah seorang pakar hukum kenamaan Amerika Serikat yang juga pernah menjadi salah satu hakim federal di negeri Paman Sam bernama Richard Posner. Posner merupakan salah satu akademisi dan tokoh terkemuka dari gagasan law and economics yang mengaplikasikan teori-teori ekonomi sebagai alat analisis hukum.

Opini 14 Mar 2019

"Pay your fair share!"

Bagi Anda yang gemar mengikuti fenomena politik di Amerika Serikat, ungkapan di atas tentu bukanlah sesuatu yang asing untuk didengar. Pay your fair share, atau bayar bagianmu yang adil, merupakan salah satu slogan yang kerap didengungkan oleh berbagai politisi sayap kiri radikal yang sedang naik daun di negeri Paman Sam tersebut. Diantaranya adalah Senator Bernie Sanders dari negara bagian Vermont dan Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez yang mewakili kota New York.

Pay your fair share mengacu pada kalangan berpenghasilan tinggi di Amerika Serikat, atau yang sering disebut sebagai top 1%. Politisi kiri ekstrem seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez kerap menuduh kalangan kaya di Amerika Serikat tidak membayar bagian yang harus mereka berikan kepada masyarakat secara adil.

Bernie Sanders misalnya, dalam acara Townhall yang disiarkan oleh CNN pada bulan Februari lalu, dengan tegas menyatakan bahwa "Apakah saya akan menuntut para orang kaya dan perusahaan besar untuk membayar bagian mereka secara adil kepada masyarakat dalam bentuk pajak? Ya tentu saja!"

Argumen mengenai orang-orang kaya di Amerika Serikat yang tidak "pay their fair share" tentu bisa dicek kebenarannya dengan menggunakan perhitungan matematika sederhana, yakni apakah jumlah persentase uang yang mereka dapatkan jauh lebih banyak dari total persentase kontribusi pajak yang mereka bayarkan secara keseluruhan atau tidak.

Cerita 10 Mar 2019

Mendirikan serta mengerjakan proyek untuk lembaga think tank bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk mencapai hal tersebut, selain tim yang kuat, kita juga harus memiliki visi dan misi yang jelas dan kuat mengenai harapan apa yang ingin kita capai ke depan, serta bagaimana cara menggapai harapan tersebut.

Untuk itulah, pada tanggal 25-27 Februari kemarin, saya berkesempatan menjadi partisipan di salah satu workshop yang diorganisir oleh lembaga Atlas Network di Kolombo, Sri Lanka. Atlas Network sendiri merupakan organisasi non-profit yang bermarkas di Amerika Serikat, yang berkegiatan untuk mempromosikan pasar bebas serta membantu berbagai kelompok dan organisasi di banyak negara untuk menanamkan nilai-nilai liberalisme. Suara Kebebasan sendiri merupakan salah satu organisasi mitra Atlas di Indonesia.

Tema besar yang diangkat dalam workshop yang diadakan di Hotel Hilton Sri Lanka tersebut adalah mengenai Think Tank, mulai dari bagaimana cara membuat visi misi yang jelas dan kuat, hingga bagaimana cara mendapatkan donor untuk membiayai proyek yang ingin dikerjakan.

Cerita 9 Mar 2019

Pada tanggal 28 Februari - 1 Maret lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu partisipan dalam acara Asia Liberty Forum (ALF) 2019 di ibukota Sri Lanka, Colombo. Acara yang rutin diadakan seetiap tahun ini, merupakan salah satu acara forum regional yang diselenggarakan oleh organisasi pegiat liberalisme dari Amerika Serikat, Atlas Network, yang membahas berbagai topik politik, sosial, dan ekonomi di wilayah Asia.

Saya mengikuti Asia Liberty Forum bertepatan setelah workshop Atlas Think Tank Essentials yang memang secara rutin diadakan sebelum setiap acara forum regional Atlas, mewakili Suara Kebebasan. ALF kali ini merupakan ALF ketiga yang saya datangi, setelah di Kuala Lumpur pada tahun 2016, dan di Jakarta pada tahun lalu.

Sebagaimana acara ALF yang diselenggarakan sebelumnya, Atlas selalu menarik mitra organisasi lokal untuk bekerja sama menyelenggarakan acara tersebut. Untuk ALF kali ini, Atlas bekerja sama dengan Advocata Institute, yang merupakan organisasi think tank liberal yang berbasis di Colombo.

Opini 26 Feb 2019

"Greed, for lack of a better word, is good. Greed is right, greed works." Ujar Gordon Gekko yang diperankan oleh Michael Douglas dalam film klasik “Wall Street”.

Hingga saat ini, Gekko kerap menjadi simbol dari sifat rakus. Ia menjadi personifikasi dari seseorang yang gemar menimbun harta dengan cara apapun. Perilaku rakus sendiri tentu saja bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul di era moderen. Sejarah manusia tidak hanya diisi oleh para inovator, ilmuwan, serta sosok-sosok yang rela mengorbankan dirinya untuk orang lain, namun juga para perampas, penjajah, serta para penguasa yang gemar mengorbarkan perang untuk meningkatkan kejayaan mereka.

Sejarah berbagai imperium merupakan perwujudan nyata atas kecenderungan manusia untuk berperilaku rakus. Rakus untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, serta kejayaan sebesar-besarnya dengan cara apapun, meski hingga memperbudak dan mengorbankan jiwa ribuan manusia lain.

Para conquistador Spanyol pada abad ke 15 dan 16 yang melakukan berbagai penaklukan di kawasan Amerika Latin misalnya, seperti Francisco Pizarro dan Hernan Cortes, merupakan sedikit contoh tokoh-tokoh yang didorong oleh kerakusan akan kekayaan dan kejayaan. Demi mendapat harta serta kuasa, mereka berlayar ribuan kilometer dari pantai paling barat Eropa menuju Dunia Baru, melakukan penyerangan dan penjarahan kekayaan, serta memperbudak bangsa asli benua Amerika yang sudah menetap selama ribuan tahun.