Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

Opini 1 Mar 2016

“Liberalisme merupakan pemikiran yang berasal dari Barat, yang tidak akan pernah cocok dengan budaya Timur seperti di Indonesia!” Inilah respon yang kerap saya dapatkan ketika mendiskusikan liberalisme dengan beberapa kawan di negeri ini, dan saya yakin hal tersebut bukan hanya dialami oleh saya sendiri. Tidak sedikit kalangan yang memandang liberalisme dan nilai-nilai masyarakat Timur merupakan dua hal yang sangat bertentangan dan tidak akan pernah dapat dipersatukan.

Resensi 14 Des 2015

Seratus enam-puluh lima tahun yang lalu, ekonom besar Prancis, Frederic Bastiat menulis sebuah esai yang sangat berpengaruh. Dalam tulisan tersebut, yang dikenal dengan judul “That Which Is Seen and That Which Is Not Seen”, Bastiat mengungkapkan bahwasanya kebijakan, hukum, maupun perilaku apapun dalam ranah perekonomian tidak hanya memberi  satu efek, namun juga memberi efek - efek lain yang  saling berhubungan. Namun, dampak yang ditimbulkan akibat dari adanya kebijakan, hukum ataupun perilaku ekonomi ini bukan hanya berupa yang terlihat jelas di permukaan, namun ada juga dampak-dampak lain yang tidak terlihat.

Opini 14 Des 2015

Ada dua jenis manusia menurut Aristoteles. Manusia merdeka dan budak. Seseorang yang merdeka adalah mereka yang memiliki tubuh dan kemampuan untuk mengatur serta menentukan jalan hidupnya sendiri.  Lain halnya dengan seorang budak. Seorang budak adalah manusia yang secara natural dimiliki oleh orang lain, dianggap property dan bukan manusia yang seutuhnya. Aristoteles berpendapat bahwasanya perbudakan merupakan hal yang terjadi secara natural, karena para budak memiliki jiwa yang tidak sempurna sebagaimana manusia merdeka. Para budak tidak memiliki kemampuan untuk mengatur diri mereka sendiri serta kualifikasi yang membuat mereka layak diakui sebagai seseorang yang bebas. Oleh karena itu perbudakan oleh Aristoteles dianggap sebagai institusi yang penting dan sangat bermanfaat, bukan hanya bagi tuannya namun juga bagi budak itu sendiri karena akhirnya para budak memiliki seseorang yang mampu mengatur hidup mereka.

Opini 16 Sep 2015

Ketika mendengar konsep mengenai hak dasar, banyak konsep turunan mengenai berbagai macam  hak yang langsung terlintas di benak kita. Hak kebebasan beragama, hak kebebasan berbicara, hak kebebasan berekspresi, hak atas privasi dan hak kebebasan pers merupakan beberapa diantaranya. Pengakuan dan perlindungan negara terhadap hak-hak tersebut merupakan salah satu instrumen terpenting untuk menjaga keberlangsungan demokrasi dan masyarakat bebas. Tanpa adanya pengakuan dan perlindungan mengenai hak-hak tersebut akan sangat mustahil keberlangsungan demokrasi dan masyarakat bebas dapat terjaga. Lebih jauh, sejarah telah mencatat bahwa pengabaian terhadap hak-hak dasar ini tidak lain merupakan jalan mulus untuk memunculkan kesewenang-wenangan negara yang tidak jarang berujung pada totalitarianisme.

Opini 27 Mei 2015

“Democracy is two wolves and a lamb voting on what to have for lunch.” Itulah seloroh Benjamin Franklin, salah satu pendiri Amerika Serikat. Salah satu karakterisktik dasar dari demokrasi itu sendiri adalah adanya majority rule. Di negara-negara demokratis proses legislasi dilakukan oleh sekelompok orang yang dipilih melalui suara terbanyak dari masyarakat. Setiap individu menawarkan gagasannya dalam pasar ide dan kepada individu lain dan apabila gagasan tersebut mendapat suara mayoritas dari populasi, maka ia bisa dilegislasikan dalam bentuk perundang-undangan dan diimplementasikan dalam berbagai bentuk kebijakan.

Opini 22 Feb 2015

Pagi 7 Januari 2015 dunia dikejutkan dengan penembakan terhadap jurnalis oleh teroris muslim di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris. Penembakan ini merupakan salah satu serangan teroris terburuk di Perancis selama beberapa tahun terakhir. Kasus seperti ini bukanlah yang pertama yang menimpa Charlie Hebdo. Kasus serupa juga terjadi pada tahun 2011 ketika sekelompok orang melempar kantor Charlie Hebdo dengan bom.