Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

Opini 22 Des 2016

Kapan manusia diakui sebagai pribadi yang utuh? Inilah pertanyaan besar yang terus diperdebatkan selama ribuan tahun, sejak era Yunani kuno hingga pada detik ini. Penentuan awal seseorang diakui sebagai pribadi yang utuh merupakan konsep yang sangat penting karena hal tersebut merupakan salah satu fondasi untuk mengimplementasikan berbagai konsep hak dasar yang wajib dilidungi dan dijunjung tinggi, diantaranya adalah hak untuk hidup. Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan utama yang kerap diajukan dalam perdebatan mengenai berbagai isu sosial, salah satunya adalah aborsi.

Wawancara 20 Des 2016

Kemenangan Donald John Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 sontak membuat dunia terkejut. Dalam kampanyenya Trump kerap mengeluarkan pernyataan yang kontroversial mengenai banyak hal baik imigrasi, keamanan, hingga perdagangan internasional. Salah satu janji Trump untuk menjaring pemilih akan membatalkan perjanjian dagang Trans Pacific Partnership (TPP) yang sudah ditandatangani Amerika Serikat dan 11 negara kawasan pasifik lainnya. Walaupun proses ratifikasi di masing-masing Parlemen tengah berjalan. Lantas, apa yang akan selanjutnya terjadi bila Trump benar-benar memenuhi janjinya?

Untuk membahas mengenai isu tersebut, kontributor tetap Suara Kebebasan, Haikal Kurniawan, mendapat kesempatan untuk mewawancarai Dr. Razeen Sally di tengah-tengah konfrensi Economic Freedom Network Asia 2016 di Manila pada 22-23 November lalu. Dr. Razeen Sally sendiri merupakan seorang ekonom yang berlatar belakang pendidikan Doktor Ilmu Ekonomi dari London School of Economics dan memiliki perhatian khusus terhadap kebijakan perdagangan di Asia. Saat ini ia menjabat sebagai Associate Professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore dan ketua dari Institute of Policy Studies, sebuah lembaga think tank terkemuka asal Sri Lanka. Dr. Razeen Sally sendiri juga pernah menjabat sebagai direktur European Centre for International Political Economy, sebuah lembaga think tank global yang berpusat di Brussels, Belgia.

Opini 20 Des 2016

Kebanyakan anak-anak menjelang usia remaja, kerap menghabiskan hari-hari mereka dengan belajar, bermain dengan teman-teman, dan bersenang-senang bersama keluarga. Periode tersebut pada umumnya merupakan masa yang dipenuhi dengan kegembiraan, keceriaan dan suka cita. Namun tidak dengan Lizbet Martinez.

Wawancara 7 Des 2016

Penyelamatan satwa liar yang terancam punah merupakan salah satu isu yang kerap menjadi fokus perhatian berbagai pihak, utamanya negara maju, organisasi internasional berbasis lingkungan hidup, hingga berbagai lembaga non-pemerintah lokal nasional.  Namun, dari berbagai diskursus mengenai penyelamatan satwa liar, ada benang merah yang menjadi kambing hitamnya, tak lain dan tak bukan kapitalisme dan ekonomi pasar.

Ekonomi pasar kerap disalahkan sebagai penyebab hilangnya berbagai keanekaragaman satwa liar yang sangat berharga, salah satu penyebabnya karena banyak habitat satwa liar yang telah dialihfungsikan menjadi kawasan petanian dan industri. Kapitalisme lagi – lagi disalahkan karena dianggap sebagai sistem ekonomi yang sangat eksploitatif terhadap alam karena sangat menjunjung tinggi motif mencari keuntungan.

Adalah Barun Mitra, Direktrur dari Liberty Institute yang menawarkan pandangan yang berbeda. Liberty Institute ialah sebuah lembaga think tank asal India yang mempromosikan gagasan ekonomi pasar bebas. Dalam tulisannya 10 tahun yang lalu, Dr. Mitra mengungkapkan justru ekonomi pasar dapat menjadi solusi penyelamatan satwa liar yang terancam punah. Dalam konferensi Economic Freedom Network 2016 di Manila tanggal 22-23 November lalu, kontributior tetap Suara Kebebasan, Haikal Kurniawan, mendapat kesempatan untuk mewawancarai Barun Mitra mengenai gagasannya tersebut.

Opini 21 Nov 2016

Namanya Donald Trump. Dunia mengenalnya sebagai salah seorang pelaku bisnis properti asal negara Paman Sam, dan pembawa acara reality show The Apprentice. Pada pertengahan tahun 2015 lalu, ia mengumumkan akan menjadi salah seorang calon kandidat presiden Amerika Serikat dari partai Republik. Sayang seribu sayang, tidak ada satu pihak pun yang menganggap dirinya serius, bahkan para petinggi partai tempat ia bernaung. Mulai dari media–media raksasa seperti CNN dan New York Times, hingga para komedian acara tengah malam, diantaranya John Oliver, Bill Maher, dan Stephen Colbert berpandangan Trump tidak lebih dari seorang badut politik.

Opini 22 Sep 2016

Beberapa minggu yang lalu, ketika saya tengah berselancar di media sosial, ada salah seorang teman kuliah yang mengunggah sebuah gambar karikatur. Di dalamnya, digambarkan seseorang yang hampir tenggelam di pesisir laut sembari berteriak meminta pertolongan dari penjaga pantai. Namun, bukannya memberi bantuan, penjaga pantai yang berada di dekatnya justru hanya duduk terdiam dan berkata “itu bukan urusan saya”.

Bukan gambar tersebut yang mendapat perhatian saya, namun caption yang ditulis oleh teman kuliah saya itu, yakni “Kelompok libertarian tidak akan menjadi mampu penjaga pantai yang baik.” Libertarianisme, dipahami oleh kawan saya tersebut, sebagai sebuah gagasan yang menjunjung sikap egois dan ketidakpedulian terhadap sesama. Setiap individu cukup memikirkan kebutuhan dan keinginannya masing-masing dan melupakan penderitaan yang dialami saudara mereka.