Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

Opini 1 Mar 2017

Kita akan mendirikan tembok besar sepanjang perbatasan selatan Amerika, dan Meksiko akan membayar tembok tersebut!”

Ketika saya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, maka saya akan melarang muslim untuk memasuki negara ini!.”

Itulah beberapa retorika yang kerap diucapkan oleh Donald Trump dalam kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 kemarin. Melihat hasil dari pemilu tersebut, tidak bisa diragukan lagi bahwa tak sedikit rakyat Amerika yang memiliki pandangan yang sama dengan Trump mengenai imigrasi. Mereka menganggap bahwa imigran Meksiko dan Muslim merupakan ancaman bagi negeri Paman Sam, baik dalam bidang keamanan maupun ekonomi.

Resensi 21 Feb 2017

Hak kekayaan intelektual kerap dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dijaga dan dilindungi. Bagaimana tidak, hak kekayaan intelektual merupakan salah satu instrumen terpenting yang melindungi seseorang untuk berhak menikmati manfaat dari hasil karya yang ia buat. Selain itu, dengan adanya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, akan menumbuhkan insentif bagi setiap individu untuk meningkatkan kreativitasnya karena setiap orang tidak bisa asal menduplikasi hasil karya orang lain.

Opini 24 Jan 2017

Manakah yang lebih baik, hidup dengan dikurung seumur hidup oleh seseorang yang tidak dikenal ataupun oleh seorang kerabat kita sendiri?

Banyak orang tentu akan menjawab tidak keduanya. Hidup dengan cara dikurung seumur hidup oleh siapapun, bukanlah sesuatu yang menjadi impian setiap individu. Hidup dalam kurungan sama saja dengan menghilangkan kemerdekaan yang kita miliki. Kemerdekaan untuk bepergian, untuk berkarya, untuk aktualisasi diri, dan yang terpenting, memiliki kemerdekaan untuk mengatur jalan hidup diri kita sendiri.

Resensi 19 Jan 2017

Apa batas yang akan Anda lakukan demi sebuah prinsip? Bila Anda sudah memiliki pekerjaan yang mapan, rumah mewah, tinggal di tempat eksotis, dan kekasih yang cantik jelita, bersediakah semua hal tersebut ditinggalkan demi sebuah prinsip? Beranikah Anda untuk tetap mengikuti suara hati nurani, meskipun dengan resiko kehilangan tempat tinggal, hidup ribuan kilometer dari teman dan keluarga, serta terancam berada di balik jeruji besi seumur hidup?

Opini 22 Des 2016

Kapan manusia diakui sebagai pribadi yang utuh? Inilah pertanyaan besar yang terus diperdebatkan selama ribuan tahun, sejak era Yunani kuno hingga pada detik ini. Penentuan awal seseorang diakui sebagai pribadi yang utuh merupakan konsep yang sangat penting karena hal tersebut merupakan salah satu fondasi untuk mengimplementasikan berbagai konsep hak dasar yang wajib dilidungi dan dijunjung tinggi, diantaranya adalah hak untuk hidup. Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan utama yang kerap diajukan dalam perdebatan mengenai berbagai isu sosial, salah satunya adalah aborsi.

Wawancara 20 Des 2016

Kemenangan Donald John Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 sontak membuat dunia terkejut. Dalam kampanyenya Trump kerap mengeluarkan pernyataan yang kontroversial mengenai banyak hal baik imigrasi, keamanan, hingga perdagangan internasional. Salah satu janji Trump untuk menjaring pemilih akan membatalkan perjanjian dagang Trans Pacific Partnership (TPP) yang sudah ditandatangani Amerika Serikat dan 11 negara kawasan pasifik lainnya. Walaupun proses ratifikasi di masing-masing Parlemen tengah berjalan. Lantas, apa yang akan selanjutnya terjadi bila Trump benar-benar memenuhi janjinya?

Untuk membahas mengenai isu tersebut, kontributor tetap Suara Kebebasan, Haikal Kurniawan, mendapat kesempatan untuk mewawancarai Dr. Razeen Sally di tengah-tengah konfrensi Economic Freedom Network Asia 2016 di Manila pada 22-23 November lalu. Dr. Razeen Sally sendiri merupakan seorang ekonom yang berlatar belakang pendidikan Doktor Ilmu Ekonomi dari London School of Economics dan memiliki perhatian khusus terhadap kebijakan perdagangan di Asia. Saat ini ia menjabat sebagai Associate Professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore dan ketua dari Institute of Policy Studies, sebuah lembaga think tank terkemuka asal Sri Lanka. Dr. Razeen Sally sendiri juga pernah menjabat sebagai direktur European Centre for International Political Economy, sebuah lembaga think tank global yang berpusat di Brussels, Belgia.