Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]

Opini 26 Jul 2018

Apakah semua tindakan penyiksaan merupakan sesuatu yang mutlak salah atau ada beberapa pengecualian bahwa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang sangat diperlukan dan dapat dijustifikasi?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu apa yang disebut dengan penyiksaan (torture). Pasal 1 Konvensi PBB tentang Menentang Penyiksaan, menyatakan bahwa penyiksaan adalah "setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani, pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga."

Opini 26 Jun 2018

"Haruskah kita membela hak individual seseorang, seperti hak mereka untuk bebas berbicara dan berpendapat, yang gemar mengancam kebebasan individu orang lain?"

Inilah pertanyaan yang hampir beberapa bulan ini terus menghantui pikiran saya. Secara konseptual, kebebasan individu merupakan inti dari gagasan yang diperjuangkan oleh libertarianisme dan harus dapat dinikmati oleh setiap orang, termasuk mereka yang memiliki gagasan untuk mencederai kebebasan orang lain.

Kebebasan individu merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi oleh libertarianisme dan diyakini sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Bagi seorang libertarian, kebebasan individu dijaga dan diperjuangkan bukan dengan embel-embel tujuan lain, seperti bahwa kebebasan individu niscaya akan membawa kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, dan lain-lain. Kebebasan individu adalah tujuan akhir dari gagasan libertarianisme itu sendiri, dan ia harus diperjuangkan secara total dan penuh semangat tanpa pandang bulu.

Opini 2 Apr 2018

Isu mengenai burka atau cadar kembali menyeruak di Indonesia. Beberapa minggu yang lalu, diberitakan bahwa salah satu kampus negeri di Yogyakarta mengeluarkan kebijakan yang melarang mahasiswinya untuk menggunakan cadar. Pihak administrasi universitas menyatakan bahwa adanya larangan tersebut bertujuan untuk menjaga kegiatan belajar mengajar agar kondusif dan sebagai upaya untuk menangkal gagasan ekstrimisme.

Tak bisa dihindari, adanya kebijakan tersebut lantas menimbulkan pro dan kontra. Kalangan yang kontra menyatakan bahwa adanya kebijakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran atas kebebasan beragama. Selain itu, beberapa aktivis feminis dan hak perempuan melalui sosial media juga menyuarakan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menggunakan pakaian apapun, termasuk cadar, dan adanya kebijakan tersebut berpotensi akan mengambil hak untuk mendapatkan pendidikan bagi kelompok tertentu.

Sementara itu, phak-pihak yang menyetujui aturan tersebut juga memiliki dasar argumen yang beragam, mulai dari persoalan teknis kegiatan belajar mengajar hingga hal yang terkait dengan ideologi. Secara teknis, tidak sedikit kalangan yang pro terhadap peraturan tersebut menyatakan bahwa adanya mahasiswa/i yang tidak bisa diketahui identitasnya karena mengenakan penutup wajah pada saat kegiatan belajar tengah berlangsung tentu akan mengganggu kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Belum lagi ketika ujian sedang berlangsung, bagaimana pengajar bisa memastikan kalau yang mengerjakan soal ujian tersebut memang benar mahasiswa/i-nya bila mereka mengenakan penutup wajah?

Cerita 27 Mar 2018

Apakah Islam cocok dengan gagasan kebebasan yang menjunjung tinggi kebebasan sipil dan ekonomi?

Bila Anda menanyakan pertanyaan ini kepada penduduk negara-negara Barat, besar kemungkinan Anda akan mendapatkan jawaban tidak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa citra Islam di belahan dunia Barat, terutama pasca serangan 11 September 2001 di New York sangatlah buruk. Islam kerap diasosiasikan dengan perilaku ekstrimisme, terorisme, kemunduran, dan keterbelakangan.

Hal tersebut bagi saya bisa dimengerti, terutama bila stigmasisasi tersebut datang dari kalangan yang sama sekali tidak pernah membaca apalagi mempelajari hal apapun yang terkait dengan Islam. Hampir seluruh tindakan terorisme di abad ke 21 yang dipublikasi secara masif oleh media-media besar di Barat, baik yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika maupun di dunia muslim, dilakukan oleh kelompok ataupun pihak-pihak yang mengatasnamakan Islam dan melegitimasi tindakan mereka berdasarkan teks-teks Al-Qur'an dan Hadist.

Tidak hanya terorisme, ekstrimisme dan fundamentalisme agama juga merupakan label yang kerap diasosiasikan dengan Islam. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim kerap berada di posisi bawah dalam indeks demokrasi, kebebasan ekonomi, dan kebebasan sipil. Pada tahun 2017 misalnya, lembaga think tank Inggris, The Economist Intelligence Unit, mempublikasikan indeks demokrasi negara-negara di dunia, dan 18 dari 25 negara-negara yang menduduki peringkat terbawah merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Opini 7 Mar 2018

Menurut Anda, apakah ada seseorang yang sempurna, yang mampu berkuasa secara absolut di suatu negeri dengan adil, bijak, dan tanpa melakukan kesalahan sekecil apapun? Bila Anda menjawab tidak, ada kemungkinan besar Anda berpotensi menjadi seorang libertarian.

Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak sedikit orang-orang yang memberi respon atas pertanyaan tersebut dengan jawaban "Ya!" secara lantang dan dengan keyakinan yang kuat. Bagi mereka, memang ada sekelompok kecil manusia yang secara inheren memiliki kesempurnaan untuk terlepas dari berbagai kesalahan dan mempu memerintah suatu wilayah secara absolut dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan.

Lembaran-lembaran sejarah umat manusia selalu dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki keyakinan tersebut. Maka tak heran, bila kita membaca buku-buku sejarah, dengan mudah kita akan menemukan berbagai tokoh penguasa yang memiliki kekuasaan secara absolut. Imperium Romawi di Eropa, berbagai dinasti kekaisaran di wilayah China dan Jepang, kekhilafahan Islam di timur tengah, kerajaan-kerajaan monarki absolut di Eropa, hingga para penguasa fasis dan komunis di berbagi belahan dunia pada abad ke 20 merupakan sedikit dari banyak contoh konkret akan manifestasi bentuk pemerintahan yang didasari pada keyakinan terhadap hal semacam ini.

Resensi 31 Jan 2018

Katherine Graham bimbang. Malam itu, tanggal 17 Juni 1971, ia harus membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya, yakni apakah ia akan menerbitkan cerita mengenai kebohongan pemerintah Amerika Serikat mengenai kebijakan Perang Vietnam selama hampir 3 dekade oleh koran harian yang dimilikinya.

Sejak suaminya meninggal pada tahun 1963, Graham telah menjadi pemimpin dan penerbit salah satu koran harian paling terkemuka di Amerika Serikat, The Washington Post. Ia berusaha untuk memimpin The Washington Post secara profesional dan berupaya untuk menjaga intergritas setinggi mungkin. Namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat Graham secara personal memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik dengan banyak pejabat tinggi Amerika Serikat, salah satunya adalah menteri pertahanan Amerika pada masa itu, Robert McNamara.