Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]

Resensi 30 Nov 2017

Bila ada seseorang yang bertanya kepada saya "siapakah tokoh yang paling berpengaruh dan bertanggung jawab terhadap gerakan libertarian di dunia pada abad ke 20?" hanya ada satu nama yang terlintas di pikiran saya. Dialah ekonom dan filsuf kenamaan Friedrich August Hayek (1899 - 1992.)

Meraih hadiah Nobel ekonomi pada tahun 1974, Hayek merupakan salah satu pemikir paling tersohor di abad ke 20. Berbagai karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu, mulai dari ekonomi, filsafat politik, hingga hukum. Sepanjang hidupnya Hayek telah menerbitkan lebih dari 20 buku dan kumpulan tulisan. Meskipun demikian, sebagaimana banyak karya tokoh intelektual besar dunia, tak sediikt berbagai karya tulis Hayek tersebut yang terbilang cukup sulit untuk dipahami oleh kalangan awam, termasuk diri saya sendiri.

Untuk itulah berbagai buku pengantar untuk memahami gagasan Hayek-pun diterbitkan, dengan tujuan mempopulerkan gagasan ekonom kelahiran Austria tersebut. Bagi saya, salah satu pengantar terbaik mengenai gagasan Hayek adalah buku yang berjudul "The Essential Hayek" yang ditulis oleh ekonom Universitas George Mason, Donald J. Boudreaux. Dalam bukunya yang dibagi menjadi 10 chapter tersebut, Boudreaux memaparkan secara singkat intisari dari berbagai gagasan Hayek secara sederhana.

Opini 6 Nov 2017

Setiap individu pasti memiliki gagasan akan gaya hidup yang baik. Gagasan ini dapat didasari oleh berbagai hal, mulai dari kebiasaan masyarakat tempat individu tersebut berasal, selera pribadi, nilai-nilai agama dan kepercayaan, hingga ideologi politik.

Seseorang yang memiliki rasa patriotisme yang tinggi terhadap negara pasti akan menegaskan pentingnya menjaga dan melestariakan "kebudayaan nasional." Hal tersebut dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari mengkonsumsi makanan asli Indonesia daripada kuliner dari negara lain,  menggunakan pakaian tradisional seperti batik, menonton film hasil karya anak bangsa, mempelajari tarian dan lagu-lagu daerah, hingga menyaksikan berbagai pertunjukan budaya khas nusantara, seperti wayang.

Pribadi yang memegang keyakinan terhadap agama yang kuat tentu akan menyatakan bahwa gaya hidup yang baik adalah gaya hidup yang mengikuti berbagai ajaran dan aturan agama secara menyeluruh. Menggunakan pakaian yang sesuai dengan ajaran agama, tidak mengkonsumsi makanan yang dilarang, serta lebih mengutamakan untuk melakukan transaksi dan kegiatan ekonomi dengan pihak lain yang seiman merupakan beberapa dari sekian banyak perwujudan atas pandangan tersebut.

Opini 20 Okt 2017

“Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too…”

 

Itulah salah satu bait dari lirik lagu Imagine, yang ditulis oleh John Lennon. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu paling mansyur dalam sejarah musik populer, dan tak jarang dianggap sebagai hymne kelompok humanis dan anti kekerasan di seluruh dunia. Tak tanggung-tanggung, majalah musik Rolling Stone bahkan menobatkan Imagine sebagai lagu nomor 3 terbesar sepanjang masa.

Dalam lagunya Lennon bermimpi, mengenai dunia utopis tanpa batas-batas negara, agama, kelas sosial dan keinginan untuk mencari materi, serta dimana setiap manusia bersedia utk saling berbagi dengan sesama. Lennon pun bukan hanya berimajinasi dengan dirinya sendiri, ia juga mengajak para pendengarnya utk membayangkan hal yang sama.

"I hope someday you'll join us, and the world will be as one," gubah mantan personel The Beatles tersebut dalam lagunya.

Lennon tentu bukan satu-satunya orang yang memiliki angan-angan akan dunia yang menurutnya ideal di masa depan. Sepanjang sejarah, ada ribuan, atau bahkan jutaan manusia  yang memiliki ambisi besar untuk mengubah dunia, untuk menciptakan masyarakat yang mereka anggap sempurna. Mereka semua berasal dari berbagai tempat yang berbeda, timur dan barat, dan berbagai latar belakang, baik filsuf, kaisar, teolog, politisi, akademisi, pemimpin militer, seniman, sastrawan, penyair, aktivis, dan musisi.

Resensi 7 Sep 2017

11 Agustus lalu, kota Charlottesville di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, mengalami peristiwa yang tidak biasa. Hari itu, ratusan orang kulit putih melakukan pawai dengan membawa obor dan bermacam-macam bendera, diantaranya adalah bendera Nazi Jerman dan bendera Konfederasi, sembari meneriakkan slogan-slogan rasis dan anti semit.

Pawai yang diorganisir oleh berbagai kelompok rasis dan supersai kulit putih tersebut, diantaranya adalah Ku Klux Klan (KKK), Gerakan Nazi Amerika Serikat, dan gerakan Alt-Right, memiliki tujuan untuk memprotes keputusan dewan kota untuk menurunkan patung Robert Lee yang berdiri di Emancipation Park di kota Charlottesville.

Opini 25 Agu 2017

Kebebasan berbicara merupakan salah satu hak paling fundamental yang harus dijunjung tinggi dalam masyarakat bebas. Tanpa adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat dan bertukar gagasan, hampir mustahil kemajuan dan masyarakat demokratis dapat berkembang. Bila kebebasan untuk berpikir dan memiliki pandangan berbeda dihilangkan, dapat dipastikan masyarakat hanya akan menjadi korban indoktrinasi oleh mereka yang berkuasa, yang tentunya akan menghambat kemajuan serta menaburkan benih-benih despotisme dan totalitarianisme.

Sejarah sudah membuktikan bahwasanya setiap kemajuan dalam masyarakat selalu diawali dengan tokoh-tokoh besar yang berupaya menentang asumsi, pandangan, keyakinan, serta norma-norma sosial yang berlaku pada zaman mereka, yang tak jarang berakhir dengan tragis. Tengoklah apa yang dialami oleh Galileo yang harus mengalami pemenjaraan oleh Gereja Katolik hanya karena menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya.

Opini 31 Jul 2017

Libertarianisme atau liberalisme klasik dan kapitalisme sering dianggap sebagai gagasan yang sejalan satu sama lain. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat banyak tokoh-tokoh pencetus gagasan libertarianisme yang pada saat yang sama memiliki pandangan bahwa kapitalisme merupakan sistem ekonomi terbaik yang dimiliki oleh manusia pada saat ini.

Ludwig von Mises, F. A. Hayek, dan Milton Friedman. Masing-masing dari mereka memiliki justifikasinya masing-masing mengenai keunggulan sistem kapitalisme, mulai dari kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien, hingga kapitalisme merupakan sistem yang terbukti telah berhasil mengangkat jutaan manusia dari kemiskinan.