Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]

Opini 31 Jul 2017

Libertarianisme atau liberalisme klasik dan kapitalisme sering dianggap sebagai gagasan yang sejalan satu sama lain. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat banyak tokoh-tokoh pencetus gagasan libertarianisme yang pada saat yang sama memiliki pandangan bahwa kapitalisme merupakan sistem ekonomi terbaik yang dimiliki oleh manusia pada saat ini.

Ludwig von Mises, F. A. Hayek, dan Milton Friedman. Masing-masing dari mereka memiliki justifikasinya masing-masing mengenai keunggulan sistem kapitalisme, mulai dari kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien, hingga kapitalisme merupakan sistem yang terbukti telah berhasil mengangkat jutaan manusia dari kemiskinan.

Cerita 14 Jul 2017

Pada tanggal 17 hingga 23 Juni 2017 kemarin, saya mendapat kesempatan besar untuk mengikuti seminar musim panas mahasiswa (summer seminar) yang diselenggarakan oleh organisasi libertarian Institute for Humane Studies (IHS) di kampus Bryn Mawr, Pennsylvania, Amerika Serikat. Saya sungguh beruntung karena mendapatkan nominasi dari salah satu IHS untuk mengikuti acara ini.

Opini 4 Jul 2017

Lebih dari 270 tahun yang lalu, salah seorang tokoh politik terbesar sepanjang sejarah telah lahir. Ketika dewasa, kelak ia menjadi salah satu pendiri dan pemimpin dari negara terbesar dan terkuat yang pernah disaksikan oleh umat manusia. Namanya kerap diasosiasikan dengan demokrasi, toleransi antar agama, serta kebebasan individu.

Meskipun ia lahir pada masa dimana setiap insan dianggap tidak sederajat, namun melalui buah pikirnya, ia berhasil menggagas dan merancang salah satu dokumen politik terpenting dalam sejarah, dimana didalamnya dinyatakan secara ekplisit bahwa seluruh manusia diciptakan setara serta berhak untuk mendapatkan kebebasan dan kesempatan untuk meraih kebahagiaan. Sosok tersebut ialah Thomas Jefferson, salah satu bapak pendiri Amerika Serikat.

Jefferson merupakan salah satu pahlawan revolusi Amerika Serikat. Gagasannya mengenai pentingnya demokrasi, kebebasan dan negara republik telah berhasil menginspirasi penduduk koloni Amerika melepaskan diri dari penjajahan Inggris, serta memenangkan perang melawan kekuatan militer terkuat di dunia pada masa itu. Idenya tentang pemisahan institusi agama dan negara juga merupakan salah satu fondasi Amerika Serikat sebagai negara sekuler.

Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, yang merupakan salah satu hasil karya termansyurnya, bukan hanya memberi pengaruh besar di tanah kelahirannya, namun juga telah menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain yang sedang haus akan kemerdekaan dan kebebasan. Jefferson merupakan tokoh inspirasi utama, sekaligus juga salah satu perancang, dari Deklarasi Mengenai Hak Manusia dan Warga Negara yang disusun di Prancis paska revolusi di negara tersebut, dimana didalamnya dinyatakan secara eksplisit bahwa semua manusia diciptakan setara oleh Sang Pencipta dan berhak mendapatkan kebebasan melakukan hal apapun yang dia inginkan selama tidak melanggar hak individu lain, serta tidak boleh ada seorangpun yang dinyatakan bersalah tanpa melalui proses hukum.

Namun, Jefferson melakukan kesalahan besar yang sangat fatal semasa hidupnya, yang menjadikan dirinya sebagai figur yang cukup kontroversial dan mendapat kritik pada masa kini, khususnya di Amerika Serikat. Penulis naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat tersebut merupakan seorang tuan tanah yang memiliki ratusan budak kulit hitam untuk mengelola lahan pertaniannya di Monticello, Virginia.

Perbudakan, tak perlu diragukan lagi, merupakan salah satu institusi yang dianggap umum pada masa Jefferson hidup di abad ke 18, apalagi, Jefferson lahir dari keluarga kelas atas. Jefferson mendapatkan warisan 52 budak dari ayahnya pada usia 21, dan setelah menikah kembali ia mendapat warisan 135 budak dari ayah mertuanya. Kepemilikan budak oleh Jefferson inilah yang membuat ia pada saat ini mendapat banyak kritik dari pada akademisi dan sejarawan Amerika Serikat.

Sejarawan seperti William Freehling dan Winthrop Jordan misalnya, mengkritik keras tindakan Jefferson yang dianggap tidak memberikan kontribusi yang nyata bagi upaya pembebasan budak di Amerika Serikat. Selain itu, sepanjang hidupnya, Jefferson hanya pernah membebaskan 2 orang budak, dan menyimpan ratusan budak lain untuk bekerja di perkebunannya. Lantas, bagaimana mungkin seorang yang menyatakan dengan lantang bahwa semua manusia diciptakan setara, namun pada saat yang sama membelenggu kebebasan ratusan manusia lain dalam praktik perbudakan?

*****

Thomas Jefferson jelas bukan satu-satunya figur yang mendapatkan penghakiman sejarah karena praktik yang ia lakukan semasa hidupnya. Seiring berjalannya waktu, pandangan masyarakat terhadap yang baik dan buruk, yang dianggap normal dan dapat diterima serta yang tidak, berubah pula. Dan seringkali kita memberi pandangan terhadap sosok-sosok masa lalu dengan menggunakan standar nilai dan keyakinan umum yang berlaku pada saat ini.

Jefferson bukanlah seseorang yang kejam dan tidak memiliki moralitas. Dalam banyak hal ia merupakan sosok yang memiliki pandangan yang sangat maju dan progresif bila dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya pada saat ia hidup. Namun, bukan berarti hal tersebut mampu menjadi sesuatu yang melepaskan dirinya dari penghakiman sejarah puluhan hingga ratusan tahun setelah ia tiada.

Perbudakan sendiri bukanlah satu-satunya praktik yang dianggap umum pada suatu masa, namun pada masa kini kita melihatnya sebagai sesuatu yang sangat biadab dan harus dilenyapkan. Tengoklah berbagai praktik-praktik hukuman berupa penyiksaan kejam yang lazim dilakukan pada abad pertengahan di Eropa misalnya. Seseorang yang dianggap bersalah karena menghina Gereja misalnya, dapat dibakar hidup-hidup dengan diikat pada bongkahan kayu bakar, seperti yang dialami oleh filsuf Italia Giordano Bruno pada tahun 1600.

Larangan etnis minoritas untuk terjun dalam dunia politik dan kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan, kriminalisasi terhadap kelompok homoseksual, pemenjaraan kelompok-kelompok politik yang menentang pemerintah, kekerasan fisik sebagai bentuk hukuman yang dilakukan oleh suami terhadap istri dan anak-anaknya, serta prohibisi kebebasan reproduksi dan berbagai perilaku seksual, seperti aborsi, penggunaan alat kontrasepsi, dan hubungan intim diluar pernikahan merupakan sesuatu yang dianggap umum dan lumrah, khususnya di belahan dunia Barat, seperti Eropa dan Amerika Serikat, namun pada saat ini dianggap sebagai sesuatu yang sangat terbelakang dan patut untuk dihilangkan.

Siapapun yang pernah membaca literatur mengenai perjuangan hak sipil tahun 1960an di Amerika Serikat misalnya, pasti mengenal sosok Dr. Martin Luther King, jr dan juga George Wallace. Dr. King merupakan seorang pendeta dan juga aktivis hak sipil kenamaan Amerika Serikat, sementara Wallace merupakan mantan gubernur negara bagian Alabama yang pada dekade 1960an sangat keras menentang gerakan hak sipil, khususnya pemberian hak pilih kepada warga kulit hitam.

Pada tahun 1965, Dr. King memimpin demonstrasi damai menuntut hak pilih bagi warga kulit hitam dengan melakukan pawai di Alabama dari kota Selma menuju ibukota Alabama, Montgomery. Melihat hal tersebut, Wallace memberi respon dengan menghadang pawai tersebut dan mengerahkan aparat kepolisian untuk membubarkan paksa secara brutal. Bila dilihat dalam konteks Amerika Serikat pada masa itu, tindakan yang dilakukan oleh Wallace merupakan sesuatu yang lumrah mengingat bahwa larangan warga kulit hitam untuk mendapatkan hak pilih, khususnya di wilayah Amerika Serikat bagian selatan, seperti negara bagian Alabama, merupakan hal yang dipandang umum. Namun sekarang, sejarawan dan publik Amerika Serikat mengingat Wallace sebagai sosok yang rasis, brutal dan sangat negatif karena tindakannya yang berupaya untuk menghalangi gerakan hak sipil di negeri paman Sam.

Contoh lain, seperti di Inggris misalnya, sebelum tahun 1967, perilaku homoseksual merupakan sesuatu yang dapat membawa seseorang tinggal di balik jeruji besi. Korban dari adanya peraturan tersebut bukan hanya warga biasa, tak tanggung-tanggung, bahkan matematikawan Alan Turing, yang telah berhasil membantu Inggris memecahkan sandi rahasia mesin komunikasi Jerman Nazi, Enigma, pada Perang Dunia II, yang telah mempercepat kemenangan Sekutu dan berhasil menyelamatkan jutaan nyawa baik militer maupun sipil, juga dinyatakan bersalah hanya karena ia seorang gay, dan pada akhirnya Turing melakukan tindakan bunuh diri pada tahun 1954.

Namun, betapa cepatnya moralitas publik dan norma masyarakat berubah. British Social Attitudes Survey mencatat dengan lengkap perubahan tersebut, diantaranya pandangan penduduk Inggris terkait perilaku homoseksualitas. Pada awal dekade 1980an, sekitar 70-80% warga Inggris berpandangan bahwa homoseksualitas merupakan sesuatu yang salah dan tidak dapat diterima, dan hal tersebut mengalami perubahan drastis pada tahun 2013 ketika hanya sekitar 20-30% dari warga negeri yang memiliki kepala negara Ratu Elizabeth II tersebut yang berpandangan demikian. Pada tahun 2014, Inggris pun akhirnya mengakui dan mensahkan pernikahan gay, dan 5 tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2009, perdana menteri Inggris Gordon Brown, mewakili pemerintah Inggris, mengeluarkan permintaan maaf resmi kepada Alan Turing.

Lantas, apakah yang akan terjadi di masa depan? Mungkinkah masih ada berbagai hal, baik perilaku maupun pandangan yang dilihat menyimpang dan dianggap sebagai sesuatu yang tercela yang nantinya justru menjadi sesuatu yang lumrah, atau bahkan sangat positif? Adakah sesuatu yang pada masa kini dirasakan sebagai hal yang mulia, namun justru dikemudian hari menjadi sesuatu yang hina?

Bila melihat perkembangan sejarah dunia, khususnya sejarah perkembangan dunia Barat sejak Era Pencerahan pada abad ke-18, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat mungkin untuk terjadi. Tidak perlu lah kita melihat berbagai norma-norma sosial yang sangat terbelakang, yang masih berlaku di negara-negara Dunia Ketiga, seperti di Indonesia. Bahkan, di dunia Barat sekalipun, yang sudah mengalami perubahan dan kemajuan nilai-nilai serta moral yang pesat selama ratusan tahun, kita masih dengan mudah menemukan berbagai kelompok dan individu yang mendapat perlakuan diskriminatif dan dianggap menyimpang berdasarkan identitas dan gaya hidupnya.

Tengoklah seorang perempuan bernama Rachel Dolezal misalnya. Dolezal merupakan seorang aktivis hak sipil asal Amerika Serikat. Ia terlahir sebagai seorang kulit putih, namun ia mengidentifikasikan dirinya sebagai kulit hitam. Ia pun mengubah tampilan fisiknya, seperti warna kulit, wajah, dan gaya rambutnya sehingga menyerupai perempuan Afrika-Amerika. Dalam wawancaranya dengan Guardian, Dolozal mengklaim dirinya sebagai seorang ‘Transrasial.’

Tak ayal, Dolozal pun mendapatkan banyak kritik dan kecaman dari berbagai pihak. Jurnalis Toure Neblett misalnya, dalam sebuah acara di stasiun televisi MSNBC menyatakan bahwa identitas Dolozal merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima, karena yang membentuk identitas “kulit hitam” (atau Afrika-Amerika) bukan hanya sebatas warna kulit semata, namun juga faktor sejarah yang panjang dan kelam dimana pada masa lalu warga kulit hitam mendapatkan berbagai tindakan rasisme dan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat kulit putih Amerika Serikat, dan hal tersebut masih tersimpan kuat sebagai memori kolektif yang dirasakan oleh banyak warga kulit hitam di Amerika Serikat. Dolozal yang terlahir sebagai perempuan kulit putih tentu tidak pernah menglami dan merasakan hal tersebut.

Namun, bila kita melihat beberapa dekade ke belakang, berbagai argumen yang hampir serupa juga digunakan oleh berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh gerakan feminisme, untuk menyerang kelompok transgender. Tokoh gerakan feminisme kondang asal negeri Paman Sam, Gloria Steinem, pada tahun 1977 mengeluarkan kritik terhadap kelompok transgender yang dianggapnya sebagai bentuk pengalihan dari berbagai permasalahan ketidakadilan berbasis jenis kelamin. Feminis Janice Raymond pun mengeluarkan kritik yang lebih keras lagi dimana ia menganggap kelompok transgender, khususnya transgender perempuan, merupakan bentuk “pemerkosaan” terhadap tubuh perempuan yang sesungguhnya karena tubuh perempuan direduksi hanya dianggap sebagai artefak semata. Steinem sendiri akhirnya mengeluarkan permohonan maaf kepada komunitas transgender pada tahun 2013 atas pernyataannya 35 tahun yang lalu.

Pada saat ini, di beberapa negara, seperti Kanada, telah dikeluarkan peraturan yang melarang praktik diskriminasi terhadap kelompok transgender. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat sendiri, seperti California dan New York, diskriminasi di tempat kerja terhadap kelompok transgender merupakan sesuatu yang sudah dilarang. Polandia bahkan pada tahun 2011 telah melantik anggota parlemen transgender perempuan pertama di Eropa bernama Anna Grodzka. Lantas apakah pada tahun-tahun mendatang identitas seseorang sebagai ‘transrasial’ dapat diterima oleh masyarakat dan diakui oleh pemerintah? Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya secara pasti, namun bukan berarti hal tersebut mustahil.

Klaim identitas transrasial sendiri bukan satu-satunya hal yang hingga saat ini dianggap sesuatu yang aneh dan bahkan tidak dapat diterima oleh masyakarat Barat. Gaya hidup nudisme misalnya, juga merupakan sesuatu yang masih dilarang di banyak yurisdiksi, dengan berbagai alasan, diantaranya adalah hal tersebut dianggap melanggar norma-norma kesopanan dan kepatutan. Di Perancis misalnya, dada dan alat kelamin merupakan bagian tubuh yang harus ditutupi di tempat-tempat umum dan bila ada yang melanggar dapat dikenai hukuman hingga 1 tahun penjara. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Indiana dan Tennessee, memperlihatkan alat kelamin di tempat umum, termasuk bila menggunakan pakaian transparan, merupakan sesuatu yang dilarang oleh hukum, sekalipun hal tersebut tidak menimbulkan kerugian baik fisik ataupun material bagi siapapun.

Namun, dalih melanggar norma kesopanan ini jelas bukanlah suatu argumen yang kuat. Sebagaimana diketahui, norma-norma sosial terus berubah seiring berjalannya waktu. Apa yang kita anggap sesuatu yang sopan pada saat ini, besar kemungkinan akan menjadi bahan tertawaan di masa yang akan datang. Bila ada seorang perempuan mengenakan kaus tipis tanpa lengan dan celana pendek di jalanan di London pada era Victorian Inggris pada abad ke-19, bukan tidak mungkin ia lantas akan ditangkap karena melanggar nilai-nilai kesopanan pada masa itu.

Bila ditelaah lebih jauh, masih sangat banyak berbagai klaim identitas, gaya hidup, maupun perilaku yang dianggap tercela, menjijikkan, dan tidak dapat diterima sehingga masih mendapat stigma dari masyarakat, dan bahkan dilarang oleh hukum, meskipun hal tersebut sama sekali tidak menimbulkan kerugian baik fisik maupun material kepada orang lain. Sebut saja penggunaan zat-zat psikotropika, berbagai perilaku seksual seperti berhubungan seksual di tempat umum, incest (berhubungan seks dengan saudara kandung) dan bestiality (berhubungan seksual dengan hewan), komunitas transabled (orang-orang yang membuat tubuhnya lumpuh secara sengaja), hingga berbagai tindakan rekayasa genetika, diantaranya yang melibatkan penggabungan materi genetik manusia dan hewan.

Hal-hal tersebut, identitas transrasial, nudisme, penggunaan zat-zat psikotropika, perilaku seksual seperti seks di tempat umum, incest dan bestiality, transabled, hingga berbagai praktik rekayasa genetika yang melibatkan penggabungan materi genetik manusia dan hewan, tidak perlu diragukan lagi saat ini merupakan sesuatu yang dianggap sangat aneh, menjijikkan, hingga sangat tercela sehingga wajib untuk dilarang. Mungkin sebagian besar dari kita, termasuk saya sendiri, menganggap bahwa normalisasi hal-hal di atas merupakan sesuatu yang sangat mustahil.

Namun, bila kita bertanya pada penduduk Amerika Serikat pada abad ke-19 misalnya, mengenai pernikahan gay, rekognisi kelompok trangender, legalisasi aborsi dan penggunaan alat kontrasepsi, normalisasi hubungan seks kasual diluar pernikahan, hingga adanya seorang presiden kulit hitam, saya yakin bahwa sebagian besar dari mereka juga menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak terbayangkan dapat terjadi. Dan sekarang kita semua menganggap orang-orang yang memperjuangkan hal-hal tersebut di masa lalu sebagai seorang pahlawan bagi kemajuan, kebebasan dan kemanusiaan.

Penghakiman sejarah itu kejam. Seseorang yang dipandang baik dan mulia saat ini, besar kemungkinan akan dianggap sebagai manusia keji dan penuh kemunafikan di masa yang akan datang. Tidak ada yang tahu kemana sejarah akan berjalan, namun ada satu hal yang pasti, sejarah kerap akan menghakimi mereka yang menyakiti dan berlaku tidak adil kepada manusia lain yang berbeda dari dirinya, apapun latar belakang dari perbedaan tersebut. Sejarah akan merendahkan figur-figur yang menganggap diri mereka sebagai manusia terpilih dan memiliki superioritas, baik fisik, intelektual, maupun moral dibandingkan kelompok lainnya.

Sejarah akan semakin memberi tempat bagi orang-orang yang semasa hidupnya kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif dan ditertawakan oleh publik, dan meningkatkan derajat orang-orang yang berjuang melawan berbagai tindak diskriminasi dan berada di pihak mereka yang dianggap terbuang oleh masyarakat. Oleh karena itu, jangan terpaku pada patokan nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat masa kini, karena apa dianggap sebagai sesuatu yang dipandang aneh dan tidak bisa diterima sekarang bukan tidak mungkin akan dipandang sebagai sesuatu yang normal dan bahkan mulia dalam 10, 50, 100, atau bahkan 200 tahun yang akan datang.

Bagi saya, cara terbaik untuk terbebas dari penghakiman kejam sejarah adalah selalu berupaya menghargai dan menghormati setiap individu siapapun mereka, dengan latar belakang, klaim identitas, maupun pilihan gaya hidup apapun, selama tentu tidak menimbulkan kerugian fisik maupun material bagi orang lain, sekalipun klaim identitas ataupun pilihan gaya hidup yang diambil oleh individu tersebut kita anggap sebagai sesuatu yang sangat aneh, menjijikkan, tidak normal, dan bahkan hina. Jangan biarkan diri kita menjadi korban penghakiman sejarah yang kejam!

Opini 1 Mar 2017

Kita akan mendirikan tembok besar sepanjang perbatasan selatan Amerika, dan Meksiko akan membayar tembok tersebut!”

Ketika saya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, maka saya akan melarang muslim untuk memasuki negara ini!.”

Itulah beberapa retorika yang kerap diucapkan oleh Donald Trump dalam kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 kemarin. Melihat hasil dari pemilu tersebut, tidak bisa diragukan lagi bahwa tak sedikit rakyat Amerika yang memiliki pandangan yang sama dengan Trump mengenai imigrasi. Mereka menganggap bahwa imigran Meksiko dan Muslim merupakan ancaman bagi negeri Paman Sam, baik dalam bidang keamanan maupun ekonomi.

Resensi 21 Feb 2017

Hak kekayaan intelektual kerap dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dijaga dan dilindungi. Bagaimana tidak, hak kekayaan intelektual merupakan salah satu instrumen terpenting yang melindungi seseorang untuk berhak menikmati manfaat dari hasil karya yang ia buat. Selain itu, dengan adanya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, akan menumbuhkan insentif bagi setiap individu untuk meningkatkan kreativitasnya karena setiap orang tidak bisa asal menduplikasi hasil karya orang lain.

Opini 24 Jan 2017

Manakah yang lebih baik, hidup dengan dikurung seumur hidup oleh seseorang yang tidak dikenal ataupun oleh seorang kerabat kita sendiri?

Banyak orang tentu akan menjawab tidak keduanya. Hidup dengan cara dikurung seumur hidup oleh siapapun, bukanlah sesuatu yang menjadi impian setiap individu. Hidup dalam kurungan sama saja dengan menghilangkan kemerdekaan yang kita miliki. Kemerdekaan untuk bepergian, untuk berkarya, untuk aktualisasi diri, dan yang terpenting, memiliki kemerdekaan untuk mengatur jalan hidup diri kita sendiri.