Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]

Opini 2 Apr 2018

Isu mengenai burka atau cadar kembali menyeruak di Indonesia. Beberapa minggu yang lalu, diberitakan bahwa salah satu kampus negeri di Yogyakarta mengeluarkan kebijakan yang melarang mahasiswinya untuk menggunakan cadar. Pihak administrasi universitas menyatakan bahwa adanya larangan tersebut bertujuan untuk menjaga kegiatan belajar mengajar agar kondusif dan sebagai upaya untuk menangkal gagasan ekstrimisme.

Tak bisa dihindari, adanya kebijakan tersebut lantas menimbulkan pro dan kontra. Kalangan yang kontra menyatakan bahwa adanya kebijakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran atas kebebasan beragama. Selain itu, beberapa aktivis feminis dan hak perempuan melalui sosial media juga menyuarakan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menggunakan pakaian apapun, termasuk cadar, dan adanya kebijakan tersebut berpotensi akan mengambil hak untuk mendapatkan pendidikan bagi kelompok tertentu.

Sementara itu, phak-pihak yang menyetujui aturan tersebut juga memiliki dasar argumen yang beragam, mulai dari persoalan teknis kegiatan belajar mengajar hingga hal yang terkait dengan ideologi. Secara teknis, tidak sedikit kalangan yang pro terhadap peraturan tersebut menyatakan bahwa adanya mahasiswa/i yang tidak bisa diketahui identitasnya karena mengenakan penutup wajah pada saat kegiatan belajar tengah berlangsung tentu akan mengganggu kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Belum lagi ketika ujian sedang berlangsung, bagaimana pengajar bisa memastikan kalau yang mengerjakan soal ujian tersebut memang benar mahasiswa/i-nya bila mereka mengenakan penutup wajah?

Cerita 27 Mar 2018

Apakah Islam cocok dengan gagasan kebebasan yang menjunjung tinggi kebebasan sipil dan ekonomi?

Bila Anda menanyakan pertanyaan ini kepada penduduk negara-negara Barat, besar kemungkinan Anda akan mendapatkan jawaban tidak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa citra Islam di belahan dunia Barat, terutama pasca serangan 11 September 2001 di New York sangatlah buruk. Islam kerap diasosiasikan dengan perilaku ekstrimisme, terorisme, kemunduran, dan keterbelakangan.

Hal tersebut bagi saya bisa dimengerti, terutama bila stigmasisasi tersebut datang dari kalangan yang sama sekali tidak pernah membaca apalagi mempelajari hal apapun yang terkait dengan Islam. Hampir seluruh tindakan terorisme di abad ke 21 yang dipublikasi secara masif oleh media-media besar di Barat, baik yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika maupun di dunia muslim, dilakukan oleh kelompok ataupun pihak-pihak yang mengatasnamakan Islam dan melegitimasi tindakan mereka berdasarkan teks-teks Al-Qur'an dan Hadist.

Tidak hanya terorisme, ekstrimisme dan fundamentalisme agama juga merupakan label yang kerap diasosiasikan dengan Islam. Negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim kerap berada di posisi bawah dalam indeks demokrasi, kebebasan ekonomi, dan kebebasan sipil. Pada tahun 2017 misalnya, lembaga think tank Inggris, The Economist Intelligence Unit, mempublikasikan indeks demokrasi negara-negara di dunia, dan 18 dari 25 negara-negara yang menduduki peringkat terbawah merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Opini 7 Mar 2018

Menurut Anda, apakah ada seseorang yang sempurna, yang mampu berkuasa secara absolut di suatu negeri dengan adil, bijak, dan tanpa melakukan kesalahan sekecil apapun? Bila Anda menjawab tidak, ada kemungkinan besar Anda berpotensi menjadi seorang libertarian.

Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak sedikit orang-orang yang memberi respon atas pertanyaan tersebut dengan jawaban "Ya!" secara lantang dan dengan keyakinan yang kuat. Bagi mereka, memang ada sekelompok kecil manusia yang secara inheren memiliki kesempurnaan untuk terlepas dari berbagai kesalahan dan mempu memerintah suatu wilayah secara absolut dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan.

Lembaran-lembaran sejarah umat manusia selalu dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki keyakinan tersebut. Maka tak heran, bila kita membaca buku-buku sejarah, dengan mudah kita akan menemukan berbagai tokoh penguasa yang memiliki kekuasaan secara absolut. Imperium Romawi di Eropa, berbagai dinasti kekaisaran di wilayah China dan Jepang, kekhilafahan Islam di timur tengah, kerajaan-kerajaan monarki absolut di Eropa, hingga para penguasa fasis dan komunis di berbagi belahan dunia pada abad ke 20 merupakan sedikit dari banyak contoh konkret akan manifestasi bentuk pemerintahan yang didasari pada keyakinan terhadap hal semacam ini.

Resensi 31 Jan 2018

Katherine Graham bimbang. Malam itu, tanggal 17 Juni 1971, ia harus membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya, yakni apakah ia akan menerbitkan cerita mengenai kebohongan pemerintah Amerika Serikat mengenai kebijakan Perang Vietnam selama hampir 3 dekade oleh koran harian yang dimilikinya.

Sejak suaminya meninggal pada tahun 1963, Graham telah menjadi pemimpin dan penerbit salah satu koran harian paling terkemuka di Amerika Serikat, The Washington Post. Ia berusaha untuk memimpin The Washington Post secara profesional dan berupaya untuk menjaga intergritas setinggi mungkin. Namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat Graham secara personal memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik dengan banyak pejabat tinggi Amerika Serikat, salah satunya adalah menteri pertahanan Amerika pada masa itu, Robert McNamara.

Opini 30 Jan 2018

Sebagai seorang libertarian, hak & kebebasan individu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi saya. Setiap individu merupakan subjek yang otonom dan memiliki hak untuk membuat pilihan bagi dirinya sendiri. Namun, diakui atau tidak, pemahaman individu sebagai subjek yang otonom merupakan hal yang sangat tidak populer di tanah air kita yang (mengaku) menjunjung tinggi "budaya Timur." Individu dalam hal ini dipandang sebagai bagian dari entitas yang lebih besar, baik keluarga, komunitas, dan masyarakat. Oleh karenanya, sangat diwajibkan bagi individu untuk mengikuti norma serta nilai-nilai tertentu yang berkembang dan dianut oleh individu lain yang hidup di sekitarnya, demi menciptakan "harmoni sosial."

Pemahaman inilah yang menjadi dasar untuk menjustifikasi dan membenarkan berbagai upaya untuk mencederai kebebasan individu lain yang memiliki pilihan hidup yang berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Penutupan rumah ibadah kelompok minoritas, pelarangan mengkonsumsi barang-barang tertentu, serta pembredelan berbagai kegiatan akademis dan pertunjukan seni yang dianggap tidak mengikuti dengan norma yang ada merupakan sebagian kecil dari berbagai aksi yang dilakukan atas dasar pandangan tersebut.

Resensi 30 Nov 2017

Bila ada seseorang yang bertanya kepada saya "siapakah tokoh yang paling berpengaruh dan bertanggung jawab terhadap gerakan libertarian di dunia pada abad ke 20?" hanya ada satu nama yang terlintas di pikiran saya. Dialah ekonom dan filsuf kenamaan Friedrich August Hayek (1899 - 1992.)

Meraih hadiah Nobel ekonomi pada tahun 1974, Hayek merupakan salah satu pemikir paling tersohor di abad ke 20. Berbagai karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu, mulai dari ekonomi, filsafat politik, hingga hukum. Sepanjang hidupnya Hayek telah menerbitkan lebih dari 20 buku dan kumpulan tulisan. Meskipun demikian, sebagaimana banyak karya tokoh intelektual besar dunia, tak sediikt berbagai karya tulis Hayek tersebut yang terbilang cukup sulit untuk dipahami oleh kalangan awam, termasuk diri saya sendiri.

Untuk itulah berbagai buku pengantar untuk memahami gagasan Hayek-pun diterbitkan, dengan tujuan mempopulerkan gagasan ekonom kelahiran Austria tersebut. Bagi saya, salah satu pengantar terbaik mengenai gagasan Hayek adalah buku yang berjudul "The Essential Hayek" yang ditulis oleh ekonom Universitas George Mason, Donald J. Boudreaux. Dalam bukunya yang dibagi menjadi 10 chapter tersebut, Boudreaux memaparkan secara singkat intisari dari berbagai gagasan Hayek secara sederhana.