Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]

Resensi 31 Jan 2018

Katherine Graham bimbang. Malam itu, tanggal 17 Juni 1971, ia harus membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya, yakni apakah ia akan menerbitkan cerita mengenai kebohongan pemerintah Amerika Serikat mengenai kebijakan Perang Vietnam selama hampir 3 dekade oleh koran harian yang dimilikinya.

Sejak suaminya meninggal pada tahun 1963, Graham telah menjadi pemimpin dan penerbit salah satu koran harian paling terkemuka di Amerika Serikat, The Washington Post. Ia berusaha untuk memimpin The Washington Post secara profesional dan berupaya untuk menjaga intergritas setinggi mungkin. Namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat Graham secara personal memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik dengan banyak pejabat tinggi Amerika Serikat, salah satunya adalah menteri pertahanan Amerika pada masa itu, Robert McNamara.

Opini 30 Jan 2018

Sebagai seorang libertarian, hak & kebebasan individu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi saya. Setiap individu merupakan subjek yang otonom dan memiliki hak untuk membuat pilihan bagi dirinya sendiri. Namun, diakui atau tidak, pemahaman individu sebagai subjek yang otonom merupakan hal yang sangat tidak populer di tanah air kita yang (mengaku) menjunjung tinggi "budaya Timur." Individu dalam hal ini dipandang sebagai bagian dari entitas yang lebih besar, baik keluarga, komunitas, dan masyarakat. Oleh karenanya, sangat diwajibkan bagi individu untuk mengikuti norma serta nilai-nilai tertentu yang berkembang dan dianut oleh individu lain yang hidup di sekitarnya, demi menciptakan "harmoni sosial."

Pemahaman inilah yang menjadi dasar untuk menjustifikasi dan membenarkan berbagai upaya untuk mencederai kebebasan individu lain yang memiliki pilihan hidup yang berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Penutupan rumah ibadah kelompok minoritas, pelarangan mengkonsumsi barang-barang tertentu, serta pembredelan berbagai kegiatan akademis dan pertunjukan seni yang dianggap tidak mengikuti dengan norma yang ada merupakan sebagian kecil dari berbagai aksi yang dilakukan atas dasar pandangan tersebut.

Resensi 30 Nov 2017

Bila ada seseorang yang bertanya kepada saya "siapakah tokoh yang paling berpengaruh dan bertanggung jawab terhadap gerakan libertarian di dunia pada abad ke 20?" hanya ada satu nama yang terlintas di pikiran saya. Dialah ekonom dan filsuf kenamaan Friedrich August Hayek (1899 - 1992.)

Meraih hadiah Nobel ekonomi pada tahun 1974, Hayek merupakan salah satu pemikir paling tersohor di abad ke 20. Berbagai karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu, mulai dari ekonomi, filsafat politik, hingga hukum. Sepanjang hidupnya Hayek telah menerbitkan lebih dari 20 buku dan kumpulan tulisan. Meskipun demikian, sebagaimana banyak karya tokoh intelektual besar dunia, tak sediikt berbagai karya tulis Hayek tersebut yang terbilang cukup sulit untuk dipahami oleh kalangan awam, termasuk diri saya sendiri.

Untuk itulah berbagai buku pengantar untuk memahami gagasan Hayek-pun diterbitkan, dengan tujuan mempopulerkan gagasan ekonom kelahiran Austria tersebut. Bagi saya, salah satu pengantar terbaik mengenai gagasan Hayek adalah buku yang berjudul "The Essential Hayek" yang ditulis oleh ekonom Universitas George Mason, Donald J. Boudreaux. Dalam bukunya yang dibagi menjadi 10 chapter tersebut, Boudreaux memaparkan secara singkat intisari dari berbagai gagasan Hayek secara sederhana.

Opini 6 Nov 2017

Setiap individu pasti memiliki gagasan akan gaya hidup yang baik. Gagasan ini dapat didasari oleh berbagai hal, mulai dari kebiasaan masyarakat tempat individu tersebut berasal, selera pribadi, nilai-nilai agama dan kepercayaan, hingga ideologi politik.

Seseorang yang memiliki rasa patriotisme yang tinggi terhadap negara pasti akan menegaskan pentingnya menjaga dan melestariakan "kebudayaan nasional." Hal tersebut dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari mengkonsumsi makanan asli Indonesia daripada kuliner dari negara lain,  menggunakan pakaian tradisional seperti batik, menonton film hasil karya anak bangsa, mempelajari tarian dan lagu-lagu daerah, hingga menyaksikan berbagai pertunjukan budaya khas nusantara, seperti wayang.

Pribadi yang memegang keyakinan terhadap agama yang kuat tentu akan menyatakan bahwa gaya hidup yang baik adalah gaya hidup yang mengikuti berbagai ajaran dan aturan agama secara menyeluruh. Menggunakan pakaian yang sesuai dengan ajaran agama, tidak mengkonsumsi makanan yang dilarang, serta lebih mengutamakan untuk melakukan transaksi dan kegiatan ekonomi dengan pihak lain yang seiman merupakan beberapa dari sekian banyak perwujudan atas pandangan tersebut.

Opini 20 Okt 2017

“Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too…”

 

Itulah salah satu bait dari lirik lagu Imagine, yang ditulis oleh John Lennon. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu paling mansyur dalam sejarah musik populer, dan tak jarang dianggap sebagai hymne kelompok humanis dan anti kekerasan di seluruh dunia. Tak tanggung-tanggung, majalah musik Rolling Stone bahkan menobatkan Imagine sebagai lagu nomor 3 terbesar sepanjang masa.

Dalam lagunya Lennon bermimpi, mengenai dunia utopis tanpa batas-batas negara, agama, kelas sosial dan keinginan untuk mencari materi, serta dimana setiap manusia bersedia utk saling berbagi dengan sesama. Lennon pun bukan hanya berimajinasi dengan dirinya sendiri, ia juga mengajak para pendengarnya utk membayangkan hal yang sama.

"I hope someday you'll join us, and the world will be as one," gubah mantan personel The Beatles tersebut dalam lagunya.

Lennon tentu bukan satu-satunya orang yang memiliki angan-angan akan dunia yang menurutnya ideal di masa depan. Sepanjang sejarah, ada ribuan, atau bahkan jutaan manusia  yang memiliki ambisi besar untuk mengubah dunia, untuk menciptakan masyarakat yang mereka anggap sempurna. Mereka semua berasal dari berbagai tempat yang berbeda, timur dan barat, dan berbagai latar belakang, baik filsuf, kaisar, teolog, politisi, akademisi, pemimpin militer, seniman, sastrawan, penyair, aktivis, dan musisi.

Resensi 7 Sep 2017

11 Agustus lalu, kota Charlottesville di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, mengalami peristiwa yang tidak biasa. Hari itu, ratusan orang kulit putih melakukan pawai dengan membawa obor dan bermacam-macam bendera, diantaranya adalah bendera Nazi Jerman dan bendera Konfederasi, sembari meneriakkan slogan-slogan rasis dan anti semit.

Pawai yang diorganisir oleh berbagai kelompok rasis dan supersai kulit putih tersebut, diantaranya adalah Ku Klux Klan (KKK), Gerakan Nazi Amerika Serikat, dan gerakan Alt-Right, memiliki tujuan untuk memprotes keputusan dewan kota untuk menurunkan patung Robert Lee yang berdiri di Emancipation Park di kota Charlottesville.