Sukma Hari Purwoko

Sukma Hari Purwoko

Mahasiswa ilmu administrasi negara Universitas Jember. Aktif sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi salah satu bagian jaringan kepemudaan pro-kebebasan Youth Freedom Network (YFN). Alumni pelatihan Akademi Merdeka V. Bisa dihubungi melalui email: [email protected] twitter: @post_purwoko

Opini 8 Nov 2017

Dari tujuh Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) inisiatif DPRD Jember yang agaknya disampaikan dengan bangga dalam rapat paripurna 25 September 2017, Raperda Baca Tulis Al Quran adalah raperda yang memperlihatkan cara berpikir yang gelap dari para pengambil kebijakan di tingkat dewan. Kita semua tahu masyarakat Jember adalah masyarakat yang majemuk, tentu saja para anggota dewan seharusnya juga tahu. Masyarakat Jember bukan masyarakat tunggal yang seluruhnya memeluk agama Islam dan wajib mempelajari Al Quran.

Anggota Dewan yang terhormat seharusnya menggunakan data demografi masyarakat Jember berdasarkan jumlah pemeluk agama sebagai masukan kebijakan (policy input) pembuatan raperda. Ini berarti DPRD semestinya tidak bisa mengatasnamakan kebutuhan masyarakat Jember sebagai alasan diajukannya raperda. Namun, anggota Dewan tetap saja meyakinkan raperda itu untuk kebutuhan masyarakat Jember.

Kita tidak tahu apa yang membuat DPRD Jember yakin dengan kebijakan yang diambilnya meski mengabaikan data dan bukti demografi masyarakat Jember. Lantas bukti-bukti apa yang menjadi dasar DPRD Jember merumuskan Raperda Baca Tulis Al Quran? Pertanyaan ini murni pertanyaan, bukan keraguan bahkan tudingan bahwa para abffira tidak mengerti apa unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan kebijakan.

Sindikasi 8 Des 2016

Saya menyimpan anggapan bahwa kesibukan kita hari-hari ini adalah mencari cara bagaimana menghadapi para pemaksa kehendak. Menghadapi mereka bukan urusan mudah karena membutuhkan jiwa adil dan kejernihan berpikir. Kita tahu, tidak semua orang berjiwa adil dan mampu jernih berpikir, meski sebetulnya setiap orang mampu melakukannya.

Opini 28 Jun 2016

Website fiksilotus.com pernah mempublikasi tulisan menarik berjudul 10 tips ‘pedas’ untuk (calon) penulis. Salah satunya diberikan oleh Harper Lee, penulis novel To Kill a Mockingbird yang kematiannya mengundang isak tangis dunia para penggemar fiksi. Novelis kawakan Amerika Serikat yang menerbitkan karya terbaiknya pada 11 Juli 1960 itu menyarankan kepada para (calon) penulis untuk ‘menebalkan kulit’ selama bergelut di dunia menulis.

Saya tak punya alasan kuat untuk membantah apa yang disampaikan oleh Harper Lee. Orang yang gemar menulis dan ingin menekuninya memang perlu ‘menebalkan kulit’. Tidak sedikit, kita tahu, jatuh bangun perjuangan para penulis yang mengundang empati dan keprihatinan, selain decak kagum.

Resensi 7 Mar 2016

Kebebasan bukan soal hadiah yang akan didapatkan oleh warga negara dari penguasanya. Kebebasan bukan soal kepantasan yang patut diberikan oleh penguasa untuk warga negaranya.  Kebebasan merupakan hak alamiah yang dimiliki oleh setiap individu warga negara. Di berbagai belahan dunia manapun, tidak ada seorang yang berhak atas kebebasan orang lain, sekalipun atas nama negara dan kepentingan orang banyak.

Opini 22 Feb 2015

Dalam dinamika politik global, perumusan kebijakan publik menjadi indikator penting untuk mengetahui tingkat kemajuan negara. Francis Fukuyama dalam karyanya “State Building: Governance and World Order in 21st Century” menguraikan secara teoritis tentang kekuatan dan cakupan yang harus diurus oleh negara sebagai eksekutor kebijakan. Di negara dunia ketiga seperti Indonesia, kebijakan publik dalam hal ini masih berada dalam pusaran perdebatan.