rofiuddarojat

rofiuddarojat

Cerita 6 Des 2018

Pesta demokrasi yang akan diadakan tahun depan di Indonesia, yaitu pemilihan presiden dan legislatif adalah pesta demokrasi yang akan menjadi sajian utama politik selama setahun ke depan. Sebagai kelompok yang skeptis terhadap negara dan kekuasaan, sudah sepatutnya kelompok libertarian menentukan sikapnya dalam pemilu.

Haruskah seorang libertarian yang percaya pada kebebasan individu dan peran negara yang minimal berpartisipasi dalam pemilu? Ataukah seorang libertarian seharusnya menolak memilih dalam pemilu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang didiskusikan dalam Diskusi Ngopi Sore pada 10 November yang lalu di Jakarta, melibatkan teman-teman penulis dan pembaca Suara Kebebasan. Dalam diskusi kali ini, Nanang Sunandar (INDEKS) dan Muhamad Iksan (Suara Kebebasan) menjadi pemantik diskusi.

Nanang berargumen bahwa dalam pemilu kali ini tidak ada presiden yang mewakili nilai-nilai libertarian. Oleh karena itu, tidak ada gunanya mendukung salah satu calon yang kini berkontestasi untuk menjadi presiden. Terlebih lagi, petahana yang menjadi harapan banyak orang dulu sudah terbukti mengecewakan dan tidak mampu menepati janji-janjinya seperti penuntasan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Begitu juga calon penantangnya yang jauh dari menjanjikan agenda-agenda yang kompatibel dengan nilai-nilai libertarianisme.