Pradhana Adi

Pradhana Adi

Pradhana Adimukti bekerja sebagai Legal Officer. Ia meminat isu-isu hukum, kebebasan, kajian Islam Awal, sejarah dan sastra. Ia juga menulis ulasan film dan sepakbola. Penulis dapat ditemui di [email protected].   

Resensi 4 Des 2018

Ditonton satu juta lebih penonton hingga tulisan ini dibuat, A Man Called Ahok (AMCA) menjadi salah satu film Indonesia yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Selain figur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masih kontroversial sampai sekarang, materi film ini pun cukup berhasil memukau penonton.

Reynaldi Adi sudah menguraikan teladan yang dapat diambil dari Ahok. Sikap anti kompromi pada penyelewengan, sikap egaliter dan tradisi membantu sesama yang kekurangan adalah beberapa teladan yang dapat diambil dari Ahok. Aspek teknis A Man Called Ahok sudah saya ulas di situs Qureta. Aroma drama keluarga dalam film ini jauh lebih kuat dibanding biopik personal Ahok.

Bagi seorang libertarian, ada beberapa pelajaran yang ditunjukkan dalam AMCA. Libertarianisme adalah pandangan bahwa setiap orang punya hak menjalani hidup dengan cara apapun yang dia pilih selama dia menghargai hak yang sama pada orang lain.[1]

Libertarian membela hak setiap orang atas hidup, kebebasan dan properti—hak-hak yang orang miliki secara alami, sebelum pemerintahan diinstitusikan. Dalam pandangan libertarian, semua hubungan manusia harus bersifat sukarela; satu-satunya tindakan yang harus dilarang secara hukum adalah tindakan-tindakan yang melibatkan penggunaan paksaan terhadap mereka yang tidak melakukan hal serupa—pembunuhan, perkosaan, perampokan, penculikan dan penipuan.[2]