Fikri Disyacitta

Fikri Disyacitta

Fikri Disyacitta, MA adalah Peneliti di PolGov UGM. Ia berminat pada isu politik pangan dan politik lokal. Kini sedang meriset persoalan penyelenggaraan pilkades di Yogyakarta bersama PolGov UGM dan Australia National University (ANU). Fikri dapat dihubungi di [email protected] .

Resensi 26 Okt 2018

“Tolak Kapitalisme!”, “Ganyang Liberalisme dan Kapitalisme!”, spanduk maupun pekik slogan bernada kecaman ini lazim terlihat dan akrab terdengar dalam pawai demonstrasi merespon isu-isu ekonomi dan peringatan hari buruh. Tentu saja, baik kaum buruh atau individu kelompok sosial lainnya berhak menyampaikan aspirasinya, termasuk aksi penolakan terhadap kapitalisme, sepanjang tidak mencederai hak sesama warga negara.

Adanya demonstrasi tersebut justru patut diapresiasi sebagai bukti bergairahnya ruang publik kita sebagai medium berpolemik. Tetapi pastilah ada konsekuensi logis ketika suatu wacana dilontarkan ke ruang publik, yaitu, ia harus siap untuk ditantang oleh diskursus tandingan. Wacana anti-kapitalisme yang banyak diartikulasikan saat demonstrasi seperti contoh di awal tulisan, misalnya, perlu direspon secara kritis dengan pertanyaan lainnya. Misalnya: Apa sebenarnya kapitalisme itu? Apakah kapitalisme itu sesuatu yang tunggal, ataukah bermacam-macam? Lantas, kapitalisme macam mana yang ditolak dan bahkan sampai perlu untuk diganyang?

Jawaban yang lazim diberikan oleh para penolak kapitalisme ketika 3 pertanyaan dasar itu diajukan pada mereka biasanya bernada tipikal. “Kapitalisme adalah ideologi pemuja kebebasan individu untuk memiliki properti tanpa batas yang dapat membahayakan masyarakat” atau “menghalalkan eksploitasi terhadap kaum papa secara tidak manusiawi demi mengeruk laba sehingga pantas untuk ditolak”.