Arian Pangestu

Arian Pangestu

Opini 31 Mei 2018

 Saya tidak setuju dengan pendapat Anda, namun saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu.- Voltaire

Menyelenggarakan demokrasi artinya meluruskan niat untuk menjunjung hak orang untuk berpendapat. Dan menerima perbedaan pendapat memungkinkan kita untuk mengaktifkan akal sehat. Hanya dengan mengaktifkan akal sehat potensi sampai pada demokrasi yang subtansial akan terwujud. Namun, hari-hari ini ikhtiar untuk merawat demokrasi telah tergelicir ke dalam permainan kriminalisasi politik tertentu. Percakapan di ruang publik yang berbasis kekuatan rasional selalu dibatalkan oleh argumen nir-nalar. Akibatnya, bahasa percakapan, opini, dan diskursus di ruang publik selalu diawasi oleh mereka yang gemar membungkam pikiran dengan dalih doktrin yang mengklaim sebagai penjaga kebenaran–yang selalu meminjam tangan aparat negera. Hasilnya, demokrasi tanpa empirisme rasional sama dengan memburuk.

Opini 22 Mar 2018

Musuh besar filsafat ialah kata “finalitas”. Jadi, haram hukumnya kata final diucapkan di ranah institusi pendidikan, khususnya universitas. Sebab, universitas dalam definisi bebas adalah wilayah di mana sikap kritis dan berpikir tidak boleh layu. Keduanya mesti terus-menerus disirami supaya tumbuh lebat. Hanya dengan cara seperti itu, universitas dapat menjadi bandara, terminal, dan jalan raya–tempat lalu lintasnya pikiran. Karena dalam ranah pendidikan, musuh terbesar bagi seorang pelajar ialah lack of thinking.

Namun, permasalahan ini kurang mendapat perhatian oleh pengajar. Justru secara diam-diam kultur feodalisme dipelihara rapih di institusi pendidikan. Semisal, mahasiswa harus tunduk pada dosen; dosen bergelar doktor, ketua prodi, dan rektor tidak boleh dikritik.  Pada praktik itulah terjadi pengendalian narasi–di mana diskurus disodorkan terus-menerus oleh pihak pengajar saja. Maka, yang terjadi ialah minus interpretasi baru.