Wildan Rofie

Wildan Rofie

Opini 16 Jan 2018

Membaca judul di atas, tentunya akan memberikan banyak persepsi bagi pembaca terhadap isi tulisan ini. Bagi sebagian kalangan mungkin akan mengatakan, bahwa penulis akan mempresentasikan sebuah tulisan yang bertolak belakang terhadap feminisme yang sebenarnya. Namun, biarkan pembaca sendiri nanti yang menentukan persepsinya tentang tulisan ini.

Paham Feminis melekat erat dengan sebuah gerakan perempuan dalam tuntutan kesetaraan antar jenis kelamin. Menurut June Hannam dalam buku Feminism, mengatakan bahwa feminisme berarti: 

  1. A recognition of an imbalance of power between the sexes, with woman in a subordinate role to men.
  2. A belief that woman condition is social constructed and therefore can be changed .
  3. An emphasis on female autonomy.

Terbentuknya ideologi feminis tentunya memiliki sejarah yang panjang. Diawali dengan kesadaran perempuan yang merasakan kebutuhan yang sama atas kelayakan hidup dengan laki-laki seperti halnya dalam hal pendidikan. Mereka kemudian mencetuskan pemikirannya berkarya. Di Indonesia sendiri, mungkin kita tidak asing dengan nama R.A Kartini, sebagai sosok perempuan yang menginspirasi kesamaaan hak dan kebutuhan antara laki-laki dan perempuan.

Di sisi lain, perempuan di  Eropa, Amerika Utara, dan Australia mengatur bersama untuk pertama kalinya di dalam kelompok dan masyarakat untuk mewujudkan perubahan dan perkembangan dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Mereka berkumpul dalam sebuah organisasi ataupun asosiasi untuk menyuarakan aspirasi dalam bentuk karya-karya tulisan. Sehingga pada gelombang ini, June hannam menyatakan sebagai tolak timbulnya gerakan perempuan di dunia pada masa kini.