Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 8 Okt 2018

Watak dari Pancasila adalah pluralitas. Artinya ketika disusun, Pancasila bertujuan untuk menghimpun semua kelompok dan manaungi setiap golongan yang masih bernaung dalam panji merah putih. Pancasila tidakbisa dilepaskan dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang mencerminkan semangat perbedaan, sebab semboyan tersebut merupakan jiwa dan ruh dari Pancasila yang plural itu sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Pancasila adalah ideologi yang terbuka yang fleksibel. Dalam artian, Pancasila selain terus berdialektika dengan konteks sosial dan zaman, ia dalam dirinya menerima segala perbedaan serta masukan yang positif baik dari agama, ideologi, atau pemikiran filsafat manapun, sebab Pancasila itu sendiri adalah simbol persatuan dari kemajemukan.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika pemahaman Pancasila yang sebenarnya sangat humanistis dan fleksibel justru ditutupi oleh penafsiran para elit politik dan birokrat yang reaksioner dan bersikap oportunis. Demi meraup suara umum, para politisi berbicara seolah-olah sebagai penafsir yang hakiki, sehingga kadangkala Pancasila yang sebenarnya menaungi dan melindungi hak-hak segenap bangsa, justru malah dijadikan alasan untuk mendeskreditkan kelompok minoritas atau oposisi.Segala bentuk monopoli terhadap penafsiran ideologi Pancasila sangat tidak dibenarkan, apalagi jika Pancasila hanya dijadikan tameng oleh segelintir kelompok untuk membenarkan segala perbuatannya yang tercera dan tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Opini 2 Okt 2018

“Kebebasan? Males ah!”, “Jangan ngga-ngga jadi orang, ikuti yang normal aja”, “Ikuti aja apa yang jadi suratan takdir ”, “kalau semua orang bebas, nanti bisa gawat”, “Semua terserah pemerintah, kita ya ngikut aja”

Komentar miring mengenai kebebasan individu diatas adalah secuil dari berbagai komentar yang saya temui di media sosial. Jika kita melihat komentar-komentar diatas, hampir bisa dipastikan bahwa komentar tersebut bernada negatif dan sinis. Memang bisa dikatakan bahwa masyarakat kita belum mendapat pemahaman dan pengertian yang benar tentang kebebasan individu dan haknya sebagai manusia.

Dalam pandangan masyarakat kita, bersikap komunal dan seragam itu lebih baik daripada anda berusaha untuk berbeda dari orang lain dan menjadi diri sendiri. Namun disini saya berusaha memaparkan argumen lain dari sudut pandang filosofi, tentang mengapa sebagian orang kadang bersikap sinis dan tidak menyukai kebebasan.

Opini 28 Sep 2018

Jerman  saat ini terkenal sebagai negara maju dan moderen.  Kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi dan industri, membuat Jerman menjadi negara impian bagi para pelajar atau pelancong yang ingin melihat romantisme Eropa. Namun, dibalik gedung-gedung dan kota yang indah, Jerman dahulu pernah mengalami musibah bencana yang maha dahsyat, dimana seluruh kemiskinan, kesedihan, kehancuran,kemelaratan dan kelaparan, menjadi hal yang biasa dialami rakyat Jerman.

Bencana itu adalah bencana Perang Dunia Kedua yang telah memporak-porandakan Jerman dan membuat rakyat Jerman masuk kedalam jurang neraka selama 10 tahun. Selama peperangan berlangsung, Jerman harus mengalami pil pahit, mereka kalah dari sekutu yang dahulu mereka remehkan dan harus rela kehilangan segalanya, bahkan kehilangan jutaan rakyatnya akibat perang.

Perang Dunia Kedua tidak semestinya terjadi dan musibah kehancuran Jerman bisa dihindari jika seyogyanya rakyat Jerman bisa berpegang pada akal sehatnya dan tidak termakan oleh propaganda omong kosong kelompok radikal ekstrim fasisme. Kelompok radikal Jerman memdeklarasikan bahwa kelompoknya membawa ideologi kemenangan bagi Jerman.

Opini 26 Sep 2018

Sampai detik ini pemikiran Karl Marx dan teoritikus Marxis lainnya masih digemari dan dibaca oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kaum muda. Revolusi ala Marxis yang merindukan perubahan kearah perbaikan hidup dan persatuan masyarakat dunia dalam naungan komunisme sangat menarik bagi para aktivis dan mahasiswa yang masih terbuai dalam angan-angan romantika.

Memang harus diakui, hanya orang bodoh dan gendeng saja yang tidak menyukai tujuan dan dasar-dasar komunisme atau sosialisme, dimana kesetaraan, persaudaraan umat manusia dapat terbina tanpa sekat dan tanpa ada lagi kontradiksi-kontradiksi seperti perang dan konflik. Kehidupan manusia bahagia  secara ekonomi ataupun secara batin. Pokoknya masyarakat yang digambarkan oleh kaum komunis adalah masyarakat surgawi yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan,

Gimana kita tidak senang, setiap orang ingin hidup makmur, ingin damai, ingin bahagia selama-lamanya, bahkan matipun ingin tersenyum  agar sesudah mati juga bahagia? Nah  Marx dan Engels berusaha merumuskan suatu jalan hidup untuk menuju kebahagiaan manusia, dan jalan “lurus” itu dinamakan Komunisme. Karl Marx dan Friedrik Engels telah menjadi Nabi baru dalam masyarakat Eropa, dan komunisme menjadi suatu doktrin mahdiisme atau messianik yang dianggap bisa membebaskan umat manusia dari belenggu kemiskinan dan kesedihan.

Opini 16 Sep 2018

Dalam suatu negara yang menjunjung tinggi sikap demokatis, pemilihan umum merupakan salah satu pilar terpenting dalam berdemokrasi.  Sebab, lewat pemilu tersebut rakyat secara sadar menyalurkan aspirasi dan suara mereka untuk memilih sendiri secara bebas calon pemimpin dan wakil-wakil mereka dalam memerintah dan mengawal pembangunan negara. Momen pemilu juga merupakan suatu bentuk interaksi antara partai politik dan para pendukungnya.

Satu suara kita yang tersalurkan lewat pemilu sangat berharga dalam sebuah proses demokratisasi negara, sebab partai-partai politik yang dibentuk guna menyerap aspirasi setiap elemen di masyarakat membutuhkan dukungan suara untuk mendukung berjalannya suatu negara yang bersih, pro rakyat dan demokratis. Orang yang bersikap tidak memilih dalam pemilu atau yang mencoblos kotak kosong disebut sebagai golongan putih atau golput.

Golput sejatinya seorang pemilih yang memilih untuk tidak memilih pasangan calon yang ada karena satu dan lain hal. Golput juga berarti orang yang tidak mengambil sikap untuk mendukung pasangan manapun sebagai pemimpinnya disebabkan oleh suatu alasan yang rasional bagi dirinya.

Opini 16 Sep 2018

Banyak orang yang berburuk sangka terhadap ekonomi pasar bebas atau kapitalisme, mulai dari sinisme, tuduhan sampai caci makian, seperti: "kapitalisme telah membawa kesengsaraan dunia", "kapitalisme adalah sistem elit global untuk menguasai dunia", "kapitalisme itu jahat", "kapitalisme adalah sistem yang menindas orang miskin", "globalisasi akan membuat negara kita dijajah asing dan aseng", dan seterusnya.

Kebanyakan, orang yang terlihat anti terhadap sistem ini justru adalah orang yang belum memahami bahkan salah kaprah apa itu kapitalisme, mereka hanya dengar dari mereka yang belum tentu paham tentang sistem yang menjunjung kebebasan individu ini.

Percaya atau tidak, umumnya orang-orang yang telah diindoktrinasi tentang kejahatan kapitalisme ini tidak sadar bahwa mereka turut menikmati hasil-hasil pembangunan negara yang dibangun berdasarkan sistem kapitalisme. Paradigma yang terlanjur negatif terhadap kapitalisme tanpa adanya keinginan untuk mengenal terlebih dahulu terhadap sistem ini, telah membuat mereka memandang kapitalisme seperti sistem iblis yang haram dipraktikan di semua negara.