Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 31 Okt 2018

Dikutip dari media Liputan6.com yang mengambil data The Next Web tentang survei jumlah pengguna sosial di seluruh dunia, Indonesia termasuk di dalam daftar 5 pengguna paling banyak yang memakai media sosial di dunia, khususnya media Facebook dan Twitter. Tepatnya dengan pengguna media sosial sebanyak 130 juta orang, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang “cerewet”

Tentu berkembangnya media sosial juga berdampak bagi perkembangan demokrasi kita, sebab seyogyanya media sosial adalah sarana di mana individu dapat mengemukakan pendapatnya secara bebas ke publik dan setiap orang dapat melihat dan belajar memahami pikiran masing-masing individu yang saling berbeda.

Selain sebagai alat demokrasi, media sosial juga dianggap mempunyai sisi negatif, salah satunya adalah penyebaran hoax yang cepat melalui media sosial, dan juga merenggangnya interaksi sosial secara fisik. Namun terlepas dari penilaian positif – negatif, adalah salah satu pengaruh media sosial terhadap penggunanya, yaitu: narsistik.

Opini 26 Okt 2018

“Tetapi apa yang kita “catut” dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flonenya, tetapi abunya, debunya asbesnya..”

Kasus pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimah syahadat membuat geger masyarakat kita, khususnya media sosial. Mereka marah karena bendera bertuliskan tauhid itu dibakar dan dinistakan. Kasus pembakaran bendera tersebut dilakukan oleh Banser. Dikutip dari Detik.com (24/10), Pemimpin umum GP Anshor, Yaqut Cholil Qoumas atau yang biasa disebut Gus Yaqut menyatakan bahwa yang mereka bakar bukan bendera Islam tetapi bendera HTI.

Alasan mereka membakar bendera tersebut, karena HTI adalah ormas terlarang. HTI memang dikenal sebagai ormas yang bersifat ekstrim sebab tujuan utama mereka adalah mengganti sistem bernegara Indonesia menjadi negara Khilafah atau negara Islam secara total menurut perspektif mereka. Atas alasan inilah tindakan Banser merampas dan membakar bendera HTI dinilai sebagai bentuk antisipasi perkembangan organisasi terlarang ini.

Opini 9 Okt 2018

Pembicaraan mengenai ekonomi kerakyatan belakangan ini mulai booming kembali. Tentu penyebabnya tak lain dan tak bukan karena politik. Menjelang moment politik 2019, banyak politikus berusaha menjaring massa dan dukungan dengan mengeluarkan janji-janji yang berbunga-bunga dan sedap di telinga. Salah satunya adalah “Isu Ekonomi Kerakyatan”, mengapa saya sebut isu? Sebab hingga saat ini ekonomi kerakyatan hanya sekedar menjadi tunggangan politikus yang sebenarnya tidak mengerti ekonomi beserta mekanismenya. Mereka hanya tahu citra, sanjungan, dan suara.

Istilah ekonomi kerakyatan masih belum diketahui siapa pencetusnya dan konsep rill-nya. Sampai saat ini ekonomi kerakyatan masih dilebelkan sebagai gagasan yang berasal dari founding fathers kita yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, jika kita teliti lebih lanjut, para pendiri bangsa tidak serta-merta menegaskan bahwa konsepsi ekonominya bernama ekonomi kerakyatan.

Opini 8 Okt 2018

Watak dari Pancasila adalah pluralitas. Artinya ketika disusun, Pancasila bertujuan untuk menghimpun semua kelompok dan manaungi setiap golongan yang masih bernaung dalam panji merah putih. Pancasila tidakbisa dilepaskan dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang mencerminkan semangat perbedaan, sebab semboyan tersebut merupakan jiwa dan ruh dari Pancasila yang plural itu sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Pancasila adalah ideologi yang terbuka yang fleksibel. Dalam artian, Pancasila selain terus berdialektika dengan konteks sosial dan zaman, ia dalam dirinya menerima segala perbedaan serta masukan yang positif baik dari agama, ideologi, atau pemikiran filsafat manapun, sebab Pancasila itu sendiri adalah simbol persatuan dari kemajemukan.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika pemahaman Pancasila yang sebenarnya sangat humanistis dan fleksibel justru ditutupi oleh penafsiran para elit politik dan birokrat yang reaksioner dan bersikap oportunis. Demi meraup suara umum, para politisi berbicara seolah-olah sebagai penafsir yang hakiki, sehingga kadangkala Pancasila yang sebenarnya menaungi dan melindungi hak-hak segenap bangsa, justru malah dijadikan alasan untuk mendeskreditkan kelompok minoritas atau oposisi.Segala bentuk monopoli terhadap penafsiran ideologi Pancasila sangat tidak dibenarkan, apalagi jika Pancasila hanya dijadikan tameng oleh segelintir kelompok untuk membenarkan segala perbuatannya yang tercera dan tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Opini 2 Okt 2018

“Kebebasan? Males ah!”, “Jangan ngga-ngga jadi orang, ikuti yang normal aja”, “Ikuti aja apa yang jadi suratan takdir ”, “kalau semua orang bebas, nanti bisa gawat”, “Semua terserah pemerintah, kita ya ngikut aja”

Komentar miring mengenai kebebasan individu diatas adalah secuil dari berbagai komentar yang saya temui di media sosial. Jika kita melihat komentar-komentar diatas, hampir bisa dipastikan bahwa komentar tersebut bernada negatif dan sinis. Memang bisa dikatakan bahwa masyarakat kita belum mendapat pemahaman dan pengertian yang benar tentang kebebasan individu dan haknya sebagai manusia.

Dalam pandangan masyarakat kita, bersikap komunal dan seragam itu lebih baik daripada anda berusaha untuk berbeda dari orang lain dan menjadi diri sendiri. Namun disini saya berusaha memaparkan argumen lain dari sudut pandang filosofi, tentang mengapa sebagian orang kadang bersikap sinis dan tidak menyukai kebebasan.

Opini 28 Sep 2018

Jerman  saat ini terkenal sebagai negara maju dan moderen.  Kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi dan industri, membuat Jerman menjadi negara impian bagi para pelajar atau pelancong yang ingin melihat romantisme Eropa. Namun, dibalik gedung-gedung dan kota yang indah, Jerman dahulu pernah mengalami musibah bencana yang maha dahsyat, dimana seluruh kemiskinan, kesedihan, kehancuran,kemelaratan dan kelaparan, menjadi hal yang biasa dialami rakyat Jerman.

Bencana itu adalah bencana Perang Dunia Kedua yang telah memporak-porandakan Jerman dan membuat rakyat Jerman masuk kedalam jurang neraka selama 10 tahun. Selama peperangan berlangsung, Jerman harus mengalami pil pahit, mereka kalah dari sekutu yang dahulu mereka remehkan dan harus rela kehilangan segalanya, bahkan kehilangan jutaan rakyatnya akibat perang.

Perang Dunia Kedua tidak semestinya terjadi dan musibah kehancuran Jerman bisa dihindari jika seyogyanya rakyat Jerman bisa berpegang pada akal sehatnya dan tidak termakan oleh propaganda omong kosong kelompok radikal ekstrim fasisme. Kelompok radikal Jerman memdeklarasikan bahwa kelompoknya membawa ideologi kemenangan bagi Jerman.