Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 4 Jan 2019

“Alam ini pada mulanya disatukan oleh cinta,cinta adalah hukum kodrat yang menyatukan dan mendekatkan seg

Opini 2 Jan 2019

"Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang”

 

Waku terus berjalan kedepan, tak terasa bagi kita tahun akan berganti.  enomena yang biasa kita lihat selama momen pergantian tahun adalah, jalan-jalan mulai ramai, orang-orang mulai  memadati  toko, pusat perbelanjaan, atau memadati tempat hiburan lainnya. Sebagiannya lagi ada memilih untuk pergi berbelanja di Super Market. Kegiatan tersebut bak bagaikan ritual ‘perpisahan’ pada tahun yang akan segera berlalu dan menyambut tahun yang akan datang.

Momen pergantian tahun memang membawa berkah bagi pedagang, khususnya pedagang makanan ringan, terompet dan petasan. Memang momentum pergantian tahun menjadi malam spesial bagi banyak orang, ada yang memanfaatkannya dengan berlibur bersama keluarga, ada yang menghabiskan waktu untuk berbelanja, menyetel televisi dan musik di luar. Atau yang biasanya dilakukan: membakar ayam, jagung, dan sosis sambil menikmatinya bersama kawan-kawan atau kekasih.

Yang juga tak terlewatkan disaat mendekati momen tahun baru adalah, banyak tokoh agama yang menasihati lewat mimbar-mimbar mereka agar tidak terlalu menghamburkan uang di malam tahun baru. Tentu anjuran ini ada benarnya, namun ada pula yang terlalu fanatik sehingga mengecam perayaan tahun baru sebagai tindakan hura-hura yang tidak memberi manfaat menurut agama. mereka yang secara ekstrim membenci acara pesta tahun baru dengan gegabah memaki orang-orang yang merayakan tahun baru sebagai kafir, hedonis, dan munafik pada agamanya.

Sebenarnya apa sih yang istimewa dari perayaan tahun baru? Bukannya sama saja, toh apa ada bedanya tahun depan dengan tahun ini atau tahun yang telah lalu?

Memang benar tahun baru pada dasarnya hanyalah proses alamiah biasa, dimana bumi berevolusi satu kali mengelilingi matahari, tidak ada yang istimewa. Namun pesta perayaan tahun baru bukan hanya sekedar momentum untuk merayakan perputaran bumi, tetapi memiliki aspek psikologis dan filosofis dibalik perayaan tersebut.

 

Refleksi Manusia dan Harapan Pada Kebahagiaan

Dalam hidup kita, pasti kita pernah berpikir, Apakah tujuan kehidupan dan apa yang sebenarnya kita cari selama hidup ini? Para filsuf mencoba menjawab pertanyaan ini dengan singkat: hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan.

Ya pada dasarnya kita bekerja, berusaha, dan banting tulang untuk dan demi kebahagiaan hidup. Kadang orang rela  mencuri, bekerja keras, tekun beribadah, tekun belajar dan lain sebagainya, tindakan tersebut pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia  dalam mencari kebahagiaan dan kesenangan untuk dirinya

Di sisi lain, manusia adalah makhluk yang bebas. bebas dalam bergerak, bebas memilih, bebas melakukan sesuatu. Kebebasan yang kita miliki telah menciptakan aktivitas dan nilai dalam hidup kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang kita dapatkan saat ini hakikatnya adalah hasil dari kebebasan kita.

Kadang kita sebagai manusia tidak pernah merasa puas bahkan dikecewakan dengan hasil yang didapatkan. Walau pada dasarnya kita bebas menentukan pilihan, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, entah apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Aktivitas kita dalam bekerja dan berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan (dan kebahagiaan hidup) tak lepas dari proses sejarah dan waktu. Filsuf Driyarkara, berpendapat bahwa manusia hidup dan beraktivitas tak lepas dari dimensi ruang dan waktu. dimensi waktu manusia terbagi (sekurang-kurangnya) ada 3: masa lalu, masa kini dan masa depan. Manusia adalah makhluk yang sadar akan adanya dimensi waktu yang menaungi seluruh aktivitasnya, dan waktu telah mengukir sejarah diri kita.

Di tahun 2018 kita telah mengukir sejarah dalam hidup kita. dari awal tahun kita mulai mengukir harapan, melaksanakan harapan-harapan kita, dan tak jarang tidak semua harapan dan ekspektasi kita di tahun ini sesuai dengan keinginan kita (mungkin malah mengecewakan).

Di tahun 2018 kita pasti pernah merasakan saat ketika kita susah, senang, gembira, sedih, sabar, marah, bimbang, optimis, kecewa, puas dan lain sebagainya. Semua emosi tersebut pasti pernah kita rasakan.Walau manusia memiliki kehendak bebas dalam menentukan dirinya, namun dia tidak sepenuhnya bebas menentukan nasibnya di masa depan.

Banyak orang yang merayakan momentum tahun baru, bersuka ria menyambut tahun baru, kadang menangis haru ketika detik-detik pergantian tahun, fenomena ini tak tak lepas dari refleksi psikologis dan emosi manusia.  Sorak-sorai, keharuan, jabat tangan, berpelukan dan mengucapkan ‘selamat’ adalah suatu  ekspresi  emosi manusia karena meninggalkan tahun yang lalu, yang penuh dengan lika-liku, menyambut tahun baru yang diharapkan membawa sejuta keberuntungan dan kebahagiaan hidup.

Di sisi lain, secara alami manusia juga membutuhkan  perayaan tahun baru, membutuhkan suatu momen dimana semua orang dapat berkumpul dan larut dalam cengkrama yang hangat dan tawa bahagia. Ini yang kerap gagal ditangkap oleh sebagian orang yang selalu negatif dalam memandang segala sesuatu.

Selama 360 hari lebih kita melewati lika-liku dengan berbagai suka dan duka, sedih dan tawa dan ketika waktu menunjukan pukul 00.00, kita telah melewati itu semua.. tidak ada hati yang tidak bergetar ketika kita melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru. Setiap orang saling berpelukan, berjabat tangan dan menitikan air mata keharuan sambil berdoa kepada Tuhan agar hari esok hidup mereka lebih baik dan penuh berkah.

“manusia adalah makhluk historis, yang tak lepas dari sejarah”, ungkapan dari Hebert Spencer ini menegaskan bahwa Manusia adalah makhluk yang tak mungkin lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak bisa melupakan masa lalunya dan juga selalu menaruh harapan bagi masa depannya, kesadaran manusia akan waktu yang lalu dan waktu yang akan datang ini sering terjadi di saat tahun mulai beganti.

Setelah manusia mengalami berbagai warna yang telah berlalu, momen tahun baru menjadi momentum bagi kita untuk merefleksi dan mengoreksi diri kita, menyusun berbagai rencana dan menyimpan harapan di tahun yang akan datang. banyak manusia yang tak lupa berdoa pada Tuhan agar kehidupan ini dijalani dengan baik dan berakhir dengan baik dan penuh berkat.

*****

Selamat Tahun Baru

“Karena kita merasakan segala kesulitan,  kesengsaraan dan  juga kebahagiaan, itulah yang menunjukan eksistensi kita sebagai manusia” (Goethe)

Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang

Manusia hidup pasti mengalami berbagai macam kejadian, baik suka maupun duka. Meski begitu, manusia selalu memiliki harapan kehidupan yang baik  di masa mendatang. Manusia selalu mengharapkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. karena itulah dalam menjalani romantika kehidupan, manusia selalu berusaha dengan berbagai jalan untuk mencapainya.

Ya, momen tahun baru memang bukan sekedar peringatan pergantian kalender semata, namun juga memiliki nilai psikologis dan filosofis, dimana momen pesta perayaan tahun baru semacam menjadi ekspresi simbolis yang menunjukkanrasa gembira dan syukur kita telah melewati tahun 2018 dengan segala lika-liku serta pahit-manisnya, dan dengan selamat sentosa dapat menyaksikan peringatan tahun baru  2019, tahun yang baru sebagai momentum refleksi untuk hidup yang lebih baik.

Di tahun baru ini kita mempunyai sejuta harapan, di tahun baru ini kita menyusun segala rencana untuk masa depan, di tahun baru ini kita juga merasa energik dan memiliki semangat baru untuk menatap masa depan, di tahun baru ini doa dan keyakinan selalu kita panjatkan pada Tuhan.

Tahun baru bukan hanya sekedar perjalanan jam dinding, Tahun baru adalah momen  spesial yang membuat manusia memiliki sejuta harapan di masa depan, dan karena itulah wajar jika kehadiran tahun baru cenderung disambut. Di tahun baru, manusia selalu menanti apa yang akan terjadi dan tak sabar untuk mengetahui nasib yang akan berlaku pada dirinya.

 

Selamat Tahun Baru!

Opini 16 Des 2018

“Negara tidak akan menjamin dirimu selalu bahagia, hanya negara yang bersikap demokratis dan menjamin kebebasan rakyatnya (dalam menentukan pilihan) yang dapat membuka peluang bagi setiap individu untuk berbahagia”

 

Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2019. Ya, memang tahun 2019 tidak ada bedanya dengan tahun-tahun yang sudah berlalu atau tahun yang akan datang. Tetapi di tahun tersebut rakyat Indonesia akan melewati sebuah peristiwa penting, yaitu pesta demokrasi alias Pemilihan Umum (Pemilu) yang diadakan serentak di seluruh Indonesia.

 

Walau belum genap memasuki tahun 2019, media sosial, televisi, radio, koran, bahkan tempat-tempat seperti kedai dan warung kopi kerap membicarakan soal-soal yang berbau politik. Beberapa dekade ini Indonesia tengah dilanda demam politik, hampir di setiap pemberitaan di media pasti menyinggung soal-soal politik atau pemerintahan (dengan segala baik-buruk dan hitam-putih pemberitaan).

 

Para politisi yang akan maju di Pemilu 2019, saat ini berbondong-bondong menghampiri rakyat untuk mendapat simpati. Masa kampanye yang pada dasarnya untuk melatih dan membangkitkan kesadaran politik masyarakat, justru malah menjadi ajang bagi setiap calon untuk tebar pesona dengan menebar janji manis yang membuat hati rakyat berbunga-bunga, bahagia, dan membuat mata berbinar penuh harap.

 

Ajang kampanye bukan lagi diisi dengan berbagai program dan solusi yang ditawarkan politisi kepada rakyat, tetapi justru telah terdistorsi menjadi ajang tebar janji-janji yang kelewat manis dan tidak realistis kepada rakyat. Tak ayal banyak para politisi atau calon-calon pemimpin yang maju dengan berbagai wacana dan isu yang sama sekali tidak masuk akal. Misalnya, menjanjikan kemakmuran, kesenangan, kekayaan, bahkan berjanji jika si paslon naik, dia akan membahagiakan rakyatnya.

 

Kampanye yang terlalu memberi janji manis dan harapan kepada rakyat bukanlah contoh berpolitik yang baik. Rakyat akan merasa bahwa kehidupan dan nasib mereka berada di bawah naungan penguasa (politisi), sehingga mereka bersifat manja dan duduk termangu saja menunggu apa yang pemerintah berikan pada mereka.

 

Pada akhirnya, rakyat juga yang menjadi korban dari janji kosong para politisi tersebut, sehingga akhirnya mereka selalu menunggu-nunggu tokoh pemimpin yang bisa membahagiakan mereka. Jika pemimpin tersebut tidak dapat membuat kehidupan mereka bahagia dan senang, berarti pemimpin tersebut dikategorikan sebagai pemimpin yang gagal.

 

Pemimpin yang ideal di mata masyarakat kita saat ini adalah pemimpin yang bisa membuat hidup mereka bahagia, senang, makmur, dan terjamin. Namun, tolak ukur pemimpin seperti inilah yang menjadi masalah sehingga sikap masyarakat terhadap politik menjadi negatif.

 

****

 

“Negara tidak memiliki kewajiban membahagiakan rakyatnya.. kebahagiaan itu bersifat personal bukan publik.. Jadi, kesalahan besar jika memilih presiden karena percaya orang itu bisa bikin bahagia seluruh rakyat!

 

Banyak orang yang tidak sadar bahwa kebahagian suatu masyarakat tidak dikontrol oleh seorang pemimpin. Kebahagiaan adalah milik individu dan hanya individu saja yang bisa meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri, bukan melalui orang lain (apalagi politisi). Kalimat tersebut adalah contoh dari kutipan status Facebook penulis. Beberapa orang memberi komentar negatif dan mungkin di luar sana banyak netizen yang tidak setuju dengan pandangan penulis.

 

 Beberapa orang mengira bahwa salah satu kewajiban penguasa adalah selain membuat rakyatnya kaya juga harus membuat rakyat bahagia. Jika si rakyat tidak merasa bahagia - atau ada individu yang berteriak bahwa dirinya tidak merasa bahagia- maka pemerintah tersebut dianggap gagal dalam memimpin.

 

Memang kita maunya pemerintah membuat hidup kita makmur, membuat hidup kita bahagia, membuat hidup kita senang. Makanya di benak kita, pemimpin yang tidak bisa membuat rakyat bahagia, senang, dan makmur, otomatis merupakan pemimpin yang gagal, sehingga harus digulingkan bahkan dipasang hastag #gantipemimpin.

 

Untuk mengenal kebahagiaan rakyat, tentu terlebih dahulu harus diketahui apa  makna kebahagiaan dan apakah kebahagiaan absolut yang mejadi tolak ukur. Jika ditanya pada setiap orang tentang kebahagiaan menurut pandangannya masing-masing, pasti setiap orang mendefinisikan “bahagia” secara berbeda.

 

Ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan adalah jika hati riang gembira. Ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan adalah jika mendapat sesuatu yang diinginkan. Ada pula yang berpendapat jika kebahagiaan adalah hidup shalih dan dekat dengan Tuhan, dan sebagainya.

 

Jika melihat lembaran sejarah pemikiran manusia, maka setiap ahli pikir pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa yang dinamakan kebahagiaan. Socrates menamakan “bahagia” sebagai  eudaimonia atau jiwa yang baik. Manusia menurut Socrates, akan berbahagia jika jiwanya tetap murni dan bersih. Sedangkan bagi Aristoteles dan juga Sang Buddha, kebahagiaan adalah ketika manusia sudah puas dan tidak memiliki keinginan apapun. Ketika hati manusia telah merasa cukup dan kosong dari keinginan, maka inilah yang disebut sebagai kondisi kebahagiaan.

 

Berkebalikan dengan makna kebahagiaan Aristoteles dan Socrates yang bersifat mentafisis, Epicurus berpendapat bahwa kebahagiaan adalah jika manusia mendapat sesuatu yang membuat hatinya senang. Dan terakhir, Eric From, tokoh Psikolog modern, berpandangan bahwa kebahagiaan adalah bagian integral dalam  setiap perilaku manusia, dimana manusia bisa disebut bahagia jika mengeluarkan emosi gembira dan perilaku yang positif.

 

Dari berbagai pandangan di atas, jelas bahwa kebahagiaan bersifat subjektif alias personal. Kebahagiaan adalah kepuasan suatu individu terhadap kualitas hidupnya. Dan siapa yang bisa menilai kebahagiaan orang? Tentu saja orang yang merasakan kebahagiaan itu sendiri. Kesimpulannya, kebahagiaan adalah perasaan manusia yang berifat personal, dimana setiap individu memiliki makna dan kriteria yang berbeda tentang kebahagiaan dan apa yang membuat mereka bahagia.

 

Karena kebahagiaan adalah bersifat subjektif alias individual. Tidak mungkin pemerintah atau siapapun yang bisa membuat definisi dan tolak ukur kebahagiaan yang disepakati publik. Masalah kebahagiaan ini jugalah yang menghancurkan sistem komunis yang sentralistik dan otoriter di Rusia. Pemerintah komunis berusaha “mendikte” kebahagiaan negara sebagai kebahagiaan umum, dimana rumusannya jika negara makmur, maka dianggap masyarakat sudah bahagia. Selanjutnya, jika masyarakat bahagia, setiap individu juga dianggap telah berbahagia.

 

Tetapi pada faktanya, generalisasi kebahagiaan oleh sistem totaliter telah dimentahkan oleh kenyataan: tidak ada kebahagiaan yang bersifat umum atau universal. Kebahagiaan bersifat partikular alias personal, dimana ukuran ideal kebahagiaan antara  satu individu dengan individu yang lain berbeda beda.

 

Tidak pasti bahwa orang kaya lebih bahagia dari yang miskin. Tidak menjamin bahwa yang mereka yang single tidak sebahagia dengan mereka yang sudah menikah. Tidak ada ukuran pasti dalam menilai kebahagiaan. Inilah yang membuat sistem komunis hancur karena negara terlalu egois karena mendikte kebahagiaan(bagi) partai pada orang lain.

 

Negara komunis dan totaliter juga telah megeneralisir kebahagiaan individu sebagai kebahagiaan negara. Sehingga pada puncaknya, rakyat melakukan sebuah revolusi untuk merebut kebahagiaan yang telah dirampas oleh diktator negara (lihat Perancis tahun 1789 dan keruntuhan komunisme Soviet 1991)

 

Setiap individu memiliki hak untuk bahagia, kosekuensinya, biarkan setiap individu mengejar kebahagiaan menurut keinginan masing-masing. Negara hanya berperan sebagai penjamin bahwa rakyat bisa bebas untuk mengekspresikan kebahagiaannya, tanpa mendikte kebahagiaan yang seperti apa.

 

Kewajiban negara bukan menjamin rakyatnya bahagia, sebab negara tidak mungkin mengurus urusan personal rakyatnya. Negara hanya menyiapkan prasarana agar rakyat bisa bahagia. Kebijakan-kebijakan negara (dengan mengikutsertakan swasta tentunya) seperti membangun taman bermain, ruang publik yang nyaman, menciptakan peluang kerja dan usaha, memberikan kebebasan berekspresi kepada setiap orang dan memberikan jaminan keamanan untuk setiap orang menganut keyakinannya, adalah beberapa hal yang sebenarnya cukup memadai untuk memberi peluang setiap individu untuk mencari kebahagiaan sesuai kemauannya.

 

Yang terjadi di negeri kita saat ini, orang terlalu yakin bahwa kebahagiaan dan kesenangan berada di genggaman tangan pemerintah. Hal ini pulalah yang membuat rakyat selalu meminta dan menuntut halusinasi yang tidak mungkin mereka dapatkan. Negara tidak akan menjamin bahwa kita bisa selalu bahagia. Dan hanya negara yang bersikap demokratis dan menjamin kebebasan rakyatnya (dalam menentukan pilihan) yang dapat membuka peluang bagi setiap individu untuk berbahagia.

Opini 27 Nov 2018

Polemik Perda Agama sebenarnya sudah muncul pasca Orde Baru runtuh. Namun polemik itu bergulir hanya dikalangan elit akademisi dan politisi saja. Dewasa ini polemik Perda Agama kembali mencuat dan mendapat banyak tanggapan ketika Ketua umum Grace Natalie mengatakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki prinsip untuk menolak mendukung perda-perda yang bercirikan menguntungkan agama tertentu. Seperti Perda Syariah dan Perda Injil. Pernyataan ini disampaikan Grace  dalam peringatan ulang tahun keempat PSI di ICE BSD, Tangerang, Minggu (11/11).

"PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah," ujar Grace (cnnindonesia.com, 2018).

 Pidato ketum PSI ini membuat keadaan politik di Indonesia kembali meletup, ditambah dengan mendekatnya tahun politik 2019, banyak politisi yang unjuk gigi menyerang PSI bahkan menuduhnya sebagai penista sehingga berhak dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Tantangan yang dihadapi oleh PSI merupakan hal biasa, dimana kultur politik Indonesia tak lepas dari citra agama. Selain sebagai bangsa yang mayoritas orang-orangnya memeluk agama, agamapun kadang menjadi komoditas politik demi menaikkan elektabilitas suara para politisi dan partainya. Pemilu 2014, Pilkada 2017 dan 2018 juga tidak lepas dari kentalnya agama dalam ruang politik Indonesia.

Opini 27 Nov 2018

Salah satu tokoh politik Indonesia kembali mengeluarkan komentar yang kontroversial, yaitu mengenai anak muda Indonesia yang disekolahkan tetapi malah menjadi tukang ojek. Dilansir dari situs Tribunnews.com (wow.tribunnews.com, 22/11/2018), pernyataan "Tukang Ojek" yang sekarang menjadi pembicaraan berawal ketika Prabowo Subianto menjadi pembicara dalam Event Indonesia Economic Forum 2018 di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat pada Rabu (21/11/2018).

Dalam pidatonya Prabowo berkata:“Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan realita yang sedih namun juga kejam. Ini adalah meme yang sedang tersebar di internet. Jalur karier seorang anak muda Indonesia. Yang paling kanan adalah topi Sekolah Dasar, topi Sekolah Menengah Pertama dan setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia menjadi supir ojek, ini adalah realita yang kejam," kata Prabowo,

Resensi 22 Nov 2018

“Jangan Pernah Berhenti untuk mencintai Negeri ini”

-Pesan Kim Nam pada Ahok dalam film A Man Called Ahok-

Apa yang terlintas di pikiran kita jika disebut nama Ahok?..  Cina? Galak? Giat bekerja? Anti mafia? atau sebagai penista?.. Ahok dipandang sebagai sosok antagonis oleh sebagian orang dan dianggap sebagai sosok protagonis yang heroik oleh sebagian yang lain. Ia dipandang sebagai iblis, sekaligus juga dipandang sebagai malaikat oleh banyak pasang mata. Itulah Ahok, dia bisa dipandang dari sisi positif sekaligus negatif, dua sisi yang berbeda inilah yang membuat tokoh ini menjadi populer sekaligus membuat  banyak orang bertanya: “siapa sebenarnya Ahok ini?

 Rasa penasaran terhadap sosok yang satu ini akan pupus melalui  film A Man Called Ahok, sebuah film epik yang menggambarkan riwayat hidup Ahok sebagaimana adanya. Dari film ini orang dapat mengenal “Ahok melalui Ahok” alias memahami kehidupan Ahok secara objektif tanpa unsur politis dan kebencian.

A Man Called Ahok merupakan film besutan  Putrama Tuta yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama, karya Rudi Valinka. Buku dan film ini menceritakan secara ringkas namun padat tentang latar belakang Ahok, baik keluarga, lingkungan, dan teman sepermainannya, dengan tujuan untuk menggali lebih jauh pengaruh masa kecil Ahok terhadap dirinya yang menjadi figur publik saat ini.