Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 24 Jan 2019

 

“Kita terlalu serius, terlalu berurat leher, terlalu berkerut dahi, terlalu bertegang hati, Tanpa sadar bahwa semua berita di Televisi, Radio, Internet atau Surat Kabar adalah komedi”

 

Disela-sela persaingan ketat antara calon presiden dari nomor urut 01 dan 02, sekonyong-konyong muncul pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 10, yaitu Nurhadi Aldo di media sosial. Walau dengan gaya dan poster kampanye yang meyakinkan, Nurhadi-Aldo atau disingkat DILDO sama sekali tidak menawarkan program kerja apapun sebagaimana layaknya seorang calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi merebut hati rakyat.

Pasangan Nurhadi – Aldo justru menyodorkan quotes dan jokes segar yang mengelitik perut dan membuat terpingkal orang yang membacanya. Ya, pasangan Capres-Cawapres nomor urut 10 ini memang pasangan fiktif yang dibuat-buat oleh beberapa kelompok orang untuk menyegarkan pikiran dan hati masyarakat yang terlalu terfokus pada persaingan Pilpres 2019 yang makin panas hingga  merusak kewarasan.

Jokes Dildo menampilkan kecerdasan melalui komentar konyolnya. Seolah tak ada batasan dalam komedi, politik yang tadinya serba keras, picik, dan penuh kebencian, menjadi santai dan penuh tawa. Karena quotes jenaka pasangan Dildo, BBC News menyebutkan fiktif Nurhadi – Aldo sebagai “penyegar kesumpekan Pilpres 2019”

Nurhadi awalnya adalah seorang tukang urut di daerah Kudus Jawa Tengah, sedangkan Aldo adalah manusia fiktif, gabungan dari dua foto orang yang berbeda. Saat ini Capres fiktif Nurhadi menjadi trending di media sosial. Nurhadi-Aldo di kalangan anak muda, bukan cuma lawakan quotes yang membuat gembira, lebih dari itu Nurhadi-Aldo adalah simbol dari naluri kritis anak-anak muda yang mulai muak dengan retorika politik para tokoh yang berebut kuasa.

 

Komedi atau lelucon adalah suatu ungkapan atau adegan yang membuat kita  melepas tawa. Orang selalu membutuhkan sesuatu untuk menghibur diri atau mencairkan suasana. Komedi adalah adalah media yang dapat mencairkan suasana yang tegang menjadi gembira. Bayangkan jika dunia ini tanpa lelucon dan humor, tentu dunia akan menjadi sumpek dan makin memuakkan.

Namun komedi bukan sekedar bualan jenaka semata. Dalam sejarahnya, komedi juga menjadi alat untuk menyitir para bangsawan dan penguasa yang lupa daratan hingga berbuat salah tingkah. Di awal dekade 2000-an, muncul acara-acara komedi berbentuk satir politik. sebut saja acara Republik Mimpi, Democrazy, Sentilan-Sentilun, Indonesian Lawak Klub (ILK), dan kartun Bang One.

Humor bukan sekedar bisa menjadi hiburan, tetapi lebih jauh menjadi senjata untuk mengkritisi kebijakan para politisi yang dianggap keblinger dan mengingkari tanggung jawabnya sebagai pengayom rakyat.

Lawakan sarkas dan satire sudah berkembang di zaman Yunani kuno, dimana panggung-panggung lawak biasanya berisi sindiran terhadap pemimpin kota (polis) beserta wakil-wakil rakyatnya. Di tanah Arab, para penyair bermain sebagai pelawak yang kadang menyisipkan sindiran kepada para pejabat yang hidup hedonis. Contoh populernya seperti penyair Abu Nawas yang kerap mengkritisi dan mengguyoni Khalifah Harun Al-Rasyid.

Semangat kebebasan dan demokrasi yang terus bersemi hampir di seluruh dunia, membuat para pelawak bebas berekspresi untuk memproduksi guyonan dan satire yang berisi kritik bahkan hinaan kepada penguasa. Orang malah melihat para pelawak sebagai ikon juru bicara rakyat yang paling jujur bersuara ketimbang wakil-wakil rakyat.

Pada tahun 1955, Usmar Ismail memproduksi film “Lagi-Lagi Krisis”. Film yang dibintangi oleh Raden Soekarno (Rendra Karno), S. Bono, dan Rd. Ismail ini  menceritakan kisah dukun palsu yang nekat buka praktek. Ajaibnya, justru malah banyak dari kalangan saudagar, artis, hingga pejabat yang datang ketempatnya. Bahkan banyak para pengangguran banyak yang minta kerja atau uang pada si dukun.

Film bergenre komedi yang booming di dekade 50-an ini, merupakan sindiran keras kepada pemerintahan Soekarno dan kabinetnya yang pada masa itu tidak bisa menghadapi krisis ekonomi dan politik sehingga banyak rakyat yang hilang akal dan meyakini tahayul.

Melalui komedi, kadang pesan dan kritikan menjadi lebih mudah dimengerti dan kadangkala dengan dibungkus komedi, penyampaian kritik yang tajam menjadi efektif tanpa menyakiti siapapun. Sebagaimana contoh di atas, dimana film komedi tersebut menggambarkan situasi kacau perpolitikan tanah air yang berujung krisis. Namun, penyampaian lewat komedi membuat semuanya menjadi jenaka.

 

Politik Rasa Komedi

Tujuan dari lelucon bukan untuk menurunkan derajat manusia, tetapi untuk sekadar mengingatkan bahwa mereka sudah terdegradasi. (George Orwell)

Parodi pasangan fiktif Nurhadi-Aldo yang viral di jagad dunia maya menjadi tren baru. Pasangan Dildo telah memoles politik menjadi arena lawak sehingga kita menjadi santai dan menikmati tahun politik tanpa harus ada rasa kebencian. Satiran Dildo adalah sebuah counter aksi dari generasi muda terhadap kelompok yang terlalu fanatik mendukung paslon tertentu. Lawakan dari Dildo, mengajak kita untuk berkepala dingin dan berpikir jernih dalam menghadapi keadaan politik 2019 yang menggila ini.

Politik bukan arena sakral yang harus dipetaruhkan dengan darah. Jika kita melihat situasi politik belakangan ini, justru persaingan politik sangat tidak sehat. Contohnya, ancaman terhadap orang yang meninggal tidak bisa dikubur hanya karena ada perbedaan pilihan politik telah membuat aksi-aksi demo hanya demi membentuk citra politik. Begitu juga dengan kasus yang menimpa aktivis yang mengaku dikeroyok tapi kenyataannya ia justru melakukan operasi plastik. Lucunya, para “suporter politiknya” sudah menyebar berita dan merangkai kronologi pengeroyokan Ratna Sarumpaet di Media sosial.

Ada pula tokoh capres yang melumuri dirinya dengan citra agamis dan Islami, sehingga pendukungnya gila-gilaan mengangkat dia sebagai pemimpin Islam ideal satu-satunya di republik ini. Bahkan “citra islami” itu dilegalisasi lewat “fatwa para ulama”.

Namun lucunya,  usaha mati-matian para relawan dan pendukung politik untuk memoles citra Islamis justru kandas ketika capres yang dianggap “titisan Allah” justru ikut menghadiri misa Natal dan merayakan Natal bersama keluarganya. Padahal para pendukung politik dan pendukung umumnya paling alergi mengucapkan perayaan hari orang “kafir”, apalagi menghadirinya. Tapi toh junjungan mereka sendiri membuat tim sukses dan pendukung fanatiknya berkelit memutar otak untuk membenarkan tindakan capres pilhan ulama itu.

Begitu juga dengan capres rivalnya yang memoles citra dirinya sebagai “duta Pancasila dan NKRI”. Para suporter dengan bangga memoles citra capresnya sebagai pembela demokrasi dan Pancasilais sejati. Bagi para pendukung politik Capres yang satu ini, semboyan mereka NKRI adalah harga mati dan kelompok politisasi agama, serta golongan kanan adalah musuh abadi.

Namun kocaknya, tanpa ada angin atau hujan capres idola mereka justru memilih seorang Kyai konservatif sebagai cawapresnya. Tentu pendukungnya dibuat bingung, sudah capek-capek mempromosi pemisahan politik dan agama, tetapi si tuan besar yang liberal dan Pancasilais menggandeng seorang Muslim tradisionalis yang  memiliki peran dalam drama “penistaan agama” di 2016 lalu.

Tidak hanya sampai disitu,  Sang Capres yang merupakan petahana juga melakukan terobosan yang membuat logika pendukungnya babak belur, yaitu keputusannya melepaskan dari bui seorang Abu Bakar Ba’asyir  yang tertuduh sebagai gembong teroris dengan dalih “kemanusiaan”.

Bagaimana bisa sang Presiden sekaligus capres ini berdalih demi “kemanusiaan” untuk membebaskan seorang napi teroris, sedangkan ia sendiri mengabaikan orang-orang yang diperlakukan tidak manusiawi, contohnya seperti pengikut Gafatar, pengusiran Syiah Sampang  dan juga minoritas Kristen yang selalu dideskreditkan.

*****

Politik adalah politik, kadang logika harus dikesampingkan untuk memahaminya. Banyak sekali perbuatan tokoh politik dan pejabat kita yang bertentangan dengan nilai moral dan janji yang dia ucapkan sendiri. Bukankah merupakan suatu kekonyolan jika kita mengorbankan harta bahkan hingga bermusuhan dengan sejawat hanya karena berbeda urusan politik?

Kita terlalu serius, menganggap politik sebagai segalanya dan  sakral. Padahal kesakralan dan citra bersih itu bualan semata yang justru dibuat oleh politisi beserta timsesnya untuk merebut suara massa. Yang lebih konyol lagi, tidak ada permusuhan abadi dalam politik. Ada masanya untuk saling sindir dan ada saatnya mereka harus bermain drama sebagai sahabat abadi.

Perkembangan politik kita saat ini jika kita pikir dengan akal sehat, justru bukan mengarah pada kedewasaan tetapi kekonyolan. Tapi begitulah politik. Mengutip perkataan Socrates, politik berawal tragedi dan berakhir dengan komedi...

 

Opini 25 Jan 2019

Kenapa kita masih mempersoalkan jenggot? Mengapa kita masih berdebat soal cadar? Karena apa kita masih ribut soal poligami? Untuk apa kita masih bertengkar soal si kafir dan si muslim? Inti Islam adalah kemanusiaan, tapi kita melupakan itu semua. Nabi menyuruh kita untuk menghargai sesama tapi kita masih menuding ada musuh dibalik tembok. Ingat Pesan Allah pada hambaNya  agar  mencintai sesama, sekalipun itu musuh kita..

 

Tidak boleh ada salib di depan Balai Kota Solo yang menjadi tempat publik. Di mana secara nyata simbol itu sangat nyata terlihat," kata Koordinator aksi demo, Muhammad Sigit  yang dilansir dari BBC News Indonesia. Dewan Syariah Kota Surakarta mengadakan aksi demo karena mozaik di pertigaan jalan kota Solo menyerupai tiang Salib yang diyakini sebagai simbol Kristenisasi.

Para demostran menganggap bahwa sebagai kawasan mayoritas muslim, tidak boleh ada simbol-simbol non Muslim yang “menyinggung keimanan” orang Islam di ruang publik. Kejadian ini kemudian diikuti pula dengan demonstrasi massa Laskar Umat Islam Surakarta yang menolak aksesoris lampion di Pasar Gedhe Surakarta. Menurut mereka, lampion di daerah tersebut berarti Cinaisasi Surakarta sehingga mereka menolaknya.

Kejadian ini bukan sekali-kalinya terjadi. Kemunculan ormas-ormas Islam justru kerap melakukan aksi-aksi kontroversial, seperti melakukan sweeping terhadap ornamen-ornamen “kafir” di hari Natal yang terdapat di ruang publik, melakukan penolakan berdirinya gereja bahkan mempersoalkan acara keagamaan.

Opini 19 Jan 2019

“Manusia diberkati Tuhan karena memiliki pikiran, pikiran manusia merupakan hal yang unik. Ia bisa melihat tanpa menggunakan mata, bisa menikmati tanpa memiliki lidah. Pikiran manusia dapat bekerja sesuka kita, dan ia akan melahirkan kreativitas yang luar biasa jika tiada satupun rantai yang membelenggunya”

 

Yang membuat manusia agak berbeda dari makhluk hidup lainnya adalah ia memiliki kesadaran penuh untuk berbuat dan bertindak. Kesadaran manusia yang menciptakan kebebasan untuk memilih dan berperilaku, semata-mata lahir dari pikirannya. Manusia memiliki anugerah luar biasa dari pikirannya. Dengan kemampuan pikiran, manusia berhasil menciptakan mobil, roket, komputer, tatanan sosial, hukum, bahkan suatu agama!

Dari hasil pikiran manusia inilah peradaban berdiri dan berkembang. Seluruh kehidupan dunia moderen tak lepas dari hasil berpikir manusia, baik itu menyangkut kehidupan rumah tangga, bahkan individu sekalipun. Tanpa adanya otak manusia, maka manusia tak akan berpikir dan mungkin saat ini kita hidup bagai simpanse dan bonobo.

Aktivitas berpikir merupakan kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari manusia. Filsuf moderen seperti Ayn Rand berpendapat bahwa satu-satunya alat yang dapat digunakan manusia untuk memahami dan menakhlukan dunia adalah kekuatan berpikirnya. Jika ada seseorang yang melarang orang lain untuk berpikir dan menalar secara kritis, itu berarti orang tersebut telah melenyapkan satu-satunya “alat” bagi manusia untuk bertahan hidup, sehingga seorang yang anti pemikiran berarti dia juga anti terhadap kehidupan.

****

Opini 16 Jan 2019

"Ada hantu bergentayangan di Eropa...Hantu Komunisme"

-Karl Marx-

Kutipan kalimat di atas diambil dari kata pembuka Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan sahabatnya Friedrick Engels. Marx menyebut bahwa komunisme sebagai “hantu” dalam artian komunisme akan membangkitkan kesadaran perlawanan dan api revolusi yang mengerakan kaum buruh melawan kaum kapital atau para pengusaha.

Di Indonesia komunisme digambarkan sebagai hantu yang menyeramkan dan mengancam. Walaupun “demam” komunis di seluruh dunia sudah reda, dan negara-negara demokratis sudah tidak menganggap komunisme sebagai suatu ancaman, namun di Indonesia justru sebaliknya. Komunisme masih dianggap genderuwo yang bergentayangan dibalik pohon yang suatu saat akan menampakkan dirinya.

Kadangkala di saat hawa perpolitikan di negeri ini mulai memanas, mulailah para politisi dan beberapa tokoh “menggoreng” isu kebangkitan komunis. Yang lebih menohok adalah, isu komunis kadang dihembus begitu liar, isu bahwa komunisme akan bangkit untuk melawan agama dan Pancasila, atau adanya kelompok etnis Tionghoa yang bekerja sama dengan Partai Komunis China untuk membangkitkan PKI, dan lain sebagainya. Walaupun isu ini sangat tidak masuk akal, bahkan bisa dibilang sableng, ratusan bahkan ribuan orang awam di luar sana banyak yang mempercayainya.

Opini 4 Jan 2019

“Alam ini pada mulanya disatukan oleh cinta,cinta adalah hukum kodrat yang menyatukan dan mendekatkan seg

Opini 2 Jan 2019

"Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang”

 

Waku terus berjalan kedepan, tak terasa bagi kita tahun akan berganti.  enomena yang biasa kita lihat selama momen pergantian tahun adalah, jalan-jalan mulai ramai, orang-orang mulai  memadati  toko, pusat perbelanjaan, atau memadati tempat hiburan lainnya. Sebagiannya lagi ada memilih untuk pergi berbelanja di Super Market. Kegiatan tersebut bak bagaikan ritual ‘perpisahan’ pada tahun yang akan segera berlalu dan menyambut tahun yang akan datang.

Momen pergantian tahun memang membawa berkah bagi pedagang, khususnya pedagang makanan ringan, terompet dan petasan. Memang momentum pergantian tahun menjadi malam spesial bagi banyak orang, ada yang memanfaatkannya dengan berlibur bersama keluarga, ada yang menghabiskan waktu untuk berbelanja, menyetel televisi dan musik di luar. Atau yang biasanya dilakukan: membakar ayam, jagung, dan sosis sambil menikmatinya bersama kawan-kawan atau kekasih.

Yang juga tak terlewatkan disaat mendekati momen tahun baru adalah, banyak tokoh agama yang menasihati lewat mimbar-mimbar mereka agar tidak terlalu menghamburkan uang di malam tahun baru. Tentu anjuran ini ada benarnya, namun ada pula yang terlalu fanatik sehingga mengecam perayaan tahun baru sebagai tindakan hura-hura yang tidak memberi manfaat menurut agama. mereka yang secara ekstrim membenci acara pesta tahun baru dengan gegabah memaki orang-orang yang merayakan tahun baru sebagai kafir, hedonis, dan munafik pada agamanya.

Sebenarnya apa sih yang istimewa dari perayaan tahun baru? Bukannya sama saja, toh apa ada bedanya tahun depan dengan tahun ini atau tahun yang telah lalu?

Memang benar tahun baru pada dasarnya hanyalah proses alamiah biasa, dimana bumi berevolusi satu kali mengelilingi matahari, tidak ada yang istimewa. Namun pesta perayaan tahun baru bukan hanya sekedar momentum untuk merayakan perputaran bumi, tetapi memiliki aspek psikologis dan filosofis dibalik perayaan tersebut.

 

Refleksi Manusia dan Harapan Pada Kebahagiaan

Dalam hidup kita, pasti kita pernah berpikir, Apakah tujuan kehidupan dan apa yang sebenarnya kita cari selama hidup ini? Para filsuf mencoba menjawab pertanyaan ini dengan singkat: hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan.

Ya pada dasarnya kita bekerja, berusaha, dan banting tulang untuk dan demi kebahagiaan hidup. Kadang orang rela  mencuri, bekerja keras, tekun beribadah, tekun belajar dan lain sebagainya, tindakan tersebut pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia  dalam mencari kebahagiaan dan kesenangan untuk dirinya

Di sisi lain, manusia adalah makhluk yang bebas. bebas dalam bergerak, bebas memilih, bebas melakukan sesuatu. Kebebasan yang kita miliki telah menciptakan aktivitas dan nilai dalam hidup kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang kita dapatkan saat ini hakikatnya adalah hasil dari kebebasan kita.

Kadang kita sebagai manusia tidak pernah merasa puas bahkan dikecewakan dengan hasil yang didapatkan. Walau pada dasarnya kita bebas menentukan pilihan, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, entah apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Aktivitas kita dalam bekerja dan berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan (dan kebahagiaan hidup) tak lepas dari proses sejarah dan waktu. Filsuf Driyarkara, berpendapat bahwa manusia hidup dan beraktivitas tak lepas dari dimensi ruang dan waktu. dimensi waktu manusia terbagi (sekurang-kurangnya) ada 3: masa lalu, masa kini dan masa depan. Manusia adalah makhluk yang sadar akan adanya dimensi waktu yang menaungi seluruh aktivitasnya, dan waktu telah mengukir sejarah diri kita.

Di tahun 2018 kita telah mengukir sejarah dalam hidup kita. dari awal tahun kita mulai mengukir harapan, melaksanakan harapan-harapan kita, dan tak jarang tidak semua harapan dan ekspektasi kita di tahun ini sesuai dengan keinginan kita (mungkin malah mengecewakan).

Di tahun 2018 kita pasti pernah merasakan saat ketika kita susah, senang, gembira, sedih, sabar, marah, bimbang, optimis, kecewa, puas dan lain sebagainya. Semua emosi tersebut pasti pernah kita rasakan.Walau manusia memiliki kehendak bebas dalam menentukan dirinya, namun dia tidak sepenuhnya bebas menentukan nasibnya di masa depan.

Banyak orang yang merayakan momentum tahun baru, bersuka ria menyambut tahun baru, kadang menangis haru ketika detik-detik pergantian tahun, fenomena ini tak tak lepas dari refleksi psikologis dan emosi manusia.  Sorak-sorai, keharuan, jabat tangan, berpelukan dan mengucapkan ‘selamat’ adalah suatu  ekspresi  emosi manusia karena meninggalkan tahun yang lalu, yang penuh dengan lika-liku, menyambut tahun baru yang diharapkan membawa sejuta keberuntungan dan kebahagiaan hidup.

Di sisi lain, secara alami manusia juga membutuhkan  perayaan tahun baru, membutuhkan suatu momen dimana semua orang dapat berkumpul dan larut dalam cengkrama yang hangat dan tawa bahagia. Ini yang kerap gagal ditangkap oleh sebagian orang yang selalu negatif dalam memandang segala sesuatu.

Selama 360 hari lebih kita melewati lika-liku dengan berbagai suka dan duka, sedih dan tawa dan ketika waktu menunjukan pukul 00.00, kita telah melewati itu semua.. tidak ada hati yang tidak bergetar ketika kita melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru. Setiap orang saling berpelukan, berjabat tangan dan menitikan air mata keharuan sambil berdoa kepada Tuhan agar hari esok hidup mereka lebih baik dan penuh berkah.

“manusia adalah makhluk historis, yang tak lepas dari sejarah”, ungkapan dari Hebert Spencer ini menegaskan bahwa Manusia adalah makhluk yang tak mungkin lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak bisa melupakan masa lalunya dan juga selalu menaruh harapan bagi masa depannya, kesadaran manusia akan waktu yang lalu dan waktu yang akan datang ini sering terjadi di saat tahun mulai beganti.

Setelah manusia mengalami berbagai warna yang telah berlalu, momen tahun baru menjadi momentum bagi kita untuk merefleksi dan mengoreksi diri kita, menyusun berbagai rencana dan menyimpan harapan di tahun yang akan datang. banyak manusia yang tak lupa berdoa pada Tuhan agar kehidupan ini dijalani dengan baik dan berakhir dengan baik dan penuh berkat.

*****

Selamat Tahun Baru

“Karena kita merasakan segala kesulitan,  kesengsaraan dan  juga kebahagiaan, itulah yang menunjukan eksistensi kita sebagai manusia” (Goethe)

Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang

Manusia hidup pasti mengalami berbagai macam kejadian, baik suka maupun duka. Meski begitu, manusia selalu memiliki harapan kehidupan yang baik  di masa mendatang. Manusia selalu mengharapkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. karena itulah dalam menjalani romantika kehidupan, manusia selalu berusaha dengan berbagai jalan untuk mencapainya.

Ya, momen tahun baru memang bukan sekedar peringatan pergantian kalender semata, namun juga memiliki nilai psikologis dan filosofis, dimana momen pesta perayaan tahun baru semacam menjadi ekspresi simbolis yang menunjukkanrasa gembira dan syukur kita telah melewati tahun 2018 dengan segala lika-liku serta pahit-manisnya, dan dengan selamat sentosa dapat menyaksikan peringatan tahun baru  2019, tahun yang baru sebagai momentum refleksi untuk hidup yang lebih baik.

Di tahun baru ini kita mempunyai sejuta harapan, di tahun baru ini kita menyusun segala rencana untuk masa depan, di tahun baru ini kita juga merasa energik dan memiliki semangat baru untuk menatap masa depan, di tahun baru ini doa dan keyakinan selalu kita panjatkan pada Tuhan.

Tahun baru bukan hanya sekedar perjalanan jam dinding, Tahun baru adalah momen  spesial yang membuat manusia memiliki sejuta harapan di masa depan, dan karena itulah wajar jika kehadiran tahun baru cenderung disambut. Di tahun baru, manusia selalu menanti apa yang akan terjadi dan tak sabar untuk mengetahui nasib yang akan berlaku pada dirinya.

 

Selamat Tahun Baru!