Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 11 Jun 2018

Dawam adalah kata serapan dalam bahasa Arab yang maknanya adalah konsisten, terus-menerus, kontinyu. Jadi seorang yang dijuluki sebagai dawam berarti adalah orang yang mempunyai prinsip dan konsistensi yang tinggi, dapat diandalkan dan melaksanakan sesuatu sesuai prinsip dan nilai-nilai yang mendarah daging. Mencoba berkompromi atau membengkokkan 180 derajat prinsip seorang dawam sama saja dengan mencoba membengkokkan karang di laut, yang berarti hampir mustahil!

Begitu juga terjadi pada seorang anak yang bernama Dawam. Anak kepala batu yang tegas dan konsisten yang kelak menjadi salah satu tokoh Indonesia, cendekiawan Muslim Indonesia, pelopor dari pendirian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), penegak toleransi, kebebasan berpendapat, dan kerukunan antar umat beragama. Pemikirannya sangat berjasa bagi modernisasi pemikiran keagamaan di Indonesia. Muhammad Dawam Rahadjo nama lengkapnya.

Opini 5 Feb 2018

Ketika fajar tahun 2018 baru mulai merekah, justru bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang pejuang revolusi 45, seorang cendekiawan sekaligus guru bangsa, dialah Daoed Joesoef. Nama Daoed Joeseof belakangan ini mulai dilupakan orang, sebab nampaknya orang-orang lebih sibuk memikirkan urusan perpolitikan tanah air yang tidak ada habisnya ketimbang menengok kembali mereka-mereka yang pernah berjasa pada negeri ini.

Bagi sebagian orang, nama Daoed Joesoef tidak  asing di telinga mereka. Sebab, selain sebagai cendekiawan yang terus mengemukakan gagasan di media massa, Daoed Joeseof juga seorang penoreh sejarah di dunia pendidikan tanah air, salah satunya adalah konsep NKK/BKK yang kerap dianggap kontroversial.

Saya pribadi tidak mengenal Daoed Joeseof secara langsung, tetapi hanya mengenal beliau lewat buah pikirnya yang terdapat di surat kabar dan buku. Namun lewat buah karya tersebut, saya memahami bahwa Daoed Joesoef adalah seorang anak bangsa yang visioner dan mempunyai pemikiran yang terbuka. Dan yang menarik dari Daoed Joesoef bukan hanya pada konsep pendidikannya, namun konsep pluralisme agama yang menurut saya perlu diekspos dan diketahui khalayak.

Opini 19 Jan 2018

Beberapa pekan lalu saya terlibat pembicaraan yang sengit dengan salah satu teman di media sosial. Permasalahan yang dibahas awal mulanya bersifat politis yaitu tentang kebijakan pemerintah terhadap subsidi rakyat, pendidikan, pembangunan infrastruktur, sampai kepada ideologi negara. Pembicaraan yang santai tersebut lama kelamaan malah berujung panas. Sebab kawan saya yang satu ini begitu ngotot bahwa problematika ekonomi, sosial, pendidikan plus segudang masalah lainnya dapat diselesaikan hanya dengan satu jalan: Khilafah.

Jawaban spontan yang membuat saya tercengang tersebut terlontar dari sahabat karib saya yang jujur dan polos hampir membuat saya tidak percaya. Tetapi pendapat seperti ini pasti juga diamini oleh beribu bahkan beratus orang di luar sana yang masih percaya bahwa problematika negara serta masalah-masalah sosial di negara ini lahir dari sistem kufur sehingga membuat Allah murka kepada bangsa kita.

Pasca Orde Baru, pintu gerbang demokrasi yang diawali oleh gerakan reformasi justru malah membuka peluang lahirnya berbagai gerakan pemikiran baik pemikiran kanan dan kiri plus varian-variannya.  Ideologi khalifah adalah salah satu dari puluhan varian yang lahir di era reformasi ini. Ide tentang khalifah mulai disebarkan oleh organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan dewasa ini mendapat simpati massa yang besar.

Resensi 13 Des 2017

Apakah benar Islam adalah agama yang anti terhadap nilai-nilai kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia? dan bagaimanakah pandangan Islam terhadap perdagangan bebas? Apakah tepat pandangan orang-orang saat ini yang mengira bahwa Islam adalah agama yang intoleran dan agresif? Pertanyaan ini muncul dalam benak banyak orang di seluruh dunia, tak terkecuali orang-orang Non Muslim yang berada di Eropa dan Amerika.

Pasca peristiwa teror 9/11, konflik Afghanistan, perang Irak - Amerika,  gerakan reformasi di Libya dan Mesir yang kemudian terkenal dengan Musim Semi Arab (Arab Springs) serta munculnya gerakan organisasi teroris internasional seperti Islamic State Iraq and Syria (ISIS) membuat mata dunia tertuju pada bangsa Arab dan Islam secara khusus. Banyak orang yang bertanya-tanya apakah benar agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW lebih dari 1000 tahun yang lalu sebagai biang keladi dari gerakan teroris internasional? Apakah benar umat Islam sangat eksklusif dan ingin membunuh orang-orang non Muslim yang mereka cap kafir?  

Ditengah-tengah kebingungan dan munculnya sikap phobia masyarakat dunia terhadap Islam, sebuah buku muncul untuk menjawab dengan tepat rasa penasaran masyarakat terhadap Islam.  Buku yang berjudul Islam dan Kebebasan: Argumen Islam untuk Masyarakat Bebas merupakan kumpulan esai-esai para Sarjana Muslim dan Intelektual Barat yang diedit oleh Nouh El Harmouzi dan Linda Whetstone, yang ditunjukan secara khusus untuk mengenal seraya mendiskusikan gagasan dan praktik Islam berwatak Liberal.

Opini 5 Okt 2017

Bulan September lalu bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa saja dan tak berbeda dari bulan bulan lainnya. Memang tidak ada yang aneh atau istimewa dari bulan september ini, tapi bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, bulan september ini dikenang sebagai bulan istimewa.

Mengapa Istimewa? Sebab salah satu tokoh nasional yang mempunyai pengaruh besar bagi modernisasi pendidikan Islam di Indonesia dan gerakan pembaharuan Islam pada umumnya, lahir di bulan ini. Tokoh intelektual Indonesia yang berjasa dalam mempromosikan paham keIslaman yang liberal, rasional, inklusif dan juga modern, dialah Harun Nasution.  tulisan sederhana ini, saya dedikasikan untuk mengenang beliau sekaligus memperingati “Haul” beliau di bulan September lalu.

Tentang Harun Nasution

Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada tanggal 23 September 1919, anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ia lahir di awal abad 20, dimana gerakan Islam yang liberal mulai berkembang serta mendorong terjadinya semangat modernisasi dan pembukaan pintu ijtihad (berpikir) dalam Islam. Euforia gerakan Renaisance Islam yang berbarengan dengan kebangkitan Asia, semakin bertambah hangat dengan kemunculan Muhammad Abduh di Mesir dan Ahmad Khan di India.

Resensi 1 Agu 2017

Kapitalisme saat ini sering disalahpahami sebagai biang dari kemiskinan dan mendongkrak kekayaan pada segelintir orang yang sering disebut sebagai elit global. Namun senyatanya, kapitalisme atau pasar bebas telah mendorong kemakmuran dan kemajuan yang besar bagi peradaban manusia. Fakta bahwa hampir setiap menit dalam sehari 60 orang di seluruh dunia telah terangkat dari kemiskinan ekstrim yang di deritanya. Standar hidup orang per orang dari generasi ke generasi kini melaju semakin baik.