Reynaldi Adi Surya

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 27 Nov 2018

Polemik Perda Agama sebenarnya sudah muncul pasca Orde Baru runtuh. Namun polemik itu bergulir hanya dikalangan elit akademisi dan politisi saja. Dewasa ini polemik Perda Agama kembali mencuat dan mendapat banyak tanggapan ketika Ketua umum Grace Natalie mengatakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki prinsip untuk menolak mendukung perda-perda yang bercirikan menguntungkan agama tertentu. Seperti Perda Syariah dan Perda Injil. Pernyataan ini disampaikan Grace  dalam peringatan ulang tahun keempat PSI di ICE BSD, Tangerang, Minggu (11/11).

"PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah," ujar Grace (cnnindonesia.com, 2018).

 Pidato ketum PSI ini membuat keadaan politik di Indonesia kembali meletup, ditambah dengan mendekatnya tahun politik 2019, banyak politisi yang unjuk gigi menyerang PSI bahkan menuduhnya sebagai penista sehingga berhak dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Tantangan yang dihadapi oleh PSI merupakan hal biasa, dimana kultur politik Indonesia tak lepas dari citra agama. Selain sebagai bangsa yang mayoritas orang-orangnya memeluk agama, agamapun kadang menjadi komoditas politik demi menaikkan elektabilitas suara para politisi dan partainya. Pemilu 2014, Pilkada 2017 dan 2018 juga tidak lepas dari kentalnya agama dalam ruang politik Indonesia.

Opini 27 Nov 2018

Salah satu tokoh politik Indonesia kembali mengeluarkan komentar yang kontroversial, yaitu mengenai anak muda Indonesia yang disekolahkan tetapi malah menjadi tukang ojek. Dilansir dari situs Tribunnews.com (wow.tribunnews.com, 22/11/2018), pernyataan "Tukang Ojek" yang sekarang menjadi pembicaraan berawal ketika Prabowo Subianto menjadi pembicara dalam Event Indonesia Economic Forum 2018 di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat pada Rabu (21/11/2018).

Dalam pidatonya Prabowo berkata:“Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan realita yang sedih namun juga kejam. Ini adalah meme yang sedang tersebar di internet. Jalur karier seorang anak muda Indonesia. Yang paling kanan adalah topi Sekolah Dasar, topi Sekolah Menengah Pertama dan setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia menjadi supir ojek, ini adalah realita yang kejam," kata Prabowo,

Resensi 22 Nov 2018

“Jangan Pernah Berhenti untuk mencintai Negeri ini”

-Pesan Kim Nam pada Ahok dalam film A Man Called Ahok-

Apa yang terlintas di pikiran kita jika disebut nama Ahok?..  Cina? Galak? Giat bekerja? Anti mafia? atau sebagai penista?.. Ahok dipandang sebagai sosok antagonis oleh sebagian orang dan dianggap sebagai sosok protagonis yang heroik oleh sebagian yang lain. Ia dipandang sebagai iblis, sekaligus juga dipandang sebagai malaikat oleh banyak pasang mata. Itulah Ahok, dia bisa dipandang dari sisi positif sekaligus negatif, dua sisi yang berbeda inilah yang membuat tokoh ini menjadi populer sekaligus membuat  banyak orang bertanya: “siapa sebenarnya Ahok ini?

 Rasa penasaran terhadap sosok yang satu ini akan pupus melalui  film A Man Called Ahok, sebuah film epik yang menggambarkan riwayat hidup Ahok sebagaimana adanya. Dari film ini orang dapat mengenal “Ahok melalui Ahok” alias memahami kehidupan Ahok secara objektif tanpa unsur politis dan kebencian.

A Man Called Ahok merupakan film besutan  Putrama Tuta yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama, karya Rudi Valinka. Buku dan film ini menceritakan secara ringkas namun padat tentang latar belakang Ahok, baik keluarga, lingkungan, dan teman sepermainannya, dengan tujuan untuk menggali lebih jauh pengaruh masa kecil Ahok terhadap dirinya yang menjadi figur publik saat ini.

Opini 31 Okt 2018

Dikutip dari media Liputan6.com yang mengambil data The Next Web tentang survei jumlah pengguna sosial di seluruh dunia, Indonesia termasuk di dalam daftar 5 pengguna paling banyak yang memakai media sosial di dunia, khususnya media Facebook dan Twitter. Tepatnya dengan pengguna media sosial sebanyak 130 juta orang, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang “cerewet”

Tentu berkembangnya media sosial juga berdampak bagi perkembangan demokrasi kita, sebab seyogyanya media sosial adalah sarana di mana individu dapat mengemukakan pendapatnya secara bebas ke publik dan setiap orang dapat melihat dan belajar memahami pikiran masing-masing individu yang saling berbeda.

Selain sebagai alat demokrasi, media sosial juga dianggap mempunyai sisi negatif, salah satunya adalah penyebaran hoax yang cepat melalui media sosial, dan juga merenggangnya interaksi sosial secara fisik. Namun terlepas dari penilaian positif – negatif, adalah salah satu pengaruh media sosial terhadap penggunanya, yaitu: narsistik.

Opini 26 Okt 2018

“Tetapi apa yang kita “catut” dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flonenya, tetapi abunya, debunya asbesnya..”

Kasus pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimah syahadat membuat geger masyarakat kita, khususnya media sosial. Mereka marah karena bendera bertuliskan tauhid itu dibakar dan dinistakan. Kasus pembakaran bendera tersebut dilakukan oleh Banser. Dikutip dari Detik.com (24/10), Pemimpin umum GP Anshor, Yaqut Cholil Qoumas atau yang biasa disebut Gus Yaqut menyatakan bahwa yang mereka bakar bukan bendera Islam tetapi bendera HTI.

Alasan mereka membakar bendera tersebut, karena HTI adalah ormas terlarang. HTI memang dikenal sebagai ormas yang bersifat ekstrim sebab tujuan utama mereka adalah mengganti sistem bernegara Indonesia menjadi negara Khilafah atau negara Islam secara total menurut perspektif mereka. Atas alasan inilah tindakan Banser merampas dan membakar bendera HTI dinilai sebagai bentuk antisipasi perkembangan organisasi terlarang ini.

Opini 9 Okt 2018

Pembicaraan mengenai ekonomi kerakyatan belakangan ini mulai booming kembali. Tentu penyebabnya tak lain dan tak bukan karena politik. Menjelang moment politik 2019, banyak politikus berusaha menjaring massa dan dukungan dengan mengeluarkan janji-janji yang berbunga-bunga dan sedap di telinga. Salah satunya adalah “Isu Ekonomi Kerakyatan”, mengapa saya sebut isu? Sebab hingga saat ini ekonomi kerakyatan hanya sekedar menjadi tunggangan politikus yang sebenarnya tidak mengerti ekonomi beserta mekanismenya. Mereka hanya tahu citra, sanjungan, dan suara.

Istilah ekonomi kerakyatan masih belum diketahui siapa pencetusnya dan konsep rill-nya. Sampai saat ini ekonomi kerakyatan masih dilebelkan sebagai gagasan yang berasal dari founding fathers kita yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, jika kita teliti lebih lanjut, para pendiri bangsa tidak serta-merta menegaskan bahwa konsepsi ekonominya bernama ekonomi kerakyatan.