Reynaldi

Reynaldi

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]

Opini 5 Okt 2017

Bulan September lalu bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa saja dan tak berbeda dari bulan bulan lainnya. Memang tidak ada yang aneh atau istimewa dari bulan september ini, tapi bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, bulan september ini dikenang sebagai bulan istimewa.

Mengapa Istimewa? Sebab salah satu tokoh nasional yang mempunyai pengaruh besar bagi modernisasi pendidikan Islam di Indonesia dan gerakan pembaharuan Islam pada umumnya, lahir di bulan ini. Tokoh intelektual Indonesia yang berjasa dalam mempromosikan paham keIslaman yang liberal, rasional, inklusif dan juga modern, dialah Harun Nasution.  tulisan sederhana ini, saya dedikasikan untuk mengenang beliau sekaligus memperingati “Haul” beliau di bulan September lalu.

Tentang Harun Nasution

Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada tanggal 23 September 1919, anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ia lahir di awal abad 20, dimana gerakan Islam yang liberal mulai berkembang serta mendorong terjadinya semangat modernisasi dan pembukaan pintu ijtihad (berpikir) dalam Islam. Euforia gerakan Renaisance Islam yang berbarengan dengan kebangkitan Asia, semakin bertambah hangat dengan kemunculan Muhammad Abduh di Mesir dan Ahmad Khan di India.

Resensi 1 Agu 2017

Kapitalisme saat ini sering disalahpahami sebagai biang dari kemiskinan dan mendongkrak kekayaan pada segelintir orang yang sering disebut sebagai elit global. Namun senyatanya, kapitalisme atau pasar bebas telah mendorong kemakmuran dan kemajuan yang besar bagi peradaban manusia. Fakta bahwa hampir setiap menit dalam sehari 60 orang di seluruh dunia telah terangkat dari kemiskinan ekstrim yang di deritanya. Standar hidup orang per orang dari generasi ke generasi kini melaju semakin baik.

Resensi 28 Jul 2017

Bayangan kehidupan di abad 21 ialah era modern yang serba mudah, serba canggih, dan serba praktis. Zaman dimana kita hidup sangat berbeda dari zaman dimana 5000 tahun yang lalu hanya sebatas impian. Coba kita pikirkan, disamping fasilitas canggih dan praktis, secara sosial, budaya dan politik kita hidup di era kebebasan. Di negara yang menjunjung demokrasi dan berpendapat, mengkritik pemerintah bukanlah suatu ancaman, melainkan sebuah tren demokrasi modern yang konstruktif.

Namun bisakah anda bayangkan, jika kehidupan anda yang merdeka ini di masa depan akan terkekang dan diatur sedemikian rupa. Bisakah anda bayangkan jika kehidupan anda sudah diatur oleh orang lain yang memiliki kekuasaan atas diri anda?

Apa yang anda makan, apa yang anda kerjakan, cita-cita anda, aktivitas anda, bahkan bagaimana kegiatan seks, berperilaku dan pikiran anda segalanya diatur dan secara ketat diawasi oleh orang yang memiliki kekuasaan.

Apa jadinya hidup anda jika kebebasan dan aktivitas sudah di tentukan? Bisakah ‘isolasi mental’ tersebut d sebut kehidupan sebagai manusia?

George Orwell menulis sebuah novel pada tahun 1949 dan difilmkan dengan judul 1984 (Nineteen Eighty-Four). Film 1984 disutradarai oleh Michael Radford dan di bintangi oleh John Hurt, Richard Burton, Suzanna Hamilton, dan Cyril Cusack, film ini rilis pada tahun yang sama, 10 oktober 1984, mungkin sebagai bentuk penghormatan terhadap George Orwell beserta novelnya.

Resensi 20 Jul 2017

Dalam sejarah filsafat politik di China, ada dua tokoh terkenal yang pendapatnya tetap di ikuti sampai sekarang, yaitu Han Fei Zi dan Lao Tse. Han Fei Zi adalah tokoh dari mazhab Legalis. Menurut pendapatnya, manusia pada dasarnya adalah jahat dan hanya mencari keuntungan, sehingga untuk mengendalikan sifat jahat manusia tersebut harus ada hukum yang mengikat dan memaksa.

Resensi 17 Jul 2017

Hampir 20 tahun paska gerakan reformasi yang menggulingkan rezim diktator Orde Baru agar ditegakkannya demokrasi dan kebebasan secara murni, keluhan-keluhan masyarakat pada pada buruknya moral pemimpin, kenakalan remaja, tingginya tingkat kriminalitas dan pergaulan bebas di era reformasi ini malah membuat kelompok-kelompok anti demokrasi menjadikan sistem demokrasi dan ideologi liberalisme sebagai kambing hitam.

Resensi 11 Apr 2017

“Waduh...Muslim Ateis??” begitulah  yang ada di pikiran saya ketika melihat  iklan dari acara bedah buku “Sang Muslim Ateis”.  Saya bingung sekaligus takjub, bingung tentang apa maksud dari judul “Sang Muslim Ateis”, dan takjub sekaligus penasaran pada isi buku tersebut. Pastinya buku itu akan menyajikan sebuah kontroversi sekaligus keberanian intelektual dari sang penulisnya.