Usep Hasan Sadikin

Usep Hasan Sadikin

Pegiat demokrasi rumahpemilu.org, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Sejak 2012, lelaki kelahiran Banten ini melakukan advokasi pemilu Indonesia melalui jurnalisme pemilu berbasis data. Dalam advokasi UU Pemilu, Usep terlibat sebagai koordinator Sub-Komite Keterwakilan Perempuan koalisi masyarakat sipil “Sekretariat Bersama Kodifikasi UU Pemilu”. Sebelum di Perludem, warga Depok ini aktif dalam isu feminisme di Yayasan Jurnal Perempuan (2009-2012) dan isu hak warga difabel di Helen Keller International Indonesia (2012). Usep biasa berinteraksi melalui media sosial dan email di [email protected].

Opini 27 Agu 2018

Permasalahan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di pemilihan umum (pemilu) salah satunya disebabkan belum jernihnya pemahaman dan penegakan hukum terhadap “ujaran kekerasan”, yang biasa disebut ujaran kebencian (hate speech). Terlebih lagi di tahun depan 2019 ialah pertama kali momentum Indonesia mengalami pemilihan umum serentak – Legislatif dan Presiden. Dengan demikian, mengatasi ujaran kekerasan menjadi semakin urgen dan krusial.

Pemaknaan dan penyikapannya cenderung gebyar uyah. Semua pernyataan buruk bisa dinilai sebagai bentuk kebencian. Dengan demikian, kritik dan pendapat yang tak mengenakkan bisa dinilai ujaran kebencian. Dampaknya, kebebasan berbicara dan berpendapat dikhawatirkan berkurang signifikan. Ketakutan dinilai benci atau menjadi pribadi yang mudah melapor merupakan efek samping dari luasnya pemaknaan hate speech.

Opini 19 Jun 2017

Pemilu merupakan satu-satunya jalan mencapai kekuasaan demokrasi tapi undang-undangnya makin menutup kebebasan politik. Partisipasi tiap warga adalah pembeda utama demokrasi dengan krasi lainnya, namun kenyataanya kesepuluh fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) malah menutup kontestasi kekuasaan 2019-2024.

Opini 8 Mar 2017

“Kapan-kapan, bolehlah Mas ngisi kelas politik kami. Ajarkan kami, apa itu pemilu borjuis.”

Begitu ajakan salah satu teman organisasi buruh kepadaku. Bikin senyum-senyum sekaligus menyadarkan fakta gamblang yang tertutupi. Senyum-senyum karena baru dengar istilah “pemilu borjuis”. Menyadarkan karena diingatkan, kita suka membincangkan pemilu tapi jauh lebih banyak seputar pencalonan, bukan tata kelola penyelenggaraan pemilu.