Rozinul Aqli

Rozinul Aqli

Rozinul Aqli ialah mahasiswa pascasarjana pada The American University di Kairo, Mesir pada Sekolah Kebijakan Publik dan Global Affairs. Email: [email protected]

Sindikasi 28 Agu 2017

Selama ini, wacana tentang penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta memang hanya fokus terhadap inovasi untuk membuat proses melaju (commuting) menjadi lebih efisien, seperti membangun MRT. Fokus ini berdasarkan pada pemahaman bahwa kemacetan adalah terutama sebuah problem transportasi. Sepintas, tak ada yang problematis dari pemahaman ini.

Akan tetapi, kalau kita gali lebih lanjut dan ungkap asumsi tersembunyi yang mendasari pemahaman tersebut, kita akan menyadari bahwa sebenarnya apa yang dianggap permasalahan sebenarnya cuma gejala dari permasalahan yang asli.

Asumsi tersebut kira-kira berbunyi seperti ini: Bahwa para pekerja tinggal jauh dari kantornya adalah hal yang wajar. Asumsi ini, sebagaimana akan ditunjukkan nanti, keliru.

Konsekuensi logis dari memahami kekeliruan asumsi tersebut adalah klaim bahwa terpisah jauhnya pekerja dengan kantor adalah hal yang wajar menjadi runtuh. Runtuhnya klaim ini memberi ruang untuk munculnya sebuah klaim alternatif: Pekerja semestinya bisa tinggal di dekat kantornya.

Opini 6 Sep 2016

Dua tahun sebelum runtuhnya Uni Sovyet, ilmuwan politik Francis Fukuyama menulis di majalah National Interest bahwa sejarah, dalam makna Hegelian, telah usai. Akhirnya, perkembangan evolusi ideologi politik telah menunjukkan kekalahan bagi kaum kiri (baca: komunis) dan kemenangan penentu bagi universalitas gagasan demokrasi liberal ala Barat (baca: Amerika Utara dan Eropa Barat) dan Kapitalisme.

Tesis utama dari klaim ini adalah bahwa demokrasi liberal serta kapitalisme berhasil mencapai suatu titik yang tidak bisa diraih oleh sistem politik maupun sistem ekonomi lainnya: memecahkan “cacat serius” dan “irasionalitas” dari sistem tradisional. Maklumat kemenangan ini telah dikritik oleh banyak sarjana dan bahkan, lebih dari satu dekade kemudian, Fukuyama sendiri akhirnya harus mengakui bahwa sejarah boleh jadi masih punya masa depan (Fukuyama, 2012).