Hendra Manggopa

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.

 
Opini 13 Nov 2017

Hari-hari ini cuaca kultural, intelektual, dan politik di Indonesia semakin sarat dengan nuansa kolektivisme. Epidemi kolektivisme ini tengah mengemuka sedemikian rupa dalam banyak bendera organisasi, berikut juga dalam banyak kepala pembuat kebijakan di Republik ini. Problemnya, dalam remang paham yang core intelektualnya lebih menekankan pada tendensi kelompok, kecenderungan untuk mengingkari—pun membatalkan--individualitas atas nama kepentingan bersama.

Disini, individualitas bukan saja dengan mudahnya dapat ditunda namun juga dapat diberangus demi dan atas nama kepentingan masyarakat, umat dan Negara. Ironi ini tidak hanya keliru secara konseptual, (dan tentu utopis), melainkan juga berbahaya sebab tak ubahnya dengan “membunuh” manusia itu sendiri dengan perangkat-perangkat politis yang sublim dalam bentuk kebijakan-kebijakan kolektivisme. Sebab, tak ada satu pun individu yang sejatinya dapat dilepaskan dari individulitasnya, yang tiba-tiba dengan mudahnya bermetamorfosa menjadi superhero, yang abai dengan kepentingan idividualnya dan memilih mengorbankan diri demi kepentingan bersama-umum.

Lantas, apa yang terjadi dengan kedaulatan individu di bawah payung demokrasi di Republik kita hari-hari ini? Disini, individualitas manusia tengah sekarat oleh terjangan banalitas kelompok dan miopisme akut pemerintah yang gagal memaknai kebaikan ide individualisme itu sendiri. Sejatinya, yang tengah darurat di Republik ini bukanlah demokrasi sebagaimana dengan lantangnya diteriakkan belakangan ini, melainkan individualitas manusia Indonesia yang sejengkal demi sejengkal digagahi kebebasannya oleh syahwat kolektivisme.

Opini 11 Okt 2017

Dalam kerangka filsafat politik, kita pertama-tama harus berurusan dengan pertanyaan dasar mengenai cara manusia hidup bersama: “bagaimana hidup yang baik itu?”. Pertanyaan ini sudah diandaikan ketika para filsuf mulai memikirkan kekuasaan, yang merupakan awal mula pencarian itelektual mereka untuk menetapkan kehidupan apa yang baik bagi manusia. Percarian tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk spekulasi dan klaim moral untuk membenarkan suatu pandangan. Tapi, meskipun pertanyaan ini sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu,  pertanyaan ini perlu selalu diandaikan, karena di satu sisi menyangkut filsafat politik, di sisi lain sebagai kritik ideologis.

Dalam diskursus tentang kekuasaan, tentunya selalu terdapat pengandaian akan prinsip-prinsip moral yang mendasarinya. Dalam tulisan ini,  saya mencoba menawarkan sebuah prinsip moral atau pandangan etika politik untuk berusaha membayangkan kehidupan yang baik atau ideal bagi manusia. Prinsip tersebut saya ambil dari  etika politik libertarianisme.

Opini 7 Sep 2017

Dalam interaksi pasar, untuk mendapatkan keuntungan kita mesti terlibat dalam kegiatan yang dirancang untuk melayani orang lain dan memahami kebutuhan mereka. 

Apa konsekuensinya? Perdagangan membuat kita memahami orang-orang di lingkungan kita, atau bahkan orang yang tidak kita kenal. Dan lebih penting lagi, hal itu juga membuat kita sadar bahwa orang lain sangat mirip dengan kita, bahkan jika mereka berbicara dalam bahasa asing atau memiliki kebiasaan atau tradisi yang berbeda. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk saling memahami dan menghindari konflik dalam berinteraksi di pasar yang bebas.

Tapi para pengkritik pasar bebas selalu memiliki perasaan tidak suka ketika melihat orang-orang mampu hidup damai lewat interaksi pasar. Mereka gelisah menyaksikan bagaimana kompetisi antara individu melemahkan solidaritas kolektif, dan berusaha mengupayakan kembalinya ide komunitarian dan nasionalisme yang telah redup. "Kapan kalian pernah melakukan kebaikan atas dasar kemanusiaan yang murni?", tanya Marx.

Opini 16 Agu 2017

Adam Smith secara luas dianggap sebagai bapak ekonomi modern. Tapi ternyata bukan. Pendiri sebenarnya adalah saudagar Irlandia, bankir, dan petualang. Dia adalah Richard Cantillon (1680-1734) yang menulis risalah pertama tentang ekonomi lebih dari empat dekade sebelum Adam Smith menulis "The Wealth of Nations". Risalah tersebut Cantillon namakan: "Essay sur la Nature du Commerce en General" atau (Essay on Economic Theory). Selesai sekitar tahun 1730 dan 1734, karya tersebut akhirnya diterbitkan di Perancis bertahun-tahun setelah kematiannya. Karya Itu tidak diterbitkan dan didistribusikan dalam bahasa Inggris sampai terjemahan Henry Higgs tahun 1932 dari edisi bahasa Perancis yang asli. Esai ini pada umumnya tidak diketahui sampai ditemukan kembali oleh William Stanley Jevons pada akhir abad ke-19. 

Opini 20 Jul 2017

Pada puncak peringatan Hari Anti Korupsi 10 Desember 2015 lalu, Menko Polhukam Luhut B. Panjaitan telah membacakan pidato tertulis presiden Joko Widodo di gedung Sabuga, Bandung. Pidato tersebut berisi seruan untuk memerangi dan mengajak semua elemen masyarakat untuk melakukan tindakan preventif terhadap korupsi yang merajalela di negeri ini.

Opini 12 Jul 2017

Banyak orang yang alergi dengan prinsip moral yang mengedepankan individu – atau yang sering disebut sebagai individualisme. Mereka mengasosiasikan paham ini secara fundamental bertentangan dengan watak asli manusia: manusia sebagai makhluk sosial.