Hendra Manggopa

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.

 
Resensi 16 Apr 2018

Kapitalisme hingga hari ini masih merupakan fakta yang menyedihkan dan tidak bermoral di mata lawan-lawannya. Seakan basis intelektual dan muatan moral yang dirumuskan oleh para ekenom dan filsuf zaman dulu terhadap sistem ini tidak ada gunanya sama sekali. Sekali satu prinsip dalam liberalisme diangakat dalam hubungannya dengan pasar (sebagai rumusan ideologis) mesti dicurigai. Seperti ada di hati kecil mereka yang selalu berkata: " sistem ini kurang manusiawi, terlalu egois, busuk".

Wajar-wajar saja jika noda-noda itu selalu tampak di mata para pencibir kapitalisme, karena mereka selalu terpaku pada permukaan sistem ini, bukan pada efek-efeknya yang tak terlihat. Mereka sangat yakin telah melihat kekurangannya dan hendak dengan segera membuat suatu sistem artfisial, tak peduli sistem itu memaksa ataupun sejalan dengan hukum ekonomi. Sosialisme dengan segala variannya menjadi ide segar bagi mereka, dan konon adalah sistem paling peka dalam melihat ketimpangan di masyarakat. Tapi sayangnya, kepekaan itu sekaligus membutakan mereka bahwa sosialisme  pada dirinya mensyaratkan perampasan, pun perbudakan dalam menjalankannya. Sejarah telah mencatat itu.

Cerita 26 Mar 2018

Pada tanggal 10 Maret lalu, Suara Kebebasan kembali mengadakan diskusi sambil ngopi, atau biasa disebut Ngopi Sore untuk Kebebasan/ngopsor di Warung Sahabat, Manado. Tapi diskusi kali ini berbeda. Suara Kebebasan membawa hadiah berupa buku gratis dan kebetulan buku itu yang menjadi tema diskusi. Buku yang diterjemahkan Suara Kebebasan itu adalah “Apa Pilihanmu: Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara? Editor Tom G. Palmer. Teman-teman dari berbagai organisasi pun hadir untuk berdiskusi. Kira-kira 60-an orang yang hadir. Luar biasa!

Lebih menarik lagi, pemateri saat itu adalah Amato Assagaf, pendiri Amagi Indonesia dan MCI (Mises Club Indonesia). Adapun moderator dibawakan dengan baik oleh Jaja Citrama, salah satu pegiat di Amagi Indonesia. Diskusi pun berjalan lancar dan sukses  tanpa kurang suatu apapun. Para undangan begitu antusias untuk bertanya sehingga harus dihentikan dan dibatasi oleh moderator.

Pada saat diskusi, pembicara memaparkan beberapa prinsip kebebasan bersama konsekuensi-konsekuensi logisnya, serta melihat posisi individu berhadap-hadapan dengan negara, atau kekuasaan. Dengan menempatkan kedua entitas semacam itu, maka dapat dilihat prinsip filosofis yang terkandung dalam kebebasan beserta tanggung jawab sebagai buah dari tindakannya. Dengan begitu, ide tentang  kebebasan dan tanggung jawab tidak bisa dipisahkan, atau kita tidak bisa berbicara kebebasan tanpa tanggung jawab.

Opini 13 Nov 2017

Hari-hari ini cuaca kultural, intelektual, dan politik di Indonesia semakin sarat dengan nuansa kolektivisme. Epidemi kolektivisme ini tengah mengemuka sedemikian rupa dalam banyak bendera organisasi, berikut juga dalam banyak kepala pembuat kebijakan di Republik ini. Problemnya, dalam remang paham yang core intelektualnya lebih menekankan pada tendensi kelompok, kecenderungan untuk mengingkari—pun membatalkan--individualitas atas nama kepentingan bersama.

Disini, individualitas bukan saja dengan mudahnya dapat ditunda namun juga dapat diberangus demi dan atas nama kepentingan masyarakat, umat dan Negara. Ironi ini tidak hanya keliru secara konseptual, (dan tentu utopis), melainkan juga berbahaya sebab tak ubahnya dengan “membunuh” manusia itu sendiri dengan perangkat-perangkat politis yang sublim dalam bentuk kebijakan-kebijakan kolektivisme. Sebab, tak ada satu pun individu yang sejatinya dapat dilepaskan dari individulitasnya, yang tiba-tiba dengan mudahnya bermetamorfosa menjadi superhero, yang abai dengan kepentingan idividualnya dan memilih mengorbankan diri demi kepentingan bersama-umum.

Lantas, apa yang terjadi dengan kedaulatan individu di bawah payung demokrasi di Republik kita hari-hari ini? Disini, individualitas manusia tengah sekarat oleh terjangan banalitas kelompok dan miopisme akut pemerintah yang gagal memaknai kebaikan ide individualisme itu sendiri. Sejatinya, yang tengah darurat di Republik ini bukanlah demokrasi sebagaimana dengan lantangnya diteriakkan belakangan ini, melainkan individualitas manusia Indonesia yang sejengkal demi sejengkal digagahi kebebasannya oleh syahwat kolektivisme.

Opini 11 Okt 2017

Dalam kerangka filsafat politik, kita pertama-tama harus berurusan dengan pertanyaan dasar mengenai cara manusia hidup bersama: “bagaimana hidup yang baik itu?”. Pertanyaan ini sudah diandaikan ketika para filsuf mulai memikirkan kekuasaan, yang merupakan awal mula pencarian itelektual mereka untuk menetapkan kehidupan apa yang baik bagi manusia. Percarian tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk spekulasi dan klaim moral untuk membenarkan suatu pandangan. Tapi, meskipun pertanyaan ini sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu,  pertanyaan ini perlu selalu diandaikan, karena di satu sisi menyangkut filsafat politik, di sisi lain sebagai kritik ideologis.

Dalam diskursus tentang kekuasaan, tentunya selalu terdapat pengandaian akan prinsip-prinsip moral yang mendasarinya. Dalam tulisan ini,  saya mencoba menawarkan sebuah prinsip moral atau pandangan etika politik untuk berusaha membayangkan kehidupan yang baik atau ideal bagi manusia. Prinsip tersebut saya ambil dari  etika politik libertarianisme.

Opini 7 Sep 2017

Dalam interaksi pasar, untuk mendapatkan keuntungan kita mesti terlibat dalam kegiatan yang dirancang untuk melayani orang lain dan memahami kebutuhan mereka. 

Apa konsekuensinya? Perdagangan membuat kita memahami orang-orang di lingkungan kita, atau bahkan orang yang tidak kita kenal. Dan lebih penting lagi, hal itu juga membuat kita sadar bahwa orang lain sangat mirip dengan kita, bahkan jika mereka berbicara dalam bahasa asing atau memiliki kebiasaan atau tradisi yang berbeda. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk saling memahami dan menghindari konflik dalam berinteraksi di pasar yang bebas.

Tapi para pengkritik pasar bebas selalu memiliki perasaan tidak suka ketika melihat orang-orang mampu hidup damai lewat interaksi pasar. Mereka gelisah menyaksikan bagaimana kompetisi antara individu melemahkan solidaritas kolektif, dan berusaha mengupayakan kembalinya ide komunitarian dan nasionalisme yang telah redup. "Kapan kalian pernah melakukan kebaikan atas dasar kemanusiaan yang murni?", tanya Marx.

Opini 16 Agu 2017

Adam Smith secara luas dianggap sebagai bapak ekonomi modern. Tapi ternyata bukan. Pendiri sebenarnya adalah saudagar Irlandia, bankir, dan petualang. Dia adalah Richard Cantillon (1680-1734) yang menulis risalah pertama tentang ekonomi lebih dari empat dekade sebelum Adam Smith menulis "The Wealth of Nations". Risalah tersebut Cantillon namakan: "Essay sur la Nature du Commerce en General" atau (Essay on Economic Theory). Selesai sekitar tahun 1730 dan 1734, karya tersebut akhirnya diterbitkan di Perancis bertahun-tahun setelah kematiannya. Karya Itu tidak diterbitkan dan didistribusikan dalam bahasa Inggris sampai terjemahan Henry Higgs tahun 1932 dari edisi bahasa Perancis yang asli. Esai ini pada umumnya tidak diketahui sampai ditemukan kembali oleh William Stanley Jevons pada akhir abad ke-19.