Arianto A Patunru

Arianto A Patunru

Arianto A. Patunru adalah dosen ekonomi pada Departemen Ekonomi, Australian National University (ANU) dan Crawford School of Public Policy-ANU, Australia.. Ia pernah menjabat kepada Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Sindikasi 23 Agu 2017

Dari Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat kita kenal Datuk Maringgih dan Syekh Abdullah. Mereka lintah darat yang tak segan mengisap korban hingga kering-kerontang. Paling tidak, begitu kesan yang mewujud dalam benak kita saat mendengar kata “lintah”. Entah kenapa, dalam bahasa Inggris, bayangan akan rentenir berasosiasi bukan dengan lintah, tapi dengan ikan hiu bergigi tajam: loan shark.

Di Malaysia atau Singapura lain lagi. Saya dengar, rentenir di sana disebut ah long, yang secara harfiah berarti telinga dengan lubang anting yang besar—entahlah, konon zaman dulu para rentenir ini suka mengenakan anting berukuran jumbo sebagai simbol status.

Sindikasi 21 Jun 2016

Hampir 20 tahun lalu, penerbangan domestik selalu berarti tiket yang sangat mahal. Mayoritas mereka yang bepergian antar pulau memilih menggunakan transportasi laut ketimbang udara, karena transportasi udara harganya tak terjangkau. Sekarang, hampir semua orang bisa membeli tiket pesawat yang jauh lebih murah. Saking murahnya, penumpang kapal laut merosot tajam, membuat kapal-­‐kapal “terpaksa” tidak lagi bisa memprioritaskan manusia sebagai sumber pendapatan, melainkan beralih kepada barang kargo dalam petikemas besar. Bahkan transportasi darat jarak jauh dalam satu pulau pun bersaing dengan pesawat udara. Berkat liberalisasi di industri penerbangan domestik, maskapai-­‐ maskapai swasta pun berkembang. Lalu mereka berlomba menyediakan tiket yang paling murah kepada konsumen, agar bisa memenangkan pangsa pasar. Mereka mengurangi biaya dan harga makanan di pesawat, mereka menggunakan tiket online, dan seterusnya.

Sindikasi 4 Apr 2016

Terus terang saya baru mengenal nama Frederic Bastiat, ekonom klasik Prancis kelahiran Bayonne tahun 1801, setelah membaca buku Henry Hazlitt yang sangat terkenal, “Ekonomi dalam Satu Pelajaran”. Buku itu sangat berkesan, sehingga saya mulai memburu karya‐karya Bastiat sendiri.

Hazlitt mengakui, inspirasi utama bukunya yang pertama kali terbit tahun 1946 itu adalah Frederic Bastiat, di samping Philip Wicksteed dan Ludwig von Mises. Bastiat, menurut Hazlitt telah mengajarkannya menulis argumen dengan efektif dengan bahasa yang mudah dimengerti semua orang. Sebuah karya pamflet Bastiat, “Apa yang Terlihat dan Apa yang Tak Terlihat” disebut Hazlitt sebagai dasar utama argumen‐argumennya di dalam buku tersebut. Bahkan ia menyebut bukunya sebagai ‘modernisasi, ekstensi, dan generalisasi’ dari pamflet tersebut.