Bakhrul Amal

Bakhrul Amal

Bakhrul Amal adalah peneliti di Satjipto Rahardjo Institute dan Mahasiswa Magister Hukum di Universitas Diponegoro, Semarang. Bisa dihubungi melalui email: [email protected] dan akun twitter: @bakhrulamal

Opini 3 Jan 2019

Beberapa teman saya, rata-rata yang berangkat bukan dari latar belakang hukum, bertanya “Mengapa hukum akhir-akhir ini nampak ngeri, nampak membatasi kehidupan sosial kita?”. Mereka lantas takut melakukan sesuatu, bahkan untuk bercanda sekalipun. Mereka khawatir apabila nanti yang dilakukan olehnya adalah delik. Delik yang membawa mereka berurusan dengan aparat penegak hukum.

Pertanyaan itu mungkin dibawakan dengan nada yang lembut tetapi menaruh kesan yang keras terhadap saya. Saya merasa perlu menjabarkan sedikit mengenai tujuan hukum dan persoalannya melalui tulisan ini.

 

Opini 25 Jan 2017

Pikiran dan perilaku kita, kata bijak bestari, terpengaruh oleh dua hal. Pertama adalah dengan siapa kita bergaul. Yang kedua mengenai buku apa yang kita baca.

Persoalan pertama tentu menyangkut begitu banyak aspek. Ada aspek pendidikan, ekonomi, bahkan juga strata sosial. Pergaulan yang terbatas tentunya akan mempengaruhi komunikasi, cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah. Sementara pergaulan yang luas, output yang dihasilkan adalah sebaliknya.

Resensi 12 Nov 2016

“Mengapa arwah bisa menjadi tidak tenang selepas mereka mati?” seorang pria gendut bertanya. Dia kemudian melanjutkan ungkapan konyolnya itu “Bukankah kematian justu menjadi akhir daripada semua masalah?”. Itulah suguhan opera pembuka dari film Oh My God! (OMG!)

Jika anda ingin mencari tahu bagaimana caranya menggugat Tuhan, maka, tidak salah bila anda mencoba untuk menonton film yang dirilis pada 28 September 2012 tersebut.

Opini 28 Okt 2016

Giorgio Agamben, filsuf Italia, dalam sebuah wawancara pernah berujar bahwa “pikiran adalah sebuah keberanian untuk berputus asa”. Pada sesi yang lain, di media online Newstatesman, Zizek mengkonfirmasi lebih lanjut ungkapan itu dengan istilah; keberanian sejati adalah mengakui bahwa cahaya di ujung terowongan kemungkinan besar lampu dari kereta lain yang mendekati kita dari arah yang berlawanan.

Opini 7 Jul 2015

Hukuman mati. Sebuah slogan baru yang (mungkin) sedang menjadi buah bibir. Kehebohannya tidak kalah dengan batu akik. Di koran, di televisi hingga bahkan di bawah lampu remang warung-warung pantura, semua berbincang lebar menyoal bagaimana hukum menyelesaikan kisah hidup seseorang (capital punishment).

Opini 19 Jun 2015

Kitab undang-undang itu kini tidak ubahnya seperti sebuah bedil, strum listrik (electrocution), menara pancungan atau juga bahkan arak-arakan mazzatello (hukuman mati seperti membunuh sapi di era kepausan). Itulah, jikalau hendak kita kaitkan antara yang baku dengan imajinasi kita melalui teori kuasa simbol Pierre Bourdieu.