Trending

Pengalaman bertemu dengan seseorang gay terjadi pada saat saya masih SMA di Kota Malang. Saya memiliki sahabat baik yang tiba-tiba mengatakan sesuatu yg tidak biasanya tentang dirinya: “Saya ingin ngomong sesuatu yang mungkin membuat kamu nggak nyaman,” ujar teman saya. “Ngomong apa?” tanya saya. 

"Saya itu jadi presiden cuma modal dengkul, itu pun dengkulnya Amien Rais," kata Abdurahman Wahid (Gus Dur). Lelucon ini kerap dilontarkan oleh Presiden ke-4 RI ini di berbagai kesempatan. Bagi yang paham konteksnya pasti akan tertawa terbahak-bahak. Bahkan, Amien Rais sendiri mungkin bisa tertawa mendengarnya.

Tulisan ini dibuat pertama kali oleh Friedrich A. Hayek pada tahun 1949. Hayek adalah penerima penghargaan Nobel Ekonomi, terkenal atas bukunya “The Road to Serfdom” (1944) yang menjadi buku utama pengkritik kebijakan sentralistik Barat pada waktu itu. Esai ini menjelaskan bagaimana kelompok baru yang bernama intelektual mempengaruhi pengambilan kebijakan pemerintah di negara-negara demokratis. Hayek juga melihat kecenderungan kaum intelektual pada waktu itu, yang cenderung memihak ideologi sosialisme dibandingkan liberalisme. Sebagai catatan, istilah “sosialisme” yang Hayek gunakan dalam esai ini adalah ideologi kiri umum yang mencakup Marxisme, komunisme, sosialisme demokratis, hingga Keynesianisme yang oleh Hayek dianggap sebagai awal menuju otoritarianisme.

Setidaknya, ada dua tulisan akademik yang pernah saya tulis mengenai Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, yang akrab dipanggil Buya ini. Lepas dari segala kontroversinya, Beliau memang sosok yang memikat.

"Dari Etika Al-Quran Menuju Masyarakat Demokratis: Studi Sosiologi Pengetahuan Mengenai Ahmad Syafii Maarif" merupakan skripsi setebal 276 halaman beserta lampiran yang meluluskan saya dari Departemen Sosiologi Universitas Indonesia di penghujung tahun 2011.

John Rawls adalah salah satu pemikir politik liberal kontemporer yang memberikan warna baru pada spektrum liberalisme global saat ini. Magnum Opus Rawls yang berjudul “a Theory of Justice” dan “Political Liberalism” menjadi dua buah karyanya yang menjadi rujukan bagi perkembangan liberalisme kontemporer. Pembenahan besar-besaran terjadi dalam studi-studi mengenai liberalisme di dunia.

Alasan utama mengapa pemerintah (lokal, nasional, regional atau multilateral) di seluruh dunia terus berkembang adalah karena mereka ingin mengoreksi dan memperbaiki "kegagalan pasar", yang secara umum didefinisikan sebagai kegagalan pelaku pasar - perusahaan dan rumah tangga - untuk memasok barang-barang tertentu dan jasa dengan harga dan kuantitas sesuai kebutuhan masyarakat dan permintaan.

Dewasa ini, kita sering mendengar kata sekuler sebagai kata dengan konotasi yang negatif. Seolah-olah menjadi sekuler adalah tindakan tercela bahkan dianggap anti-agama. Hal ini tentu tidak lepas dari propaganda yang gencar dilakukan terutama oleh mereka yang mengaku dirinya religius. Tapi benarkah sekuler adalah anti-agama?

Kabar yang menyedihkan, juga memalukan datang dari Indonesia. Baru-baru ini dikabarkan bahwa seorang pengendara ojek online Gojek, dipukuli sekumpulan pengendara ojek pangkalan tradisional hingga babak belur. Alasannya adalah pengendara Gojek mengambil penumpang dari kawasan yang biasa dikuasai oleh ojek pangkalan tradisional. Peristiwa penganiayaan ini, setidaknya terjadi lebih dari satu kali. Saya sendiri pernah melihat secara langsung bagaimana pengendara Gojek diintimidasi ketika melintasi pangkalan ojek tradisional dengan kata-kata kasar di siang hari dan di jalan yang ramai. 

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag No. 06/M-DAG/PER/1/2015 yang melarang minuman beralkohol dengan kadar apapun dijual di mini market, ritel, dan pengecer di seluruh Indonesia. Minuman alkohol jenis bir misalnya, hanya bisa dijual di kafe, restauran, dan hotel-hotel. Kebijakan ini bertolak dari argumen bahwa minuman beralkohol dengan kadar minimal pun akan merusak generasi muda, yang bisa kapan saja membeli bir di retailer terdekat. Kebijakan ini tentu saja didukung oleh gerakan-gerakan relijius yang memandang bahwa minuman beralkohol adalah sumber amoralitas dan tanda pembangkangan terhadap agama.

Rasa-rasanya tidak ada ideologi yang lebih populer daripada marxisme. Meski sudah gagal berkali-kali dan nyaris mati, ideologi ini masih banyak dianut dan diperbincangkan dengan antusiasme yang tidak surut.

Hal ini bisa dimaklumi. Terlepas dari segala kontroversi yang melingkupi marxisme, ideologi ini memang bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan etis yang paling primordial dari kemanusiaan, yakni soal keadilan, kesetaraan, dan emansipasi. Status ideologi ini sebagai ideologi perlawanan juga memberikan semacam nuansa romantisisme perjuangan dan heroisme.