Terbaru

Pesta demokrasi yang akan diadakan tahun depan di Indonesia, yaitu pemilihan presiden dan legislatif adalah pesta demokrasi yang akan menjadi sajian utama politik selama setahun ke depan. Sebagai kelompok yang skeptis terhadap negara dan kekuasaan, sudah sepatutnya kelompok libertarian menentukan sikapnya dalam pemilu.

Haruskah seorang libertarian yang percaya pada kebebasan individu dan peran negara yang minimal berpartisipasi dalam pemilu? Ataukah seorang libertarian seharusnya menolak memilih dalam pemilu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang didiskusikan dalam Diskusi Ngopi Sore pada 10 November yang lalu di Jakarta, melibatkan teman-teman penulis dan pembaca Suara Kebebasan. Dalam diskusi kali ini, Nanang Sunandar (INDEKS) dan Muhamad Iksan (Suara Kebebasan) menjadi pemantik diskusi.

Nanang berargumen bahwa dalam pemilu kali ini tidak ada presiden yang mewakili nilai-nilai libertarian. Oleh karena itu, tidak ada gunanya mendukung salah satu calon yang kini berkontestasi untuk menjadi presiden. Terlebih lagi, petahana yang menjadi harapan banyak orang dulu sudah terbukti mengecewakan dan tidak mampu menepati janji-janjinya seperti penuntasan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Begitu juga calon penantangnya yang jauh dari menjanjikan agenda-agenda yang kompatibel dengan nilai-nilai libertarianisme.

Ditonton satu juta lebih penonton hingga tulisan ini dibuat, A Man Called Ahok (AMCA) menjadi salah satu film Indonesia yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Selain figur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masih kontroversial sampai sekarang, materi film ini pun cukup berhasil memukau penonton.

Reynaldi Adi sudah menguraikan teladan yang dapat diambil dari Ahok. Sikap anti kompromi pada penyelewengan, sikap egaliter dan tradisi membantu sesama yang kekurangan adalah beberapa teladan yang dapat diambil dari Ahok. Aspek teknis A Man Called Ahok sudah saya ulas di situs Qureta. Aroma drama keluarga dalam film ini jauh lebih kuat dibanding biopik personal Ahok.

Bagi seorang libertarian, ada beberapa pelajaran yang ditunjukkan dalam AMCA. Libertarianisme adalah pandangan bahwa setiap orang punya hak menjalani hidup dengan cara apapun yang dia pilih selama dia menghargai hak yang sama pada orang lain.[1]

Libertarian membela hak setiap orang atas hidup, kebebasan dan properti—hak-hak yang orang miliki secara alami, sebelum pemerintahan diinstitusikan. Dalam pandangan libertarian, semua hubungan manusia harus bersifat sukarela; satu-satunya tindakan yang harus dilarang secara hukum adalah tindakan-tindakan yang melibatkan penggunaan paksaan terhadap mereka yang tidak melakukan hal serupa—pembunuhan, perkosaan, perampokan, penculikan dan penipuan.[2]

Alam Pikiran Libertarian—terjemahan dari The Libertarian Mind karya David Boaz—merupakan manifesto kaum libertarian untuk kebebasan. Buku ini adalah respons Boaz terhadap pertumbuhan gerakan libertarianisme yang semakin pesat di Amerika, yang bahkan kini menjadi faksi politik paling disegani di negeri Paman Sam tersebut.

Selain tertuju khusus untuk mereka yang cenderung libertarian, buku ini juga pas bagi siapa saja yang ingin mencari tahu pemahaman tentang perubahan dalam pemikiran politik Amerika selama ini. Tentu saja, pemahaman tentang itu sangat penting, sebab relevan dengan orang-orang dari masyarakat mana pun, termasuk untuk Indonesia.

Boaz sendiri mengingatkan dalam pengantarnya bahwa satu alasan mengapa pembaca Indonesia harus membaca buku ini dan mesti tertarik dengan libertarianisme adalah karena ide-idenya mendorong lahirnya dunia modern. “Dan Anda perlu tahu tentang ide-ide ini,” tulis Boaz.

Alasan lainnya, yakni libertarianisme menawarkan janji perdamaian, pertumbuhan ekonomi, dan harmoni sosial kepada setiap bangsa/negara. “Saya berharap khalayak pembaca Indonesia akan bergabung dengan kaum libertarian di seluruh dunia dalam rangka mengendalikan kekuasaan negara dan membebaskan individu, keluarga, perkumpulan masyarakat sipil, dan bisnis.”

 

Mengapa Kebebasan?

Hampir tidak ada orang di dunia ini yang ingin hidup tanpa kebebasan. Setidaknya, kebanyakan orang ingin bebas menjalani hidup sebagaimana yang mereka pilih sendiri. Dan kaum libertarian percaya, kebebasan menjalani hidup, tanpa ada unsur paksaaan atau ancaman di dalamnya, akan membuat hidup jauh lebih makmur lagi memuaskan.

“Kita harus bebas menjalani hidup sesuai apa yang kita pilih selama kita menghargai hak-hak yang sama pada orang lain.”

Meski demikian, mendefinisikan kebebasan tentu tidak sesederhana ungkapan di atas. Banyak ragam definisi kebebasan harus ditelaah sebelum akhirnya memastikan bahwa tindakan kita sudah terkategori bebas atau tidak bebas. Tetapi yang jelas, makna kebebasan bisa kita sebut sebagai “absennya paksaan maupun ancaman secara fisik” sebagaimana John Locke tawarkan di bawah supremasi hukum (hlm. 3).

Dari John Locke-lah Boaz kemudian menarik definisi tersendiri tentang kebebasan. Ia menyebut bahwa orang yang bebas bukanlah “pelayan untuk kehendak sewenang-wenang orang lain”. Orang yang bebas adalah mereka yang bebas melakukan apa saja sesuai pilihannya masing-masing dengan syarat: terhadap diri dan properti miliknya sendiri.

“Tetapi Anda hanya bisa memiliki kebebasan-kebebasan ini hanya ketika hukum melindungi kebebasan Anda dan setiap orang lain.”

Terlepas dari itu, bagaimanapun kita mendefinisikan kebebasan, tetap saja kita bisa mengenali aspek-aspeknya. Bahwa kebebasan itu berarti menghormati otonomi moral setiap orang; melihat setiap orang sebagai pemilik kehidupannya sendiri; dan masing-masing bebas untuk membuat keputusan-keputusan penting atas hidupnya sendiri. Kebebasan memungkinkan masing-masing dari kita untuk menentukan makna kehidupan, untuk menentukan apa yang menurut kita penting untuk dijalani.

Karena itu, setiap kita harus bebas, entah dalam berpikir, berbicara, menulis, menikah, makan-minum, memulai dan menjalankan bisnis, serta bergaul dengan siapa saja yang kita inginkan. Ketika kita bebas, maka hidup yang kita anggap sesuai bisa kita bangun.

 

Peran Libertarian

Meski kebanyakan orang menganggap kondisi kebebasan adalah yang terbaik, tetapi tidak semua di antara mereka punya kemampuan memadai dalam hal mencapai kondisi itu. Melalui Alam Pikiran Libertarian, Boaz memperlihatkan bahwa hanya kaum libertarian-lah yang paling konsisten, sampai hari ini, memperjuangkan ide-ide kebebasan.

Bagaimana dengan kaum liberal? Bukankah mereka juga pernah mengklaim diri sebagai pembela kebebasan dan supremasi hukum sebagaimana kaum libertarian?

Benar bahwa istilah “liberal”, dulu, merujuk kepada siapa yang membela kebebasan dan supremasi hukum. Di era 1820-an, misalnya, perjuangan kebebasan diprakarsai oleh perwakilan kelas menengah di Parlemen Spanyol (Spanish Cortes). Mereka disebut sebagai Liberales, pesaing Serviles (kaum budak) yang mewakili bangsawan dan monarki absolut. Di Inggris, ada Partai Whig yang kemudian dikenal sebagai Partai Liberal. Hingga siapa pun yang menganut filsafat John Locke, Adam Smith, Thomas Jefferson, dan John Stuart Mill, secara terang dianggap sebagai penganut liberalisme.

Tetapi sekitar tahun 1900, kencenderungan kaum liberal mengalami perubahan. Banyak di antara mereka akhirnya mendukung kekuasaan absolut dan ingin membatasi, serta mengontrol pasar—sebuah kondisi yang sangat ditentang oleh para pembela kebebasan.

Pun demikian dengan kaum sosialis. Awalnya mereka adalah pendukung masyarakat sipil dan pasar bebas. Kekuatan sosial yang mereka jadikan spirit adalah tameng untuk menghalau ekspansi kekuasaan negara di masanya. Sayang, seperti kaum liberal, ide mereka kini cenderung tidak mendukung masyarakat sipil maupun kebebasan individu.

Menjadi wajar jika Alam Pikiran Libertarian harus kita sebut sebagai manifesto libertarian untuk kebebasan. Bahwa libertarianisme—untuk membedakannya dari liberalisme atau sosialisme—adalah filsafat politik kaum libertarian yang senantiasa menerapkan ide-ide liberalisme klasik secara konsisten: membatasi peran pemerintah secara lebih ketat dan melindungi kebebasan individu secara penuh.

 

Sebuah Manifesto

Sebagai sebuah manifesto, Boaz menyuguhkan Alam Pikiran Libertarian secara komprehensif. Berbagai gagasan untuk libertarian kawal tersaji cukup utuh. Konsep-konsep seperti indivualisme, hak individu, keteraturan spontan, supremasi hukum, pemerintahan yang terbatas, pasar bebas, kebajikan produksi, harmoni alami, dan perdamaian terangkum dalam bahasa yang mudah dicerna tetapi substantif.

Untuk lebih mendalami gerakan untuk kebebasan ini, Boaz tak lupa menyertakan sejarah singkat libertarian, mulai dari pemikiran Yunani Kuno hingga F.A. Hayek dan Robert Nozick. Bahkan unsur-unsur libertarianisme juga dieksplorasi secara lebih jauh, yakni ke ajaran filsuf Cina Kuno Lao-tzu, yang hidup sekitar abad ke-6 SM.

Meski manifesto ini berisi visi yang mungkin terdengar luar biasa, seperti dokrin tentang sebuah semesta yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, tetapi gagasannya masih terbilang jauh lebih baik jika dibanding dengan sistem monarki, kediktatoran, dan statisme, atau bahkan sistem demokrasi modern sekalipun. Manifesto ini menawarkan alternatif untuk menggantikan pemerintahan yang koersif yang seharusnya menarik bagi orang-orang yang cinta damai dan ingin hidup produktif, di mana pun, termasuk Indonesia.

Boaz sendiri menyadari, dunia libertarian yang hendak ia bangun bukanlah sebuah dunia yang sempurna. Sebagaimana dunia-dunia di bawah sistem lainnya, dunia libertarian masih tetap akan melahirkan ketimpangan, kemiskinan, kejahatan, korupsi, dan kebejatan manusia atas manusia lainnya.

Ya, kaum libertarian tidak menjanjikan taman surga. sebagaimana Karl Popper pernah berkata, upaya-upaya menciptakan surga di bumi selalu akan menciptakan neraka. Hemat kata, tujuan libertarianisme bukanlah hendak menciptakan sebuah tatanan atau kondisi dunia yang sempurna, melainkan yang lebih baik dan lebih bebas. Libertarianisme menjanjikan sebuah dunia di mana lebih banyak keputusan akan dibuat dengan cara-cara yang benar oleh orang-orang tepat.

 

Kata-kata berupa olokan atau ejekan terhadap bentuk tubuh seseorang merupakan hal yang dapat dengan mudah kita jumpai di Internet, terutama di media sosial. Berbagai ungkapan seperti "kok kamu gendut banget sih" atau "ih kamu agak iteman ya kulitnya sekarang" merupakan beberapa contoh bentuk ekspresi dari sekian banyak ungkapan body shaming yang tak jarang dapat kita temui di dunia maya

Body shaming sendiri dapat didefinisikan sebagai tindakan mempermalukan seseorang dengan membuat komentar mengejek atau mencela bentuk atau bagian tubuh yang dimiliki oleh orang tersebut.

Indonesia sendiri memiliki hukum yang melarang tindakan body shaming di media sosial. Sebagaimana yang diutarakan oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya yang dikutip oleh CNN Indonesia, bahwa pelaku body shaming, apabila mengandung unsur penghinaan dan menjatuhkan martabat, dapat dijerat dengan Pasal 27 Ayat 3 Juncto Pasal 45 Ayat 3 UU ITE. Ancaman pidana bagi pelaku body shaming juga tidak main-main, yakni penjara paling lama selama empat tahun dan denda/atau denda paling banyak sebesar 750 juta rupiah. (cnnindonesia.com Rabu, 21/11/2018)

Polemik Perda Agama sebenarnya sudah muncul pasca Orde Baru runtuh. Namun polemik itu bergulir hanya dikalangan elit akademisi dan politisi saja. Dewasa ini polemik Perda Agama kembali mencuat dan mendapat banyak tanggapan ketika Ketua umum Grace Natalie mengatakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki prinsip untuk menolak mendukung perda-perda yang bercirikan menguntungkan agama tertentu. Seperti Perda Syariah dan Perda Injil. Pernyataan ini disampaikan Grace  dalam peringatan ulang tahun keempat PSI di ICE BSD, Tangerang, Minggu (11/11).

"PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah," ujar Grace (cnnindonesia.com, 2018).

 Pidato ketum PSI ini membuat keadaan politik di Indonesia kembali meletup, ditambah dengan mendekatnya tahun politik 2019, banyak politisi yang unjuk gigi menyerang PSI bahkan menuduhnya sebagai penista sehingga berhak dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Tantangan yang dihadapi oleh PSI merupakan hal biasa, dimana kultur politik Indonesia tak lepas dari citra agama. Selain sebagai bangsa yang mayoritas orang-orangnya memeluk agama, agamapun kadang menjadi komoditas politik demi menaikkan elektabilitas suara para politisi dan partainya. Pemilu 2014, Pilkada 2017 dan 2018 juga tidak lepas dari kentalnya agama dalam ruang politik Indonesia.

Salah satu tokoh politik Indonesia kembali mengeluarkan komentar yang kontroversial, yaitu mengenai anak muda Indonesia yang disekolahkan tetapi malah menjadi tukang ojek. Dilansir dari situs Tribunnews.com (wow.tribunnews.com, 22/11/2018), pernyataan "Tukang Ojek" yang sekarang menjadi pembicaraan berawal ketika Prabowo Subianto menjadi pembicara dalam Event Indonesia Economic Forum 2018 di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat pada Rabu (21/11/2018).

Dalam pidatonya Prabowo berkata:“Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan realita yang sedih namun juga kejam. Ini adalah meme yang sedang tersebar di internet. Jalur karier seorang anak muda Indonesia. Yang paling kanan adalah topi Sekolah Dasar, topi Sekolah Menengah Pertama dan setelah dia lulus dari Sekolah Menengah Atas, dia menjadi supir ojek, ini adalah realita yang kejam," kata Prabowo,

“Jangan Pernah Berhenti untuk mencintai Negeri ini”

-Pesan Kim Nam pada Ahok dalam film A Man Called Ahok-

Apa yang terlintas di pikiran kita jika disebut nama Ahok?..  Cina? Galak? Giat bekerja? Anti mafia? atau sebagai penista?.. Ahok dipandang sebagai sosok antagonis oleh sebagian orang dan dianggap sebagai sosok protagonis yang heroik oleh sebagian yang lain. Ia dipandang sebagai iblis, sekaligus juga dipandang sebagai malaikat oleh banyak pasang mata. Itulah Ahok, dia bisa dipandang dari sisi positif sekaligus negatif, dua sisi yang berbeda inilah yang membuat tokoh ini menjadi populer sekaligus membuat  banyak orang bertanya: “siapa sebenarnya Ahok ini?

 Rasa penasaran terhadap sosok yang satu ini akan pupus melalui  film A Man Called Ahok, sebuah film epik yang menggambarkan riwayat hidup Ahok sebagaimana adanya. Dari film ini orang dapat mengenal “Ahok melalui Ahok” alias memahami kehidupan Ahok secara objektif tanpa unsur politis dan kebencian.

A Man Called Ahok merupakan film besutan  Putrama Tuta yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama, karya Rudi Valinka. Buku dan film ini menceritakan secara ringkas namun padat tentang latar belakang Ahok, baik keluarga, lingkungan, dan teman sepermainannya, dengan tujuan untuk menggali lebih jauh pengaruh masa kecil Ahok terhadap dirinya yang menjadi figur publik saat ini.

Bulan Oktober lalu, tepatnya pada 14-25 Oktober 2018, saya mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara seminar International Academy for Leadership (IAF) yang diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation (FNF) di kota Gummersbach, Jerman. Acara ini memang acara rutin yang diselenggarakan hampir setiap bulan oleh FNF dan diikuti oleh peserta dari berbagai belahan dunia. Dalam hal ini, saya merupakan wakil dari Indonesia yang dinominasikan oleh Suara Kebebasan sebagai salah satu organisasi mitra FNF di Indonesia.

Dalam seminar tersebut, tema yang dibahas adalah mengenai dasar dari masyarakat terbuka (Foundations of Open Society). Open Society sendiri merupakan istilah yang dipopulerkan oleh filsuf liberal kelahiran Austria, Karl Popper, dan merupakan bagian dari visi liberalisme terhadap masyarakat. Salah satu karakteristik penting dari masyarakat terbuka adalah pengakuan terhadap kedaulatan individu serta perlindungan terhadap hak dan kebebasan individual yang dimiliki oleh setiap manusia. Untuk itulah, toleransi terhadap keberagaman, baik keberagaman agama, ras, serta etnis merupakan nilai-nilai yang wajib dijunjung tinggi.