Terbaru

Diskusi dan bedah buku bertajuk "Politik dan Kebebasan" ini diselenggarakan oleh Suara kebebasan yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) UMM Malang berlangsung pada 27 oktober 2017. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, antara lain Sulung Irham (penggiat jurnalistik UMM) dan Rofi Uddarojat (Editor Pelaksana Suara Kebebasan).

Judul Asli                : Islamic Foundation of Free Society

Editor                      : Nouh El Harmouzi & Linda Whetstone

Penerjemah           : Suryo Waskito

Jumlah Halaman   : 234 halaman

Tahun Terbit         : 2016

Penerbit                : Suara Kebebasan (edisi Indonesia)

Hari-hari ini cuaca kultural, intelektual, dan politik di Indonesia semakin sarat dengan nuansa kolektivisme. Epidemi kolektivisme ini tengah mengemuka sedemikian rupa dalam banyak bendera organisasi, berikut juga dalam banyak kepala pembuat kebijakan di Republik ini. Problemnya, dalam remang paham yang core intelektualnya lebih menekankan pada tendensi kelompok, kecenderungan untuk mengingkari—pun membatalkan--individualitas atas nama kepentingan bersama.

Disini, individualitas bukan saja dengan mudahnya dapat ditunda namun juga dapat diberangus demi dan atas nama kepentingan masyarakat, umat dan Negara. Ironi ini tidak hanya keliru secara konseptual, (dan tentu utopis), melainkan juga berbahaya sebab tak ubahnya dengan “membunuh” manusia itu sendiri dengan perangkat-perangkat politis yang sublim dalam bentuk kebijakan-kebijakan kolektivisme. Sebab, tak ada satu pun individu yang sejatinya dapat dilepaskan dari individulitasnya, yang tiba-tiba dengan mudahnya bermetamorfosa menjadi superhero, yang abai dengan kepentingan idividualnya dan memilih mengorbankan diri demi kepentingan bersama-umum.

Lantas, apa yang terjadi dengan kedaulatan individu di bawah payung demokrasi di Republik kita hari-hari ini? Disini, individualitas manusia tengah sekarat oleh terjangan banalitas kelompok dan miopisme akut pemerintah yang gagal memaknai kebaikan ide individualisme itu sendiri. Sejatinya, yang tengah darurat di Republik ini bukanlah demokrasi sebagaimana dengan lantangnya diteriakkan belakangan ini, melainkan individualitas manusia Indonesia yang sejengkal demi sejengkal digagahi kebebasannya oleh syahwat kolektivisme.

Judul Asli                : Self-Control or State Control? You Decide

Editor                      : Tom G. Palmer

Penerjemah           : Juan Mahaganti

Jumlah Halaman   : 292 halaman

Tahun Terbit         : 2016

Penerbit                : Suara Kebebasan (edisi Indonesia)

Sebuah kesempatan bagi saya, bisa menghadiri dan sekaligus menjadi moderator dalam acara bedah buku dan diskusi dengan tema, “Apa Pilihanmu: Pengendalian Diri  atau Pengendalian Negara?”. Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi (HIMAISTRA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, pada kamis 26 Oktober 2017 ini merupakan sebuah serangkaian tur dari Suarakebebasan.org dalam mengadakan diskusi dan bedah buku yang baru dipublikasikan tersebut.

Rofi Uddarojat sebagai pemateri pertama memberikan ulasan yang cukup luas dalam menjelaskan isi dari buku karangan Tom G Palmer tersebut. Sebagai pembicara dari Suara Kebebasan, Rofi mencoba menjelaskan bagaiamana sebuah pilihan pribadi memiliki sebuah peluang bagi siapapun untuk berkompetisi. Begitupula dalam menentukan jalan kehidupannya, individu lebih mengetahui apa kebutuhan pribadinya, dari pada negara yang harus mengatur.

Judul Asli                : Why Liberty 

Editor                      : Tom G. Palmer

Penerjemah           : Djohan Rady

Jumlah Halaman   : 160 halaman

Tahun Terbit         : 2013

Penerbit                : Suara Kebebasan (edisi Indonesia)

 

"Politik merupakan salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Orang-orang berdebat tentang banyak hal, namun politik adalah salah satu hal yang diperdebatkan paling sengit. Semakin banyak orang memperbincangkan politik daripada hal yang lainnya, bukan hanya karena politik dianggap lebih penting daripada seni, olah raga, ilmu kimia, film, arsitektur, atau ilmu pengobatan, tetapi karena poliitk berbicara mengenai eksekusi kekuasaan terhadap orang lain.

Ketika sebuah solusi akan diterapkan di dalam masyarakat, banyak orang tentu ingin tahu isi dan bentuknya. Jika kamu tidak ingin dipaksa untuk melakukan sesuatu oleh pihak lain, entah itu partai politik, politisi, atau agen pemerintah, besar kemungkinan kamu akan membuat suatu perlawanan. Begitu juga sebaliknya apabila kamu adalah pihak yang ingin memaksa orang lain melakukan apa yang kamu perintahkan.

Makanan juga dapat menjadi suatu topik yang akan diperdebatkan dengan sengit layaknya politik apabila pilihan-pilihan kita atas makanan ditentukan secara kolektif dan kita dipaksa untuk terus mengkonsumsi makanan yang sama dengan orang lain. Bayangkan perdebatan, manuver, dan koalisi yang akan terjadi di antara para “foodies”, penggemar fast food, vegetarian, pemakan daging, dan pelaku diet apabila pilihan makanan kita dibatasi pada satu jenis dan porsi makanan tertentu. Hal yang sama juga berlaku pada berbagai hal lain yang dianggap penting oleh banyak orang, bukan hanya makanan.

Ide yang ingin kami tawarkan di dalam buku ini merupakan sebuah persepsi alternatif terhadap politik: politik bukan sebagai sebuah pemaksaan kehendak, tetapi persuasi. Kami ingin menawarkan politik sebagai sebuah antitesis atas penindasan dan dominasi. Esai-esai yang terkumpul di dalam buku ini kebanyakan ditulis oleh anak-anak muda yang aktif di dalam Students for Liberty, sebuah organisasi internasional yang dinamis dan menyenangkan. Anak-anak muda ini tidak berbicara dari sudut pandang nasionalisme yang sempit, tetapi berdasarkan perspektif kemanusiaan yang luas. Mereka menulis sebuah pengantar terhadap sebuah filosofi yang telah dipraktekkan oleh banyak orang di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Filosofi ini memiliki berbagai macam nama dan sebutan di seluruh dunia, termasuk liberalisme, liberalisme klasik (untuk membedakannya dengan “liberalisme” ala Amerika Serikat), dan libertarianisme. Filosofi ini merupakan sebuah pendekatan yang sederhana sekaligus kompleks, karena pendekatan ini berisi sebuah pemahaman bahwa aturan sederhana dapat menghasilkan tata sosial kompleks. Inilah salah satu pelajaran penting dari ilmu sosial modern. Tata sosial dapat muncul secara spontan, sebuah topik yang akan ditelusuri secara detail di dalam buku ini.

Buku kecil ini adalah sebuah undangan bagi para pembaca untuk mulai memikirkan persoalan-persoalan penting kemanusiaan dengan cara baru. Buku ini ditujukan untuk para pemula maupun para sarjana yang sudah berpengalaman. Saya harap kedua jenis pembaca ini, dan mereka yang berada di antara keduanya, dapat mengambil manfaat yang besar dari buku ini. Para pembaca dapat mulai membaca dari bab manapun dan masing-masing bab dapat dibaca sebagai sebuah tulisan tersendiri. Bahkan, tidak ada kewajiban khusus bagi para pembaca untuk melahap semua isi buku ini. Anggap buku ini sebagai sebuah kudapan yang enak dan sehat bagi akal pikiran kamu. Selamat membaca."

- Tom G Palmer, dalam kata Pengantar

 

UNDUH PDF "POLITIK DAN KEBEBASAN" DI SINI

Dari tujuh Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) inisiatif DPRD Jember yang agaknya disampaikan dengan bangga dalam rapat paripurna 25 September 2017, Raperda Baca Tulis Al Quran adalah raperda yang memperlihatkan cara berpikir yang gelap dari para pengambil kebijakan di tingkat dewan. Kita semua tahu masyarakat Jember adalah masyarakat yang majemuk, tentu saja para anggota dewan seharusnya juga tahu. Masyarakat Jember bukan masyarakat tunggal yang seluruhnya memeluk agama Islam dan wajib mempelajari Al Quran.

Anggota Dewan yang terhormat seharusnya menggunakan data demografi masyarakat Jember berdasarkan jumlah pemeluk agama sebagai masukan kebijakan (policy input) pembuatan raperda. Ini berarti DPRD semestinya tidak bisa mengatasnamakan kebutuhan masyarakat Jember sebagai alasan diajukannya raperda. Namun, anggota Dewan tetap saja meyakinkan raperda itu untuk kebutuhan masyarakat Jember.

Kita tidak tahu apa yang membuat DPRD Jember yakin dengan kebijakan yang diambilnya meski mengabaikan data dan bukti demografi masyarakat Jember. Lantas bukti-bukti apa yang menjadi dasar DPRD Jember merumuskan Raperda Baca Tulis Al Quran? Pertanyaan ini murni pertanyaan, bukan keraguan bahkan tudingan bahwa para abffira tidak mengerti apa unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan kebijakan.

Pada 25 Oktober 2017, SuaraKebebasan.org bersama Demisioner Ketua BEM Unesa Periode 2016-2017, M. Zainal Arifin, hadir sebagai narasumber dalam Bedah Buku tentang “Politk dan Kebebasan”. SuaraKebebasan.org menghadirkan salah satu editor pelaksananya, yakni Rofi Uddarojat. Kedua narasumber memberikan wawasan dalam acara yang diselenggarakan oleh Development Administrators Comunity dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Jl. Ketintang Surabaya tersebut.

Bedah Buku berlangsung sejak pukul 14.00 WIB di aula gedung LPPM UNESA, dengan tema “Kebebasan Mahasiswa yang bertanggung jawab.” Dengan Sanyen Pasaribu, selaku ketua moderator, bedah buku ini dihadiri oleh kurang lebih 30 orang, yang terdiri dari mahasiswa UNESA.

Bedah Buku ini merupakan salah satu peringatan atas apa yang sudah dilakukan mahasiswa selama ini di kampus mereka. Dalam diskusi tersebut, Rofi mengatakan, berkenaan dengan tema dalam bedah buku tersebut, diperlukan sebuah penjabaran yang mendalam bagaimana mahasiswa menempatkan diri sesuai dengan bagiannya masing-masing