Terbaru

 

  • Kamu tau ga sebenarnya dunia ini dikontrol oleh kelompok elit penyembah setan..

+   Ah masa sih perasaan dunia biasa-biasa aja

  • Dasar bodoh, mereka itu kelompok tersembunyi, mereka berkonspirasi merusak dunia ini dan umat Islam, mereka itu pemegang sistem secara global, yaitu para kapitalis, Freemason, Yahudi, Iluminati, dan S....

Cuplikan percakapan di atas adalah gambaran bahwa di tengah-tengah masyarakat kita, terdapat kepercayaan bahwa ada sekelompok orang dalam suatu organisasi melakukan konspirasi bersifat global dengan tujuan ingin menguasai dunia ini. Isu konspirasi selalu seksi dan menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, baik orang tua hingga obrolan anak muda di kafe atau warung kopi kadang membahas tentang teori konspirasi ini.

Waktu SM, saya disuguhi suatu tayangan dokumenter berjudul The Arrival. Film dokumenter sebanyak 51 episode ini memuat tentang konspirasi global pemerintah Amerika, elit politik eropa, agama satanis, dan zionis yang berkolaborasi untuk menggenggam dunia ini. Anda bayangkan betapa seramnya dunia ini jika hidup tak lepas dari kontrol para konspirator yang ingin menguasai segalanya.

Sayangnya di Indonesia isu konspirasi kemudian ditarik ke ranah agama. Munculah prasangka dan asas praduga bahwa kaum kafir ingin menjatuhkan agama Islam dan orang kafir yang berkonspirasi bertujuan untuk melenyapkan Islam. isu konspirasi yang kemudian ditarik kedalam narasi agama kemudian berimbas pada sikap kaum Muslim di Indonesia. Kelompk-kelompok Islamis kanan makin yakin bahwa kaum Yahudi dan Freemason berkonspirasi melawan mereka.

Simbol yang disangka iluminati dicocokologi dengan simbol Dajjal.

 

Kelompok Islamis kanan menganggap bahwa simbol mata satu sebagai simbol Dajjal. Dalam keyakinan Muslim, Dajjal adalah musuh agama yang akan datang di hari kiamat. Dajjal kelak akan merusak agama Islam dan konon merekrut Yahudi sebagai pengikutnya.

*********

Belakangan ini, teori konspirasi naik kembali ke permukaan ketika Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil membangun Masjid As-Safar yang menjadi kebanggaan warga Jawa Barat. Masjid yang menjadi rumah ibadah umat Muslim dibangun dengan pola arsitektur moderen tanpa meninggalkan corak spiritual sebagaimana sebuah rumah ibadah.

 

Bangunan bagian dalam yang dicurigai simbol iluminati

 

Namun Masjid Al Safar ini jadi heboh ketika netizen mengomentari ornamen dan bangunan Masjid di bagian dalam yang dikatakan menyerupai iluminati, yang menjadi simbol konspirasi elit global. Well,  dan akhirnya dapat ditebak, publik berdebat kusir mengenai Masjid yang disusupi simbol trio jahat: “Yahudi-Satanis-Freemason”

Bak menyiram bensin ke percikan api, seorang ustad bernama Rahmat Baequni justru menentang keras arsitektur masjid yang digagas oleh Ridwan Kamil, dengan argumentasi bahwa masjid adalah sarana menyembah Tuhan, bukan menyembah Dajjal iluminati. Ustad Rahmat Baequni menjelaskan bahwa simbol  Yahudi iluminati yang berada di dalam masjid tersebut merusak tauhid dan keimanan umat Islam, sehingga ia mendesak Ridwan Kamil untuk merubahnya.

 

Konspirasi dan Halusinasi

Jika kita ingat sebentar tentang peristiwa demonstrasi yang dilakukan ormas Islam di Surakarta beberapa waktu lalu. Mereka melakukan demonstrasi karena gambar di perempatan jalan mirip dengan simbol salib, sehingga ormas Islam menuding ada Kristenisasi di Solo. Begitu juga tudingan orang-orang serupa yang menganggap bangunan Masjid Agung Hasyim Asy’ari Jakarta yang didirikan Ahok mirip dengan simbol Iluminati.

Perilaku kecurigaan terhadap simbol-simbol tersebut sama dengan kecurigaan Ustad Rahmat Baequni dan para pendukungnya yang langsung melempar tuduhan bahwa bangunan Masjid Al Safar adalah simbol iluminati.

Yang menjadi problem dari teori konspirasi karena teori tersebut tidak dapat kita konfirmasi kebenarannya. Bagaimana kita yakin bahwa simbol salib di perempatan jalan adalah simbol Kristenisasi? Bagaimana Anda bisa yakin bahwa bangunan segitiga adalah simbol kekuasan para Freemason dan Yahudi? Jawabannya, kita tidak tahu!

Teori konspirasi berasal dari kecurigaan, bukan dari hasrat kritis akal manusia. Teori konspirasi lebih dekat ke paranoid daripada rasa skeptis. Rasa skeptis mendorong kita untuk selalu mencari tahu kebenaran melalui fakta-fakta, sedangkan paranoid mendorong kita mencurigai fakta-fakta, yang malah membentuk suatu kesimpulan berdasarkan prasangka dan imajinasi dari pikiran kita. 

“Tidak! Islam tengah ditindas dan ada konspirasi global untuk menghancurkan  Islam.Begitulah ungkapan orang yang sudah kandung termakan oleh teori konspirasi. Sayapun mulanya percaya kemungkinan adanya konspirasi global, namun semakin tinggi wawasan kita dan semakin banyak buku-buku ilmiah yang kita baca, teori konspirasi berubah menjadi sebuah lelucon.

Bagaimana tidak? Jika Anda mencari di Internet tentang teori konspirasi, maka ada puluhan teori diciptakan yang kesemuanya meyakini adanya suatu gerakan ‘kelompok tersembunyi’ dengan tujuan tertentu. Sebut saja konspirasi bumi datar, konspirasi Yahudi, konspirasi Amerika, konspirasi bencana alam, konspirasi “kentut sapi”  (lihat film dokumenter Cowspiracy), konspirasi China, konspirasi kulit putih, konspirasi perusahaan farmasi, dan sebagainya.

Tentu saja teori-teori konspirasi tersebut tidak bisa diverifikasi kebenarannya. Para penyusun teori konspirasi hanya mengambil peristiwa-peristiwa lalu dihubung-hubungkan. Dan dengan sedikit bumbu imajinasi, lahirlah sebuah narasi konspirasi. Banyak orang telah termakan isu murahan ini dan sebagiannya lagi melakukan tindakan ekstrim yang dikira “heroik” dengan tujuan melawan dominasi Freemason, illuminati, dan elit global.

Bagaimana teori konspirasi itu dapat muncul? Komaruddin Hidayat dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa, perubahan ekonomi, sosial, dan politik yang berlangsung sedemikian cepat membuat masyarakat bingung, panik, dan merasa terancam, sehingga orang-orang awam mengalami “intellectual dislocation” atau ketidakmampuan untuk memahami apa yang tengah terjadi dan siapa aktor-aktor di belakangnya.

Ditengah kebingungan ini, teori konspirasi hadir untuk menjawab masalah sosial dan kehidupan yang tidak mudah dipahami. Teori konspirasi adalah teori sederhana yang tidak memerlukan proses berpikir panjang untuk memahaminya. Masyarakat kita di Indonesia yang masih hidup dalam alam mistik dan tahayul, akan sangat mudah menerima mentah-mentah teori konspirasi tersebut, sehingga konspirasi (sebagaimana berita hoaks) bisa bertahan lama dan mempengaruhi masyarakat.

*******

Polemik simbol illuminati yang saat ini diperdebatkan oleh masyarakat luas, adalah tanda bahwa masyarakat kita masih terlampau mudah menelan informasi tanpa berpikiri kritis dan mengkonfirmasi kebenarannya. Masyarakat kita mudah percaya informasi yang sedang viral ketimbang informasi yang sudah faktual dan ilmiah.

Lalu, mengapa Ustad Rahmat Baequni yang berpendidikan bisa termakan teori konspirasi dan memanas-manasi masyarakat bahwa simbol segitiga adalah simbol iluminati? Tingginya intelektualitas seseorang tidak menjamin bahwa dia pasti berpikir dengan benar. Gelar akademik tidak menjamin orang akan selamat dari ‘logical fallacy atau kesesatan berpikir yang disebabkan dari konstruksi psikologisnya atau sisi emosional orang tersebut yang lebih dikedepankan daripada nalar kritisnya.

 

  • Tapi kan simbol segitiga tetap menyerupai illuminati dan konspirasi kafir, apa sebaiknya arsitektur masjid Al Safar tidak dirubah saja demi kemaslahatan agar tidak mirip simbol tersebut?

Sekali lagi, simbol segitiga bukan pasti merujuk pada simbol illuminati. Jika netizen yang maha cerewet itu menambah wawasan mereka, simbol segitiga plus mata adalah simbol yang biasa digunakan oleh umat Katolik sebagai simbol tritunggal Allah, yang Maha Tahu dan Maha Melihat hamba-Nya, bukan lambang Dajjal!

Dalam tradisi Islam di madzhab Syiah, terdapat lambang tangan dan mata Fatimah yang merupakan simbol keluarga Rasulallah (Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein). Dengan demikian, tidak benar bahwa simbol mata dan segitiga adalah lambang Dajjal, sebab dalam hadits nabawi yang sahih, simbol DaJJal itu adalah hurufك ف ر     (Kafir), bukan simbol mata atau segitiga.

 

Symbols The Eyes of Providence Katolik yang menggambarkan tentang Allah,

bukan Dajjal (anti-Kristus)

 

  • Nah, walaupun itu bukan simbol Illuminati, itukan simbol Kristen, ga boleh simbol Kristen ditaruh di masjid...

Yang jadi persoalan adalah imajinasi mereka terlampau tinggi, sehingga logika mereka melompat-lompat. Mereka menganggap setiap simbol segitiga adalah simbol kaum kafir. Padahal simbol segitiga adalah salah satu lambang geometri (matematika) yang netral dan tidak mengarah pada kelompok manapun.

Jikalau simbol segitiga adalah identik dengan simbol Katolik atau illuminasi, bagaimana kubah Masjid Agung Demak yang berbentuk segitiga? Apakah para Walisongo yang membangun Masjid Demak adalah anggota Freemason?

Masjid Agung Demak

Tanpa mereka ketahui, arsitektur masjid juga banyak terpengaruh oleh bentuk-bentuk “kafir”. Contohnya kubah masjid yang diadopsi dari arsitektur kubah Gereja Romawi Timur. Begitu juga dengan menara masjid yang diambil dari Manaro, suatu bangunan tinggi tempat dinyalakannya api suci dalam tradisi Zoroaster .

Jadi, dalam hal arsitektur, tidak ada yang benar-benar orisinal dalam Islam. Masjid pertama Islam, Masjid Kuba, bentuknya hanya rumah biasa beralas tanah dan beratap daun kurma kering. Jadi masjid-masjid moderen yang dibangun megah pada dasarnya tidak meniru “Sunnah Nabi”.

 

Teori konspirasi berdiri diatas prasangka dan paranoia. Orang-orang yang merasa dunia ini tidak adil pada mereka, menciptakan teori konspirasi untuk menyalahkan orang-orang yang dianggap bertanggung jawab atas kemelaratan hidup mereka. Teori konspirasi dibangun dengan fondasi cocokologi dan logika yang melompat-lompat. Dalam artian, setiap fakta atau fenomena yang terjadi selalu dicurigai dan dihubungkan dengan teori konspirasi

Ketika saya sudah meninggalkan bangku SMA, wawasan dan pola pandang saya mulai membuka kesadaran bahwa dunia begitu kompleks, tidak sesederhana apa yang digambarkan oleh teori konspirasi. Kata Hegel, dunia ini berdialektika, masyarakat dalam sejarahnya selalu saling berpolemik, berkonfrontasi, atau  bersatu. Tidak ada agen tunggal atau sang dalang dalam dunia ini. Kita bagaikan satu anak rantai yang membentuk sebuah rantai raksasa yang menggerakkan dunia.

Kompleksitas dunia moderen lahir secara spontan, tidak dirancang oleh elit global atau sang Freemason. Kita saling mewarnai dan mempengaruhi. Yang elit bisa jadi gembel, yang lemah dapat menjadi kuat, dan yang adidaya bisa runtuh. Dunia berjalan dinamis karena peran kita semua. Tidak ada konspirasi. Teori konspirasi hanyalah halusinasi.

Individualisme. Sebuah kata yang memiliki kesan cukup negatif bagi banyak kalangan di Indonesia. Ia kerap diasosiasikan dengan sikap ketidakpedulian terhadap sesama. Seorang yang mendaku sebagai individualis, dianggap sebagai seorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak memiliki kepekaan sosial dengan lingkungan yang berada di sekitarnya.

Seorang individualis tak jarang digambarkan sebagai pribadi yang hanya ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain. Ia hanya akan peduli pada suatu hal atau permasalahan apabila masalah tersebut berpotensi memiliki dampak buruk terhadap dirinya. Oleh karena itu, tidak bisa dihindarkan bahwa individualisme (individualism) kerap disamakan dengan sikap egois (selfish).

Pada akhirnya, tidak heran berbagai gagasan politik yang menjadikan kemerdekaan individu sebagai salah satu pilarnya, seperti liberalisme klasik atau libertarianisme, mendapatkan banyak pertentangan. Investor Nick Hanauer & mantan penulis pidato untuk Presiden Bill Clinton, Eric Lau, misalnya, dalam kolom opininya yang dipublikasikan oleh Evonomics, menuduh libertarianisme sebagai gagasan yang menyatakan bahwa manusia merupakan spesies yang secara alamiah egois, dan mengabaikan fakta bahwa manusia bisa melakukan kooperasi dan kerja sama terhadap sesamanya (sumber: http://evonomics.com/why-libertarians-are-the-new-communists/ )

Dalam memeluk agama, orang-orang dituntut pada kesetiaan dan keikhlasan mereka dalam beragama. Ketika manusia telah mengikrarkan diri mereka untuk taat setia pada agama, maka  ia telah menyambung tali spiritual dengan Tuhan. Dengan demikian, ketaatan dan ketundukan sangat ditekankan bagi setiap pemeluk agama.

Berbeda ketika sedang manusia menghadapi soal kehidupan, seperti ekonomi, hukum, atau sains yang mendorong kita untuk bersikap kritis dan rasional, namun dalam masalah keimanan,  kita diposisikan bersikap taken for granted harus mempercayai dan mengikuti suatu ajaran ilahi tanpa reserve (syarat).

Alasan sederhana mengapa dalam beragama seseorang harus taat pada dogma, disebabkan agama merupakan kumpulan ajaran, petunjuk, firman-firman Tuhan yang Maha Esa. Tuhan membimbing manusia melalui agama  agar manusia selamat  karena manusia ingin selalu selamat dan dekat dengan Tuhan yang Maha Pengasih, maka konsekuensinya, setiap ajaran dan firman Tuhan harus diikuti secara bulat.

Dalam ilmu teologi, Ibn Sina dan Agustinus menggambarkan Tuhan sebagai zat sakral yang transenden dan sempurna, karena itulah ajarannya pasti mengajak pada kebaikan dan kesempurnaan rohani manusia. Namun, karena Tuhan adalah yang Maha Transenden (gaib), Tuhan tidak secara langsung berbicara pada manusia, ajaran-ajaran agama itu disampaikan kepada manusia yang diyakini untuk mengikuti jalan Tuhan dan meneliti Tuhan melalui kitab suci, mereka inilah para agamawan atau ulama.

Kekerasan dan teror atas nama agama telah memenuhi catatan kelam awal abad 21. Munculnya kelompok Al-Qaeda, Taliban dan ISIS  yang membawa unsur agama kedalam politik kekerasan mereka membuat masyarakat dunia ketakutan dan menyalahkan agama Islam sebagai biang terorisme.

Perkembangan paham radikal dalam agama Islam memang tidak dipungkiri, belakangan ini Lembaga Wahid Institute, sebuah lembaga yang dibentuk untuk mengembangkan Islam moderat, telah melakukan survei 1.520 responden dengan metode multi stage random sampling. Hasil akhir dari survei tersebut dapat disimpulkan sebanyak 0,4 persen penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen mau bertindak radikal kalau memungkinkan. Dengan kata lain, ada 11 juta orang yang berpotensi untuk bertindak radikal.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170814172156-20-234701/survei-wahid-institute-11-juta-orang-mau-bertindak-radikal

Hasil survei ini tentu sangat mengkhawatirkan sekaligus membuat stigma negatif terhadap orang-orang Islam. Banyak penganut Muslim di negara-negara yang mayoritas nonmuslim merasa kesulitan dan mendapat diskriminasi, contohnya adalah Myanmar. Meskipun tindakan diskriminasi terhadap kaum Muslim merupakan tindakan yang disesalkan, sebab korban dari aksi terorisme bermotif agama sebagian besar juga penganut Islam.

 

Pada bulan Maret 2017 lalu, Presiden Joko Widodo sempat meminta masyarakat untuk memisahkan persoalan politik dan agama. Pernyataan tersebut mengundang banyak kontroversi. Apalagi saat itu bertepatan dengan selesainya pilkada yang sempat timbul gejolak perbedaan.

Segmentasi antara agama dan politik itu perlu. Pencampuran kedua persoalan tersebut rentan akan pergesekan antarumat yang dapat berujung konflik horizontal. Selain itu, garis batas agama dan politik pun semakin tidak jelas. Kasus-kasus simposium dalam negara dapat turut mengalami miskonsepsi hanya karena permasalahan tersebut.

Alasan sebagian masyarakat yang menganggap agama termasuk bagian dalam berpolitik juga beragam. Namun, faktor paling kuatnya adalah agama dianggap sebagai patokan moral dan etika dalam eksistensi manusia.

Terkadang, moral seseorang objektif dinilai berdasarkan agama yang dianut. Sama kasusnya dengan fenomena laju zeitgeist moral. Banyak orang percaya bahwa laju pergerakan moral ditentukan oleh ras, agama, suku, dan adat. Padahal, itu belum sepenuhnya benar.

Perubahan-perubahan iklim moral tersinyalir dalam editorial-editorial dalam sejumlah media, orasi politik, bahkan dalam pepesan kosong pelawak dan skrip-skrip opera sabun. Itu dapat membuat hukum dan keputusan-keputusannya merekonsiliasi dan menafsirkan ulang substansi mereka.

 

”Uni Soviet adalah sebuah negeri yang menarik untuk disimak. Dalam segala hal, banyak keanehan di sini yang sebelumnya tidak pernah kita saksikan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi. Keanehan-keanehan yang kami jumpai mungkin ciri dari masyarakat sosialis”

(Tjipta Lesmana dalam buku Kapitalisme Soviet?)

 

Apa yang ada di pikiran kita tentang Uni Soviet? Komunis? Kolkhozi (Pertanian Kolektif)? Tentara Merah? Adi kuasa? Uni Soviet sangat identik dengan istilah diatas, namun lebih dari itu, Uni Soviet adalah negara adidaya yang menyimpan sisi menarik, romantik, mimpi, dan penuh misteri.

Banyak orang yang tertarik dan penasaran terhadap negara sosialis terbesar yang pernah hidup dimuka bumi dan menancapkan pengaruhnya ke berbagai negara. Ya, negara yang pernah eksis ini dalam tempo waktu 30 tahun dapat menyulap tanah Rusia yang terbelakang dan miskin menjadi negara maju.. Walau hanya sementara.

“Yang dinanti-nanti datanglah: Satu Mei! Hari manakah yang lebih besar daripada hari ini”

-Njoto, Wakil Ketua II CC PKI

Bulan Mei mungkin terasa biasa saja bagi sebagian orang, namun bagi kaum buruh, bulan Mei adalah bulan yang sakral dan agung. Bulan Mei bisa dikatakan sebagai momen solidaritas buruh sedunia (tanpa melihat sekat suku atau negara). Panji merah yang menjadi simbol mereka berkibar menghiasi langit-langit pada bulan Mei, dengan tuntutan yang selalu diulang-ulang tiap tahunnya.

Jika kita menelusuri sejarah pergerakan kaum buruh, pergerakan kaum buruh tidak lepas dari perkembangan Revolusi Industri yang berlangsung di Eropa pada tahun 1750-1850. Pada masa itu, perkembangan industri yang ditopang oleh kemajuan tekhnologi telah menciptakan kelompok pekerja yang kemudian meminpin suatu kelas, kelas buruh.

Berkat pesatnya indutrialisasi di Eropa, barang-barang menjadi melimpah, murah dan efisien. Industri juga membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk mengoperasikan mesin-mesinnya. Karena itu, dimasa Revolusi Industri terjadi urbanisasi yang cukup besar, dimana orang-orang desa beradu nasib di kota mencari pekerjaan demi hidup yang layak.

Jum’at 12 April 2019 kira-kira lebih dari sebulan lalu, kami mengadakan kegiatan rutin baru ditahun ini, yaitu Obrolan Kebebasan (Orkes), menghadirkan pembicara tamu Direktur Indikator Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Ph.D sebagai alumnus dari Australian National University (ANU) . Pada Orkes seri ketiga bertindak sebagai moderator Djohan Rady dari Suarakebebasan.

Topik yang kami angkat dalam diskusi kali ini bertajuk “Buying Votes in Indonesia: Partisans, Personal Network and Winning Margins” tidak lain dari disertasi pembicara yang telah dipertahankannya dalam ujian di ANU. Secara sederhana, kami mengenalkannya melalui mengenal suap elektoral: korupsi dalam pemilihan umum. Korupsi dalam pengertian menggunakan uang publik guna memenangkan pemilihan, kasus operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bowo Sidik Pangarso menjadi contoh kongkritnya.