Terbaru

Saya beruntung mendapat kesempatan mewakili Suara Kebebasan dalam pertemuan Strategik lembaga pemikir (think tank) se-Asia di Kuala Lumpur, Malaysia seminggu yang lalu (11-12 September). Acara ini didukung oleh yayasan politik dari Jerman, Friedrich Naumann Foundation for Freedom dengan tuan rumah IDEAS Malaysia. Secara rutin setiap tahun, sejak tahun 1998 sampai tahun lalu, konferensi think tank berorientasi kepada pasar bebas (free market) dan ekonomi pasar selalu diadakan.

Konferensi yang acara utamanya ialah peluncuran dan diseminasi Laporan Indeks Kebebasan Ekonomi (Economic Freedom of the World) dari Fraser Institute Kanada, dengan beragama sesi diskusi di dalamnya. Dengan tema yang berbeda-beda pula setiap tahunnya. Perihal indeks kebebasan ekonomi, apa dan mengapa perlu suatu indeks, Sindikasi Arianto Patunru “Kebebasan, Persaingan, dan Indeks Kebebasan Ekonomi” dapat dibaca.

Tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia, saya sampai di Incheon International Airtport, Seoul bersama delegasi-delegasi lainnya dari Universitas Indonesia untuk mengikuti Asian World Trade Organization Moot Court Competition & Trade Forum yang dilaksanakan pada tanggal 18 – 19 Agustus 2017 di Seoul National University. Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama Seoul National University dengan WTO Dispute Settlement Body untuk mendorong perdagangan bebas di Asia dikarenakan meningkatnya protectionism di banyak negara di dunia saat ini.

Sejak 2016, hanya beberapa bulan setelah menjabat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muhajir Effendy mengeluarkan gagasan tentang pendidikan dasar dan menengah, yaitu penerapan sekolah 8 jam sehari atau yang popular disebut “Full Day School (FDS).” Gagasan ini tidak hanya kontroversial, namun juga banyak menuai respon negatif termasuk dari beberapa organisasi kemasyarakatan.

Nahdlatul Ulama (NU) misalnya menolak gagasan ini karena berpotensi mematikan Madrasah Diniyah yang banyak dikelola oleh lembaga di bawah NU, yang dilakukan pada siang hari setelah sekolah formal. Alasan lain yang cukup serius misalnya adalah adanya kekhawatiran bahwa sekolah justru menjadi ajang indoktrinasi siswa ke arah radikalisme. Organisasi seperti Setara Institute mengkonfirmasi bahwa salah satu tempat berkembangnya pahak radikalisme dan intoleransi adalah sekolah umum. Pertumbuhannya, menurut salah satu kajian mencapai hingga 6,8%.

Dalam interaksi pasar, untuk mendapatkan keuntungan kita mesti terlibat dalam kegiatan yang dirancang untuk melayani orang lain dan memahami kebutuhan mereka. 

Apa konsekuensinya? Perdagangan membuat kita memahami orang-orang di lingkungan kita, atau bahkan orang yang tidak kita kenal. Dan lebih penting lagi, hal itu juga membuat kita sadar bahwa orang lain sangat mirip dengan kita, bahkan jika mereka berbicara dalam bahasa asing atau memiliki kebiasaan atau tradisi yang berbeda. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk saling memahami dan menghindari konflik dalam berinteraksi di pasar yang bebas.

Tapi para pengkritik pasar bebas selalu memiliki perasaan tidak suka ketika melihat orang-orang mampu hidup damai lewat interaksi pasar. Mereka gelisah menyaksikan bagaimana kompetisi antara individu melemahkan solidaritas kolektif, dan berusaha mengupayakan kembalinya ide komunitarian dan nasionalisme yang telah redup. "Kapan kalian pernah melakukan kebaikan atas dasar kemanusiaan yang murni?", tanya Marx.

11 Agustus lalu, kota Charlottesville di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, mengalami peristiwa yang tidak biasa. Hari itu, ratusan orang kulit putih melakukan pawai dengan membawa obor dan bermacam-macam bendera, diantaranya adalah bendera Nazi Jerman dan bendera Konfederasi, sembari meneriakkan slogan-slogan rasis dan anti semit.

Pawai yang diorganisir oleh berbagai kelompok rasis dan supersai kulit putih tersebut, diantaranya adalah Ku Klux Klan (KKK), Gerakan Nazi Amerika Serikat, dan gerakan Alt-Right, memiliki tujuan untuk memprotes keputusan dewan kota untuk menurunkan patung Robert Lee yang berdiri di Emancipation Park di kota Charlottesville.

Selama ini, wacana tentang penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta memang hanya fokus terhadap inovasi untuk membuat proses melaju (commuting) menjadi lebih efisien, seperti membangun MRT. Fokus ini berdasarkan pada pemahaman bahwa kemacetan adalah terutama sebuah problem transportasi. Sepintas, tak ada yang problematis dari pemahaman ini.

Akan tetapi, kalau kita gali lebih lanjut dan ungkap asumsi tersembunyi yang mendasari pemahaman tersebut, kita akan menyadari bahwa sebenarnya apa yang dianggap permasalahan sebenarnya cuma gejala dari permasalahan yang asli.

Asumsi tersebut kira-kira berbunyi seperti ini: Bahwa para pekerja tinggal jauh dari kantornya adalah hal yang wajar. Asumsi ini, sebagaimana akan ditunjukkan nanti, keliru.

Konsekuensi logis dari memahami kekeliruan asumsi tersebut adalah klaim bahwa terpisah jauhnya pekerja dengan kantor adalah hal yang wajar menjadi runtuh. Runtuhnya klaim ini memberi ruang untuk munculnya sebuah klaim alternatif: Pekerja semestinya bisa tinggal di dekat kantornya.

Kebebasan berbicara merupakan salah satu hak paling fundamental yang harus dijunjung tinggi dalam masyarakat bebas. Tanpa adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat dan bertukar gagasan, hampir mustahil kemajuan dan masyarakat demokratis dapat berkembang. Bila kebebasan untuk berpikir dan memiliki pandangan berbeda dihilangkan, dapat dipastikan masyarakat hanya akan menjadi korban indoktrinasi oleh mereka yang berkuasa, yang tentunya akan menghambat kemajuan serta menaburkan benih-benih despotisme dan totalitarianisme.

Sejarah sudah membuktikan bahwasanya setiap kemajuan dalam masyarakat selalu diawali dengan tokoh-tokoh besar yang berupaya menentang asumsi, pandangan, keyakinan, serta norma-norma sosial yang berlaku pada zaman mereka, yang tak jarang berakhir dengan tragis. Tengoklah apa yang dialami oleh Galileo yang harus mengalami pemenjaraan oleh Gereja Katolik hanya karena menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya.

Pada tanggal 10 hingga 13 Agustus 2017, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lokakarya dengan tema ekonomi pasar dan peran pemerintah. Acara tersebut diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) Indonesia dan diikuti oleh dua puluh dua mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa.

Acara yang diselenggarakan di Hotel Golden Tulip Essential Tangerang ini memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan bagi para pesertanya. Format baru dari acara ini memberi kesan luar biasa. Ini terlihat pada sesi evaluasi acara, yang mana peserta memberikan penilaian tingkat kepuasan yang hampir sempurna atas kegiatan ini.