Terbaru

Coba tanya ke orang-orang di sekitar kamu: apa lawan kata dari “fragile” (“rapuh” atau “rentan”). Kebanyakan orang akan menjawab “robust” (“kokoh”). Secara logika, jawaban ini salah.

Jika kita mendefinisikan hal-hal yang fragile sebagai sesuatu yang akan rusak, dan bahkan hancur, ketika mendapatkan guncangan atau tekanan, maka lawan kata atau kebalikan dari fragile bukanlah sekedar kokoh. Benda yang kokoh hanya sekedar “kuat” menerima guncangan atau tekanan. Lawan kata dari fragile haruslah sesuatu yang bukan sekedar “kuat”, tetapi “tumbuh” dan “berkembang” ketika mendapatkan guncangan atau tekanan. Benda-benda yang fragile membenci tekanan, ketidakpastian, dan instabilitas, sedangkan benda-benda yang berkebalikan dari fragile menyukai itu semua.

Dalam sejarah filsafat politik di China, ada dua tokoh terkenal yang pendapatnya tetap di ikuti sampai sekarang, yaitu Han Fei Zi dan Lao Tse. Han Fei Zi adalah tokoh dari mazhab Legalis. Menurut pendapatnya, manusia pada dasarnya adalah jahat dan hanya mencari keuntungan, sehingga untuk mengendalikan sifat jahat manusia tersebut harus ada hukum yang mengikat dan memaksa.

Pada puncak peringatan Hari Anti Korupsi 10 Desember 2015 lalu, Menko Polhukam Luhut B. Panjaitan telah membacakan pidato tertulis presiden Joko Widodo di gedung Sabuga, Bandung. Pidato tersebut berisi seruan untuk memerangi dan mengajak semua elemen masyarakat untuk melakukan tindakan preventif terhadap korupsi yang merajalela di negeri ini.

Hampir 20 tahun paska gerakan reformasi yang menggulingkan rezim diktator Orde Baru agar ditegakkannya demokrasi dan kebebasan secara murni, keluhan-keluhan masyarakat pada pada buruknya moral pemimpin, kenakalan remaja, tingginya tingkat kriminalitas dan pergaulan bebas di era reformasi ini malah membuat kelompok-kelompok anti demokrasi menjadikan sistem demokrasi dan ideologi liberalisme sebagai kambing hitam.

Pada tanggal 17 hingga 23 Juni 2017 kemarin, saya mendapat kesempatan besar untuk mengikuti seminar musim panas mahasiswa (summer seminar) yang diselenggarakan oleh organisasi libertarian Institute for Humane Studies (IHS) di kampus Bryn Mawr, Pennsylvania, Amerika Serikat. Saya sungguh beruntung karena mendapatkan nominasi dari salah satu IHS untuk mengikuti acara ini.

Sulit rasanya dunia modern berkembang pesat tanpa teknologi komputer, digital dan internet. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Alan Turing atas teknologi dan dunia digital yang kita nikmati saat ini.

Banyak orang yang alergi dengan prinsip moral yang mengedepankan individu – atau yang sering disebut sebagai individualisme. Mereka mengasosiasikan paham ini secara fundamental bertentangan dengan watak asli manusia: manusia sebagai makhluk sosial.

“Aku tidak suka dengan Tuhan yang tidak pernah berubah.”  –

Afrizal Malna dalam Biografi Yanti 12 Menit 

Saat yang disebut sebagai kaum intelektual, dengan alasan argumentatif mereka sendiri, tidak berteriak mengikuti suara “rakyat” atau yang juga sering disebut “kaum tertindas,” mereka dituduh tidak memiliki keberpihakan kepada kelompok kelas bawah. Tapi jikapun mereka ikut berteriak menyerukan penindasan itu, kaum intelektual ini akan tetap dipojokkan dengan ungkapan tak memiliki basis massa dan/atau, lewat tragedi analisa Marxis, dianggap hanya menyuarakan kepentingan kelasnya sendiri. Kenapa? Karena mereka kaum intelektual non-Marxis.