Mencegah Penerus Radikal Ekstrem

Sindikasi    | 12 Jul 2018 | Read 178 times
Mencegah Penerus Radikal Ekstrem

Akhir-akhir ini kita seperti diingatkan kembali bahaya terorisme dan radikalisme ekstrem. Beberapa waktu lalu, Badan Intelijen Negara (BIN) menjelaskan bahwa mahasiswa di kampus dan pelajar SMA menjadi sasaran empuk jaringan teroris dan paham radikal ekstrem.

 Merujuk data BIN, ada tiga perguruan tinggi yang sedang dalam pengawasan ketat terkait gerakan radikal. Tidak lama setelah pernyataan tersebut, kita disuguhi drama penyanderaan yang dilakukan napi teroris di Markas Komando Brigade Mobil di Kelapa Dua – Depok Jawa Barat. Aksi kekerasan ini mengakibatkan lima orang polisi meninggal dunia. Kedua peristiwa tersebut menjadi tanda bahwa radikalisme ekstrem dan terorisme belum redup dan terus menebar ancaman.

Yang pasti, kita tidak bisa menganggap peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang remeh dan biasa saja. Ini jelas sebuah ancaman nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pernyataan BIN bahwa sasaran gerakan radikal ekstrem dan jaringan teroris mengarah pada anak muda yakni mahasiswa dan pelajar SMA tentu membutuhkan perhatian bersama.

Jika mereka terpapar virus radikalisme ekstrem dan memiliki benih-benih kebencian kepada alat dan simbol negara, maka masa depan NKRI jelas dalam bahaya. Sebagai agen pendidikan yang seharusnya berperan mencerahkan masyarakat, mereka justru berpotensi menjadi perusak tatanan bangsa dan negara.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah potret generasi radikal dan teroris di masa mendatang akan datang dari kaum terdidik yang mendapat akses pendidikan tinggi dan kemampuan finansial yang memadai. Jika selama ini banyak pihak meyakini bahwa salah satu masalah kemunculan gerakan teroris selain faktor agama adalah persoalan ekonomi dan atau kemiskinan, maka bisa jadi tesis itu perlahan mulai runtuh ketika aktor teroris justru datang dari kelompok mahasiswa.

Kita tentu ingat kasus Bahrun Naim yang berasal dari salah satu kampus ternama di Indonesia. Kasus lain adalah rencana pemboman Istana Negara yang dikenal dengan kasus bom panci yang melibatkan mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri.

Terbentuknya sel antara kaum muda terdidik di perguruan tinggi jelas akan membawa dampak terutama ketika mereka kembali ke kampung halaman. Menjadi lebih runyam ketika mereka diterima kerja dan menebarkan virus radikalisme di tempat kerjanya tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana kita menghadapi masifnya gerakan teroris dan radikal yang terus menjadikan anak muda muslim sebagai target terutama yang ada di lingkungan perguruan tinggi maupun sekolah? Kita tentu tidak bisa berdiam diri melihat hal yang demikian.

Sudah banyak pihak mengingatkan pentingnya langkah konkrit untuk mencegah berlanjutnya generasi teroris dan radikal tersebut. Minimal, kita perlu membangun benteng yang kokoh agar lingkungan kita tidak terpapar paham radikal ekstrem dan terorisme.

Santun dan Toleran

Ketika saya membuat status terkait kasus penyanderaan di Mako Brimob, muncul pertanyaan dari salah seorang teman, lalu, apa yang perlu kita lakukan? Saya mengajukan dua jawaban. Pertama, karena anak muda terus menjadi sasaran gerakan radikal, maka diperlukan program nyata yang menyasar ke anak muda tersebut, terutama kalangan mahasiswa dan pelajar SMA. Kita tidak bisa terus hanya mengecam di dunia online tetapi harus bergerak ke dunia offline. Peluncuran program Literasi Islam Santun dan Toleran yang beberapa waktu dilakukan di kampus IAIN Surakarta adalah salah satu aksi nyata tersebut.

Program literasi semacam ini diperlukan karena anak muda biasanya mudah labil dan gampang dipengaruhi untuk berbuat sesuatu. Jika mereka tidak mendapat pengaruh yang positif, maka energi anak muda yang melimpah tentu akan disalurkan untuk berbuat negatif. Dengan begitu, mereka perlu mendapat sentuhan dan pengetahun tentang ajaran-ajaran agama yang santun dan toleran sehingga daya kekuatan mereka bisa dipakai untuk melawan gerakan radikal ekstrem dan teroris yang seringkali diawali dengan menebarkan ujaran-ujaran kebencian.

Sebagai wilayah yang pernah dipetakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme –BNPT pada tahun 2017 sebagai basis gerakan radikal ekstrem, maka anak muda di Solo raya perlu mendapat perhatian khusus. Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi sebagai salah satu tempat yang ditengarai menjadi tempat bersemainya benih-benih gerakan radikal ekstrem harus bergerak cepat membentengi mahasiswanya dari virus radikalisme ekstrem dan terorisme.

Kampus dan Sekolah

Kedua, karena anak muda adalah calon pemimpin bangsa dan wajah masa depan kita, maka perlu menyusun langkah taktis agar anak muda tersebut memiliki seperangkat pengetahuan dan kemampuan memadai untuk menjadi calon pemimpin yang santun dan toleran.

Berbagai pihak tentu bisa mengambil peran sesuai porsinya masing-masing. Perguruan tinggi maupun sekolah wajib memiliki visi kebangsaan dan jika dalam lingkup perguruan tinggi Islam harus menebalkan visi Islam moderat.

Hal ini harus tercermin dari sikap para pengajarnya dan materi-materi kuliah atau pelajaran yang disampaikan kepada mahasiswa atau pelajar. Kampus dan sekolah juga sebaiknya lebih sering mendorong mahasiswa dan pelajar untuk terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.

Kaum muda generasi milenial dipengaruhi oleh teknologi digital dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk dunia media sosial, maka memperbanyak pertemuan dengan masyarakat diharapkan bisa mendorong anak muda tersebut mengenali lingkungan mereka.

Momentum penerimaan mahasiswa baru di kampus maupun pelajar baru di sekolah dalam beberapa bulan mendatang wajib menjadi tahapan awal untuk menjadikan mereka sebagai kader bangsa yang santun dan toleran.

Kampus dan sekolahan harus menjadikan mereka sebagai benih yang ditanam keluarga anak muda tersebut dan harus memupuknya dengan materi-materi kebangsaan dan keberagamaan yang santun dan toleran.

Jika tidak, maka gerakan radikal ekstrem dan terorisme akan selalu mengintai dan menunggu saat yang tepat untuk menanamkan paham ajaran radikal ekstrem. Kita tentu tidak mau hal tersebut terjadi. Saatnya bagi kita secara bersama-sama mencegah berlanjutnya generasi radikal ekstrem.[]

Artikel pertama kali terbit di Solo Pos, 12 Mei 2018

 

 

 

M. Zainal Anwar

M. Zainal Anwar adalah research associate Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta dan staf pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta. Memiliki minat kajian pada pembaruan desa, demokrasi dan politik lokal serta reformasi kebijakan publik. Email: [email protected]