Anwar Ibrahim dari Penjara Ke Perdana Menteri ?

Sindikasi    | 18 Mei 2018 | Read 306 times
Anwar Ibrahim dari Penjara Ke Perdana Menteri ?

Pada tahun 2005 salah satu tokoh politik terkemuka Malaysia Anwar Ibrahim berkunjung ke Cato Institute. Pada foto di sebelah kanan ini, saya menyerahkan kepada beliau satu eksemplar buku saya yang berjudul Libertarianisme: Suatu Premier (Libertarianism: A Primer), yang Ia bilang sudah baca - ketika ia di dalam tahanan. Sebagai penulis saya terkejut! Setelah menjadi pemimpin dari partai oposisi Partai Keadilan Rakyat (PKR), kembali lagi ia dipenjarakan akibat tuduhan palsu pada tahun 2015. Tapi berkat hasil pemilu baru-baru ini, tampaknya ia bukan hanya akan dilepaskan, tetapi juga akan diangkat sebagai perdana menteri.

Sungguh cerita yang tidak mudah dicerna. Dulunya Anwar merupakan seorang pemimpin muda yang sedang naik daun di UMNO, partai yang sudah memerintah Malaysia selama enam dekade sejak merdeka. Ia ditunjuk sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Perdana Menteri oleh Mahathir Muhamad, yang dikenal membela mati-matian “nilai-nilai ketimuran” dari ide-ide demokrasi dan hak asasi manusia a la Barat. Tetapi Anwar bersitegang dengan Mahathir tentang kebijakan terhadap krisis moneter Asia tahun 1998 dan atas tuduhan korupsi. Pada tahun 1998 pula Anwar dilepaskan dari jabatannya dan dijebloskan ke tahanan yang proses pengadilannya disorot seluruh dunia. Organisasi Amnesty International menyatakan bahwa proses pengadilannya “membeberkan pola manipulasi politik oleh lembaga negara, di antaranya Kepolisian, Jaksa Penuntut, dan Kehakiman”. Ia dilepaskan pada tahun 2004 namun dilarang ikut serta dalam dunia perpolitikan hingga lima tahun berikutnya. Setelah ia kembali ke politik bersama pihak oposisi, ia kembali lagi membuat murka partai pemerintah dan kembali lagi ke dalam tahanan.

Di dalam masa-masa sulit ini ia dicap oleh media negara sebagai homoseksual serta bersimpati terhadap Israel dan Amerika Serikat. Tuduhan ini biasanya dipakai oleh pemerintah otoriter untuk membungkam kritik mereka. Namun demikian patut dicatat bahwa Anwar sendiri bukanlah orang suci, dan tuduhan sebagai pro-Israel pernah ia coba lempar balik terhadap pihak pemerintah.

Sementara itu, Mahathir pensiun dari kursi Perdana Menteri pada tahun 2003 sebagai pemimpin terlama di dunia yang terpilih lewat pemilu. Ia kemudian mengkritik tajam kedua penerusnya di UMNO, Abdullah Ahmad Badawi dan kemudian Najib Razak. Pada tahun ini di usianya yang ke-92 tahun ia menjadi calon perdana menteri dari pihak oposisi. Anwar mendukungnya dari dalam penjara. Minggu ini Mahathir membawa partai barunya menuju kemenangan dan baru saja dilantik sebagai perdana menteri. Ia berjanji akan melepaskan Anwar dari penjara dan melantiknya sebagai perdana menteri dalam dua tahun ke depan. Pengamat yakin Anwar akan membawa agenda reformasi ke dalam pemerintahan di mana kleptokrasi dan korupsi akan dibasmi dan adanya ekonomi “untuk semua, beraturan, dan bersaing yang didukung jaminan sosial besar dan berkesinambungan”, seperti layaknya Singapura. Menurut Indeks Kebebasan Manusia (Human Freedom Index), Malaysia masih harus memperbaiki peringkatnya di seluruh kategorisasi indeks.

Tahun lalu saya mengeluh karena Presiden Donald Trump menyambut Najib Razak - orang yang menjebloskan Anwar ke penjara - ke Gedung Putih. Tapi sekarang seperti yang kita tahu Anwar bergabung dengan Mahathir - orang yang memenjarakannya pertama kali. Sungguh sebuah perjalanan yang aneh. Tapi semoga perjalanan ini tidak akan berakhir.

Artikel asli dari Cato Liberty: https://www.cato.org/blog/will-anwar-ibrahim-finally-make-it-prison-prime-minister. Kami berterima kasih kepada penulis, David Boaz yang telah mengizinkan untuk sindikasi tulisan ini.

David Boaz

David Boaz menjabat Wakil Presiden Eksekutif Cato Institute serta berperan kunci dalam perkembangan Cato Institute juga gerakan libertarian. Ia penulis buku The Libertarian Mind: A Manifesto for Freedom dan menjadi editor The Libertarian Reader.