Hadiah Nobel untuk Richard Thaler

Sindikasi    | 17 Jan 2018 | Read 403 times
Hadiah Nobel untuk Richard Thaler

Richard Thaler memenangkan hadiah Nobel atas jasanya memulai momentum penelitian perilaku manusia dalam ilmu ekonomi.

Pandangan saya tentang Hadiah Nobel hampir mirip dengan cara pandang majalah Time dalam memilih “Tokoh Tahun Ini.” Penghargaan ini diberikan kepada ekonom yang entah “ke arah lebih baik atau buruk… adalah yang paling mempengaruhi” arah pemikiran ilmu ekonomi - paling tidak dalam derajat tertentu. Juga, sebagaimana majalah Time, dilaksanakan dalam batasan bahwa harus diberikan setiap tahun. 

Memenangkan hadiah Nobel juga agak mirip mendekati kematian. Orang Romawi dulu dengan benar memperingatkan kita untuk tidak berbicara buruk tentang mereka yang sudah wafat. Kita, yang masih hidup, tidak ingin hidup kita untuk dikutuki atau direndahkan oleh orang lain setelah kita meninggal.

Kita menginginkan sedikit pengertian dan kelonggaran akan kelemahan kita dan juga pengakuan ketika kita melakukan kebaikan. Demikian juga dalam ranah menilai pemenang Hadiah Nobel dan kontribusi mereka. Dan juga kita harus menghindari bias dari berasumsi bahwa semua perkembangan intelektual yang memikat imajinasi para ekonom cemerlang muda adalah yang terbaik.

Memulai dengan hal positif: ekonom neoklasik sejak dahulu telah menetapkan asumsi yang sempit dan ketat tentang apa yang dimaksud dengan “rasional.” Lebih khusus, agen ekonomi neoklasik dianggap selalu konsisten. Dia punya preferensi yang jelas akan hal yang akan dia lakukan. Dia tidak pernah menunjukan bias atas konsumsinya saat ini. Dan berbagai asumsi lain.

Tetapi dalam pembelaannya; dia tidak (sebagaimana yang beberapa kritikus terhadap ilmu ekonomi nyatakan) sekedar egois, pencari uang diatas segala-galanya. Dia mementingkan diri atau tidak mementingkan diri sebagaimana kita semua. Sesempit-sempitnya pengertian kata ini, “rasional” tidak berarti mementingkan diri.

Tetapi pengertian dari rasional dalam hal ini adalah bahwa dia agak berbeda dengan setiap orang yang pernah kit akenal. Dia tidak pernah khawatir tentang disutilitas marginal dari mengkhawatirkan tentang utilitas marginal.

Sekarang, tentang yang lebih buruknya. Yang salah adalah bukanlah bahwa apa yang dipikirkan oleh Thaler dan ekonom perilaku adalah salah. Manusia neoklasik tidaklah pernah dimaksudkan untuk dibayangkan sebagai pribadi sebenarnya. Dia adalah boneka - bangun teoritis yang dirancang untuk menghasilkan prediksi tentang perilaku pasar atau agregat.

Sebagaimana asumsi tidak relalistis dalam sains alam dia berfungsi sebagai alat analisis. Pasar bukanlah sekedar refleksi dari kemampuan pembuatan keputusan individu. Tetapi adalah saringan atau filter dimana persaingan dan batasan-batasan kelembagaan lainnya bisa merubah hasil akhir yang sering berbeda dari yang nitan dan kemampuan agen individu. Argumen saya bahwa hasilnya sering lebih baik; tetapi kadang kala tidak. Tetapi hampir semuanya selalu berbeda.

Meski demikian, penekanan terhadap batasan dari paradigma rasional standard yang dicetus oleh Thaler, adalah hal baru yang menyegarkan dan berguna. Akan tetapi ekonomi perilaku tetap-lah berakar pada konsepsi sempit dari rasionalitas sebagai standar evaluasi yang normatif dan preskriptif. Dan yang menghasilkan kritik terhadap berbagai kritik atas banyak hasil pasar dan menjadi dasar penyusunan resep (preskripsi) kebijakan.

Adalah justru karena orang-orang tidak-lah rasional secara sempit sehingga perilaku mereka harus diperbaiki. Perilaku mereka harus dipajaki, regulasi atau disenggol sedikit kearah perilaku rasional sempurna seperti manusia neoklasik. Sebagai contoh, dianggap bahwa orang menjadi kelebihan berat badan karena mereka gagal “memperhitungkan seluruhnya” efek negatif dari kebiasan makan tidak sehat.

Apa itu memperhitungkan seluruhnya? mereka harus memperhitungkan dan menilai dampak keputusan mereka memakan dengan tingkat nilai mnurun - tingkat dampak jangka panjang, yang sering digunakan oleh mereka yang super-rasional dan tenang dalam membuat rencana diet dan melaksanakannya dalam jangka waktu, ambil contoh, enam bulan atau satu tahun. Tetapi bagaimana seorang agen melihat sesuatu saat ini, pada detik ini, adalah salah. Dianggap terburu nafsu. Dianggap “bias kekinian.” Individu membutuhkan pertolongan, dan dalam praktek nyatanya, bantuan dimintakan dari pemerintah.

Selain implikasi kebijakan, ada sedikit ironi di sini. Ekonomi standar dilecehkan karena asumsi rasionalitasnya tetapi malah asumsi tersebut dianggap sebagai rasionalitas ideal untuk manusia nyata. Seakan-akan ada seorang manusia neoklasikal dalam diri kita tetapi dia secara terus menerus tenggelam oleh berbagai kejut perilaku. Kebijakan perilaku adalah tentang menjadi dirimu sebenarnya! Walaupun kamu menolaknya.

Ekonomi Perilaku didasari oleh karya Daniel Kahneman, penerima hadiah Nobel lainnya. Banyak temuannya dijabarkan dalam buku Thinking, Fast and Slow, telah mendapatkan status truisme (pasti benar). Orang-orang digerogoti oleh berbagai bias kesadaran yang menuntun mereka mengambil keputusan yang salah. Bidang ini telah menghasilkan lebih dari seratus lima puluh bias (lihat laman Wikipedia). 

Bias pada daftar tersebut telah menjadi kumpulan “alat” untuk dipakai membuat banyak kebijakan berdasarkan berbagai kasus. Untuk orang-orang yang menabung terlalu sedikit; makan terlalu banyak; meminjam terlalu banyak dari tengkulak; mereka yang terjebak hutang kartu kredit; yang tidak mendaftar pada program pensiun; mereka yang terlalu optimistik tentang kesempatan mereka menghadapi kejadian buruk (yang kemungkinan terjadinya mereka terlalu pesimistik); mereka yang merokok terlalu banyak karena mereka tidak menyadari “sepenuhnya” bahaya merokok bagi kesehatan’ mereka yang tidak bisa menghargai secara penuh pentingnya berhemat energi’ mereka yang tidak menyadari biaya “tersembunyi” dari berbagai hal yang berhubungan dengan produk keuangan, karena …. anda taruh sendiri alasannya.

Semua ini adalah kesempatan industri. Lebih banyak pekerja, lebih banyak artikel jurnal, dan lebih banyak penasihat kebijakan.

Dan sekarang, bahkan yang lebih buruk: Kebanyakan orang - dan saya bisa tambahkan sebagian besar ekonom - tidak mengetahui bahwa ada banyak literatur dalam psikologi yang meragukan banyak bias-bias ini. Yang paling penting dari ini adalah penelitian yang dilakukan Gerd Gigenzer dan ABC Research Group di Max Planck Institute di Berlin dan juga banyak cendekiawan terkemuka lain.

Adalah berbeda antara membuat sebuah eksperimen cerdas di mana orang melakukan hal “aneh” (yang tidak diharapkan berdasar paradigma standar) dengan melakukan eksperimen yang menunjukan mereka terlibat dalam perilaku yang secara ekologis tidak sesuai atau menuntun pada merugikan diri. Perilaku “aneh” harus dilihat sebagai undangan untuk menggali lebih dalam dan bukannya ditentang. Penjelasannya pasti mahal; penilainnya bisa mudah dan murah. 

Bahkan diantara banyak ekonom, ada banyak pertentangan. Jika melihat karya Vernon Smith, pemenang Nobel lainnya, yang eksperimen ekonominya telah mendorong kita untuk mengakui bahwa ada kesalahan atau ketidak sempurnaan dalam pengambilan keputusan individu yang tidak menghasilkan hasil yang merugikan - jika struktur kelembagaannya baik. Smith melaksanakannya dengna mengikuti tradisi Pencerahan Skotlandia yang menekankan waktu dan kecocokan manusia yang tidak sepurna dengan hasil yang mencerminkan “intelegensi” yang jauh melebihi yang dimiliki individu.

Saat ini saya memikirkan dan membaca tentang “bias kekinian” - pengabaian berlebihan dari masa depan yang (lebih khususnya) Thaler ingatkan kita sebagai hal yang paling mencirikan pembuatan keputusan kita dalam mengambil tindakan saat ini. Adalah hal yang cukup mencerahkan untuk mengetahui bahwa bukti adanya bias kekinian dalam keputusan keuangan sangatlah lemah.

Banyak penelitian empiris terbaru dan lebih canggih gagal menemukan bias ini. Atau, jika mereka temukan, hasilnya sangat kecil. Truisme-nya ternyata tidak sekuat itu. 

Dan ada lebih banyak hal yang perlu disampaikan bahkan telah saya sampaikan sejak 2009 dalam artikel di  Arizona Law Review dan Brigham Young University Law Review dan lainnya. Bahkan ada lebih banyak yang akan kami sampaikan dalam buku kami yang akan segera terbit; Puppets and Puppet Masters.

Filsuf Karl Popper pernah brekata bahwa kita belajar lebih banyak dari kesalahan, dari pada kesuksesan. Demikian juga dalam hal profesi. Riuh yang dihasilkan oleh ekonomi perilaku adalah hal baik bagi ekonomi dan Richard Thaler adalah bagian pentingnya. Mereka telah membangunkan ekonomi dari mimpi kemapanan dan kepuasan diri. Tetapi jika ekonomi yang telah bangun ini langsung menerima truisme dan bias dari ekonomi perilaku maka ini adalah buruk bagi ekonomi malah akan menjadi tidur panjang kepuasan diri yang baru. Momentum ini bisa dijadikan kesempatan untuk menilai ulang ekonomi standar tetapi juga untuk memperbaiki kesalahan dan arah ekonomi perilaku, dan lalu bergerak maju.

Artikel ini pertama kali muncul di https://thinkmarkets.wordpress.com/2017/10/09/richard-thalers-nobel-prize/ Kami menyampaikan apresiasi kepada Mario Rizzo yang mengizinkan untuk disindikasikan dalam bahasa

Mario Rizzo

Mario Rizzo adalah associate professor di New York University