Apakah Bantuan Luar Negeri bentuk Penjajahan Baru?

Sindikasi    | 11 Des 2017 | Read 226 times
Apakah Bantuan Luar Negeri bentuk Penjajahan Baru?

Model bantuan saat ini yang ditujukan untuk menghilangkan kemiskinan sistemik global, menghasilkan lebih banyak mudarat dari pada manfaat.

Solusi besar untuk kemiskinan golobal ternyata lebih kecil dari yang dibayangkan, tetapi membutuhkan strategi filantropis baru untuk merubah cara kita melihat diri kita dan mereka yang kita harap bisa kita bantu.

Pada laporan tahunan Bank Dunia tahun 2018 yang akan segera diluncurkan, untuk pertama kalinya hubungan antara reformasi kelembagaan bahkan dalam skala kecil, seperti memperkuat hak kepemilikan properti, dan kemiskinan akan diperhitungkan. Temuannya menunjukan bahwa untuk setiap lima unit peningkatan pada nilai laporan Doing Business, kemiskinan menurun satu persen poin. Dengan kata lain, apabila pemerintah lebih mempermudah yang miskin untuk melaksanakan hak ekonomi mreka, lebih sedikit anda temukan kemiskinan di negara tersebut.

Usaha yang Tulus, Hasil yang Tak Diduga

Implikasi dari temuan ini adalah bahwa orang miskin lebih tahu bagaimana mengangkat diri mereka dari kemiskinan, dibandingkan kita. Lalu mengapa tidak kita biarkan mereka melakukannya? Jawabannya karena organisasi raksasa bantuan ekonomi saat ini mempersubur paternalisme yang terlalu bergantung pada kepakaran teknis orang luar dan mengabaikan pengetahuan terpendam yang dimiliki oleh para penerima bantuan lokal.

Ini contohnya; pakar dari luar, mewakili Proyek Desa Millennium, merekomendasikan dan mendukung secara keuangan, tanaman dan metode pertanian baru di sebuah desa di Uganda. Pertaniannya berhasil. Hasil panen meningkat luar biasa, tetapi penduduk desa tidak lebih bahagia, bahkan mengeluh, karena tidak ada pasar untuk panen mereka yang nantinya membusuk.

Ternyata, biaya untuk mendapatkan truk ke desa dan mengangkat hasil panen lebih, jauh melebihi nilai panen. Seandainya sebelumnya penduduk desa terlibat dan dihadapkan dengan biaya sebenarnya dan memiliki lebih banyak kontrol, lebih mungkin mereka membawa pengetahuan lokal terpendam mereka dan lebih meneliti strategi pelaksanaan.

Ada begitu banyak cerita seperti desa di Uganda ini, walaupun sudah banyak usaha dilakukan untuk belajar dari kegagalan ini. Hasilnya, negara berkembang saat ini dipenuhi dengna berbagai hasil tak terduga oleh rencana besar pakar dari luar. Tapi yang paling tidak mengenakan adalah pola paternalisme yang mirip dari apa yang dulu adalah kolonialisme licik dengan yang saat ini, industri bantuan pembangunan yang tampaknya tulus membantu.

Pada 2016, dana bantuan seluruh dunia mencapai rekor baru $143 miliar. Hal ini tentunya kabar yang menggembirakan jika saja seandainya bantuan ini bisa membawa dampak kemajuan ekonomi yang berkelanjutan. Kenyataannya; tidak. Lebih banyak pakar pembangunan ekonomi, termasuk Ekonom peraih hadiah Nobel tahun 2015 Angus Deaton, yang memperingatkan bahwa model bantuan ekonomi saat ini membawa lebih banyak keburukan dari pada kebaikan dan harus dihentikan.

Tentunya, mengalihkan pandangan kita dari orang-orang miskin sama tdiak menyenangkannya dengan memikirkan bahwa berbagai usaha amal terbaik selama 60 tahun terakhir malah telah menghalangi kemajuan ekonomi dari mereka yang paling membutuhkannya. Tetapi kita bisa agak lega dengan menyadari bahwa ada cara yang lebih baik.

Mereka Yang Memimpin, Kita Yang Mengikuti

Tahun lalu di India, sebuah think tank independen bernama Centre for Civil Society mendorong agar dan berhasil menghapuskan syarat modal minimum untuk bisnis baru, hal yang selama ini merugikan dan menjadi beban tambahan bagi yang miskin. Perubahan ini meningkatkan nilai India pada laporan Doing Business-nya World Bank.

Jika dilihat dampaknya, perubahan ini sama dengan penambahan 321.000 orang yang keluar dari kemiskinan. Saat ini, dari pada mencegah yang miskin untuk maju, India telah mengembalikan hak ekonomi rakyatnya dengan pegnetahuan yang dibutuhkan untuk menciptakan kemajuan yang berkelanjutan.

Penelitian menunjukan, ketika orang miskin pindah ke negara dengan hak ekonomi yang dilindungi, mereka berhasil. Sebagaimana pakar pembangunan dari Harvard, Lant Pritchett jelaskan, “Tidak ada yang namanya orang miskin. Hanya orang yang hidup di tempat miskin.” Artinya reformasi dibutuhkan di dalam tempat tersebut, bukannya reformasi yang dirancaong oleh orang luar yang terikat pada dana bantuan.

Dengan dana tahunannya yang hanya sekitar $1 juta, Center for Civil Society telah mencapai hal yang milyaran dolar tidak mampu capai. Dan ada berbagai organisasi di seluruh dunia yang melakukan hal yang sama.

Bagi para orang luar, filantropis pribadi dengan dukungan dari organisasi lokal adalah cara yang terbaik untuk menciptakan perbedaan ketika mereka bekerja untuk memulihkan hak ekonomi di seluruh dunia. Mereka harus memimpin. Kita yang harus mengikuti ketika kita bersama melakukan pembangunan secara berbeda.

Artikel ini pertama kali muncul di https://fee.org/articles/development-aid-is-the-new-colonialism/ Kami menyampaikan apresiasi kepada Matt Warner yang mengizinkan untuk disindikasikan dalam bahasa

Matt Warner

Matt Warner adalah Chief Operating Officer dari Atlas Network, lembaga nirlaba yang berpusat di Washington, D.C.- yang bergerak di bidang penelitian think tank dan advokasi dengan 481 organisasi rekanan di 96 negara.