Industri Migas Menyelamatkan Lebih Banyak Ikan Paus Ketimbang LSM Lingkungan.

Sindikasi    | 22 Jun 2017 | Read 874 times
Industri Migas Menyelamatkan Lebih Banyak Ikan Paus Ketimbang LSM Lingkungan.

Begitu ramai diperbincangkan saat ini tentang impact investing (Investasi Dampak) dan saya telah cukup terlibat dalam diskusi ini. Tetapi apa sebenarnya Investasi Dampak itu sendiri dan bagaimana rekam jejaknya?

Wikipedia mendefinisikan investasi dampak sebagai sebuah investasi “yang dibuat dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga keuangan dengan tujuan untuk menghasilkan dampak positif secara sosial atau lingkungan yang terukur pada saat yang sama menghasilkan keuntungan finansial.”

Investasi dampak sehingganya, menjadi sebuah frasa kabur yang bisa mencakup hampir segala hal. Saya telah menghabiskan 8 tahun berinvestasi dalam bidang infrastruktur di India dan sangat percaya bahwa membangun jalan dapat menghubungkan desa dan kota dengan pasar yang lebih besar sehingga adalah investasi dampak.

Begitu juga dengan pembangkit listrik dan bandara yang lebih layak. Demikian juga, pabrik bajanya Tata di Jamshedpur adalah juga investasi dampak dan pula pabrik pemurnian baja di Jamnagar milik Reliance. Dan juga demikan untuk investasinya Tesla dalam pengembangan mobil listrik. Investasi ini utamanya bercirikan kapitalistik, tetapi dampak mereka kepada masyarakat telah dan akan terus besar.

Tetapi saat ini, banyak orang melihat investasi dampak secara sempit dengan mengartikannya sebagai berinvestasi pada sebuah bisnis ‘sosial’ (saya percaya bahwa pabrik baja, jalan, dan bandara adalah juga bisnis sosial.) Dalam seri Video 2015-nya, Chicago Booth menanyakan pertanyaan, “Apakah Investasi dampak lebih dari amal.” Steve Kaplan, mantan dosen saya menjelaskan mengapa dia skeptis terhadap investasi dampak – “Ketika hasilnya buruk, orang berkata, ‘oh, tetapi kami menciptakan nilai non-finansial, jadi mari kita tetap lanjutkan … dan tidaklah mudah untuk mengukur apakah anda memang benar-benar telah menciptakan nilai non-finansial.”

Dia melanjutkan berkata bahwa “investasi yang menciptakan dampak terbesar dan nilai terbesar seperti Apple atau Facebook, yang menciptakan nilai guna yang begitu tinggi dan kebahagiaan di seluruh dunia. Sebagai hasilnya, mereka juga mendapatkan banyak uang.”

Jika kita menilai menggunakan pengertian sempit dari investasi dampak, hasilnya tidaklah luar biasa di India. Saya berbicara dengan beberapa investor ‘dampak’ dan kesimpulannya bahwa hanya investasi di lembaga keuangan-mikro yang terbukti berhasil. Semua invesatsi di bisnis ‘sosial’ lainnya hanya sekedar menambah anekdot kisah sukses; kebanyakan investasi lain tidak mencapai kesuksesan dalam memberi dampak bagi masyarakat maupun secara keuangan. Dan sungguh mengherankan bagaimana investasi dampak tetap bisa menggoda banyak orang.

Mari sekarang kita lihat peran teknologi dalam menciptakan dampak. Kita semua tahu bagaimana kota kita bisa hancur karena banyak tekanan - infrastruktur yang buruk, kemacetan, polusi, biaya tinggi, dll. Berbagai masalah ini bukanlah hal baru. Lebih dari seratus tahun yang lalu, kota besar seperti London dan New York punya masalah yang sama. Pada 1880 ada sekitar 170.000 kuda di New York, menghasilkan 3 - 4 juta pound (1300 - 1900 ton) tinja hewani setiap hari. Dan banyak bangkai kuda dibiarkan membusuk dijalanan dan sungai. Kemacetan adalah pengalaman buruk dan berbau.

Pada 1894, Times of London meramalkan bahwa jalanan akan terkubur dengan tinja kuda setinggi 9 kaki (2,7 meter) pada 1950. Sebuah konfrensi tata kota diadakan pada 1989 di New York untuk membahas tantangan perkotaan ini. Mobil baru saja muncul di jalanan dan dianggap berbahaya. Melangkah cepat, 20 tahun kemudian dan kotoran kuda tidak lagi menjadi masalah, terima kasih pada bertumbuhnya penggunaan trem dan mobil dan mengurangi penggunaan kuda.

Industri mobil menyelamatkan kota besar pada 1920, dan bukan konfrensi perencanaan tata kota tersebut. Saat ini ketika kita memperdebatkan tantangan yang dihadapi kota besar, adalah sangat membantu jika kita melihat teknologi sebagai sebagian besar solusi.

Beberapa tahun yang lalu Chicago Booth’s Social Enterprise Initiative (Inisiatif Perusahaan Sosial Chicago Booth) mengadakan sebuah konvensi bersama Samhita Social Ventures dari Swachh Abhiyan Bharat (Terj.: Gerakan India Bersih, gerakan pemerintah India untuk membersihkan dan memperindah jalan dan infrastruktur) di UChichago Center di Delhi. Pada sesi pembukaan saya bertanya pada panelis untuk membantah pernyataan saya bahwa toilet akan dibangun karena Perdana Menteri mendorong untuk dibangun tetapi toilet tersebut tidak akan digunakan.

Sayangnya, banyak dari mereka bersetuju dengan saya dan inilah yang memang nantinya terjadi. Pada acara tersebut kami mengadakan sesi tentang pengubahan perilaku dan teknologi, karena kami percaya bahwa dua bidang ini akan membawa lebih banyak dampak dari pada membangun ribuan toilet di seluruh penjuru negeri yang tidak akan digunakan karena toilet ini kotor dan berbau dan karena orang tidak melihat manfaat menggunakan toilet.

Akhirnya, mari kita datang kepada ikan paus dan bagaimana industri migas menyelamatkan mereka. Selama berdasawarsa paus diburu untuk mendapatkan minyak mereka. Minyak ikan paus lebih disukai untuk dipakai di lampu karena lebih tidak berbau dan sedikit asap.

Permintaan terhadap minyak ikan paus ini menuntun pada begitu tingginya angka perburuan paus dan orang takut bahwa paus akan segera punah. Lalu pada 1850-an lampu minyak tanah ditemukan oleh Michael Dietz. Minyak tanah lebih murah dan kurang berbau dibandingkan minyak ikan paus  dan seketika permintaan terhadap minyak paus lenyap. Paus terselamatkan dan tidak jadi punah. Dalam “Mengapa India Miskin?” Parth Shah dari Center for Civil Society berargumen bahwa salah satu alasan utama adalah kita tidak menjalankan sumber daya penting yaitu pikiran manusia (sumber daya utama) yang menciptakan inovasi ketika pasar sudah memberi harga bagi sumber daya dengan tepat. Jadi ketika paus lebih diburu, harga minyak ikan paus menjadi naik.

Seseorang kemudian menemukan cara untuk minyak bumi menjadi bahan bakar dan minyak bumi menjadi sumber daya yang berharga karena lebih murah dan lebih baik. Dia berargumen bahwa penggunaan minyak bumi sebagai bahan bakar memberi lebih banyak dampak untuk menyelamatkan ikan paus dibandingkan dengan, contohnya, lembaga swadaya (LSM) seperti Greenpeace. Saya tidak menyepelekan peran LSM atau Greenpeace (yang telah memainkan peran besar dalam memperjuangkan misi mereka), tetapi jika kita lihat bagaimana penemuan lampu minyak tanah bisa mengurangi permintaan minyak ikan paus, argumen ini sulit untuk dibantah.

Pada saat yang sama saya harus akui bahwa banyak laporan yang menyebutkan bahwa argumen di atas sekedar mitos, tetapi data dengan kuat mendukung argumen bahwa teknologi memainkan peran penting dalam menyelamatkan perkotaan dan ikan paus. Sehiingga sementara kita perlu untuk tetap memperjuangkan hak-hak kita agar orang jahat, korporasi dan pemerintah tidak menjadikan kita dengan planet yang lebih buruk, kita harus lebih berusaha mencari bagaimana teknologi bisa memecahkan masalah kita. Tentunya, bertahun-tahun kemudia kita akan membutuhkan teknologi baru untuk menyelamatkan kita dari permasalahan kelebihan penggunaan teknologi yang lebih tua.

Artikel ini pertama kali terbit di: http://www.forbesindia.com/blog/accidental-investor/the-oil-industry-saved-more-whales-than-environmental-ngos-did/ pada 12 Mei 2017. Kami berterima kasih atas izin dari penulis untuk sindikasi artikel ini.

Luis Miranda

Luis Miranda adalah penyambung titik. Awalnya dia bekerja sebagai profesional private equity IDFC, yang telah lama berinvestasi pada infrastruktur di India. Saat ini bersama isterinya, Ia banyak bergelut pada organisasi non profit dan sebagai chairman Centre for Civil Society (CCS), India.