Haruskah Kita Berpihak?

Sindikasi    | 4 Apr 2017 | Read 538 times
Haruskah Kita Berpihak? Sumber ilustrasi: Metrotvnews.com

Ribut-ribut Pemilu Presiden AS tahun 2016 tampaknya telah menanamkan pengaruh tertentu terhadap otak kita. Kita menjadi cenderung percaya bahwa salah satu peran kita sebagai warga negara berperilaku layaknya suporter tim sepak bola. Kita harus mendukung tim tertentu dan bersikap setia, apapun yang terjadi.

Jika kita terdengar memuji dan mendukung tim lawan, itu tandanya kita pengkhianat. Musuhnya musuhku adalah temanku. Temanku ini mungkin tidak sempurna, tetapi mengakui kelemahan ini secara terbuka berarti mencoreng wajah sendiri. Ini adalah soal kesetiaan. Maka kenakan jersey-mu dan dukung tim andalan sampai akhir.

Setiap hari, media mengeksploitasi model semacam ini, mempertontonkan pertarungan kiri versus kanan, partai lawan partai, kandidat lawan kandidat. Hal ini mendorong rating, yang menjadi bukti bahwa orang-orang memang memyukainya. Tidak jarang mereka ikut terlibat: memaki-maki di depan TV dan radio, mem-posting sumpah serapah di media sosial, bikin twitwar, dan lain sebagainya. Kita meniru apa yang kita lihat di media dan mulai ikut bersumpah serapah layaknya suara-suara viral yang berseliweran di linimasa.

Kita Harus Menang!

Fenomena ini menarik untuk dipelajari. Saya menyadari bahwa ada yang salah dengan setiap aktivitas yang meminta kita untuk mematikan daya nalar kritis kita. Kebenaran tidak bersembunyi di faksi-faksi politik. Jika saya ingin berpikir secara independen, maka saya harus melakukannya sendirian, dengan cara saya sendiri. Menyadari hal ini merupakan titik balik penting dalam hidup saya. Setelahnya, saya tidak pernah menengok ke belakang lagi.

Model Kawan/Lawan

Pastinya, model pemikiran yang mendorong kita untuk mendahulukan politik di atas akal sehat punya tradisi filosofis yang panjang. Salah satu contohnya, tentu saja, adalah Marxisme, yang memisahkan identitas masyarakat ke dalam dua golongan yang saling berseteru satu sama lain: penindas dan yang ditindas. Sampai sekarang, ide pertarungan kelas semacam ini masih terus direproduksi hingga ke titik yang sangat absurd. Bagi para Marxis kontemporer, pertarungan identitas bukan lagi sekedar soal kelas sosial-ekonomi, tetapi juga menyangkut ras, seks, agama, gender, hingga perbedaan keutuhan fisik biologis. Bagi mereka, hidup ini tidak lebih dari sekumpulan konflik.

Tetapi ini bukan cuma berlaku di Marxisme. Lihat, misalnya, buku karangan Carl Schmitt – seorang Hegelian/Nietschean sayap kanan – dan esainya yang ditulis tahun 1932 “The Concept of the Political.” (Jika kamu sudah mengetahui bagaimana situasi dunia akademik di Jerman tahun 1932, kamu pasti bisa menebak isinya.)

Bagi Schmitt, menjadi politis adalah panggilan intelektual tertinggi bagi setiap manusia, dan hal ini berarti memisahkan orang-orang ke dalam kategori kawan atau lawan. Schmitt justru mencemooh liberalisme klasik dan ilmu ekonomi yang ingin menghapuskan distingsi kawan/lawan melalui perdagangan, kerja sama, dan segala bentuk kompetisi sehat dimana para pesertanya saling menguntungkan satu sama lain.

Atas dasar apa politik membentuk distingsi kawan/lawan? Schmitt mengatakan distingsi tersebut tidak ada kaitannya dengan norma-norma atau teori-teori abstrak. “Dalam keseluruhannya,” tulis Schmitt, “negara (the state) sebagai sebuah entitas politik yang terorganisir menentukan sendiri distingsi antara kawan dan lawan.”

Tetapi apa artinya menjadi lawan di dalam pikiran Carl Schmitt? Menjadi lawan artinya ketika kita “memberikan ancaman pembunuhan yang riil”. Tanpa pertumpahan darah, maka distingsi tersebut tidak ada artinya. Itulah sebabnya “perang adalah negasi eksistensial dari lawan. Itulah konsekuensi paling akhir dari permusuhan.”

Kesimpulannya: menjadi politis adalah esensi kehidupan, menurut Schmitt. Sedangkan inti dari sikap politis adalah kesediaan untuk membunuh musuh negara. Kita bisa menyimpulkan dari seluruh tulisan Schmitt bahwa kematian adalah esensi kehidupan itu sendiri. Tidak heran jika kemudian Carl Schmitt menjadi filsuf terkemuka bagi ideologi Sosialisme Nasionalis dan menjadi salah satu inspirasi terjadinya Holocaust.

Pemilu dan Sosiologi Peperangan

Bagi banyak orang, model relasi kawan/lawan menjadi masuk akal di musim pemilu. Kita semua diberikan wewenang untuk memilih. Kita merasa punya tanggung jawab besar menentukan arah bangsa, meski kenyataannya satu suara dari kita tidak pernah sekalipun menentukan hasil akhir pemilu. Meski bersifat simbolis belaka, pemilu dianggap penting karena kita senang berpartisipasi di dalam proses demokrasi: memberikan kekuasaan kepada “kawan”, dan berupaya menyingkirkan “lawan”.

Tetapi sekarang pemilu telah usai. Lalu kenapa sikap dan perilaku sengit masih bertahan meski saat ini tidak ada satu politisi pun yang mengemis-ngemis suara kamu sampai pemilu presiden selanjutnya empat tahun ke depan? Karena menjadi sengit dan nyinyir soal politik bikin kita kecanduan. Mungkin perilaku ini sifatnya instingtif belaka. Semacam kekerasan skala-rendah yang dibilang Freud harus kita tekan agar dapat menjadi beradab.

Pada prakteknya, apa sih yang kita dapat dengan mati-matian mendukung politisi? Menurut saya: tidak ada faedahnya sama sekali. Justru perilaku tersebut sangat melelahkan secara psikologis. Lebih jauh, perilaku tersebut dapat menjadi racun bagi spirit kemanusiaan kita: untuk dapat terus-menerus nyinyir dibutuhkan setumpuk dosis kebencian yang sangat beracun bagi siapapun yang ingin hidup dengan tenang.

Masalah “Trumpisme”

Permasalahan ini semakin diperparah dengan kurangnya koherensi intelektual di dalam tubuh partai politik. Ini bukan persoalan baru, tetapi menjadi semakin kentara pada kasus Donald Trump. Tidak pernah saya melihat retorika nasionalisme sekencang ini sebelumnya, dan ini berkaitan dengan inti dari fungsi kehidupan ekonomi Amerika. Kita justru melihat dengan jelas kurangnya apresiasi Trump terhadap capaian-capaian perdagangan bebas dalam aspek intelektual dan politik di Amerika. Terlebih lagi, Trump berencana untuk membelanjakan anggaran negara untuk infrastruktur secara masif, menambah porsi militer, dan kebijakan imigrasi yang akan menyulitkan bisnis dan aktivitas komersial.

Di saat yang bersamaan, Trump juga mengatakan hal-hal positif mengenai deregulasi, pemotongan pajak, perampingan birokrasi, serta jaminan pendidikan dan kesehatan, serta beragam tawaran yang pasti diidam-idamkan pendukung kebebasan di negeri ini.

Dengan begitu, kebijakan Trump menjadi membingungkan. Pada akhirnya orang-orang akan mulai berpikir dari sisi cost and benefit. Apakah dampak positif dari pemotongan pajak sebanding dengan dampak negatif kebijakan-kebijakan Trump yang lain? Seberapa buruk dampak pengetatan imigrasi dibandingkan dengan rasa keamanan nasional yang kita dapatkan? Dan seterusnya.

Ini bukan sekedar latihan intelektual. Pada akhirnya orang-orang mesti bertanya: apakah saya harus mendukung atau mengkritisi pemerintahan Donald Trump?

Berpikirlah untuk Dirimu Sendiri

Saya berpendapat bahwa itu adalah pola pikir yang salah dalam melihat persoalan ini. Seharusnya kita tidak perlu bertanya apakah kita harus mendukung atau mengkritisi Trump, menjadi fans atau oposisi, membela Trump dari para musuh-musuhnya atau justru menjadi musuh Trump itu sendiri.

Ada pendekatan lain. Pendekatan ini tidak mudah dilakukan di tengah atmosfer politik yang begitu sengit seperti saat ini, tetapi pendekatan ini adalah yang terbaik: jadilah independen, berpikirlah dengan jernih, perhatikan situasi dan kondisi dengan seksama, berpegang teguhlah pada prinsip-prinsip yang kamu percayai, berbicaralah tanpa rasa takut, pujilah pemerintah ketika mereka melakukan hal yang benar, tetapi kritisi mereka ketika melakukan kesalahan, selalu katakan kebenaran, dan teruslah membela hak-hak individu dan kebebasan, baik itu hak dan kebebasan bagi dirimu maupun orang lain. Di saat-saat seperti ini, menjadi teguh dan jujur adalah kebijaksanaan politik yang tertinggi.

 “Hampir di setiap periode pembela kebebasan jumlahnya sedikit,” kata Lord Acton, “dan kemenangan (ideologi kebebasan) selalu berkat perjuangan kelompok minoritas.”

Harus diakui, berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebebasan di saat-saat seperti ini akan membuatmu menjadi kelompok minoritas. Tetapi justru dari situ kamu bisa membuat perbedaan yang signifikan.

 

Artikel ini pertama kali terbit pada:https://fee.org/articles/must-we-pick-a-side/

Kami berterima kasih kepada Jeffrey Tucker yang memberikan izin menerbitkan kembali.

Jeffrey Tucker

Jeffrey Tucker adalah Direktur Konten pada Foundation for Economic Education. Beliau juga merupakan Chief Liberty Officer dan pendiri Liberty.me, salah seorang Anggota Kehormatan Mises Brazil, peneliti pada Acton Institute, penasehat kebijakan pada Heartland Institute, penggagas CryptoCurrency Conference, salah seorang anggota Dewan Redaksi pada Molinari Review, penasehat pada perusahaan aplikasi blockchain Factom, dan penulis lima judul buku. Jeffrey Tucker telah menulis lebih dari 150 kata pengantar pada berbagai buku dan ribuan artikel yang tersebar di berbagai terbitan, baik akademik maupun populer.