Manifesto Libertarian untuk Kebebasan

Resensi    | 3 Des 2018 | Read 140 times
Manifesto Libertarian untuk Kebebasan

Detail Buku

  • Judul: Alam Pikiran Libertarian; Manifesto untuk Kebebasan (terj. dari The Libertarian Mind; A Manifesto for Freedom)
  • Penulis: David Boaz
  • Tahun Terbit: Cetakan I, Oktober 2018
  • Penerbit: Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (INDEKS) & Cato Institute

Alam Pikiran Libertarian—terjemahan dari The Libertarian Mind karya David Boaz—merupakan manifesto kaum libertarian untuk kebebasan. Buku ini adalah respons Boaz terhadap pertumbuhan gerakan libertarianisme yang semakin pesat di Amerika, yang bahkan kini menjadi faksi politik paling disegani di negeri Paman Sam tersebut.

Selain tertuju khusus untuk mereka yang cenderung libertarian, buku ini juga pas bagi siapa saja yang ingin mencari tahu pemahaman tentang perubahan dalam pemikiran politik Amerika selama ini. Tentu saja, pemahaman tentang itu sangat penting, sebab relevan dengan orang-orang dari masyarakat mana pun, termasuk untuk Indonesia.

Boaz sendiri mengingatkan dalam pengantarnya bahwa satu alasan mengapa pembaca Indonesia harus membaca buku ini dan mesti tertarik dengan libertarianisme adalah karena ide-idenya mendorong lahirnya dunia modern. “Dan Anda perlu tahu tentang ide-ide ini,” tulis Boaz.

Alasan lainnya, yakni libertarianisme menawarkan janji perdamaian, pertumbuhan ekonomi, dan harmoni sosial kepada setiap bangsa/negara. “Saya berharap khalayak pembaca Indonesia akan bergabung dengan kaum libertarian di seluruh dunia dalam rangka mengendalikan kekuasaan negara dan membebaskan individu, keluarga, perkumpulan masyarakat sipil, dan bisnis.”

 

Mengapa Kebebasan?

Hampir tidak ada orang di dunia ini yang ingin hidup tanpa kebebasan. Setidaknya, kebanyakan orang ingin bebas menjalani hidup sebagaimana yang mereka pilih sendiri. Dan kaum libertarian percaya, kebebasan menjalani hidup, tanpa ada unsur paksaaan atau ancaman di dalamnya, akan membuat hidup jauh lebih makmur lagi memuaskan.

“Kita harus bebas menjalani hidup sesuai apa yang kita pilih selama kita menghargai hak-hak yang sama pada orang lain.”

Meski demikian, mendefinisikan kebebasan tentu tidak sesederhana ungkapan di atas. Banyak ragam definisi kebebasan harus ditelaah sebelum akhirnya memastikan bahwa tindakan kita sudah terkategori bebas atau tidak bebas. Tetapi yang jelas, makna kebebasan bisa kita sebut sebagai “absennya paksaan maupun ancaman secara fisik” sebagaimana John Locke tawarkan di bawah supremasi hukum (hlm. 3).

Dari John Locke-lah Boaz kemudian menarik definisi tersendiri tentang kebebasan. Ia menyebut bahwa orang yang bebas bukanlah “pelayan untuk kehendak sewenang-wenang orang lain”. Orang yang bebas adalah mereka yang bebas melakukan apa saja sesuai pilihannya masing-masing dengan syarat: terhadap diri dan properti miliknya sendiri.

“Tetapi Anda hanya bisa memiliki kebebasan-kebebasan ini hanya ketika hukum melindungi kebebasan Anda dan setiap orang lain.”

Terlepas dari itu, bagaimanapun kita mendefinisikan kebebasan, tetap saja kita bisa mengenali aspek-aspeknya. Bahwa kebebasan itu berarti menghormati otonomi moral setiap orang; melihat setiap orang sebagai pemilik kehidupannya sendiri; dan masing-masing bebas untuk membuat keputusan-keputusan penting atas hidupnya sendiri. Kebebasan memungkinkan masing-masing dari kita untuk menentukan makna kehidupan, untuk menentukan apa yang menurut kita penting untuk dijalani.

Karena itu, setiap kita harus bebas, entah dalam berpikir, berbicara, menulis, menikah, makan-minum, memulai dan menjalankan bisnis, serta bergaul dengan siapa saja yang kita inginkan. Ketika kita bebas, maka hidup yang kita anggap sesuai bisa kita bangun.

 

Peran Libertarian

Meski kebanyakan orang menganggap kondisi kebebasan adalah yang terbaik, tetapi tidak semua di antara mereka punya kemampuan memadai dalam hal mencapai kondisi itu. Melalui Alam Pikiran Libertarian, Boaz memperlihatkan bahwa hanya kaum libertarian-lah yang paling konsisten, sampai hari ini, memperjuangkan ide-ide kebebasan.

Bagaimana dengan kaum liberal? Bukankah mereka juga pernah mengklaim diri sebagai pembela kebebasan dan supremasi hukum sebagaimana kaum libertarian?

Benar bahwa istilah “liberal”, dulu, merujuk kepada siapa yang membela kebebasan dan supremasi hukum. Di era 1820-an, misalnya, perjuangan kebebasan diprakarsai oleh perwakilan kelas menengah di Parlemen Spanyol (Spanish Cortes). Mereka disebut sebagai Liberales, pesaing Serviles (kaum budak) yang mewakili bangsawan dan monarki absolut. Di Inggris, ada Partai Whig yang kemudian dikenal sebagai Partai Liberal. Hingga siapa pun yang menganut filsafat John Locke, Adam Smith, Thomas Jefferson, dan John Stuart Mill, secara terang dianggap sebagai penganut liberalisme.

Tetapi sekitar tahun 1900, kencenderungan kaum liberal mengalami perubahan. Banyak di antara mereka akhirnya mendukung kekuasaan absolut dan ingin membatasi, serta mengontrol pasar—sebuah kondisi yang sangat ditentang oleh para pembela kebebasan.

Pun demikian dengan kaum sosialis. Awalnya mereka adalah pendukung masyarakat sipil dan pasar bebas. Kekuatan sosial yang mereka jadikan spirit adalah tameng untuk menghalau ekspansi kekuasaan negara di masanya. Sayang, seperti kaum liberal, ide mereka kini cenderung tidak mendukung masyarakat sipil maupun kebebasan individu.

Menjadi wajar jika Alam Pikiran Libertarian harus kita sebut sebagai manifesto libertarian untuk kebebasan. Bahwa libertarianisme—untuk membedakannya dari liberalisme atau sosialisme—adalah filsafat politik kaum libertarian yang senantiasa menerapkan ide-ide liberalisme klasik secara konsisten: membatasi peran pemerintah secara lebih ketat dan melindungi kebebasan individu secara penuh.

 

Sebuah Manifesto

Sebagai sebuah manifesto, Boaz menyuguhkan Alam Pikiran Libertarian secara komprehensif. Berbagai gagasan untuk libertarian kawal tersaji cukup utuh. Konsep-konsep seperti indivualisme, hak individu, keteraturan spontan, supremasi hukum, pemerintahan yang terbatas, pasar bebas, kebajikan produksi, harmoni alami, dan perdamaian terangkum dalam bahasa yang mudah dicerna tetapi substantif.

Untuk lebih mendalami gerakan untuk kebebasan ini, Boaz tak lupa menyertakan sejarah singkat libertarian, mulai dari pemikiran Yunani Kuno hingga F.A. Hayek dan Robert Nozick. Bahkan unsur-unsur libertarianisme juga dieksplorasi secara lebih jauh, yakni ke ajaran filsuf Cina Kuno Lao-tzu, yang hidup sekitar abad ke-6 SM.

Meski manifesto ini berisi visi yang mungkin terdengar luar biasa, seperti dokrin tentang sebuah semesta yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, tetapi gagasannya masih terbilang jauh lebih baik jika dibanding dengan sistem monarki, kediktatoran, dan statisme, atau bahkan sistem demokrasi modern sekalipun. Manifesto ini menawarkan alternatif untuk menggantikan pemerintahan yang koersif yang seharusnya menarik bagi orang-orang yang cinta damai dan ingin hidup produktif, di mana pun, termasuk Indonesia.

Boaz sendiri menyadari, dunia libertarian yang hendak ia bangun bukanlah sebuah dunia yang sempurna. Sebagaimana dunia-dunia di bawah sistem lainnya, dunia libertarian masih tetap akan melahirkan ketimpangan, kemiskinan, kejahatan, korupsi, dan kebejatan manusia atas manusia lainnya.

Ya, kaum libertarian tidak menjanjikan taman surga. sebagaimana Karl Popper pernah berkata, upaya-upaya menciptakan surga di bumi selalu akan menciptakan neraka. Hemat kata, tujuan libertarianisme bukanlah hendak menciptakan sebuah tatanan atau kondisi dunia yang sempurna, melainkan yang lebih baik dan lebih bebas. Libertarianisme menjanjikan sebuah dunia di mana lebih banyak keputusan akan dibuat dengan cara-cara yang benar oleh orang-orang tepat.

 

Maman Suratman

Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.