Review A Man Called Ahok

Resensi    | 22 Nov 2018 | Read 256 times
Review A Man Called Ahok

“Jangan Pernah Berhenti untuk mencintai Negeri ini”

-Pesan Kim Nam pada Ahok dalam film A Man Called Ahok-

Apa yang terlintas di pikiran kita jika disebut nama Ahok?..  Cina? Galak? Giat bekerja? Anti mafia? atau sebagai penista?.. Ahok dipandang sebagai sosok antagonis oleh sebagian orang dan dianggap sebagai sosok protagonis yang heroik oleh sebagian yang lain. Ia dipandang sebagai iblis, sekaligus juga dipandang sebagai malaikat oleh banyak pasang mata. Itulah Ahok, dia bisa dipandang dari sisi positif sekaligus negatif, dua sisi yang berbeda inilah yang membuat tokoh ini menjadi populer sekaligus membuat  banyak orang bertanya: “siapa sebenarnya Ahok ini?

 Rasa penasaran terhadap sosok yang satu ini akan pupus melalui  film A Man Called Ahok, sebuah film epik yang menggambarkan riwayat hidup Ahok sebagaimana adanya. Dari film ini orang dapat mengenal “Ahok melalui Ahok” alias memahami kehidupan Ahok secara objektif tanpa unsur politis dan kebencian.

A Man Called Ahok merupakan film besutan  Putrama Tuta yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama, karya Rudi Valinka. Buku dan film ini menceritakan secara ringkas namun padat tentang latar belakang Ahok, baik keluarga, lingkungan, dan teman sepermainannya, dengan tujuan untuk menggali lebih jauh pengaruh masa kecil Ahok terhadap dirinya yang menjadi figur publik saat ini.

 Mengapa Ahok kerap bersikap tegas dan galak, mengapa Ahok sangat benci pada pungli, kolusi, korupsi dan juga mafia, jawabannya terekam dari film ini.

Berbeda dengan apa yang mungkin kita bayangkan saat ini tentang Ahok yang pemarah dan egois, ternyata dimasa kecilnya, Ahok adalah anak yang pendiam dan supel bergaul dengan orang lain. Ahok kerap dipuji dan dikelilingi oleh kawan-kawannya karena sikap ramah dan kerendahan hatinya. Walaupun Ahok hidup dikeluarga yang serba berkecukupan, kemewahan hidup tak lantas membutakan keluarga Ahok, ayahnya Tjoem Kim Nam justru orang yang sangat peka terhadap kesulitan masyarakat dan menanamkan pada anak-anaknya sikap sederhana dan menghargai sesama.

Ahok adalah anak pertama dari lima bersaudara, adiknya yang paling kecil, Frans, wafat saat berumur 12 tahun. Ayah Ahok adalah seorang pengusaha tambang timah yang cukup sukses di Belitung. Sedangkan ibu Ahok bernama Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw) seorang ibu yang mandiri dan mencintai anak-anaknya. Jika kita ingin mengetahui sifat Ahok, maka tak bisa dilepaskan dari sifat karakter kedua orang tuanya, khususnya sang ayah.

Kim Nam digambarkan sebagai seorang yang dihormati oleh penduduk karena kebaikan hatinya, keluarga Ahok sering dimintai pertolongan oleh orang yang tidak mampu dan ayahnya berusaha mati-matian untuk memberikan bantuan sebisanya, walaupun uang yang digunakan itu adalah hasil berhutang!

Sifat Kim Nam inilah yang kemudian diwarisi Ahok. Bagi Ahok setiap manusia itu sama dan setara dimata Tuhan. Dan jika Tuhan menciptakan manusia itu setara, maka status sosial dan kekayaan tidak membuat manusia harus saling membenci dan memusuhi.

Sebagai manusia, manusia pasti mempunyai kesulitan, dan menjadi tugas manusia pulalah menolong manusia lain agar keluar dari jerat kesusahan. Pandangan inilah yang dipegang oleh Ahok dan ayahnya. Kegemarannya memberi dan menolong orang lain seolah sudah mendarah daging dalam keluarga Ahok. bahkan ketika Ahok mendekam di penjara, ia masih meneruskan tradisi ayahnya: membantu dan berkorban untuk sesama.

Sikap simpati Ahok kepada golongan yang lemah inilah yang memotivasi Ahok untuk berusaha membangun diri menjadi orang yang berguna bagi sesama. Setidaknya inilah salah satu motif yang membuat Ahok tertarik masuk kedalam jalur politik.

Yang cukup menarik dalam film A Man Called Ahok ini, kita akan disuguhkan adegan ‘menarik’ , yaitu ketika ada oknum aparat pemerintahan menyelewengkan jabatannya untuk memeras para pengusaha. Kim Nam, ayah Ahok, juga merupakan korban dari “lintah darat berseragam” ini. Ahok melihat sendiri bagaimana si oknum tersebut meminta “upeti” pada ayah Ahok dengan ancaman izin usahanya akan dicabut.

Dari sinilah awal mula kebencian Ahok pada para punglist yang menyelewengkan jabatannya serta para mafia yang mempersulit izin usaha hanya demi kepentingan pribadinya. Dan cara satu-satunya untuk memotong tradisi pungli yang mengakar ini adalah lewat jalan PEMERINTAHAN. Ahok merasa jika dia hanya menggerutu, perubahan tak akan tercipta, kecuali jika ia memiliki kekuasaan di pemerintahan.

Dari masa kehidupan di masa lalunya ini, kita bisa mengetahui mengapa Ahok menjadi ‘Ahok yang sekarang’. Ahok berusaha untuk memeratakan kesejahteraan, meningkatkan iklim kewirausahaan, menjegal korupsi, kolusi, dan nepotisme, sebagai realisasi cita-citanya, yaitu berguna bagi sesama (sebagaimana yang ditanamkan oleh ayahnya)

Tentu film A Man Called Ahok yang disutradarai oleh Putrama Tuta agak berbeda dengan buku karya Rudi Valinka. Jika Rudi Valinka berusaha menggambarkan kehidupan Ahok dalam buku tersebut sebagai sebuah ‘pledoi’ terhadap para hatters dan sejenisnya, namun dalam bentuk film, Putrama Tuti ingin menampilkan Ahok secara natural dan apa adanya.

Tuti nampaknya berusaha untuk meminimalisir unsur politis dalam film A Man Called Ahok ini, dan lebih memperkuat di bagian kronologi agar seolah film tersebut terkesan sebagai film biografis yang dapat dinikmati siapapun tanpa ada propaganda politis di dalamnya.

 

Mengambil Teladan dari Ahok

“Orang miskin jangan melawan orang kaya, orang kaya jangan melawan penguasa! ujar Kim Nam kepada Ahok. Wasiat Kim Nam pada buah hatinya ini bukanlah penggambaran bahwa si miskin tidak boleh bersuara di hadapan si penguasa atau si kaya. Kata-kata Kim Nam ini menggambarkan kondisi sosial pada masa itu, yang mana penguasa yang mengurus negara justru berubah jadi penghisap rakyatnya yang berada. Mentalitas penghisap itulah yang memunculkan rasa ketidakadilan dan menjamurnya angka kemiskinan.

Kim Nam ingin anaknya menjadi pejabat atau seorang pemimpin, agar Ahok kelak bisa merubah sistem. Menghancurkan tradisi yang bobrok dan kotor menjadi pemerintahan yang bersih dan demokratis.

Sikap Ahok dan ayahnya yang anti kompromis terhadap penyelewenangan, memberi kita inspirasi bahwa kejujuran adalah sesuatu yang dibutuhkan jika ingin menciptakan sebuah perubahan. Baik sebagai pejabat atau pegawai biasa, filosofi yang harus ditanamkan adalah Jangan takut kalah, tetapi takutlah jika kita salah” , sebab jika seorang gagal dalam meraih impian, kegagalan atau kekalahannya akan menjadi cambuk motivasi bagi dirinya. Sayangnya, banyak orang saat ini justru menggunakan cara-cara yang salah hanya untuk kemenangan semu.

Ahok dan keluarganya adalah teladan ideal dalam mempraktikan sikap egaliter. Dalam film tersebut keluarga Ahok tidak segan-segan duduk makan bersama orang biasa yang tingkat ekonominya di bawah mereka. Mereka tidak menjadikan pangkat dan harta sebagai tolak ukur untuk menilai seseorang, bahkan Ahok sendiri selalu merasa pede dan bahagia berteman dengan anak-anak kuli tambang di kampungnya, mengayuh sepeda bersama mereka, dan mandi dipantai bersama mereka.

Bagi putra Belitung tersebut, seorang pengusaha mempunyai tugas moral untuk membantu sesamanya. Selain untuk mendapat keuntungan dari usahanya, justru menurutnya, pengusaha yang baik adalah jika merek bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Dan spirit dari Belitung tersebut kemudian Ahok bawa ke Jakarta....

*****

“Sebelum bunyi empat paku dipeti mati kamu, kamu tidak bisa menilai orang baik atau buruk” Dewasa ini, banyak orang yang merasa dirinya berhak untuk menjustifikasi orang lain, mencela orang lain, serta menganggap orang lain hina dan tercela.

Pepatah Tiongkok tersebut seolah ingin “menyentil” pikiran orang yang suka mencela. Menilai keburukan orang lain tanpa melihat sisi baiknya adalah sesuatu yang tidak adil. Bukan sesuatu yang baik jika menilai seseorang dengan subjektivitas dan rasa  kebencian.

Begitupula dalam memandang seseorang yang bernama Ahok, mungkin di mata sebagian orang, apa yang dilakukan Ahok sangat tidak lazim dan kontroversial,  emosional, ringan lidahnya, namun tetap saja tidak tepat jika alasan tersebut dijadikan landasan untuk mencap bahwa kehidupan Ahok buruk semuanya.

Bagi para pencintanya Ahok adalah simbol ketulusan seorang manusia, dimana selama pemerintahannya Ahok berusaha melayani rakyat dan membangun program-program yang dianggap bisa meningkatkan mutu kehidupan rakyat tanpa retorika ala para politisi dan pejabat.  Dan mungkin, sikapnya yang berkerja tanpa basa basi inilah yang membuat sebagian orang menilai dirinya arogan.

Tapi Ahok tetaplah Ahok, dia manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar, dia bukan dewa yang harus dipuja dan bukan setan yang harus selalu dihina. Film A Man Called Ahok sebenarnya memberikan tawaran kepada para pemirsa Indonesia untuk menyikapi tentang manusia Ahok secara apa adanya.

Tentu orang boleh menghujat dan memaki Ahok, tetapi tidak berarti bahwa makian dan cacian tersebut akan merusak citra dirinya dalam sejarah. Generasi kemudian akan mencatat dan menilai kinerja dan cara Ahok dalam memimpin. Sebaiknya biarkan sejarah yang membuktikan bagaimana Ahok yang sebenarnya. Apakah dia malaikat yang pantas dipuji atau justru malah menjadi setan yang pantas dimaki...

Ahok, bukan sekedar nama yang dipredikatkan oleh manusia “pribumi”  kepada “pribumi lain” yang beretnis Cina di tanah air kita. Ahok adalah sosok manusia biasa, dia bisa marah, tertawa, sedih, bahagia, salah dan benar, Ahok dipandang oleh beragam mata dengan segala kehebatan dan kontroversinya. Namun, akan sangat bijak jika kita menilai seorang Ahok setelah mengenali dan memahami jalan hidupnya..

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]