Panduan Memahami Kapitalisme yang Tidak Monolitik

Resensi    | 26 Okt 2018 | Read 233 times
Panduan Memahami Kapitalisme yang Tidak Monolitik

Detail Buku

  • Judul: Good Capitalism, Bad Capitalism: Kapitalisme Baik, Kapitalisme Buruk dan Ekonomi Pertumbuhan dan Kemakmuran
  • Penulis: William J. Baumol, Robert E. Litan, dan Carl J. Schramm
  • Jumlah Halaman: 600
  • Tahun Terbit: 2010
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

“Tolak Kapitalisme!”, “Ganyang Liberalisme dan Kapitalisme!”, spanduk maupun pekik slogan bernada kecaman ini lazim terlihat dan akrab terdengar dalam pawai demonstrasi merespon isu-isu ekonomi dan peringatan hari buruh. Tentu saja, baik kaum buruh atau individu kelompok sosial lainnya berhak menyampaikan aspirasinya, termasuk aksi penolakan terhadap kapitalisme, sepanjang tidak mencederai hak sesama warga negara.

Adanya demonstrasi tersebut justru patut diapresiasi sebagai bukti bergairahnya ruang publik kita sebagai medium berpolemik. Tetapi pastilah ada konsekuensi logis ketika suatu wacana dilontarkan ke ruang publik, yaitu, ia harus siap untuk ditantang oleh diskursus tandingan. Wacana anti-kapitalisme yang banyak diartikulasikan saat demonstrasi seperti contoh di awal tulisan, misalnya, perlu direspon secara kritis dengan pertanyaan lainnya. Misalnya: Apa sebenarnya kapitalisme itu? Apakah kapitalisme itu sesuatu yang tunggal, ataukah bermacam-macam? Lantas, kapitalisme macam mana yang ditolak dan bahkan sampai perlu untuk diganyang?

Jawaban yang lazim diberikan oleh para penolak kapitalisme ketika 3 pertanyaan dasar itu diajukan pada mereka biasanya bernada tipikal. “Kapitalisme adalah ideologi pemuja kebebasan individu untuk memiliki properti tanpa batas yang dapat membahayakan masyarakat” atau “menghalalkan eksploitasi terhadap kaum papa secara tidak manusiawi demi mengeruk laba sehingga pantas untuk ditolak”.

Reduksi definisi yang terkesan negatif seperti ini bukan saja simplistik secara konsep, tetapi juga berdampak serius bagi pemahaman masyarakat. Seolah kapitalisme adalah sesuatu yang tunggal, gebyah uyah (pukul rata). Padahal, sama seperti sistem ekonomi lainnya, kapitalisme adalah konsep yang adaptif terhadap konteks dan dinamika sosial politik sehingga memungkinkan dirinya berkembang menjadi berbagai varian.

Seakan merespon permasalahan di atas, kemunculan buku Good Capitalism, Bad Capitalism ke dalam bahasa Indonesia ini merupakan proyek prestisius yang perlu diapresiasi. Buku ini hadir dalam rangka mengidentifikasi variasi kapitalisme secara ilmiah sebagai usaha menjernihkan pemahaman monolitik yang terlanjur berkembang di khalayak publik, khususnya kaum pengkritik kapitalisme.     

 

4 Varian Kapitalisme

Baumol et.al. mengklasifikasikan bahwa setidaknya ada 4 model sistem yang pernah dipraktikkan di dunia (hal. 20-21). Pertama, kapitalisme arahan negara. Sekilas, tipe pertama ini nampak mirip dengan perencanaan sentralistik a la sosialisme. Memang sesuai namanya, pemerintah memiliki kewenangan besar dalam memutuskan jenis industri dan perusahaan mana sajakah yang layak untuk dikembangkan.

Langkah selanjutnyalah yang menjadi variabel pembeda dengan resep ekonomi sosialisme. Ketika perusahaan telah dipilih, negara kemudian tidak menerapkan kolektivisme dengan merebut kendali alat produksi. Justru, pemerintah mengakui hak milik swasta akan properti dan kontrak, pasar mengarahkan harga barang atau jasa yang diproduksi serta menentukan upah tenaga kerja, dan beberapa kegiatan usaha skala mikro diperkenankan berada di tangan swasta (hal.116).

Kedua, kapitalisme oligarki. Para penulis mengakui, antara model arahan negara dan oligarki memang rentan tumpang tindih karena di atas permukaan keduanya nampak serupa. Namun bila ditelaah lebih dalam, nalar antara keduanya berbeda. Kapitalisme arahan negara digerakkan oleh logika bahwa bila alokasi sumber daya dilakukan secara terpusat, maka pertumbuhan ekonomi yang menyejahterakan masyarakat banyak akan dapat tercapai.  

Adapun model oligarki, dikatakan sebagai bentuk kapitalisme yang paling buruk oleh buku ini. Sebab, sistem ekonomi yang ada dirancang hanya untuk memenuhi kepentingan segelintir lapisan masyarakat atau kroni penguasa (kleptokrasi). Pertumbuhan ekonomi yang positif demi memakmurkan warga negara tidak menjadi tujuan utama rezim. Bagi tipe oligarki, kalau toh terjadi kenaikan dalam hal pertumbuhan ekonomi, maka hal itu akan dimanfaatkan penguasa untuk menjinakkan kelompok masyarakat sipil agar tidak mengkritisi rezim. Secara radikal, Baumol et.al. bahkan sampai menyebut bahwa revolusi sosial barangkali merupakan satu-satunya alternatif paling rasional untuk membongkar tatanan kapitalisme oligarki yang telah menciptakan kesengsaraan bagi warga negara (hal. 134).

Ketiga, kapitalisme perusahaan besar atau oligopolistik. Meski mencapai kesimpulan yang berbeda, baik Joseph Schumpeter dan John Galbraith sama-sama pernah meramalkan kemunculan model kapitalisme ini ketika menganalisis kondisi perekonomian Amerika pasca-Perang Dunia II. Schumpeter mengkhawatirkan, proses inovasi maupun kegiatan kewirausahaan hanya akan terpusat di perusahaan besar saja.

Lebih-lebih, kala itu sedang membuncah tren birokratisasi dalam tubuh perusahaan besar. Akibatnya, Sang Mahaguru Demokrasi Prosedural itu semakin yakin bahwa kesempatan wirausahawan di luar perusahaan besar untuk berinovasi, akan kian terhambat (hal. 147). Sebaliknya, Galbraith tidak khawatir perusahaan besar akan kehabisan inovasi-inovasi baru. Yang menjadi kecemasannya ialah justru ketika perusahaan besar menjadi teramat kuat di sebuah negara. Akibatnya, masyarakat akan berpaling pada “kekuatan penyeimbang” yakni pemerintah dan serikat pekerja, agar dapat mengendalikan ekses negatif yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan besar (hal.148).   

Keempat, kapitalisme kewirausahaan. Inilah jenis kapitalisme ideal yang diidamkan oleh buku tebal bersampul hitam ini. Menurut asumsi model keempat ini, para pelaku ekonomi khususnya kaum wirausahawan, merupakan aktor istimewa bagi tercapainya peningkatan pertumbuhan ekonomi negara. Pasalnya, dibandingkan dengan perusahaan besar yang cenderung lamban berinovasi, wirausahawan dianggap lebih berani bereksperimen dan memperdagangkan inovasi-inovasi radikal (hal.160).

Supaya lebih jelas, Baumol et.al menjabarkan rentetan pembentukan sistem ideal ini sebagai berikut. Kapitalisme merupakan satu-satunya iklim ideal bagi tumbuh kembangnya wirausahawan berjiwa inovatif. Melalui mekanisme pasar terbuka yang tersedia, berbagai peluang bagi wirausahawan untuk mengimplementasikan ide-ide kreatifnya terbuka lebar. Di sisi lain, perusahaan besar yang telah mapan cenderung lebih senang berada di zona nyaman, atau sebenarnya mereka berkemauan mengeksploitasi produknya untuk disempurnakan agar bernilai jual lebih tinggi, namun birokrasi perusahaan yang gemuk membuat spirit kreatif tersebut urung dieksekusi (hal.162).

Kesempatan inilah yang lalu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh pelaku wirausaha untuk melakukan “dua aksi radikal”, yakni replikasi dan inovasi. Replikasi merupakan upaya mengembangkan produk di pasaran yang diproduksi perusahaan besar sehingga menjadi komoditas baru atau varian produk yang lebih mutakhir. Kemampuan replikasi membuat perekonomian kapitalis tidak terancam dengan arus masuk produsen asing sehingga tidak merasa perlu bersikap reaktif membuat undang-undang pembatasan impor dalam rangka melindungi pelaku usaha lokal. Sebaliknya, bagi wirausahawan lokal, keran impor dibaca sebagai peluang mencari ide, imitasi, dan transfer pengetahuan. Adapun inovasi ialah menemukan barang maupun jasa yang sama sekali baru dan belum pernah tersedia prototipe sebelumnya.

Penutup

Barangkali dari keberpihakan ketiga penulis pada model kapitalisme keempat ini kemudian menimbulkan tanda tanya, apa hebatnya kontribusi wirausahawan yang tidak terorganisasi rapi layaknya negara atau perusahaan besar, dalam meningkatkan perekonomian negara? Sebagai ilustrasi, Israel adalah kasus unik yang disajikan oleh para penulis sebagai jawaban terhadap pertanyaan skeptis tersebut.

Sebagai negara kecil yang dikepung konflik berkepanjangan dengan negara-negara Arab, penduduk Israel akhirnya “dipaksa” untuk berwirausaha, mengembangkan segenap potensinya untuk berinovasi di berbagai bidang. Situasi tidak nyaman secara politik itulah yang lalu justru membuat inovasi teknologi Israel melesat ke depan sehingga berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski wirausahawan mendapat tempat teristimewa dalam buku ini, tidak berarti Baumol et.al. mengabaikan peran perusahaan besar dalam berinovasi. Bell Laboratories, sebuah divisi riset di bawah naungan AT&T, Amerika adalah contoh sukses bagaimana otak kreatif yang diberi kesempatan berkiprah dalam perusahaan berhasil mencipta inovasi radikal di bidang teknologi bagi umat manusia: transistor dan semi-konduktor. Selain itu, tanpa kehadiran perusahaan, tentulah rupa-rupa inovasi kreatif kaum wirausahawan tidak mungkin bisa diproduksi secara massal agar dapat dinikmati oleh konsumen.

Akhirnya, ulasan panjang ini sampailah pada kesimpulan, bahwa penolakan terhadap kapitalisme adalah sikap yang benar. Benar, jika ditujukan pada tipologi kapitalisme oligarki yang tidak memilki komitmen pada kesejahteraan umum. Menjadi keliru ketika kapitalisme yang mendayagunakan nalar kreatif masyarakat untuk berwirausaha justru ditolak.

Fikri Disyacitta

Fikri Disyacitta, MA adalah Peneliti di PolGov UGM. Ia berminat pada isu politik pangan dan politik lokal. Kini sedang meriset persoalan penyelenggaraan pilkades di Yogyakarta bersama PolGov UGM dan Australia National University (ANU). Fikri dapat dihubungi di [email protected] .