Moral Kapitalisme: Apa yang Profesormu Tak Pernah Ajarkan

Resensi    | 16 Apr 2018 | Read 971 times
Moral Kapitalisme: Apa yang Profesormu Tak Pernah Ajarkan

Detail Buku

  • Judul: Moral Kapitalisme: Apa yang Profesormu Tak Pernah Ajarkan
  • Penulis: Tom G. Palmer (Editor)
  • Jumlah Halaman: 158
  • Tahun Terbit: 2017
  • Penerbit: FNF dan Suara Kebebasan

Kapitalisme hingga hari ini masih merupakan fakta yang menyedihkan dan tidak bermoral di mata lawan-lawannya. Seakan basis intelektual dan muatan moral yang dirumuskan oleh para ekenom dan filsuf zaman dulu terhadap sistem ini tidak ada gunanya sama sekali. Sekali satu prinsip dalam liberalisme diangakat dalam hubungannya dengan pasar (sebagai rumusan ideologis) mesti dicurigai. Seperti ada di hati kecil mereka yang selalu berkata: " sistem ini kurang manusiawi, terlalu egois, busuk".

Wajar-wajar saja jika noda-noda itu selalu tampak di mata para pencibir kapitalisme, karena mereka selalu terpaku pada permukaan sistem ini, bukan pada efek-efeknya yang tak terlihat. Mereka sangat yakin telah melihat kekurangannya dan hendak dengan segera membuat suatu sistem artfisial, tak peduli sistem itu memaksa ataupun sejalan dengan hukum ekonomi. Sosialisme dengan segala variannya menjadi ide segar bagi mereka, dan konon adalah sistem paling peka dalam melihat ketimpangan di masyarakat. Tapi sayangnya, kepekaan itu sekaligus membutakan mereka bahwa sosialisme  pada dirinya mensyaratkan perampasan, pun perbudakan dalam menjalankannya. Sejarah telah mencatat itu.

Selain itu, kapitalisme di mata mereka adalah sistem yang tidak melibatkan nilai; para pemodal melihat orang lain hanya sebatas bagian dari akumulasi profit, tak lebih. Asumsi-asumsi yang menyesatkan seperti ini hendaknya kita perbaharui, sebab fakta menunjukan bahwa kemajuan manusia ditopang oleh melimpahnya barang dan jasa yang diciptakan oleh para kapitalis. Dan perlu kita ketahui, hari ini tidak ada manusia yang menjadi begitu rendah karena sistem kapitalisme ini.

Tak bisa juga dipungkiri, bahwa kapitalisme ideal yang diharapkan oleh pendukung liberalisme klasik telah digeser oleh sejenis kapitalisme yang merusak. Banyak penentang kapitalisme yang begitu saja menyamakan bahwa kapitalisem kroni, kapitalisme negara, dan korporatisme adalah saudara kembar dari ideal kapitalismenya liberalisme klasik atau libertarian. Pada tataran konseptual ini, memang harus diluruskan karena secara moral maupun ekonomi, banyak hal yang bermasalah dengan genus-genus itu.

Buku  yang ada di tangan anda sekarang, Moral Kapitalisme, yang diedit oleh Tom G. Palmer, menjelaskan sekaligus memberikan argumen untuk keberatan-keberatan yang ditunjukan oleh para penentang kapitalisme. Dan secara menyeluruh, problem yang paling banyak diajukan terhadap eksistensi kapitalisme adalah problem etis, sehingga perlu kiranya kita mempelajari tulisan-tulisan para intelektual dalam buku ini untuk menjawabnya.

Pada bagian pertama buku ini, kita disajikan dengan wawancara menarik dan penuh dengan pengalaman konkret dari seorang pengusaha. Tom G. Palmer, seorang libertarian terkemuka, mewawancarai  seorang CEO Whole Foods, John Mackey, perihal makna dan konsep self interest sebagai basis  kerja kapitalisme. Dalam wawancaranya, ia tidak sepakat dengan argumen bahwa manusia ketika melakukan sesuatu semata didorong oleh kepentingan pribadi. Ia melihat bahwa motif yang ada di balik tindakan manusia terlalu kompleks untuk sekedar ditandai dengan kepentingan pribadi. Bahkan dikotomi randian antara selfishness dan altruisme, menurutnya, tidak mesti ada.

Barangkali memang tindakan manusia jika ditarik dari pengalaman langsung tidak sepenuhnya bisa direpresentasikan oleh satu jenis teori. Namun ini dengan sangat jelas menegaskan bahwa John adalah seorang individu dengan segala keinginan dan dorongan yang ada padanya. Ia berpikir dan bertindak sebagai individu. Dan prinsip etis yang sejatinya menopang eksistensi individu ini adalah kebebasan dan hak milik, bahkan prinsip inilah yang menopang kemajuan suatu masyarakat sejak revolusi industri. Tapi dari kalangan marxis mengkalaim bahwa kepemilikan pribadi adalah fakta yang mesti dihentikan atau dihilangkan karena ia adalah akar dari segala eksploitasi yang ada pada kapitalisme sejak era itu. Barangkali pula ada baiknya jika kita merenungkan pertanyaan dari Deirdre N. McCloskey: bagaimana bila sendainya Revolusi Industri muncul karena perubahan cara berpikir seseorang, khususnya bagaiamana mereka berpikir tentang satu sama lain? Bahwa mesin uap dan komputer datang dari sebuah kehormatan baru bagi seorang inovator--bukan dari menysun batu bata satu persatu, atau matinya satu persatu orang Afrika?

Pada bagian dua buku ini, anda juga akan menemui sebuah penjelasan yang menarik soal kepentingan pribadi dalam hubungannya dengan pertukaran dalam pasar. Seorang ekonom sekaligus intelektual China, Mao Yushi, menunjukan sebuah kondisi dan logika paradoks jika dalam sebuah pertukaran seseorang mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri. Ia menyebut pertukaran dengan motif demikian sebagai "paradoks moralitas". Konsekuensi yang ditunjukan oleh Mao dari tindakan tersebut adalah perselisihan, dan tentunya, sangat bertentangan dengan ekonomi pasar.

Problem yang dibahas oleh Mao adalah problem moral yang punya tendensi ke arah altruisme. Dan itu berbeda tentunya dengan transaksi atau pertukaran barang yang dilakukan oleh dua orang dalam logika pasar, yang mana didorong oleh masing-masing-masing preferensi atau kepentingan pribadi; keduanya berharap mendapatkan keuntungan dari pertukaran tersebut. Ini kemudian yang disebut prefrensi terbalik dalam ekonomi mazhab Austria, sebuah hukum ekonomi yang mempunyai karakter aksiomatik dan universal. Maka merupakan suatu kebodohan menjalankan suatu bisnis dengan dilatari moralitas yang keliru. "Menjalankan suatu bisnis dengan tujuan merugi adalah sebuah cara yang bodoh, bahkan tolol untuk menjadi seorang dermawan," demikian H.B Acton, dalam bukunya The Morals of the Markets.

Bagian tiga pada buku ini juga tidak kalah pentingnya untuk diketahui. Ludwig Lachman membahas perihal distribusi kekayaan dalam hubungannya dengan ekonomi pasar. Ia juga sekaligus memproblematisir konsep ekuilibrium yang menurtnya tidak bisa dipakai dalam menentukan sebuah keberhasilan dari distribusi kekayaan. Sebab, ekuilibrium mengandaikan sebuah perencanaan konsisten, sedangkan redistribusi kekayaan tidak demikian. Bagaimana kiranya kita memahami ini?

Yang jelas distribusi kekayaan adalah bentuk dari kekuatan pasar. Ia adalah objek, kata Lachman, bukan agen. Jadi, jika masyarakat percaya serta memikirkan lebih lanjut bagaimana mekanisme pasar bekerja, mungkin politisi akan kehabisan ide untuk membuat semacam program-program pemerataan dalam kampanyenya.

Pada bagian terakhir buku ini, anda akan menemukan esai dari seorang intelektual publik, novelis dan pemenang Hadiah Nobel dalam bidang sastra, Mario Vargas Llosa. Ia membahas fakta globalisasi sekaligus masyarakat yang anti globalisasi karena alasan identitas budaya. Ia berpendapat bahwa penolakan terhadap globalisasi biasanya tidak berkaitan dengan ekonomi, tapi justru pada etika dan budaya. Ini sangat penting jika kita kaitkan dengan konsep kita terhadap struktur masyarakat. Para penentang globalisasi umumnya mempunya asumsi yang kuat soal kesucian identitas budaya, sehinga membawa mereka pada kepercayaaan kolektivisme yang kuat ketimbang kepada induvidualisme. Dan tentunya kita tidak bisa berharap banyak pada mental seprti ini untuk kemajuan suatu masyarakat. Sebab, indvidu akan selalu ada di bawah kekuatan imaginasi yang tabu tapi sekaligus koersif.

Pada akhirnya, jika kita perhatikan lebih saksama, banyak orang sebenarnya sudah menyadari manfaat langsung dari pasar bebas serta keniscyaan dari peran indvidu-individu kreatif di dalamnya--sekalipun orang tersebut menganut sebuah ideologi yang menentang kapitalisme--pun jika kebebasan eknomi masih dalam tahap campuran karena alasan-alasan tertentu (alasan identitas budaya, misalnya). Tidak ada yang terlalu bodoh sekarang ini untuk menolak kapitalisme karena mengira masih ada sistem terbaik selainnya.

Di abad 21 ini, abad yang konon disembut-sebut sebagai abad yang sedang memasuki revolusi industri keempat, sistem kapitalisme sudah menjadi situasi yang niscaya, sebagai conditio sine qua non. Setiap individu akan dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam merespon segala perubahan. Apalagi relasi sosial kita  telah berubah secara signifikan karena keberadaan arus teknologi yang begitu pesat. Steven Pingker bahkan menyatakan bahwa kemajuan masyarakat hari ini tidak bisa dibayangkan oleh generasi-generasi terdahulu, karena begitu maju dan beradab.

Buku Moral Kapitalisme ini dapat memberikan kepada khalayak pembaca uraian yang cukup lengkap soal prinsip-prinsip dasar yang menopang sistem kapitalisme baik dalam tataran etik, politik, maupun ekonomi. Tak luput pula, gagasan-gagasan filosofis dari para penulis esai dalam buku ini sungguh kaya dan barangkali akan membuat kita kembali merefleksikan pentingnya kedudukan kapitalisme dalam menciptakan masyarakat  yang sejahtera, maju, dan beradab. Dalam buku ini juga, telah disajikan daftar buku untuk bacaan lanjut bagi para pembaca yang ingin mendalami konsep-konsep dasar pasar bebas. Dan sebagai penutup, saya hanya bisa menyampaikan: jika anda masih memberikan kesempatan untuk para pejuang dan pembela kapitalisme menjelaskan sisi humanisme dari kapitalisme, maka bacalah buku ini.

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.