The L Word

Resensi    | 8 Jan 2018 | Read 336 times
The L Word

 Alice    : What are you fighting for?

Tasha  : I’m fighting to stay in the military. I’ve worked my whole life for this, Alice.

Alice    : So, you’ve worked your whole life to just deny who you are? –The L Word 5.02- 

Terdiri dari 6 season (70 episode)  masa penayangan di rentang waktu 2004-2009, The L Word merupakan Showtime Production, yang diperankan oleh Jennifer Beals (Bette Porter), Laurel Holloman (Tina Kennard), Katherine Moennig (ShaneMcCutcheon), Mia Kirshner (Jenny), Leisha Hailey (Alice Pieszecki), Pam Grier (Kit Porter), Rachel Shelley (Helena Peabody), Erin Daniels (Dana Fairbanks), Marlee Matlin (Jodi Lerner), Karina Lombard (Marina Ferrer), Alexandra Hedison (Dylan Moreland), Daniela Shea (Max Sweeney), Sarah Shahi (Carmen), serta beberapa bintang tamu di tiap season. 

Semua episode The L Word diawali dengan huruf L, sangat literatur dan konsisten. Ide dan penulis utama dari serial ini adalah Ilene Chaiken, seorang lesbian yang merasa perlu untuk menceritakan kisah kehidupan LGBT pada umumnya dan khususnya lesbian. Rose Troche yang juga seorang lesbian, pun memiliki banyak kontribusi dalam penulisan screen play di beberapa episode. Terdapat beberapa sutradara dalam serial ini, termasuk Rose Troche dan Ilene Chaiken sebagai sutradara inti (saya rasa mereka ingin memastikan bahwa tulisan dan pesan mereka secara visual tersampaikan kepada penonton). 

Serial ini mengisahkan persahabatan sekelompok lesbian di Los Angeles dengan berbagai permasalahan cita, cinta, politik, kanker payudara, konflik diantara mereka, konflik di luar yang mempengaruhi kehidupan mereka  hingga transgender/transman yang menurut saya dikemas dengan ringan beserta unsur komedi (I mean, why so serious?). Secara keseluruhan, hampir semua permasalahan yang biasa dihadapi oleh perempuan terutama lesbian, sangat terwakili di serial ini.

Jika ingin menonton serial komedi yang dijejali dengan kromoson XX, saya anjurkan menonton The L Word. Secara gamblang yang ingin disampaikan oleh serial ini adalah pengakuan, pengakuan keberadaan lesbian bahwa mereka bukan mahluk invisible, kalaupun terlihat tapi terkesampingkan dari kehidupan, bahkan dianggap sebagai suatu penyakit yang harus diobati. Seperti yang dialami oleh Dana Fairbanks (Erin Daniels) seorang petenis profesional, parno dengan dirinya sebagai lesbian bahkan takut untuk sekedar hang-out bersama Shane McCutcheon (Katherine Moennig) seorang hair stylist yang sangat terbuka mengenai seksualitasnya, a no-commitment person dan diekspresikan dalam caranya berpakaian yang terlihat androgyny, karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi karir Dana apabila dunia mengetahui dirinya berteman dengan lesbian atau lebih parahnya diketahui bahwa dia adalah seorang lesbian! Berbeda dengan Alice Pieszecki (Leisha Hailey) seorang jurnalis yang out loud mengenai preferensi seksualnya, serta tidak menemui kendala dalam karir karena menjadi biseksual malah justru memperoleh banyak kesempatan dengan kreativitasnya. Our Charts karya Alice merupakan inti utama dari serial The  L Word.

Realize that sexuality can be very fluid. Studies have found that women define their sexuality more ambiguously as they age.

Preferensi seksual perempuan yang terbukakan bahwa pilihan ketertarikan gender bukan hanya kepada laki-laki saja pun diceritakan di serial ini, entah itu ketika di usia 20an yang dialami oleh Jenny Schecter (Mia Kirshner), usia 50an dialami oleh Phyllis (Cybill Shepherd), serta Kit Porter (Pam Grier). Bahkan preferensi seksual seorang laki-laki yang merasa bahwa dirinya lesbian dituangkan di season 1. Isu lain mengenai transgender tak luput dari pandangan The L Word, perempuan butch (merupakan istilah dalam LGBT untuk mendeskripsikan gaya, sifat, prilaku, ekspresi, persepsi diri dan sebagainya yang bersifat maskulin dalam seorang wanita) bernama Moira Sweeney (Daniela Sea) menjalani suatu proses transman (top surgery/suntik hormon) merubah nama menjadi Max, beserta konsekuensi yang harus dialaminya baik itu secara hormonal maupun dari lingkungan sekitar. Walaupun pada akhirnya Max menjalin hubungan dengan gay man bernama Tom Mater (Jon Wolfe Nelson) hingga Max hamil!

Bette dan Tina merupakan pasangan monogami utama di serial ini. Hubungan mereka selama 7 tahun sempat kandas di tengah usaha mereka ingin memiliki anak (lesbian? Punya anak? Penasaran kan?) dikarenakan hadirnya orang ketiga di kala mereka berdua pun sedang dilanda stres berat di pekerjaan dan dalam hubungan mereka sendiri. Persoalan klise yang juga dialami oleh hubungan heteroseksual normatif ya?

The L Word menampilkan sekumpulan perempuan lesbian (karena ternyata ada pria lesbian) yang sukses di bidangnya. Tidak sesuai dengan realita? Kembali lagi dengan pengandaian apabila pekerjaan/karir para homoseksual dalam hal ini lesbian tidak perlu dipermasalahkan orientasi seksualnya karena orientasi seksual adalah hak pribadi setiap orang. Dan mungkin saja bisa menjadi nyata bahwa mereka bisa sukses. Serial ini ingin membangkitkan nuansa positif mengenai lesbian: cantik, dandy dan sukses. Bahwa lesbian tidak melulu mengenai perempuan macho kelaki-lakian,  meskipun memang porsi dan ekploitasinya di dunia nyata lebih banyak ke arah sana. Serial inipun sangat menghibur dan memiliki edukasi mengenai kehidupan seks lesbian.

Menarik tidak hanya karena kebebasan berekspresi di Amerika Serikat (AS) dan juga bagaimana AS sudah selesai dengan permasalahan orientasi seksual yang menjadi hak setiap individu sehingga serial ini tidak disensor. Kompleksitas permasalahan yang diangkat masih up to date hingga saat ini (mengingat pertunjukan serial ini di rentang waktu 2004-2009), dilematik kehidupan lesbian khususnya di Amerika baik itu dalam pekerjaan/karir, keluarga (masih di seputar coming-out: pilihan pribadi untuk membuka diri/pengakuan diri), komunitas masyarakat dan persahabatan adalah yang ingin disampaikan serial ini dikemas secara ringan dan humoris.

Kekurangan dari serial ini  adalah ditutupnya serial ini dengan cerita miris pada season 6, season terakhir. Jenny meninggal secara misterius dan meninggalkan tanda tanya apakah dibunuh atau bunuh diri. Di sisi lain, keunggulan film ini adalah persahabatannya yang sangat erat yang dibalur dengan komedi, baik itu dalam menghadapi permasalahan maupun penyelesaian konflik. That’s what friends are for sangat terwakili dalam serial ini. Ketika pertama kali saya menonton film ini, cita-cita saya cuma satu, ingin memiliki sekelompok grup teman perempuan yang kompak, saling mendukung, dan menghargai satu sama lain. And I got one!  

 

Febrika Pamella Ratag

Febrika Pamella Ratag adalah orangtua tunggal dari satu anak. Lulusan dari AKSEK/LPK Tarakanita tahun 1999. Saat ini, ia bekerja sebagai Guru Private Bahasa Inggris, Notulen paruh waktu, dan Agen Asuransi. Tahun 2005-2006, Febrika Pamella terlibat di beberapa kegiatan Jurnal Perempuan mengenai masalah LGBT. Ia juga pernah terlibat sebagai moderator online di website Insitut Pelangi Perempuan (2005-2008). Febrika Pamella bisa dihubungi di [email protected] , twitter @freezeicely