Mengenal Argumen Islam dan Kebebasan

Resensi    | 13 Des 2017 | Read 251 times
Mengenal Argumen Islam dan Kebebasan

Detail Buku

  • Judul: Islam dan Kebebasan Argumen Islam Untuk Masyarakat Bebas
  • Penulis: Nouh El Harmouzi & Linda Whetstone (Editor)
  • Jumlah Halaman: 214
  • Tahun Terbit: 2017
  • Penerbit: Suara Kebebasan (Terjemahan)

Apakah benar Islam adalah agama yang anti terhadap nilai-nilai kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia? dan bagaimanakah pandangan Islam terhadap perdagangan bebas? Apakah tepat pandangan orang-orang saat ini yang mengira bahwa Islam adalah agama yang intoleran dan agresif? Pertanyaan ini muncul dalam benak banyak orang di seluruh dunia, tak terkecuali orang-orang Non Muslim yang berada di Eropa dan Amerika.

Pasca peristiwa teror 9/11, konflik Afghanistan, perang Irak - Amerika,  gerakan reformasi di Libya dan Mesir yang kemudian terkenal dengan Musim Semi Arab (Arab Springs) serta munculnya gerakan organisasi teroris internasional seperti Islamic State Iraq and Syria (ISIS) membuat mata dunia tertuju pada bangsa Arab dan Islam secara khusus. Banyak orang yang bertanya-tanya apakah benar agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW lebih dari 1000 tahun yang lalu sebagai biang keladi dari gerakan teroris internasional? Apakah benar umat Islam sangat eksklusif dan ingin membunuh orang-orang non Muslim yang mereka cap kafir?  

Ditengah-tengah kebingungan dan munculnya sikap phobia masyarakat dunia terhadap Islam, sebuah buku muncul untuk menjawab dengan tepat rasa penasaran masyarakat terhadap Islam.  Buku yang berjudul Islam dan Kebebasan: Argumen Islam untuk Masyarakat Bebas merupakan kumpulan esai-esai para Sarjana Muslim dan Intelektual Barat yang diedit oleh Nouh El Harmouzi dan Linda Whetstone, yang ditunjukan secara khusus untuk mengenal seraya mendiskusikan gagasan dan praktik Islam berwatak Liberal.

Buku yang diterbitkan oleh Suara Kebebasan ini mencoba untuk menggali dan membaca ulang nilai-nilai fundamental Islam yang diinterpretasikan secara keliru oleh para ekstrimis Islam. Memang pada hakikatnya agama Islam diturunkan sebagai pembawa cinta (rahmah) bagi alam semesta. Hal ini dibuktikan bahwa kehadiran Islam di masyarakat Arab untuk memperbaiki ketimpangan dan kerusakan moral bangsa Arab, Islam meninggikan derajat kaum perempuan, menyetarakan hak antara budak dengan tuannya, mengajarkan kasih sayang, dan mengajarkan masyarakat Arab secara rasional.

Contoh nyata tentang masalah kesetaraan perempuan dan peran mereka dalam meningkankan pertumbuhan ekonomi. Bilamana kita memperhatikan iklim politik Arab Saudi dan kebijakan-kebijakan lain yang menyangkut perempuan di Timur Tengah dan Afrika, maka akan kita dapatkan beberapa kebijakan yang dianggap bias gender dan merugikan kaum perempuan. Legitimasi agama dan pengaruh budaya abad pertengahan yang menomorduakan status perempuan masih membekas dalam budaya bangsa Arab dan Afrika.  Souad Adnane dalam artikelnya membabarkan fakta bahwa indeks kesenjangan gender dan partisipasi perempuan dalam berekonomi di Timur Tengah dan Afrika, masih belum menggembirakan.

Yaman, Saudi Arabia dan Maroko adalah negara yang masuk tiga besar dalam hal buruknya kesetaraan gender dan partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi. Hal ini disebabkan karena budaya Patriarki yang kuat ditambah legitimasi agama yang melanggengkannya. Umumnya masyarakat Timur Tengah dan Afrika masih menganggap tabu jika kaum perempuan bekerja. Hal ini di inspirasi oleh ayat Quran yang berbunyi: “dan hendaklah kamu (kaum perempuan) tetap di rumahmu” (33:33)

Souad Adnane berkomentar bahwa menggunakan ayat tersebut sebagai legitimasi budaya yang merendahkan wanita sama sekali tidak dibenarkan, sebab konteks turunnya ayat ini sebenarnya hanya khusus di peruntukan untuk istri-istri Nabi bukan untuk perempuan pada umumnya. lagi pula dalam Al-Quran tidak ada perintah yang Qath’i (kuat dan pasti) mengenai pelarangan bekerja bagi kaum perempuan.

Sebab dalam sejarah Islam awal, umat Islam memiliki tokoh wanita seperti Khadijah yang menjadi saudagar kaya raya sembari menjadi istri yang baik untuk Nabi Muhammad. Hal ini menguatkan bahwa pada hakikatnya, Islam tidak melarang (dan tidak ada ketetapan) bagi kaum wanita yang ingin berkarir dan bekerja.

Namun semangat pembebasan yang dibawa oleh agama Islam tersebut dewasa ini seolah-olah terkubur. Masalah yang kita hadapi saat ini adalah munculnya gerakan revivalisme yang  menjadikan Islam sebagai landasan perjuangan mereka. Tujuan pokok kaum Islamis ini menciptakan tatanan dunia yang adil makmur di bawah bendera Islam. Merubah sistem politik demokrasi menjadi sistem kekhilafahan, merubah sistem ekonomi pasar bebas menjadi ekonomi yang berlandaskan syariah, dan menerapkan hukum Islam sebagai pedoman hukum yang sah.

Sayangnya semangat renaissance Islam tersebut justru malah menyimpang ke garis yang ekstrim. Perjuangan yang awalnya diusahakan melalui jalur politik yang konstitusional, malah berujung pada gerakan agresif. Kekalahan dan rasa inferioritas masyarakat muslim terhadap peradaban Barat telah membangkitkan semangat revolusioner di hati sebagian kaum muslim yang militan. Semangat pemberontak tersebut kemudian mengarah pada terorisme yang saat ini meresahkan masyarakat dunia.

Tentu semangat pemberontak umat Islam tidak hadir seketika, namun ada sebab-sebab dari luar yang membentuk pola pikir umat Muslim dizaman ini menjadi stagnan (jumud) dan ekstrim. Atiylla Yayla dan Mustafa Acar pada Bab kedua menguraikan sebab-sebab yang membuat pola pikir muslim di zaman ini menjadi radikal. Salah satunya adalah surutnya kreativitas dan inovasi umat Islam akibat doktrin penutupan pintu ijtihad pada abad ke 13 M. Sebab lainnya adalah munculnya kolonialisme dan keberhasilan Perancis dan Inggris dalam menduduki wilayah kekuasaan Islam.

Sebab-sebab inilah yang akhirnya membuat kaum muslim terpuruk dan berpandangan negatif terhadap pemikiran dan peradaban yang datang dari Barat. Mereka kerap mencurigai paham pluralisme, liberalisme, ekonomi pasar bebas atau kapitalisme, demokrasi, kebebasan individu, dan hak asasi manusia. Sebab kebencian mereka terhadap nilai-nilai tersebut tak lain dan tak bukan karena: gagasan tersebut dibawa oleh orang Barat kafir. Mereka tidak sadar bahwa ide-ide kebebasan dan toleransi telah ada dalam ajaran Islam itu sendiri.

Tujuan utama dari buku ini adalah berusaha membuktikan kepada masyarakat dunia termasuk kaum muslim bahwa ajaran-ajaran yang menjunjung nilai-nilai kebebasan, toleransi, prinsip ekonomi yang bebas adalah ajaran mendasar dari agama Islam, atau sekurang-kurangnya Islam mengajarkan sikap yang demikian. Isu toleransi dan kebebasan individu yang dewasa ini menjadi perdebatan pada hakikatnya juga terdapat dalam ajaran Qurani.

Misalnya bila kita membaca beberapa Surat dalam Kitab Al Qur’an: “Dan kalau Allah menghendaki niscaya dia menjadikan kamu umat yang satu.... dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang diri kamu kerjakan” (16:93). “tidak ada paksaan dalam beragama” (2:156). “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (109:6) ini membuktikan bahwa nilai-nilai toleransi dan perdamaian telah menjadi salah satu dasar ajaran Islam.

Azhar Aslam pada Bab Lima buku ini menerangkan secara tuntas mengenai ajaran fundamental Islam yang justru berkebalikan dengan realitas sekarang. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, perngerusakan gereja, pelarangan berdirinya kuil dan Vihara, pengeboman terhadap rumah ibadah agama lain, dan aksi-aksi intoleran lainnya justru tidak tercermin dalam ajaran Islam awal.

Bahkan dalam suatu riwayat pernah Muhammad SAW bersabda “Aku tidak menginginkan umat muslim mengganti gereja-gereja menjadi masjid setelahku”. Bahkan ucapan salam dari umat Muslim itu sendiri merupakan wujud cinta kasih, yaitu Assalamualaikum - semoga kedamaian menyertaimu- merupakan bukti konkret bahwa dalam agama Islam tidak ada ajaran memerangi agama lain secara zalim dan biadab dengan alasan menegakkan agama.

Lalu bagaimanakah pandangan Islam terhadap kebebasan individu dan ekonomi pasar bebas? Banyak orang mengira bahwa Islam merupakan agama yang dekat dengan semangat sosialisme dan menjadi lawan dari paham liberalisme yang menekankan individualisme. Banyak para intelektual marxis di Timur tengah dan Eropa yang mengkaji sisi ‘revolusioner’ Al-Quran dan membaca ajaran Islam dari kerangka berpikir sosialisme. Namun pada faktanya sejarah Islam awal justru mendukung nilai-nilai kebebasan individu dan ekonomi berbasis kesukarelaan (pasar).

Misalnya, dari sudut pandang ibadat, berbeda dari agama lainnya, ibadat umat Islam tidak membutuhkan perantara agamawan agar ibadahnya diterima Tuhan. Praktik syahadat, shalat, puasa, zakat, bahkan haji (walaupun dikerjakan secara bersama-sama) pada prinsipnya adalah ritual pribadi yang tidak membutuhkan perantara agamawan. Dari nilai-nilai ibadat ini saja Islam sudah sangat menjunjung nilai individualitas.

Dan yang terpenting, dalam ekonomi, Nabi mengajarkan dan mempraktekan serta melidungi  hak individual, baik dalam kepemilikan alat-alat produksi dan kepemilikan kekayaan secara pribadi. Beliau juga memuji kaum saudagar dan menyetujui perdagangan lintas wilayah. Pada abad ke 7 Masehi Kota Makkah telah menjadi kota dagang internasional yang selalu dilalui oleh para saudagar dari berbagai negara, khususnya Cina dan Persia. Sebagaimana dinyatakan oleh dua penulis , Maszlee Malik dan Hicham El Moussaoi

Dari sini kita dapat menilai bahwa ajaran Islam tidak sejalan dengan pandangan kaum kolektivis dan sosialis, justru ajaran Islam mendukung semangat perekoomian yang menekankan pada prinsip pasar bebas.

Buku Islam dan Kebebasan ini, secara gamblang mengajak umat muslim untuk kembali ke ‘khittah’, mengajak untuk meneliti kembali ajaran Islam awal. Berbeda dengan semangat Islam dewasa ini yang cenderung radikal dan agresif, buku ini justru menjabarkan pada kita wajah Islam yang sebenarnya, Islam yang senantiasa menjunjung nilai-nilai tolerasi, cinta kasih, inklusif, fleksibel, dan paling utama liberal.

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]