Review “Don’t Be A Sucker”: Neo-Nazi di Amerika

Resensi    | 7 Sep 2017 | Read 88 times
Review “Don’t Be A Sucker”: Neo-Nazi di Amerika

11 Agustus lalu, kota Charlottesville di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, mengalami peristiwa yang tidak biasa. Hari itu, ratusan orang kulit putih melakukan pawai dengan membawa obor dan bermacam-macam bendera, diantaranya adalah bendera Nazi Jerman dan bendera Konfederasi, sembari meneriakkan slogan-slogan rasis dan anti semit.

Pawai yang diorganisir oleh berbagai kelompok rasis dan supersai kulit putih tersebut, diantaranya adalah Ku Klux Klan (KKK), Gerakan Nazi Amerika Serikat, dan gerakan Alt-Right, memiliki tujuan untuk memprotes keputusan dewan kota untuk menurunkan patung Robert Lee yang berdiri di Emancipation Park di kota Charlottesville.

Robert Lee sendiri merupakan komandan dari pasukan Konfederasi dalam Perang Sipil Amerika Serikat lebih dari 150 tahun yang lalu. Sebagaimana diketahui, negara-negara bagian wilayah selatan di Amerika Serikat memberontak terhadap pemerintahan pusat, yang menyebabkan meletusnya Perang Sipil pada tahun 1861 hingga 1865, dikarenakan keputusan presiden Amerika pada masa itu, Abraham Lincoln, untuk mengeluarkan kebijakan yang menghapuskan praktik perbudakan di negeri Paman Sam.

Keputusan dewan kota tersebut diambil sehubungan dengan adanya protes dari berbagai pihak sebelumnya, diantaranya adalah kelompok pejuang hak sipil di Amerika Serikat, yang melihat patung Lee tersebut sebagai bentuk glorifikasi atas praktik perbudakan. Namun di lain pihak, kelompok-kelompok rasis di Amerika Serikat melihat bahwa keputusan penurunan patung Lee tersebut sebagai upaya untuk menghapuskan simbol-simbol yang menjadi bagian penting dalam sejarah Amerika Serikat.

Namun pada akhirnya, protes terhadap keputusan penurunan patung Robert Lee tersebut bukanlah satu-satunya agenda yang diadakan dalam pawai tersebut. Berbagai hal, seperti tuntutan penutupan imigrasi dan anti multikulturalisme, juga merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dari peserta pawai tersebut.

David Duke, yang merupakan mantan pemimpin Ku Klux Klan dan juga salah satu penyelenggara pawai tersebut, mengatakan kepada para wartawan bahwa aksi yang dilakukannya merupakan bentuk upaya dari sebagian masyarakat Amerika, khususnya yang berkulit putih, yang menginginkan untuk “mengambil alih negara mereka kembali.”

Sontak, kecaman terhadap aksi tersebut pun berdatangan dari berbagai tokoh dan figur publik di Amerika Serikat, seperti atlet, selebriti, dan politisi baik dari Partai Demokrat maupun Partai Republik.

Namun, paska aksi tersebut, ada hal menarik yang terjadi di dunia maya. Sebuah film pendek berjudul “Don’t Be A Sucker”, menjadi viral. Film tersebut dibuat oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1943 untuk mengingatkan rakyat negeri Paman Sam mengenai bahaya Fasisme.

*****

Film pendek yang hanya berdurasi 17 menit tersebut diawali dengan adegan seorang pemuda bernama Mike, yang sedang menyaksikan seorang pria paruh baya melakukan orasi bernada rasis di taman kota. Pria paruh baya itu sendiri menyatakan bahwa dirinya merupakan warga Amerika Serikat biasa, yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat negeri Paman Sam.

Dalam orasinya, pria paruh baya tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang dilanda berbagai masalah, diantaranya adalah masalah mengenai pekerjaan. Banyak masyarakat Amerika yang tidak mampu memiliki pekerjaan, dan ia menuduh bahwa warga kulit hitam dan imigran merupakan kelompok yang telah mengambil lapangan kerja yang sebelumnya dimiliki oleh warga kulit putih yang lahir di tanah Amerika.

Selain itu, pria paruh baya tersebut juga menuduh bahwa banyak kelompok yang ia anggap bukan merupakan bagian dari masyarakat Amerika, dan oleh karena itu harus diusir dan dilenyapkan agar masyarakat Amerika “pada umumnya” dapat “mengambil alih negara mereka kembali.” Kelompok-kelompok tersebut diantaranya adalah umat Katolik dan anggota Freemason.

Mike sendiri tadinya tidak ambil pusing dengan orasi yang didengarnya tersebut. Ia lahir di Amerika Serikat, berkulit putih, dan juga bukan umat Katolik. Bahkan, Mike sempat berpikir bahwa ucapan pria paruh baya yang didengarnya tersebut mungkin ada benarnya juga, bahwa kelompok imigran dan warga kulit hitam bisa jadi merupakan ancaman bagi masyarakat Amerika.

Namun, ternyata yang diserang oleh orator tersebut bukan hanya warga kulit hitam, umat Katolik, dan juga kelompok imigran, namun juga anggota organisasi Freemason, dimana Mike merupakan salah satu anggota dari organisasi tersebut. Mike sendiri menjadi bingung, apa yang salah dengan Freemason sehingga, menurut orator tersebut, layak dianggap sebagai musuh publik.

“Saya merupakan seorang Mason, apa yang salah dengan diri saya?!” gumam Mike. Pada saat yang bersamaan, ia dihampiri oleh seorang profesor imigran asal Hungaria yang menetap di Amerika Serikat, dan ia berkata kepada Mike “Sebelum dia menyerang kelompok Mason, kamu hampir setuju dengan apa yang orator tersebut katakan, bukan?” “Hmm, tapi bagaimana dengan orang-orang lain yang dibicarakan oleh orang tersebut…” ungkap Mike “Para penganut Katolik, warga kulit hitam, dan imigran?”

“Di Amerika tidak ada yang namanya ‘orang lain’” jawab sang Profesor. “Kita semua adalah warga Amerika yang setara. Saya sendiri merupakan imigran asal Hungaria, dan sekarang saya sudah menjadi warga negara Amerika.”

Selanjutnya, profesor asal Hungaria tersebut menceritakan pengalamannya ketika ia mengajar di Universitas di Berlin pada awal dekade 1930-an. Ucapan yang diorasikan oleh orator tersebut, yang menyerang berbagai kelompok yang dianggap sebagai musuh publik, bukanlah yang pertama kali ia dengar. Profesor tersebut juga pernah mendengarkan ucapan serupa di Berlin, yang dilakukan oleh anggota dari partai Nazi Jerman.

Jerman sebelum naiknya Nazi ke tampuk kekuasaan merupakan negara yang dihuni oleh berbagai umat keagamaan, etnis, dan partai politik. Ada kelompok Yahudi, orang-orang Gipsi, umat Katolik, serta berbagai partai politik seperti Partai Nasional, Partai Katolik, dan Partai Sosial Demokrat. Nazi mengetahui bahwa mereka tidak bisa berkuasa secara absolut di negara yang dihuni oleh berbagai macam kelompok, dan oleh karena itu Nazi menggunakan berbagai cara seperti menyebarkan prasangka dan ujaran kebencian terhadap kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah Jerman.

Berbagai etnis dan kelompok yang menjadi sasaran Nazi diantaranya adalah umat Katolik, kelompok Yahudi, anggota Freemason, orang-orang Gipsi, anggota serikat Buruh, serta berbagai orang yang dianggap Nazi tidak berasal dari ras Arya Jerman yang murni. Kepada para pengusaha kecil, petani, dan pekerja Jerman yang dianggap Nazi berasal dari ras Arya, Nazi mengeluarkan berbagai janji dan propaganda untuk mendapatkan suara mereka.

Nazi menyatakan bahwa ras Arya Jerman, yang berbadan tinggi tegap, berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru merupakan ras terpilih yang lebih tinggi dari kelompok lainnya. Selain itu, Nazi juga mengklaim bahwa hampir semua permasalahan yang melanda Jerman pada masa itu, seperti pengangguran dan persoalan ekonomi lainnya, disebabkan oleh ulah dari kelompok Yahudi. Nazi menjanjikan bahwa mereka akan menyingkirkan umat Yahudi, serta kelompok-kelompok lain yang dianggap lebih rendah dari negara Jerman, dan akan memberikan berbagai hal kepada warga Jerman yang berasal dari ras Arya, diantaranya keuntungan untuk para pengusaha, pekerjaan untuk pekerja, dan lahan untuk para petani.

Yang menyedihkan, bahwa ternyata banyak warga Jerman, yang menurut definisi Nazi sebagai ras Arya murni, yang mempercayai propaganda dan prasangka yang disebarkan oleh partai yang dipimpin oleh Hitler tersebut. Ratusan ribu dan bahkan jutaan warga Jerman memilih Partai Nazi dan memberikan sumpah setianya kepada Hitler. Jerman pun, yang tadinya bersatu dan dihuni oleh berbagai macam kalangan, lantas menjadi terpecah-pecah. Setiap kelompok akhirnya memiliki prasangka terhadap kelompok lainnya, dan hal tersebut memberikan keuntungan besar kepada Nazi, yang lantas memanfaatkan situasi tersebut dan akhirnya berhasil menampuk kekuasaan.

Sebagaimana janji mereka, Nazi akhirnya mulai menghancurkan berbagai kelompok yang dianggap akan menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka. Berbagai partai oposisi dilarang dan dihancurkan oleh Nazi. Selain itu, kelompok Yahudi, umat Katolik, dan juga organisasi serikat buruh juga dipersekusi karena mereka dianggap memiliki kekuatan untuk melawan pemerintah.

Nazi tahu bahwa berbagai propaganda dan ujaran kebencian untuk memecah belah Jerman yang mereka lakukan hanyalah didasari pada kebohongan dan tipu daya belaka. Setelah berhasil mendapatkan kekuasan dan menghancurkan berbagai kelompok oposisi, bukan berarti ancaman terhadap kekuasaan Nazi lantas menghilang. Hitler dalam hal ini masih harus dihadapkan dengan musuh terbesarnya, yakni kebenaran.

Nazi pun lantas menyatakan perang terhadap ‘kebenaran’. Berbagai pengajar yang tidak mau mengikuti doktrin Nazi diburu. Akademisi yang menyatakan bahwa tidak ada yang namanya ras yang terpilih ditangkap. Selain itu, berbagai buku-buku yang dianggap berbahaya pun dibakar oleh Nazi. Berbagai media cetak maupun elektronik yang mengkritik pemerintah pun juga ditutup paksa. Berbagai koran dan radio asal Inggris dan Amerika dilarang untuk didengar oleh warga Jerman.

Lantas apakah orang-orang yang tertipu daya oleh janji-janji Nazi mendapatkan keuntungan. Pada nyatanya tidak, terutama sejak Hitler memutuskan untuk berperang dengan negara-negara tetangga Jerman. Sebagaimana diketahui, Jerman akhirnya kalah perang, dan Hitler pun dihancurkan oleh orang-orang yang dinyatakannya berasal dari ras yang lebih rendah, oleh tentara-tentara Rusia, Inggris, dan juga tentara Amerika dari berbagai etnis dan latar belakang. Pada akhirnya banyak orang-orang yang termakan oleh janji palsu Hitler tersebut berakhir dengan tragis di medan perang, kehilangan keluarganya, serta tempat tinggal dan harta benda yang dimilikinya.

Paska kekalahan Jerman, banyak warga yang mempertanyakan, bagaimana mereka bisa berakhir seperti ini? Bagaimana Jerman yang sebelumnya merupakan negara besar yang dihuni oleh berbagai macam kelompok menjadi terpecah-belah dan hancur berkeping-keping?

Kenyataannya, semua diawali ketika sebagian besar warga Jerman termakan oleh janji-janji manis dan palsu dari Partai Nazi. Bukannya memilih untuk bersatu di tengah perbedaan, namun mereka justru mengizinkan dirinya untuk menjadi alat dari Partai Nazi, serta rela mengorbankan kebebasan yang dimiliki, serta yang dimiliki oleh kelompok yang berbeda, demi keuntungan sesaat.

Profesor asal Hungaria tersebut akhirnya menjelaskan kepada Mike, bahwa tidak ada seseorang yang lahir dengan penuh kebencian. Kebencian itu harus ditanamkan, oleh mereka yang berupaya mengambil keuntungan. Dan kita perlu mengingat setiap kali kita mendengarkan ucapan atau orasi yang berupaya memecah belah, bahwa niscaya ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut.

Selain itu, Profesor asal Hungaria tersebut juga menjelaskan, bahwa kita semua pada dasarnya adalah kelompok minoritas. Ia memberi contoh bahwa sebagai imigran asal Hungaria, dia merupakan seorang minoritas, sebagaimana Mike yang merupakan anggota Freemason juga merupakan minoritas. Selain itu, setiap dari kita juga merupakan bagian dari kelompok minoritas lainnya, dalam hal ini Mike, selain merupakan seorang Mason, ia juga merupakan anggota jemaat Gereja Methodis, yang juga merupakan minoritas.

Kembali profesor asal Hungaria tersebut mengingatkan Mike, bahwa hak untuk menjadi bagian dari kelompok minoritas merupakan sesuatu yang sangat berharga dan harus dijunjung tinggi. Setiap manusia berhak untuk menjadi dirinya sendiri, dan ketika kita membiarkan kelompok minoritas tertentu mendapatkan prasangka atau dipersekusi, maka pada saat yang sama kita juga telah mengancam kebebasan yang kita miliki.

*****

Film ‘Don’t Be A Sucker” yang diliris pada tahun 1947 oleh Departemen Perang Amerika Serikat (yang kini diubah namanya menjadi Departemen Pertahanan) merupakan upaya dari pemerintah Amerika Serikat untuk mengingatkan warganya akan bahaya fasisme dan para demagog, yang ingin meraih kekuasaan dengan cara memecah belah masyarakat melalui prasangka dan ujaran kebencian, sebagaimana yang dilakukan oleh Nazi. Selain itu, film tersebut juga merupakan bagian dari upaya pemerintah Amerika, khususnya militer Amerika Serikat, untuk mengakhiri praktik segregasi antara warga negara kulit putih dan kulit hitam dalam institusi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Film tersebut menjadi viral paska terjadinya pawai kelompok-kelompok rasis seperti Gerakan Nazi Amerika Serikat dan juga Ku Klax Klan (KKK) di kota Charlottesville di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, yang berujung pada tewasnya seorang perempuan muda karena ditabrak secara sengaja oleh mobil yang dikendarai oleh salah seorang anggota KKK. Pada kenyataannya, meskipun film tersebut dirilis 70 tahun yang lalu tersebut masih relevan untuk mengingatkan warga Amerika Serikat akan bahaya para demagog serta kelompok-kelompok kebencian yang anti perbedaan.

Lantas, sebagai warga negara Indonesia, adakah hal yang bisa kita pelajari dari film yang dibuat oleh Departemen Perang Amerika Serikat tersebut?

Dengan lantang, saya akan menjawab ‘Ya!’, terutama dengan banyaknya peristiwa dan fenomena menyedihkan sekaligus menakutkan akhir-akhir ini. Bisa kita lihat, betapa banyaknya orang-orang yang menyebarkan berbagai prasangka dan kebencian terhadap kelompok-kelompok tertentu di Tanah Air, baik melalui media sosial, media massa, maupun dengan berorasi secara langsung di ruang publik, seperti etnis Tionghoa, kelompok LGBT, Ahmadiyah, umat Kristiani, dan sebagainya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Nazi, para demagog ini pun menyatakan bahwa ada  etnis tertentu yang merampas harta dan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, bahwa ada kelompok-kelompok lain yang tidak layak untuk hidup di tanah air, serta bahwasanya keyakinan dan etnis yang dimiliki oleh para demagog tersebut merupakan keyakinan dan etnis yang terbaik diatas dari kelompok-kelompok lainnya.

Sama halnya yang dilakukan oleh Hitler, yang menyatakan bahwa hanya seseorang yang berasal dari ras Arya yang murni yang layak hidup di Jerman, pada demagog ini juga menyatakan bahwa hanya kaum “pribumi” Indonesia, yg dianggap “asli” saja, yang layak untuk hidup di Nusantara. Yang memprihatinkan, pada kenyataannya tidak sedikit warga Indonesia yang jatuh dalam tipu daya para penyebar kebencian tersebut.

Di berbagai tempat, para demagog ini sudah menunjukkan tanda-tanda kemenangan, dan sebagaimana Nazi di Jerman, para demagog ini juga memiliki musuh besar yang utama, yakni kebenaran. Oleh karena itu, mereka menyatakan bahwa media-media yang menunjukkan sikap kritis sebagai media yang anti terhadap keyakinan yang mereka miliki. Berbagai acara yang mendiskusikan ide-ide yang tidak diamini oleh para demagog tersebut pun juga mereka bubarkan secara paksa.

Tidak hanya itu, berbagai tokoh dan warga yang menunjukkan sikap kritis, baik melalui media massa maupun media sosial, terhadap para demagog ini juga diupayakan untuk dibungkam, mulai dari menyambangi rumah-rumah dan berbagai tempat tinggal yang dihuni oleh warga yang kritis tersebut dan menuntut permintaan maaf dengan paksaan dan intimidasi, hingga menyatakan upaya pembunuhan, baik langsung ataupun dengan melalui kedok lain seperti dengan mengatasnamakan fatwa keagamaan, terhadap tokoh-tokoh yang tidak berbeda pandangan dengan para penyebar kebencian tersebut.

Namun, sebagaimana yang diingatkan oleh profesor asal Hungaria dalam “Don’t Be A Sucker”, orang-orang yang memilih dan membela para demagog ini tidak sadar kalau mereka tidak lebih hanya diperlakukan sebagai alat oleh pihak-pihak yang ingin berkuasa dan meraup keuntungan, baik para politisi korup, mafia, pemuka agama yang gila kekuasaan, hingga para akademisi dan konsutan politik yang rela mengorbankan intergritas yang mereka miliki demi uang dan jabatan.

Indonesia saat ini belum terlambat untuk mengatasi berbagai fenomena kebencian dan prasangka yang melanda negeri kita ini Kita semua masih memiliki kesempatan untuk menyatakan perang terhadap berbagai kelompok-kelompok “supermasi” yang menganggap diri dan kelompok mereka merupakan manusia terpilih, dan pada saat yang sama menyatakan bahwa orang-orang yang berbeda dengan dirinya merupakan kelompok yang lebih rendah dan tidak memiliki hak untuk mendapatkan kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan bahkan hak untuk hidup. Jangan sampai kita berakhir seperti Jerman ketika Nazi berkuasa.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan dan mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia. Haikal juga merupakan anggota Charter Team dari organisasi Students for Liberty (SFL) dan mewakili SFL Indonesia dalam Asia Liberty Forum pada bulan Februari tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri dan koordinator Indo-Libertarian, sebuah komunitas libertarian pertama di Indonesia. Haikal dapat dihubungi melalui twitter: @HaikalKurnia dan email: [email protected]